Rabu, 05 Februari 2020

Pesona Bawah Laut Gili Ketapang yang Jarang Orang Tahu

Jawa Timur punya keindahan bawah laut lain selain Banyuwangi, inilah Gili Ketapang. