Rabu, 04 Desember 2019

Kisah Hidup Ciputra yang Penuh Lika-liku Sampai Jadi Begawan Properti

 Ciputra, pengusaha dan pendiri Ciputra Group meninggal dunia di Singapura pada Rabu dini hari 27 November 2019. Pengusaha kelahiran, Parigi Sulawesi Tengah 24 Agustus 1931 itu dikenal sebagai Begawan Properti. Sejumlah perusahaannya yang bergerak di bidang properti antara lain: Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group.

Namanya masuk sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Mengutip Forbes, Rabu (27/11/2019), Ciputra dan keluarga memiliki kekayaan bersih US$ 1,3 miliar atau setara dengan Rp 18,2 triliun (kurs Rp 14.000). Ia berada di urutan 1941 orang terkaya di dunia dan berada di urutan 27 daftar orang terkaya di Indonesia pada tahun 2018.

Forbes mencatat, Ciputra mendirikan perusahaannya Ciputra Group pada tiga dekade yang lalu. Perusahaannya melakukan pengembangan di 33 kota di Indonesia. Siapa sangka, modal awal Ciputra mendirikan perusahaan hanya sebesar Rp 10 juta.

Dikutip dari Buku Properti Moderat, Modal Dengkul dan Urat karya Benny Lo, Ciputra merintis bisnis sejak masih kuliah di jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung. Pada 1957. Ketika itu dia bersama 2 teman kuliahnya yakni: Budi Brasali dan Ismail Sofyan mendirikan biro arsitektur dengan bendera PT. Daya Cipta.

Biro arsitektur milik Ciputra dan dua rekannya banyak mendapat proyek. Tahun 1960, Ciputra lulus ITB dan pindah ke Jakarta.

"Kita harus ke Jakarta karena di sana banyak pekerjaan," kata Ciputra seperti dikutip dari buku Properti Moderat, Modal Dengkul dan Urat karya Benny Lo.

Benar saja, di Jakarta kiprah bisnis Ciputra kian moncer. Hingga akhirnya pada tahun 1961 dia mendirikan Grup Jaya dengan modal Rp 10 juta. Perusahaannya pun kian berkibar. Melalui PT Ciputra Development, pengusaha dengan nama lain Tjie Tjin Hoan itu sukses membawa perusahaan lokal ke panggung bisnis global dengan nilai aset lebih dari Rp 30 triliun.

Namun, perjalanan bisnis Ciputra tak selamanya mulus. Pada 23 Juli 1996 setelah 30 tahun memegang kemudi perusahaan, Ciputra mundur dari PT Pembangunan Jaya, perusahaan yang dia dirikan pada 1961. Baru setahun pensiun, badai datang menghantam Pembangunan Jaya dan perusahaan-perusahaan lain milik Ciputra yang bernaung di bawah grup Metropolitan Development maupun grup Ciputra.

Padahal sebelumnya Grup Jaya banyak mengerjakan proyek-proyek besar. Sebagian proyek itu dikerjakan dengan modal pinjaman dalam bentuk mata uang dolar ke bank asing. Waktu itu Ciputra optimistis bisa mengembalikan semua pinjaman.

Perhitungan dan keyakinan Ciputra meleset. Memasuki tahun 1998 kekuatan rupiah cepat sekali lunglai di depan dolar Amerika Serikat. Dari semula nilai satu dolar hanya berkisar Rp 2.000, kemudian naik menjadi Rp 2.500, dan dalam waktu kurang dari setahun, nilai tukar dolar sudah melompat lebih dari lima kali lipat. Utang Grup Jaya pun menggelembung sangat besar hingga mencapai hampir US$ 100 juta.

"Kami sama sekali tak menduga," kata Ciputra dikutip dalam biografinya, The Passion of My Life, yang dia luncurkan akhir November 2017 silam.

Saat krisis ekonomi tahun 1998, Edmund Sutisna, kala itu Direktur Pembangunan Jaya, menuturkan, Ciputra berbagi tugas dengan manajemen Pembangunan Jaya dan Metropolitan. Penyelesaian masalah di Pembangunan Jaya diserahkan kepada direksi, demikian pula di Metropolitan.

"Pak Ci konsentrasi menyelesaikan masalah di Grup Ciputra. Dia memberi kepercayaan kepada kami di Grup Jaya untuk menyelesaikan sendiri. Tapi kalau ada masalah kami konsultasikan dengan beliau," kata Edmund kepada detikcom, beberapa waktu lalu.

Perlahan-lahan tiga kelompok usaha Ciputra: Pembangunan Jaya, Metropolitan, dan Grup Ciputra keluar dari krisis. Untuk menutup utang, Ciputra melepas saham di sejumlah perusahaan, di antaranya di Bumi Serpong Damai (BSD). Beberapa unit usaha seperti Bank Ciputra terpaksa ditutup untuk selamanya.

Ciputra pun berhasil bangkit dan lolos dari kebangkrutan. Saat ini generasi ketiga keluarga Ciputra sudah siap bergabung dalam menejemen Ciputra Grup. Cipta Ciputra Harun yang merupakan generasi ketiga keluarga Ciputra mengatakan, meski berlimpah harta kakeknya adalah sosok yang sederhana.

Menurut Cipta kakeknya hanya menggunakan sepasang sepatu untuk berpergian ke mana-mana. "Dia nggak pernah mikirin sepatunya apa, bajunya apa. Sepatu dia cuma satu, New Balance warna hitam, entah tahun berapa belinya. Nggak ganti-ganti," kata Cipta kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Selamat jalan Pak Ciputra sang Begawan Properti.

