Minggu, 01 Desember 2019

Sering Dikira Menstruasi, Kenali 9 Penyebab Perdarahan Saat Hamil

Saat hamil sering kali terjadi pendarahan terutama pada trimester pertama atau sekitar 12 minggu kehamilan. Tidak semua pendarahan perlu dikhawatirkan, tetapi bisa berakibat fatal jika tidak dikenali sejak dini.

Untuk itu perlu kenali penyebab dan tanda-tandanya. Berikut penyebab pendarahan saat hamil dirangkum dari Web MD:

1. Pendarahan Implantasi
Pendaran jenis ini biasanya kurang disadari oleh ibu hamil karena sering dianggap sebagai waktu menstruasi. Faktanya bercak ini bisa menjadi tanda awal kehamilan. Biasanya pendarahan ringan ini berlangsung selama 6-12 hari setelah pembuahan. Sehingga wajar jika masih banyak wanita yang belum menyadari masa kehamilannya.

Pendarahan pada trimester pertama tidak selalu berarti keguguran. Bahkan jika detak jantung yang terlihat dengan USG, lebih dari 90 persen wanita yang mengalami pendarahan saat trimester pertama tidak akan keguguran. Namun, gejala keguguran sendiri adalah kram perut di bagian bawah dan jaringan yang melewati vagina.

3. Kehamilan Ektopik
Ini adalah kondisi ketika embrio yang dibuahi tumbuh di luar rahim, biasanya di tuba falopi. Jika embrio terus tumbuh, itu dapat menyebabkan tuba falopi pecah, yang dapat mengancam jiwa ibu. Gejalanya kram perut dan sakit kepala ringan.

4. Kehamilan Molar
Kehamilan semacam ini adalah kondisi di mana jaringan abnormal tumbuh di dalam rahim dan bukan bayi. Jaringan ini biasa ditemukan pada kasus kanker yang menyebar di rahim. Gejalanya mual dan muntah yang parah, serta pembesaran rahim yang cepat. Pemicu pendarahannya adalah perubahan serviks dan infeksi serviks sehingga darah mengalir ke serviks.

5. Placenta Previa
Kondisi ini terjadi ketika plasenta terletak rendah di dalam rahim dan sebagian atau seluruhnya menutupi pembukaan jalan lahir. Namun plasenta previa yang berdarah, yang tidak menimbulkan rasa sakit, adalah keadaan darurat yang membutuhkan perhatian medis segera.

6. Solusio Plasenta
Tanda dan gejala lain dari solusio plasenta adalah nyeri perut, gumpalan dari vagina, rahim lunak, dan nyeri punggung. Pendarahan ini sangat berbahaya bagi ibu dan bayi.

7. Pecahnya Uterus
Pecahnya uterus bisa disebabkan karena adanya luka bekas operasi Caesar sebelumnya. Pecahnya uterus dapat mengancam jiwa, dan membutuhkan operasi caesar darurat. Gejala lain dari ruptur uteri adalah nyeri dan nyeri tekan di perut.

8. Vasa Previa
Dalam kondisi ini pembuluh darah bayi yang berkembang di tali pusar atau plasenta melintasi lubang ke jalan lahir. Tanda-tanda dari vasa previa termasuk detak jantung janin yang tidak normal dan perdarahan yang berlebihan.

9. Persalinan Prematur
Di akhir kehamilan biasanya akan terjadi pendarahan vagina untuk pertanda siap melahirkan. Namun jika pendarahan dimulai sebelum 37 minggu kehamilan bisa jadi ini tanda pendarahan persalinan premature. Gejalanya termasuk kontraksi, keputihan, tekanan perut, dan sakit di punggung bagian bawah. http://indomovie28.com/wild-city-2015/

Tidak Haid Tapi Mendadak Keram Perut? Ini 5 Kemungkinan Penyebabnya

Kram atau nyeri haid merupakan hal yang umum dialami sebelum dan saat siklus bulanan menstruasi. Keram ini biasanya dirasakan di perut bagian bawah, dan bagi beberapa orang hal ini sangat tidak nyaman dan mengganggu aktivitas harian.

Rasa keram disebabkan saat prostaglandin atau hormon lipis menyebabkan kontraksi otot rahim untuk melepaskan telur yang belum dibuahi dan dinding rahim. Namun tak semua rasa keram perut disebabkan oleh haid pada wanita. Ada beberapa alasan yang bisa jadi penyebabnya, dan 5 hal ini ada di antaranya seperti dikutip dari Times of India: http://indomovie28.com/boy-next-door-2015/

1. Endometriosis

Endometriosis merupakan kondisi medis di mana jaringan yang mirip dengan dinding rahim tumbuh di luar rahim. Jaringan ini merespon pada hormon haid dengan cara yang sama seperti jaringan di dalam rahim. Mereka juga bisa hancur dan berdarah seperti jaringan rahim. Bagian yang cukup kompleks dari jaringan ini adalah mereka tak bisa dibuang dari tubuh melalui vagina dan akhirnya membentuk lesi, menyebabkan nyeri dan bengkak. Pengidap endometriosis pada umumnya mengalami keram seperti saat sedang haid.

2. Penyakin inflamasi pelvis

Pelvic Inflammatory Disease (PID) atau penyakit inflamasi pelvis merupakan infeksi bakteri di organ reproduksi. Infeksi ini terjadi karena bakteri menular seksual yang biasanya menyebar dari vagina ke rahim. Bakteri ini juga bisa menyebabkan masalah jika kamu berusaha untuk memiliki anak. Gejala PID kadang tak terdeteksi di stadium awal, namun jika kamu mengalami nyeri di kedua sisi perut bagian bawah, punggung bawah, berdarah saat seks, dan keluar cairan berbau dari vagina, segera cek ke dokter.

3. Radang usus

Inflammatory bowel disease (IBS) atau radang usus yang terjadi karena adanya inflamasi kronis di saluran pencernaan. Meski penyebab pastinya belum diketahui, dipercaya bahwa kondisi ini entah bagaimana terkait dengan pola makan dan kadar stres. Pengidap IBS bisa merasakan nyeri yang amat sangat di perut kanan bawah atau bagian tengah dan bisa ringan hingga parah.

4. Kista ovarium pecah

Kista ovarium adalah kantung berisi cairan yang di dalam ovarium atau indung telur. Kista ini bisa pecah, namun umumnya kista ini tidak berbahaya dan bukanlah kanker. Kebanyakan kista ini akan hilang dengan sendirinya, namun terkadang bisa menyebabkan masalah sewaktu-waktu dan memerlukan penanganan yang tepat. Jika mendadak kista ini pecah, keram dan nyeri di sisi manapun di bagian bawah perut akan terasa. Kamu juga bisa mengalami spotting dan nyeri punggung bawah.

5. Intoleransi laktosa

Intoleransi laktosa merupakan kondisi medis umum di mana tubuh menolak untuk mencerna laktosa, di mana laktosa adalah karbohidrat utama yang ditemukan dalam produk susu. Apabila kamu punya kondisi ini, kamu bisa mengalami keram perut, diare, muntah, dan kembung. Biasanya gejala ini muncul 30 menit hingga 2 jam setelah mengonsumsi produk susu.  http://indomovie28.com/burnt-2015/