Sabtu, 04 Januari 2020

Poso, Negeri 1.000 Megalit Purba

Lembah Bada, di Poso, Sulawesi Tengah adalah Negeri 1.000 Megalit. Kamu bisa melihat banyak artefak kebudayaan megalitikum di sana.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Sulawesi Tengah menyimpan pesona wisata dari zaman megalitikum bernama Lembah Bada. Terletak di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Lembah Bada dikelilingi dengan gunung yang membuat akses jalan menuju tempat ini sangat terbatas.

Bahkan jika musim penghujan tiba, maka longsoran gunung sering menutup akses jalan. Seperti perjalananku menggunakan titik awal Kota Tentena dengan jarak kurang dari 100 km.

Berangkat pagi dari Tentena, maka tampak dengan jelas keindahan Danau Poso di kiri jalan, sebelum berganti tanjakan menyusuri lekukan jalan yang berkelok menembus pegunungan. Setelah 1,5 jam berlalu, kita akan melewati Sungai Malei dengan warna air coklat kemerahan. sesuai namanya, Malei yang berarti merah. Meskipun tidak bening, air Sungai Malei bisa langsung diminum.

Tak selamanya perjalanan akan berjalan mulus sesuai rencana. Sekitar kurang dari 14 km menuju desa terdekat di Lembah Bada, tiba-tiba kendaraan harus berhenti.

Jalanan putus, longsoran tanah menutupi akses jalan. Tidak ada pilihan jalur alternatif jika sudah berada di kawasan ini, selain menunggu eskavator untuk membersihkan longsoran tanah atau menggunakan jasa panggul motor. Butuh sekitar 6 jam, akhirnya proses pembersihan jalan selesai dan bisa dilintasi.

Tepat pukul 4 sore, aku pun tiba di Desa Bewa, Lembah Bada dilanjutkan dengan perjalanan ke Pada Sepe, kawasan di mana Megalitik Palindo berada. Jalanan sempit penuh ilalang dan tidak semuanya beraspal, membuat kendaraan berjalan lambat. Tapi, semuanya terbayarkan saat melihat Megalit Palindo yang tingginya sekitar 4 m dan miring ke kiri. 

Ukiran batunya sudah halus dan berbentuk wajah manusia berjenis kelamin pria. Palindo merupakan salah satu Megalit terbesar di lembah Bada dari ribuan Megalit lainnya seperti Tarairoe, Tantaduo, Tinoe, Langkebulawa dan masih banyak lainnya.

Akhirnya, my extraordinary traveling menuju Negeri 1.000 Megalit ditutup dengan acara mondulu-dulu atau makan sedaun di malam hari bersama warga lokal. Semua makanan dibungkus menggunakan daun asli yang bentuknya menyerupai daun pisang.

Setiap satu paket makanan dari beberapa warga, akan dibuat lingkaran terdiri dari 4 hingga 6 orang. Kami semua menikmati sajian dan tradisi lokal Lembah Bada, karena bagiku memahami tradisi lokal dan berbaur bersama adalah nilai tambah dari sebuah traveling.

Aku pun berharap, kelak suatu saat nanti diberi kesempatan ke Dubai. Di mana ada pusat kemajuan arsitektur yang memadupadankan antara bangunan pencakar langit dan tetap memelihara budaya lokal dan peninggalannya di kawasan Downstream Dubai. Jika waktu itu tiba, maka aku ingin menyusuri Dubai dan perkembangan peradabannya mulai dari Desert Safari, kunjungan ke Museum Dubai, menikmati matahari terbenam dari Burj Khalifa hingga Sky Diving berlatar Palm Jumeirah.

Tenggelam Dalam Abad Pertengahan di Skotlandia (2)

Tak lama berselang, pasukan pemadam kebakaran pun datang. Sementara mereka mencari sumber permasalahan, kami diminta tetap berada di luar. Saya nyaris tidak kuat lagi dengan dinginnya udara, tiba-tiba pemandu wisata kami datang jadi dewi penyelamat keadaan darurat ini.

Dia meminta saya dan rombongan memasuki bis wisata yang baru saja tiba yang pastinya lebih hangat karena ada pemanas ruangannya. Dia juga meminta supir membawa kami keliling Kota Edinburgh sembari menunggu petugas PMK menyelesaikan tugasnya.

Lumayan, kami pun diajak mengitari kota yang saya injak pertama kali tadi pagi. Menyusuri jalanan bertabur bangunan menakjubkan yang bergaya abad pertengahan.

Melewati lagi Holyroodhouse Palace, kediaman Raja Skotlandia sejak abad 16 yang sampai sekarang masih difungsikan sebagai tempat seremonial kerajaan. Melalui Edinburgh Castle, landmark kota yang berwujud kastil berdesain benteng khas Eropa yang berdiri di atas bekas gunung berapi.

Melintasi Royal Mile, jalanan yang menghubungkan kedua bangunan tadi yang selalu ramai dengan wisatawan lantaran dipenuhi bangunan indah yang memanjakan mata, para seniman dengan atraksinya juga restoran dan toko souvenir yang menggoda. Menyusuri berbagai tempat lainnya yang tak kalah cantik dan menarik di ibukota sekaligus kota terbesar kedua di Skotlandia.

Putar-putar kota yang tak hanya menghangatkan badan tapi juga meredam gusar akan kejadian alarm kebakaran. Ketika kembali ke hotel dan menemui situasi aman, saya pun bernapas lega. Ternyata penyebabnya sepele saja, Sepertinya ada tamu yang menghasilkan asap di kamarnya. Entah itu asap rokok, asap dari rice cooker, atau yang lain. Tidak ada penjelasan lebih lanjut dari pihak hotel.

Yang penting, kepanikan saya sudah sirna, Perjalanan mengesankan yang dibumbui cerita kedinginan akibat alarm kebakaran ini akan saya kenang seumur hidup saya. It's really my extraordinary traveling!

Saya yakin di Dubai, dream destination saya berikutnya, peristiwa ini takkan terjadi lagi. Saya di sana tidak akan kedinginan, lantaran dihangatkan sinar matahari saat berbaring di atas hamparan pasir putih sembari menikmati pemandangan birunya Teluk Persia di Jumeirah Beach. Selain itu, badan saya pasti memanas terpicu adrenalinnya saat menjajal sensasi menunggangi kuda atau balapan dengan mobil 4 wheels di sepanjang padang pasir tak berujung di Desert Safari yang sungguh menarik panoramanya.

Tak hanya itu, hati pun pasti menghangat mengharu biru saat melihat keindahan desain kota Dubai dari ketinggian di puncak Burj Khalifa. Ditambah lagi ketika menjelajahi Palm Island dengan berbagai destinasi menariknya, juga ketika menyinggahi Dubai Miracle Garden, wisata edukasi dengan ratusan jenis bunga yang memesona yang pasti bikin hati bahagia dan berbunga-bunga. Bermain air di tengah tandusnya padang pasir di Wild Wadi Water Park yang pastinya akan menyegarkan badan saya di tengah panasnya cuaca! Ah, Dubai memang kota impian untuk pelesiran. Semoga saja mimpi saya akan kesampaian.