Minggu, 12 Januari 2020

Sukses di AS, Bali: Beats of Paradise Segera Tayang di Indonesia

Setelah sukses mencuri perhatian di Amerika Serikat film yang mengangkat budaya dan alam Indonesia, Bali: Beats of Paradise akan segera tayang di jaringan bioskop di Tanah Air. Film garapan Livi Zheng ini akan tayang mulai 22 Agustus 2019.

"Setelah sukses diterima di bioskop-bioskop Amerika dan Korea Selatan, kali ini akan tayang di Indonesia pada 22 Agustus mendatang, semoga film ini bisa menginspirasi masyarakat dan tentunya mempromosikan pariwisata Indonesia ke dunia," kata Livi Zheng, dalam keterangan tertulis, Rabu (17/7/2019).

Film yang berdasarkan pada kisah nyata ini menampilkan keindahan pariwisata Bali dan mengangkat kisah inspiratif pemain dan komposer gamelan Nyoman Wenten, yang mengejar mimpi sebagai seniman Bali di Amerika Serikat lewat musik gamelan Bali.

Livi mengatakan, tema gamelan dalam film Bali: Beats of Paradise cukup menarik bagi dirinya. Pasalnya, musik gamelan yang mulai dikenal sebagai seni tradisional Indonesia, sekarang ini sudah mendunia dengan dijadikan sebagai ilustrasi musik dalam film Avatar, TV seri Star Trek, game Nintendo, hingga NASA pada 1977 dalam program komunikasinya.

Beberapa prestasi juga sudah ditorehkan oleh film yang telah diputar di teater dengan layar terbesar di dunia di Korsel. Kabar terbaru yang juga membanggakan di antaranya karena Bali: Beats of Paradise akan didistribusikan oleh iQiyi, salah satu perusahaan online streaming terbesar di dunia, yang berbasis di Beijing, China.

Perusahaan milik taipan China, Baidu, yang memiliki 96,8 juta pelanggan di dunia tersebut, juga akan menayangkan Bali: Beats of Paradise yang sempat masuk seleksi nominasi Oscar untuk kategori the Best Picture.

Tidak hanya itu, film karya Livi Zheng juga sempat di lirik dan akhirnya tayang di Walt Disney Animation Studios. Hingga akhirnya Livi mendapat kesempatan untuk bekerja di sana.

"Saya berharap film ini bisa berperan mempopulerkan budaya Indonesia pada dunia dan menginspirasi remaja Indonesia untuk mencintai budaya bangsa. Jangan lupa nonton film Bali: Beats of Paradise serentak di Bioskop kota-kota besar di Indonesia mulai 22 Agustus 2019," kata Livi.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengapresiasi film tersebut karena telah mendapat sambutan hangat dari masyarakat internasional.

"Film Bali: Beats of Paradise ini sukses besar mengangkat budaya Indonesia di AS secara menyeluruh. Apa yang dilakukan Livi dengan idealismenya sangat menginspirasi. Film memang media yang ideal untuk mempromosikan budaya dan alam Indonesia," kata Arief.

Arief juga mendukung mempromosikan film ini, agar Indonesia semakin dikenal di seluruh dunia, melalui keindahan alam, keunikan budaya, dan keramahan masyarakatnya.

"Film ini sangat bagus dan layak digunakan sebagai bagian dari promosi Wonderful Indonesia," katanya.

Film karya sutradara asal Blitar, Jawa Timur, yang bermukim di Los Angeles, Amerika Serikat (AS) ini mendapat sambutan hangat penonton di AS pada akhir tahun lalu, dan menyusul penonton di Korea Selatan.

Curhatan Menohok Denny Malik Soal Event Wisata di Daerah

 Sebagai koreografer, Denny Malik sudah sangat berpengalaman menangani event berskala Nasional maupun Internasional. Tapi untuk skala daerah, ada banyak masalah.

Siapa yang tidak kenal koreografer kondang, Denny Malik? Mahakarya ciptaannya sudah banyak dipentaskan di event-event berskala Nasional, bahkan Internasional. Yang terbaru dan masih segar di ingatan, tentu saja Pembukaan Asian Games 2018 yang amat megah.

Namun untuk urusan event di daerah, Denny mengaku banyak yang harus dibenahi. Curahan hatinya pun cukup menohok dan keras, tapi Denny merasa itu perlu untuk diungkapkan.

"Problemnya adalah, kita selalu lemah di eksekusi teknis. Untuk konten, kita sudah bagus. Senimannya oke-oke banget. Minat masyarakat dan penampil bagus sekali. Tapi saat manggung, soundnya tidak memadai. Saya kadang kasihan, sudah latihan berbulan-bulan, tapi pas pentas sound mati, panggung tidak layak. Itu terjadi berulang-ulang," keluh Denny dalam acara Coaching Clinic Calender of Event (CoE) di Sparks Luxe Hotel Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Apalagi alasan di balik kekurangan teknis tersebut, ternyata masalah biaya. Denny pun menegaskan, untuk bisa menciptakan event berstandar Nasional apalagi Global memang dibutuhkan dana yang tidak sedikit, tapi output yang dihasilkan akan sesuai. Jadi soal mahal dan murah itu sangat relatif.

"Setiap saya ke daerah, mereka selalu bilang 'Kita pakai EO yang paling murah'. Kenapa selalu begitu jawabannya? Bagi saya, mahal-murah itu relatif. Kalau tidak sanggup, jangan buat event. Analoginya, kalau nggak punya uang, jangan bikin pesta. Kita undang orang, kalau acaranya nggak bagus, makanannya nggak enak, mending nggak usah," tegas Denny.

Dengan pengalaman selama lebih dari 30 tahun, Denny tidak mentolerir jika alasan kekurangan teknis ini adalah soal dana. Bagi Denny, semuanya bisa diusahakan. Jika memang berkomitmen, para pemangku kebijakan di daerah pasti akan mengusahakan dan mencarikan solusi terkait masalah tersebut.

"Jangan dihemat-hemat lah. Bikin event, tapi genset cuma 1, panggungnya umpek-umpekan, spek alat tidak menunjang, seadanya. Kalau nambah 50-100 juta, bisa dapat yang lebih baik, kenapa tidak. Coba diusahakan dulu, cari sponsor, cari solusi, pasti bisa," imbuh Denny.

Terakhir, Denny menyoroti soal penempatan fotografer selama sebuah event berlangsung. Terkadang para media atau fotografer, justru diberi tempat yang tidak strategis, di belakang. Padahal pihak penyelenggara membutuhkan mereka untuk publikasi agar event mereka bisa diketahui khalayak, apalagi sekarang sudah zaman serba digital.

"Panggung VIP ga perlu lah. Justru harusnya itu untuk panggung media. Panggung buat media kadang nggak memadai. Harusnya mereka yang VIP, kita kasih privilege. Kita yang butuh mereka. Apalagi sekarang sudah zaman digital, foto harus yang bagus, promosi yang bagus. Jangan mimpi jadi event internasional, kalau secara teknis kita tidak menguasai," tutup Denny.