Minggu, 02 Februari 2020

Hari Bumi, KLHK Serukan Imbauan Jaga Lingkungan dan Spesies

Tepat 22 April ini dunia merayakan Hari Bumi. Di momen penting ini, KLHK mengajak kita semua untuk sama-sama terlibat menjaga bumi dan spesies di dalamnya.

Melihat situs global Earth Day, sebagai penghuni Bumi kita diingatkan kembali akan pentingnya lingkungan serta spesies di dalamnya. Sesuai dengan tema tahun ini yang berbunyi 'Protect Our Species,' semua orang diajak turut peduli.

Sebagai garda terdepan lingkungan di Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia atau biasa disingkat KLHK juga mengkampanyekan hal yang sama.

Dihubungi detikcom via sambungan telepon, Senin (22/4/2019), Kepala Biro Humas KLHK, Djati Witjaksono turut mengutarakan hal senada dengan kampenye besar Earth Day tahun ini.

"Kalau kita bicara Hari Bumi yang temanya adalah 'Protect Our Species' berarti lindungilah spesies-spesies kita, tumbuhan dan satwa liar kita yang ada. Berarti makin concern gitu," ujar Djati.

Tanpa kita sadari, bumi ini sejatinya adalah rumah bagi semua ciptaan Tuhan. Tak hanya manusia atau kita, tapi juga tumbuhan dan satwa. Sebagai makhluk berakal, adalah kewajiban kita untuk menjaga Bumi dan bukan malah merusaknya.

"Kita harus melindungi habitat tempat hidup. Jadi Bumi ini sebagai tempat hidup spesies-spesies," ujar Djati.

Menyambut Hari Bumi ini, Djati mengaku kalau pihak KLHK tidak punya acara khusus. Hanya saja pihaknya terus mendukung sejumlah stakeholder dan penggiat lingkungan untuk terus menyuarakan ajakan menjaga lingkungan.

"Kita gak ada, karena dari awal inisiasinya dari teman-teman NGO (Non Governmnet Organization). Memang beberapa tempat kita ada adakan acara, tapi di kementerian secara khusus gak ada. Kita menghadiri undangan teman-teman dari NGO atau pemerhati lingkungan," tutup Djati.

GenPI Luwu Utara Buka Wisata Kuliner Tradisional di Pasar Sirenden

 Keluarga Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Sulawesi Selatan kembali bertambah dengan resminya deklarasi GenPI Luwu Utara. Di saat bersamaan destinasi digital Pasar Sirenden juga diluncurkan.

Menteri Pariwisata mengaku senang dengan aktifnya GenPI Sulsel yang menghadirkan GenPI Luwu Utara dan Pasar Sirenden.

"GenPI saya harapkan bisa terus semangat mempromosikan pariwisata Indonesia. Selain itu GenPI harus tetap aktif saat offline. Dan yang paling penting, GenPI harus terus berinovasi. Dan destinasi digital yang dibangun harus sustain," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (22/4/2019).

Deklarasi GenPI Luwu Utara dilakukan di Desa Pincara, Kecamatan Masamba, Minggu (21/4/2019). Tempat tersebut juga salah satu objek wisata air panas yang ada di Luwu Utara. GenPI Luwu Utara dipimpin Tita Kamila, Puteri Pariwisata Sulawesi Selatan 2017.

Menurut Ketua GenPI Sulawesi Selatan Rusdhy Karim, Pasar Sirenden tersebut merupakan gebrakan awal yang dilakukan oleh GenPI Luwu Utara.

"Pasar Sirenden sudah resmi meluncur. Peluncurannya dilakukan bersamaan dengan deklarasi GenPI Luwu Utara. Kita sangat berharap GenPI Luwu Utara dan Pasar Sirenden bisa terus eksis," kata Rusdhy.

Dijelaskannya, deklarasi GenPI dan peluncuran destinasi digital Pasar Sirenden merupakan atas dukungan pemerintah, yakni Bupati Luwu Utara. Begitu juga dengan pihak terkait seperti dinas pariwisata beserta jajaran, serta Kapolres Luwu Utara, dan beberapa sponsor yang tidak terikat.

"Bahkan, acara dipimpin Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani, yang ditandai dengan pemukulan talengko," ungkap Rusdhy.

Hadir dalam kegiatan tersebut yaitu Kepala Dinas Pariwisata Luwu Utara Jumail Mappile, Ketua PKK Luwu Utara Enny Abadi, dan beberapa tamu undangan lainnya.

