Selasa, 07 Januari 2020

Awali Even DCF, Kongkow Budaya Ajak Wisatawan Lestarikan Budaya

Kongkow Budaya menjadi gelaran pertama Dieng Culture Festival (DCF) 2019. Melalui event ini, wisatawan diajak untuk terus 'nguri-nguri' atau melestarikan budaya.

Salah satunya disampaikan Gus Ghofur Maimoen. Putra dari kyai Maimoen Zuber ini mengatakan, budaya dan agama berjalan beriringan. Salah satu contohnya adalah saat Wali Sngo menyebarkan agama melalui budaya.

"Jadi ibaratnya badan itu budaya, ruh itu agama. Budaya dan agama tidak bisa dipisahkan," kata dia saat Kongkow Budaya di lapangan Arjuna, Dieng, Jumat (2/8/2019).

Untuk itu, ia pun mengajak para wisatawan dan warga yang hadir dalam kongkow budaya tersebut untuk melestarikan budaya. "Jadi kita harus tetap melestarikan budaya yang ada agar tidak sampai punah," ujarnya.

Dalam kongkow budaya ini, juga menghadirkan Sabrang (Noe Letto) dan Habib Anis Sholeh Ba Asyin. Sedangkan Habib Anis mencontohkan, jika membaca Al Quran merupakan nyanyian paling indah, karena sudah enak di dengar meski tidak diiringi alat musik.

"Al Quran itu musik yang paling indah karena sudah enak di dengar meski tanpa diiringi alat musik. Justru saya tidak sependapat jika membaca Alquraan dan diiringi dengan alat musik," tuturnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara Dwi Suryanto mengatakan, kongkow budaya selalu digelar setiap DCF. Hanya, tiap tahun tokoh yang dihadirkan berbeda-beda.

"Bagi orang Muslim budaya itu wajib, karena budaya itu tata krama. Sehingga, membangun tata krama dalam DCF yang sudah dikenal hingga tingkat internasional," ujarnya.

Bersantai di Kota Melbourne, Serasa Bukan Turis

Meski hanya perkotaan, Melbourne punya berbagai tempat seru untuk bersantai. Cocok jadi pilihan destinasi saat ke Australia.
Melbourne tidak memiliki banyak atraksi wisata seperti Sydney dengan Opera House-nya. Seperti tidak ada yang spesial, namun hal-hal kecil dan kebiasaan sehari-hari di sana membuat saya merasa nyaman layaknya penduduk setempat.

Dijuluki sebagai the most liveable city in the world, setelah kurang lebih seminggu mengeksplor kota ini beberapa bulan lalu, saya pun mengangguk dalam hati setuju. Jika ditanya kenapa, jujur saya pun bingung.

Melbourne bukanlah kota yang paling modern. Cuaca pun tergolong murung dan tidak terprediksi, tetapi kota ini berhasil membuat saya betah dan merasa sangat familiar dengannya.

Saya bukan pecandu kopi, tetapi menikmati kopi di Melbourne terasa sangat menyenangkan! Berbagai kedai kopi lokal kecil bertebaran di seluruh kota. Tiap kedai menyambut tamu dengan suasana hangat nan sederhana. Barista yang ramah menyajikan secangkir kopi hangat dan seringkali mengajak para tamu berbincang kecil. Benar-benar terasa nyaman.

Budaya brunch di Melbourne juga sangat kental. Makanannya tidak hanya terlihat sangat cantik di mata dan di media sosial, namun sangat terasa bagaimana hidangan disiapkan dengan sepenuh hati dengan porsi yang jauh dari kata pelit.

Rindu dengan comfort food? Jangan khawatir, di seluruh penjuru Melbourne banyak hidangan khas Asia. Mulai dari Tiongkok, Vietnam, Thailand, Jepang bahkan Indonesia.

Berjalan kaki bukan menjadi suatu masalah di sini, bahkan terasa menyenangkan. Rata-rata bangunan di pusat kota tidak terlalu tinggi, campuran antara bangunan kuno dengan toko-toko lokal yang unik.

Gang-gang yang semakin tersembunyi memiliki banyak keseruan. Lelah berjalan kaki? Melbourne menawarkan Free Tram Zone, dimana orang lokal maupun turis dapat menggunakan tram ke titik-titik utama di kota, tanpa biaya!

Mengunjungi Melbourne Museum dan State Library of Victoria bukanlah kegiatan yang membosankan. Melihat-lihat berbagai karya dan instalasi yang terawat dengan baik membuat para turis benar-benar menikmati dan menghargai karya seni yang ditampilkan. Satu gedung penuh dengan pameran seni yang menarik, saya pun sampai lupa waktu.

Kebanyakan toko sudah tutup pukul 6 sore. Bahkan, late night shopping disana tutup lebih awal dari pusat perbelanjaan di Jakarta.

Saya pun bertanya kepada teman yang sudah lama tinggal disana. Ternyata, penduduk lokal sangat menghargai quality time dan tidak terlalu terfokus pada kesibukan seperti kota-kota besar pada umumnya. Saya langsung merasa bersyukur dan tersadar untuk lebih menikmati momen-momen kecil di sela-sela kesibukan di Jakarta.

