Jumat, 03 Januari 2020

Coca-Cola Vs Sake di Papua

 Papua punya banyak cerita. Tak hanya suku dan alamnya, tapi ada sejarah dunia yang terjadi di sana. Peperangan antara AS melawan Jepang di Perang Dunia II.

Indonesia tak bisa lepas dari sejarah Perang Dunia II (1939-1945). Perang dengan tokoh utama Amerika Serikat (AS) sebagai sekutu melawan Jepang.

Perang Dunia II dimenangkan oleh sekutu, meski dengan cara mengenaskan yakni mengebom kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang. Tahun 1945 Jepang mengaku kalah dan menyerah, lantas Indonesia pun berhasil merdeka dari jajahannya.

Bicara Perang Dunia II, maka Papua tak bisa dilepaskan. Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto menjelaskan bahwa Papua adalah tempat pertempuran hebat antara AS melawan Jepang pada Perang Pasifik yang menjadi bagian Perang Dunia II.

"Papua adalah satu-satunya tempat pertempuran hebat antara AS melawan Jepang di masa Perang Pasifik di Indonesia pada masa Perang Dunia II. Oleh sebab itu, ditemukan banyak kerangka tentara Jepang dan AS di sana," terangnya kepada detikcom, Kamis (8/8/2019).

Mengenai Perang Pasifik secara singkat, perang ini terjadi antara tahun 1941-1945. Kala itu, Jendral Douglas MacArthur yang memimpin pasukan AS di Filipina, dipukul mundur sampai ke Australia oleh tentara Jepang. Sebelumnya, Jepang sudah lebih dulu memborbardir pangkalan perang AS di Pearl Harbor, Hawaii.

Namun di tahun 1944, Jendral Douglas MacArthur bersama pasukannya kembali untuk melawan Jepang. Dia berlabuh di Jayapura, kemudian memakai strategi 'Lompat Katak'. Pelan-pelan dari Papua sampai Morotai, AS mengalahkan Jepang.

Hingga akhirnya, Jendral Douglas MacArthur gantian memukul mundur Jepang di tahun 1945. Jepang pun kalah.

"Pertempuran AS melawan Jepang di Papua terjadi di Jayapura, Sarmi, Biak, Tambrauw, Sorong, teluk Bintuni, Fakfak dan Kaimana," terang Hari.

Coca-Cola Vs Sake

Hari yang sudah dari tahun 2008 menjadi peneliti di Balai Arkeologi Papua menjelaskan, banyak sisa-sisa peninggalan peperangan antara AS dan Jepang. Termasuk, tulang belulang manusia!

"Diperkirakan ada 20 ribu tulang belulang pasukan Jepang, sedangkan tentara AS sekitar ratusan. Tulang belulangnya kadang dijumpai bercampur di satu tempat," terang pria asal Yogyakarta tersebut.

Pemerintah Jepang sejak tahun 2011 mengembalikan tulang belulang tentaranya ke negaranya. Sempat berhenti di tahun 2013, kini lanjut lagi dengan MoU antara pemerintah Jepang dan pemerintah Indonesia. Pihak AS, juga ingin melakukan hal serupa.

"Pihak Jepang hanya mengambil bagian tengkorak untuk dikremasi dan abunya dibawa ke Jepang. Abunya akan disemayamkan di Kuil Yasukuni, suatu kuil untuk menghormati korban perang dan pahlawan Jepang saat Perang Pasifik," papar Hari.

Selain itu, peninggalan-peninggalan perang lainnya yakni tank, senjata hingga kapal terbang yang tenggelam. Namun yang menarik perhatian, adalah peninggalan tentara AS dan Jepang berupa botol Coca-Cola dan botol sake.

"Pasukan Jepang di markasnya minum sake, sedangkan pasukan AS minum Coca-Cola," kata Hari.

Botol Coca-Cola dan sake tersebut ditemukan di Pulau Wakde, Samri. Kini, disimpan di Balai Arkelogi Papua di Jayapura dan kondisinya masih baik.

Tapi, ada satu lagi. Botol bir peninggalan tentara Australia yang bergabung dengan sekutu!

"Kalau bosnya, Jendral Douglas MacArthur makan es krim dia," ujar Hari sambil tersenyum.

Beberapa peninggalan Perang Pasifik, kini menjadi destinasi wisata dan ada juru peliharanya. Sebut saja, Situs Tugu Yamagata, Situs Pendaratan Sekutu, Situs Tugu MacArthur dan Situs Pendaratan Jepang.

"Ada Tanda Peringatan di Kampung Puay, Sentani yang dibuat oleh Kedubes Jepang. Di situ banyak ditemukan tulang belulang tentara Jepang," jelas Hari.

Perang Pasifik merupakan sejarah dunia yang tersimpan di Papua. Menurut Hari, sayangnya Pemerintah Provinsi Papua belum membangun museum khusus untuk memperingati sejarah tersebut.

"Untuk mengenang Perang Pasifik dan menyelamatkan artefak peninggalan perang, di Morotai sudah dibuat museum. Sedangkan di Papua, belum ada museum yang khusus untuk mengenang Perang Pasifik," harap Hari.

