Kamis, 09 Januari 2020

Taman Raja Swedia Disulap Jadi Kampung Indonesia

Kungstradgarden adalah taman yang jadi tempat wisata di Swedia yang populer. Taman raja di Stockholm ini disulap menjadi Kampung Indonesia.

Taman Raja Swedia Kungstradgarden di Stockholm, Swedia, mendadak Indonesia banget. Gamelan Jawa dan juga kesenian Tarawangsa Rancakalong Sumedang membuka Wonderful Indonesia Festival Kampung Indonesia 2019 yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Stockholm, Swedia. Acara ini digelar dua hari, 26-27 Juli.

Even yang telah digelar ketiga kalinya ini lebih spesial dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Karena untuk pertama kalinya even ini digelar indipenden, tidak digabung dengan Festival Musik Putte i Parken seperti tahun 2017 dan 2018.

Kelompok gamelan 'Gongbron dan Teman-teman' yang salah satu anggotanya merupakan seniman Swedia Urban Wahlstedt membuka festival musik sekaligus kuliner dan kerajinan ini. Ratusan tamu yang hadir larut dalam alunan musik gamelan.

Penampilan Budi Dalton dan Orakaya yang mempertunjukkan Rarajah Bubuka dan Tarawangsa Rancakalong Sumedang, mampu membuat tamu yang hadir merinding karena nuansa mistisnya. Selanjutnya pengunjung yang mayoritas WNI di Swedia dibuat semangat dengan hentakan musik dari perkusi Budi Dalton dkk.

Meskipun cuaca panas, penonton makin tersihir dan ikut bernyanyi serta bergoyang saat musisi lawas Euis Darliah menyayikan lagu 'Apanya Dong' dan lagu Sunda 'Euis'. Penyanyi yang kini tinggal di Stockholm itu diiringi musik kolaborasi perkusi Budi Dalton dan Orakaya serta Angkung Saung Udjo.

Selanjutnya Duta Besar Indonesia Bagas Hapsoro juga unjuk gigi memainkan piano. Berkolaborasi dengan Saung Angklung Udjo dan Budi Dalton dkk, mereka memainkan lagu Rintak Rebana dan lagu jazz lawas Riofunk.

Selanjutnya lagu Maumere membuat Gubernur Jabar Ridwan Kamil yang membuka festival itu pun turut bergoyang ditemani Dubes Bagas, Ketua Kadin Jabar Tatan Pria Sudjana dan juga Kadisparbud Jabar Dedi Taufik. Ratusan pengunjung baik WNI, warga Swedia dan juga ikut bergoyang.

Penampilan lainnya yang bikin Indonesia Banget saat semua pengunjung bermain angklung bersama yang dipimpin oleh tim dari Saung Angklung Udjo.

"Kampung Indonesia menjadi ajang promosi pariwisata Indonesia kepada masyarakat Indonesia," ujar Bagas.

Menurutnya jumlah wisatawan asal Swedia yang masuk Indonesia tahun 2017 sekitar 51 ribu. "Kami targetkan tahun ini 53 ribu," katanya.

Sementara itu Ridwan Kamil mengatakan dengan adanya even ini, ia optimistis hubungan Indonesia dan Swedia semakin erat.

"Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen. Kami yakin dalam 4 tahun dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia," ujarnya.

Kadisparbud Jabar Dedi Taufik menyatakan antusiasme pengunjung terhadap penampilan angklung dan perkusi dari seniman Jawa Barat, menunjukkan seni budaya Indonesia khususnya Sunda bisa diterima di dunia.

"Keterlibatan kontingen Jawa Barat dalam acara ini, kita harapkan bisa membawa dampak positif terhadap pariwisata Jabar," katanya.

Sementara itu Rosdiana (45), WNI yang sudah menetap di Swedia selama 22 tahun mengaku senang dengan acara ini. Rosdiana selalu datang sejak even pertama 2017.

"Saya tinggal 50 menit dari Stockholm. Sengaja datang ke sini, cari penginapan karena senang dengan acara ini. Bisa bertemu dengan teman-teman asal Indonesia lainnya, jadi kaya reuni," ujarnya.

Ia berharap even tahunan ini terus digelar meski nanti berganti duta besar. "Ini jadi obat rasa kangen ke kampung halaman di Indonesia," ujar wanita bersuamikan WN Swedia ini.