"Pasar Sirenden merupakan wadah untuk menghadirkan kembali makanan atau jajanan. Serta, permainan tradisional yang sudah jarang ditemukan. Lapak pada Pasar Sirenden ini diisi oleh masyarakat lokal Pincara, dan sebagian lapak dikelola oleh GenPI sendiri. Pasar Sirenden hadir setiap dua minggu sekali," tambahnya.

Manusia yang Buang Sampah, Pulau di Samudera Pasifik Jadi Korban

Henderson, pulau di Samudera Pasifik yang jauh dari mana-mana. Namun sayangnya, pulau ini ternoda sampah plastik dari mana-mana.

ABC Australia pernah mengulas tentang Pulau Henderson ini. Dirangkum detikcom, Senin (22/4/2019) Pulau Henderson berada di antara Selandia Baru dan Chile. Pulaunya memiliki panjang 96 kilometer dan lebar 51 kilometer. Radius 5.000 km dari pulaunya, tidak ada satu orang pun di sana.

Di tahun 1988, UNESCO menetapkan Pulau Henderson sebagai Situs Warisan Dunia. Para peneliti menilai, pulau ini dulunya adalah atol di bawah laut yang terangkat menjadi daratan. Pulaunya hanya dihuni beberapa jenis burung dan flora endemik.

Pulau Henderson dijuluki sebagai Permata di Tengah Samudera. Bentang alamnya sungguh-sungguh indah, bibir pantainya diselimuti pasir putih nan halus. Tebing-tebing kapur menjulang tinggi dengan semak belukar hijau bagaikan permadani.

Pencemaran Sampah Plastik

Dr Jennifer Lavers, seorang peneliti dari Australia pernah melakukan riset ke sana. Ditemukanlah hasil yang begitu menyayat hati. Pulau tak berpenghuni yang cantik jelita, ternoda oleh sampah plastik yang jumlahnya tak main-main.

"Saya beruntung dalam karier saya sebagai ilmuwan dapat pergi ke beberapa pulau terpencil di dunia, namun situasi di Pulau Henderson benar-benar sangat mengkhawatirkan. Kepadatan plastik paling tinggi yang pernah saya lihat sepanjang karir saya," ujarnya.

Tercatat, Pulau Henderson dipenuhi sekitar 37,7 juta serpihan sampah dengan berat total mencapai 17,6 ton!

Sebagian besar sampah-sampah plastik yang ditemukan di pantai adalah barang-barang rumah tangga sehari-hari seperti korek api, pisau cukur plastik, sikat gigi, sendok plastik yang digunakan dalam deterjen atau formula bayi, dan mainan bayi. Sedih!

Untuk mengetahui berapa banyak serpihan di pulau terpencil tersebut, Dr Lavers yang juga pakar biologi konservasi di Institute for Marine and Antartic Studies dari University of Tasmania dan Dr Alexander Bond dari Centre for Conservation di Inggris, mensurvei pantai utara dan timur dari pulau ini selama tiga bulan di tahun 2015. Hasilnya, Ada 671,6 sampah-sampah per meter persegi di permukaan pantai, dengan sekitar 68 persen serpihan tertutup pasir kurang dari 10 sentimeter.

Polusi plastik merupakan ancaman utama bagi spesies laut, kata Dr Lavers. Sebuah studi yang dirilis dalam dua bulan terakhir menunjukkan sekitar 1.200 spesies terkena dampak buruknya. Di Pulau Henderson, sampah tersebut menghalangi penyu yang mencoba masuk ke pantai dan mengurangi jumlah penyu yang bertelur. Sampah-sampah ini juga mempengaruhi dua spesies burung laut.

"Ini bukanlah sampah dari kapal-kapal. Mayoritas sampah-sampahnya tampaknya berasal dari tanah awalnya, kemudian masuk kawasan laut. Ini benar-benar tergantung kita untuk dapat membuat perbedaan dan mengurangi permintaan produk plastik," papar Dr Lavers.

Sampah-sampah di Pulau Henderson berasal dari daratan Amerika Latin, AS hingga Asia. Sampah-sampah yang dibuang begitu saja ke laut dan mereka yang buang dipikirnya itu sampah akan hilang. Padahal, sampah dari merekalah yang sungguh biadab membuat pulau-pulau lain (seperti Pulau henderson ini) jadi tercemar. Alamnya rusak, hewan-hewannya mati.

Apakah tidak cukup Pulau Henderson ini jadi bukti? Supaya kita, tidak lagi membuang sampah sembarangan.