Meski Pensiun, Harta Jack Ma Bertambah Rp 50 Triliun Setahun!

Daftar orang terkaya China kembali dirilis oleh Forbes. Meski saat ini China masih di tengah kondisi perang dagang dengan Amerika, prospek orang paling kaya di China malah meningkat.

Berdasarkan laporan tersebut, posisi orang-orang terkaya di China masih berasal dari sektor teknologi. Berada di puncak, pendiri raksasa e-commerce Alibaba, Jack Ma masih berada di posisi teratas sebagai orang paling kaya China.

Meski telah mengundurkan diri sebagai CEO Alibaba Group pada bulan September lalu, jumlah kekayaan Jack Ma masih terus meningkat hingga US$ 3,6 miliar atau sekitar Rp 50,4 triliun (kurs: Rp 14.000/US$).

Jumlah kekayaan Jack Ma naik menjadi US$ 38,2 miliar (sekitar Rp 534,8 triliun) pada 2019, dari sebelumnya US$ 34,6 miliar (sekitar Rp 484,4 triliun) pada tahun 2018.

Mengikuti Jack Ma di belakang, posisi nomor dua dalam daftar orang terkaya China dipegang oleh Pony Ma Huateng. Sama seperti Jack Ma, bisnis yang digeluti oleh Pony Ma juga bergerak di bidang teknologi. Pony Ma Huateng merupakan seorang CEO dan co-founder dari Tencent Holdings.

Tepat berada di belakang Jack Ma, Pony Ma memiliki harta kekayaan berjumlah US$ 36 miliar atau Rp 504 triliun.

Berikut daftar orang terkaya China 2019

1. Jack Ma, pendiri raksasa e-commerce Alibaba; US$ 38,2 miliar atau Rp 534,8 triliun

2. Ma Huateng, CEO raksasa teknologi Tencent; US$ 36 miliar atau Rp 504 triliun

3. Hui Ka Yan, ketua pengembang real estat Evergrande ketua US$ 27,7 miliar atau Rp 387,8 triliun

4. Sun Piaoyang, ketua perusahaan farmasi Jiangsu Hengrui Medicine; US$ 25,8 miliar atau Rp 361,2 triliun

5. Yang Huiyan, co-chairman co-chairman pengembang real estate Country Garden; US$ 23,9 miliar atau Rp 334,6 triliun

6. He Xiangjian, pendiri Midea Group pembuat alat-rumah; US$ 23,2 miliar atau Rp 324,8 triliun

7. Colin Huang, CEO perusahaan e-commerce Pinduoduo; US$ 21,2 miliar atau Rp 296,8 triliun

8. William Ding, CEO perusahaan game online dan mobile NetEase; US$ 17,2 miliar atau Rp 240,8 triliun

9. Qin Yinglin (dan keluarga), ketua perusahaan pemuliaan dan distribusi babi Muyuan Foodstuff; US$ 16,6 miliar atau Rp 234,4 triliun

10. Zhang Yiming, CEO perusahaan teknologi ByteDance; US$ 16,2 miliar atau Rp 226,8 triliun

Nihao! Ini Daftar Baru 10 Orang Terkaya di China

 Forbes kembali merilis daftar orang terkaya China. Di tengah kondisi perang dagang dengan Amerika Serikat (AS), posisi orang-orang terkaya di China masih berasal dari sektor teknologi.

Pendiri Alibaba Group, Jack Ma, masih menempati posisi orang terkaya di China. Jumlah kekayaan Jack Ma tahun ini meningkat dibanding tahun lalu. Padahal dia baru saja mengundurkan diri sebagai CEO Alibaba Group pada September 2019 kemarin.

Jumlah kekayaan Jack Ma naik menjadi US$ 38,2 miliar pada 2019, dari US$ 34,6 miliar pada tahun 2018.

Kemudian posisi nomor dua dalam daftar tahun ini adalah Pony Ma Huateng dari Tencent Holdings. Pony merupakan seorang tokoh bisnis di China sekaligus CEO dan co-pendiri Tencent.

Orang terkaya ketiga di Tiongkok adalah Hui Ka Yan yang merupakan Bos Evergrande Group, salah satu pengembang real estate terbesar di Cina.

Berikut daftar lengkap 10 orang terkaya di China versi Forbes:

1. Jack Ma, pendiri raksasa e-commerce Alibaba; US$ 38,2 miliar atau Rp 534,8 triliun

2. Ma Huateng, CEO raksasa teknologi Tencent; US$ 36 miliar atau Rp 504 triliun

3. Hui Ka Yan, ketua pengembang real estat Evergrande ketua US$ 27,7 miliar atau Rp 387,8 triliun

4. Sun Piaoyang, ketua perusahaan farmasi Jiangsu Hengrui Medicine; US$ 25,8 miliar atau Rp 361,2 triliun

5. Yang Huiyan, co-chairman co-chairman pengembang real estate Country Garden; US$ 23,9 miliar atau Rp 334,6 triliun

6. He Xiangjian, pendiri Midea Group pembuat alat-rumah; US$ 23,2 miliar atau Rp 324,8 triliun

7. Colin Huang, CEO perusahaan e-commerce Pinduoduo; US$ 21,2 miliar atau Rp 296,8 triliun

8. William Ding, CEO perusahaan game online dan mobile NetEase; US$ 17,2 miliar atau Rp 240,8 triliun

9. Qin Yinglin (dan keluarga), ketua perusahaan pemuliaan dan distribusi babi Muyuan Foodstuff; US$ 16,6 miliar atau Rp 234,4 triliun

10. Zhang Yiming, CEO perusahaan teknologi ByteDance; US$ 16,2 miliar atau Rp 226,8 triliun