Selasa, 14 Januari 2020

Magelang dan Pariwisata Berbasis Masyarakat

Magelang kian dikenal dengan pintu Candi Borobudur. Setelahnya, kabupaten juga kota ini semakin berkembang dengan pariwisata berbasis masyarakat.

Apa maksudnya. Hal itu diutarakan oleh Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga, Iwan Sutiarso dalam menyambut wartawan dalam acara media gathering Kemenpar, Rabu (10/7/2019) kemarin.

Mula-mula, Iwan bercerita tentang sinergi pemerintah dan wartawan dalam membangun pariwisata daerah. Lalu, ia menceritakan tentang potensi-potensi yang ada di wilayahnya.

"Setidaknya ada 210 daya tarik wisata di Magelang. Akses ke sini ada 4 bandara di kota besar sekitarnya. Tahun mendatang pasti akan ada pembangunan infrastruktur Bawen-Jogja yang melewati Magelang. Kita kebagian 2 juta atau 10 persen dr total seluruh target 20 juta di tahun ini," kata dia mengawali sambutannya di Mesastila Resort and Spa Magelang.

Lebih lanjut, ia menyebut Candi Borobudur yang jadi awal mula pengembangan pariwisata. Pariwisata itu dinilainya sebagai pariwisata berbasis kerakyatan karena peran serta masyarakat sangat besar di dalamnya.

"Kita bisa lihat Borobudur dan merasakannya tak hanya ke sana langsung. Kamu bisa melihatnya dengan datang ke Punthuk Setumbu hingga Gereja ayam. Itulah pengembangan pariwisata Magelang yang berbasis masyarakat," tegas Iwan.

"Karena dari situ ada peluang kerja dan masyarakat bisa berusaha," imbuh dia.

Tak hanya itu, pengembangan pariwisata Magelang juga merambah ke wisata alam hingga budaya. Ada pula sport tourism berskala internasional di sini.

"Kita cintai alam ini kita perhatikan. Lalu ada ribuan orang ke Sungai Elo untuk bermain rafting. Kita bikin pula Festival Kali Elo. Berkembang lagi ke Jeep jurang Jero. Down Hill di lereng Merapi hingga adanya VW Wisata," urai Iwan.

"Pemberdayaan masyarakat karena mereka bisa memanfaatkan peluang dengan menjadikan rumahnya sebagai homestay. Itulah pariwisata ekonomi kerakyatan," imbuh dia menegaskan.

Sebanyak 14 candi ada di wilayah Magelang. Kata Iwan, beberapa di antaranya belum dimanfaatkan sama sekali.

Ada pula pegiat atau guide lokal dalam kegiatan media gathering Kemenpar bersama Pemkab Magelang kali ini. Mereka ingin memberi tahu bahwa ada usaha serius untuk memajukan wisata di sini.

Tunggu di artikel selanjutnya ya!

9 Fakta Orang Utan, Kera Besar 'Kerabat' Manusia

 Orang utan merupakan spesies kera yang identik dengan bulu berwarna kemerahan atau coklat. Hewan ini termasuk dalam spesies kera besar, bersama kera lainnya seperti gorila dan simpanse. Orang utan juga merupakan kerabat dekat manusia dalam kingdom animalia, karena orang utan memiliki kesamaan DNA sebesar 96,4% dengan manusia.

Karakteristik fisik lain yang identik dengan orang utan antara lain badan yang gemuk dan besar, lengan yang panjang dan kuat, kaki yang pendek, dan tidak memiliki ekor. Saking panjangnya, lengan orang utan dewasa jika direntangkan memiliki panjang hingga 2,2 meter dari ujung jari ke ujung jari.

Tapi, ini hanya sekelumit dari fakta menarik tentang orang utan. Berikut adalah 9 fakta orang utan yang menarik dan wajib kalian ketahui seperti dirangkum detikTravel dari berbagai sumber.

1. Ada Tiga Spesies Orang Utan

Ada tiga spesies orang utan di dunia yaitu orang utan Kalimantan atau Borneo dengan nama latin Pongo pygmaeus, orang utan Sumatera (Pongo abelii) dan orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang baru ditemukan pada November 2017 lalu.

Walaupun ketiga spesies ini terlihat sama, tapi ada beberapa hal yang membedakan ketiganya, salah satunya dari warna bulu. Bulu orang utan Kalimantan berwarna coklat gelap, bulu orang utan Sumatera berwarna coklat kemerahan, dan bulu orang utan Tapanuli berwarna kayu manis.

2. Habitat

Dulu, habitat orang utan menyebar di seluruh Asia Tenggara, bahkan sampai selatan China. Tapi, kini persebaran habitatnya hanya ada di dua pulau yaitu pulau Sumatera dan Kalimantan.

Orang utan biasanya ditemukan di kawasan hutan hujan yang lebat, sehingga ukuran populasi mereka sulit dihitung dengan pasti. Mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya bergelantungan di pepohonan dan merupakan binatang terbesar yang hidup di atas pepohonan.