Sementara itu Elkaa, dari Belgia, mengaku baru pertama kali mengunjungi Kampung Indonesia. Ia kebetulan tengah jalan-jalan dan mendengar suara musik. "Saya senang di sini, musiknya enak. Saya belum pernah ke Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, selain kesenian dari Jawa Barat, KBRI Stockholm juga menampilkan kesenian dari daerah lainnya di antaranya tarian merak dan kuda kepang dari Jateng, tari khas Dayak Iban seperti Tari Tempajang yang melambangkan rasa syukur. Sedikitnya ada 200 seniman yang terlibat di festival ini.

Menpar Paparkan Rahasia Suksesnya Banyuwangi Ethno Carnival 2019

Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas resmi membuka Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2019. Buat Banyuwangi, event ini adalah tempat berkumpulnya masyarakat The Sun Rise of Java.

Arief Yahya mengatakan Banyuwangi pantas mendapat ucapan selamat untuk beberapa hal. Pertama, karena BEC 2019 telah menjadi trending topic nasional. Atau event yang banyak diperbincangkan di medIa sosial.

"Selain itu, Banyuwangi menjadi kota festival terbaik di Indonesia. Dari 99 event yang ada di Banyuwangi, 2 masuk 100 Calendar of Event. Dan 1 event menjadi Top 10 Wonderful Event, yaitu Banyuwangi Ethno Carnival," tutur Menteri Pariwisata terbaik di ASEAN itu dalam keterangan tertulis, Sabtu (27/7/2019).

Ditambahkannya, Banyuwangi telah ditetapkan sebagai kabupaten pariwisata terbaik nasional dan terbaik infrastruktur di Indonesia Attractiveness Award 2019. Awardnya platinum, penghargaan tertinggi.

Bupati Azwar Anas mengatakan BEC memiliki makna tersendiri buat masyarakat dan berbeda dengan event-event carnival lain di Indonesia.

"Yang membuat beda Banyuwangi Ethno Carnival, kegiatan ini diinisiasi dari bawah. Dari masyarakat dan banyak event di Banyuwangi tidak menggunakan EO. Termasuk BEC. Semua dikerjakan PNS dan merupakan hasil swadaya," tutur Azwar Anas.

Dijelaskannya, dalam pelaksanaan BEC yang dinilai bukanlah bagus atau megahnya kostum yang ditampilkan para peserta karnaval.

"Tapi bagaimana dan sejauh apa keterlibatan masyarakat dalam event ini. Itu jauh lebih penting. Oleh karena itu, BEC bukan hanya event pariwisata. Tapi event yang menggerakkan dan mengumpulkan masyarakat Banyuwangi. Di event inilah masyarakat guyub. Kumpul bersama-sama," ujarnya.

Azwar Anas menambahkan, untuk menyaksikan BEC mereka rela datang dari kampung. Mereka menggelar tikar. Event ini menjadi perekat masyarakat Banyuwangi. Tidak ada sekat.

"Saya mengucapkan banyak terima kasih ke masyarakat dan PNS. Terima kasih kepada semua. Juga buat budayawan yang sering merumuskan tema-tema kegiatan termasuk BEC," paparnya.

Ditambahkannya, Banyuwangi memiliki 99 event. Event yang semula mendapatkan tantangan, kemudian mendapatkan dukungan yang lebih membuatnya bangga, BEC terpilih dalam 99 top inovasi di Indonesia karena berdampak positif buat rakyat.

Kabid Pemasaran Area I (Jawa) Wawan Gunawan, mengatakan banyak perwakilan pemerintah daerah di Indonesia yang menyaksikan event ini.

"Keunggulan BEC 2019 adalah mampu menggerakkan roda perekonomian daerah. Saya rasa hal seperti ini yang akan dipelajari daerah lain. Selain tentunya bagaimana mengemas sebuah acara dengan matang. Agar bisa menjadi daya tarik," ujarnya.

Ketua Tim Pelaksana Calendar of Event Kemenpar Esthy Reko Astuty, menilai BEC sebagai event yang luar biasa.

"Ini event yang kaya. Yang sangat banyak atraksi budaya. Semua dipersiapkan dengan sangat baik. Sangat matang. Makanya banyak daerah yang datang untuk mempelajari bagaimana menggelar event seperti ini," katanya.