Senin, 06 Januari 2020

Kopi Flores Bikin Warga Rusia Penasaran dengan Labuan Bajo

Diplomasi kopi yang dimainkan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) kembali sukses. Itu setelah, kopi Flores berhasil mencuri perhatian di Paviliun Kemenpar pada Festival Wonderful Indonesia (FWI) 2019 di Rusia, Sabtu (3/8). Para pengunjung asal Rusia langsung terbius oleh rasa kopi yang sangat nikmat. Tak ayal, kopi Indonesia pun laris manis di Paviliun Kemenpar yang tepat ada di depan panggung utama di Krasnaya Presnya Park, Rusia.

Menempati paviliun yang strategis, Stand kopi Indonesia nyaris tak pernah sepi. Warga Rusia banyak yang singgah dan ikut pesan kopi. Terkadang, antrean bahkan sampai mengular.

"Ini suka banget orang Rusia. Rasanya pas. Sudah gitu bikin mereka penasaran dengan Labuan Bajo. Karena banyak banget yang menanyakan juga pulau Komodo. Sepanjang minta ngopi, saya selalu ditanya bagaimana itu Komodo, bagaimana itu Flores. Sungguh luar biasa nama Pulau Komodo di Rusia,"kata Deryl Juniar, Barista yang diboyong Kemenpar ke Rusia, Sabtu (3/8/2019).

Karakter kopi Flores bajawa yang khas adalah perpaduan aroma nutty dan tembakaunya. Body-nya tebal dengan acidity yang seimbang menciptakan kenikmatan tersendiri. Keunikan cita rasa ini juga dipengaruhi oleh cara budidaya yang organik dan ditanam di tanah yang mengandung abu Gunung berapi. Pantas saja jika wisatawan Rusia begitu tertarik. Belum lagi bumbu eksotisnya Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Hal ini semakin membuat para pengunjung Rusia begitu antusias.

Menurut Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenpar Nia Niscaya, Kemenpar sengaja terus melibatkan diplomasi kopi. Karena saat ini kopi telah menjadi gaya hidup tersendiri bagi masyarakat di berbagai belahan dunia dengan cara dan budaya yang berbeda-beda. Oleh karena itu, menurut dia, diplomasi kopi ini sangat tepat agar kopi menjadi brand tersendiri yang mengingatkan masyarakat dunia tentang Indonesia.

"Dan ini terbukti, kopi Flores jadi favorit di FWI Rusia. Mereka pun semakin antusias menggali informasi tentang Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Ini tentu keuntungan bagi kita. Karena juga Labuan Bajo merupakan satu dari empat Destinasi Super Prioritas yang kini tengah digenjot pengembangannya oleh bapak Presiden. Untuk jawabannya, kami juga sudah mempersiapkan semua keterangan dan brosur yang terkait dengan Labuan Bajo di Paviliun kami," papar Nia yang diamini Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenpar Regional IV (Eropa) Agustini Rahayu.

Selain kopi Flores Bajawa, Kemenpar pun memboyong juga beragam kopi Indonesia lainnya. Dari mulai kopi Toraja, kopi kerinci, hingga kopi Kintamani. Kemenpar pun menghadirkan wedang uwuh dan wedang adas untuk melengkapi suasana.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, Indonesia sedang menuju destinasi wisata kuliner terfavorit di dunia yang berdaya saing tinggi. Melalui upaya-upaya yang terus dilakukan termasuk promosi ke luar negeri dan di dalam negeri. Hal ini sebagai upaya meningkatkan rasa cinta dan minat masyarakat terhadap kuliner tradisional nusantara termasuk juga untuk nikmatnya kopi Indonesia. Apalagi kopi-kopi Indonesia saat ini menjadi primadona dibanyak negara di dunia.

"Saat ini wisata kuliner bukan fenomena sesaat namun telah menjadi daya tarik dan tujuan utama berwisata ke suatu destinasi. Oleh karena itu wisata kuliner mampu menjadi unsur utama yang berfungsi sebagai perekat terhadap rangkaian berwisata, mengingat kepariwisataan merupakan sektor yang multi-atribut dan prospektif sebagai pintu gerbang sekaligus citra pariwisata Indonesia," ujar Menpar Arief Yahya.

Menpar menambahkan, kopi sebagai salah satu bagian dari minuman andalan Indonesia untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. Selain itu, sektor kuliner memberikan lapangan kerja. Dari 11 juta tenaga kerja yang berkecimpung di sektor pariwisata, 30 persen di antaranya bekerja di bidang kuliner atau restoran.Dia mencontohkan salah satu keberhasilan strategi pemasaran kuliner dari negara tetangga, seperti Thailand dan Cina, yang telah mendunia.

"Kopi itu sudah menjadi identitas bangsa. Dalam setiap kegiatan pameran ataupun promosi di luar negeri, kopi tidak pernah ketinggalan. Dan kopi Indonesia adalah yang selalu menarik masyarakat luar. Itu karena kopi Indonesia memang punya kualitas yang tidak dimiliki negara lain. Karakternya, rasanya, kepekatannya, aromanya, semuanya ada di kopi Indonesia," tutup Menpar Arief Yahya.