Populasi terbesar orang utan Sumatera saat ini berada di Sumatera bagian utara, tepatnya di ekosistem Leuser. Sedangkan habitat orang utan Tapanuli berada di Batang Toru, Sumatera Utara.

Habitat orang utan Kalimantan tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, serta Serawak dan Sabah di Malaysia.

Museum Nasional, Sejarah, dan Koleksinya yang Harus Kamu Tahu

Museum Nasional juga sering disebut sebagai Museum Gajah. Museum ini merupakan museum terlengkap yang menyimpan koleksi-koleksi bernilai sejarah.

Museum Nasional Indonesia merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara. Lokasinya berada di Jalan Medan Merdeka Barat No.12, Gambir, Jakarta Pusat.

Ada 5 hal mengenai Museum Nasional yang harus kamu tahu, berikut penjelasannya:

1. Sejarah Museum Nasional

Museum Nasional dibangun pada masa pemerintahan Belanda. Gedung museum ini dibuka untuk umum pada tahun 1868. Setelah kemerdekaan Indonesia, Lembaga Kebudayaan Indonesia yang mengelola menyerahkan museum tersebut kepada pemerintahan Indonesia tepatnya pada tanggal 1962.

Saat ini, Museum Nasional berada di bawah pengelolaan Kementerian Kebudayaan dan Parawisata. Hal ini berkaitan dengan dipindahkannya Direktorat Jenderal Kebudayaan ke lingkungan kementerian tersebut.

2. Disebut Museum Gajah

Museum Nasional disebut juga Museum Gajah. Pemberian nama Museum Gajah karena terdapatnya patung gajah di depan halaman utamanya. Patung ini terlihat mencolok jika kamu jalan melewati museum tersebut. Kamu akan lebih mudah melihat patung gajah tersebut ketimbang nama museum itu sendiri karena cukup rendah terhalang pagar. Hal ini yang membuat masyarakat lebih mengenal museum ini dengan sebutan museum gajah.

3. Koleksi Museum Nasional

Museum Nasional menjadi tempat penyimpanan benda-benda bukti materil hasil budaya manusia serta alam Indonesia. Hingga saat ini ada 140.000 koleksi yang dikelola di museum tersebut. Di setiap pembagian ruangan di museum terbagi atas koleksi prasejarah, arkelogi, etnografi, geografi, keramik, miniatur rumah adat, dan lainnya.

4. Sering Ada Event

Jika kamu ingin berkunjung ke sana, pastikan event yang sedang diselenggarakan. Selain edukasi sejarah dengan koleksi-koleksi yang ada, kamu juga bisa menikmati seminar atau pameran khusus yang tengah diadakan di museum tersebut.

5. Bisa Belajar Sejarah

Selain menikmati event yang diselenggarakan, kamu juga bisa melakukan berbagai aktivitas menarik lainnya. Di sana ada kegiatan belajar seni membatik atau menikmati pentas, dan aktivitas menarik lainnya. Kegiatan ini bisa menjadi pilihan menarik untuk menghabiskan waktu akhir pekan dengan menikmati hasil budaya Indonesia.

Demikian ulasan singkat mengenai Museum Nasional yang bisa menjadi pilihanmu untuk menikmati liburan singkat di Ibukota. Dengan berkunjung ke sana, kamu dapat menikmati liburan sambil edukasi sejarah Indonesia.

Magelang dan Pariwisata Berbasis Masyarakat

Magelang kian dikenal dengan pintu Candi Borobudur. Setelahnya, kabupaten juga kota ini semakin berkembang dengan pariwisata berbasis masyarakat.

Apa maksudnya. Hal itu diutarakan oleh Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga, Iwan Sutiarso dalam menyambut wartawan dalam acara media gathering Kemenpar, Rabu (10/7/2019) kemarin.

Mula-mula, Iwan bercerita tentang sinergi pemerintah dan wartawan dalam membangun pariwisata daerah. Lalu, ia menceritakan tentang potensi-potensi yang ada di wilayahnya.

"Setidaknya ada 210 daya tarik wisata di Magelang. Akses ke sini ada 4 bandara di kota besar sekitarnya. Tahun mendatang pasti akan ada pembangunan infrastruktur Bawen-Jogja yang melewati Magelang. Kita kebagian 2 juta atau 10 persen dr total seluruh target 20 juta di tahun ini," kata dia mengawali sambutannya di Mesastila Resort and Spa Magelang.

Lebih lanjut, ia menyebut Candi Borobudur yang jadi awal mula pengembangan pariwisata. Pariwisata itu dinilainya sebagai pariwisata berbasis kerakyatan karena peran serta masyarakat sangat besar di dalamnya.

"Kita bisa lihat Borobudur dan merasakannya tak hanya ke sana langsung. Kamu bisa melihatnya dengan datang ke Punthuk Setumbu hingga Gereja ayam. Itulah pengembangan pariwisata Magelang yang berbasis masyarakat," tegas Iwan.

"Karena dari situ ada peluang kerja dan masyarakat bisa berusaha," imbuh dia.