Kamis, 02 Januari 2020

Liburan ke Australia, Orang Indonesia Sukanya ke Mana?

Angka kunjungan turis Indonesia ke Australia terus meningkat. Kalau liburan ke sana, orang Indonesia sukanya ke mana sih?

"Kunjungan turis Indonesia ke Australia terus meningkat setiap tahun. Dari Mei 2018 sampai Mei 2019, tercatat 219.400 turis Indonesia datang ke Australia," kata Country Manager Indonesia dari Tourism Australia, Agitya Nuraini di kantor Tourism Australia, Jakarta pusat kepada awak media, Jumat (9/8) kemarin.

25 Persen dari angka tersebut adalah turis Indonesia yang pertama kali ke Australia. Sydney, menjadi kota atau destinasi yang paling diminati.

"Sydney dan Melbourne pasti kota-kota teratas yang dikunjungi turis Indonesia. Banyak juga yang sekarang ke Gold Coast, karena ada banyak taman rekreasi di sana," terang Agitya.

Menurut Agitya, orang Indonesia suka mendatangi Australia karena tempat wisata yang Instagramable, merasakan pengalaman bermain salju dan mencicipi berbagai kuliner. Apalagi anak-anak muda atau anak-anak milenial hobi berfoto dan memposting di sosial media.

"Memang banyak kafe yang Instagramable di Melbourne atau Perth, mural-mural di sudut-sudut kotanya pun keren," ujarnya.

"Sekarang pun banyak orang Indonesia datang ke Australia untuk nonton konser atau mendatangi suatu festival," tambahnya.

Dalam data dari Tourism Australia, 5 destinasi teratas di Australia yang suka dikunjungi turis Indonesia adalah Sydney, Melbourne, Perth, Brisbane, Canberra dan Darwin. Tiap kota, menawarkan pengalaman liburan tersendiri.

Selain itu, membuat visa ke Australia lebih mudah karena bisa lewat online dan bisa dapat multiple-entry. Artinya sekali bikin visa, bisa bolak-balik ke sana dalam jangka waktu 3 tahun.

"Kita akui, multiple-entry membuat kunjungan turis Indonesia ke Australia meningkat. Tahun 2019, posisi Indonesia naik satu peringkat ke nomor 11 dalam daftar negara paling banyak yang mengunjungi Australia," papar Agitya.

Banyaknya penerbangan ke Australia dan mudahnya memilih penginapan lewat berbagai platform membuat liburan ke sana makin mudah. Kini, Australia pun menawarkan campaign 'UnDiscover Australia' yang mengajak turis mengenal berbagai destinasi indah di Australia yang belum banyak orang tahu.

"Ada banyak sekali destinasi di Australia yang belum kita tahu. Kita juga mempromosikan wisata road trip, naik mobil jelajahi Australia. Seru banget lho," tutup Agitya.

Lewat Festival Saman, Kemenpar Ajak Wisman ke Gayo Aceh

Setelah sukses dengan gelaran Festival Saman 2018, tahun ini Kementerian Pariwisata, Kemendikbud, Dinas Kebudayaan & Pariwisata Provinsi Aceh, dan Dinas Pariwisata Kabupaten Gayo Lues kembali menggelar acara serupa. Rencananya, Festival Saman 2019 akan digelar di Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh pada 18-21 Agustus 2019 mendatang.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar, Rizki Handayani, mengatakan Festival Saman merupakan salah satu acara yang dilaksanakan untuk menjaga budaya Aceh. Acara ini juga digelar demi menarik minat wisatawan untuk datang ke Aceh, khususnya ke Daratan Tinggi Gayo (Datiga).

"Tahun ini, Festival Saman mengangkat tema 'Pacarkan Cahaya Aceh Melalui Seni Budaya'. Pesertanya berasal dari kabupaten/ kota di Aceh, termasuk sanggar-sanggar dalam Provinsi Aceh," ujar Rizki dalam keterangan tertulis, Minggu (11/8/2019).

Rizki mengungkapkan akan turut digelar pameran budaya dan edukasi tentang saman. Nantinya akan ada booth atau tenant yang akan diisi oleh 23 grup se-Aceh. Mereka akan menampilkan produk-produk UKM berupa kuliner dan suvenir khas daerah masing-masing.

Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati mengatakan Festival Saman 2019 akan diikuti 23 grup penari saman. Tahun ini, panitia menyiapkan total hadiah sebesar Rp 73 juta.

"Selain itu, akan ada perlombaan Saman antarkecamatan di Gayo Lues. Pada panggung utama juga akan dimeriahkan dengan penampilan artis lokal dan artis-artis Aceh yang dapat menambah minat pengunjung," katanya.

Festival Saman 2019 juga akan dimeriahkan oleh kegiatan edukasi dan pameran budaya untuk menambah ilmu masyarakat tentang budaya Gayo Lues. Acara akan dikemas dalam Seminar Saman yang diprakarsai oleh BNPB Aceh dan Sumatera Utara.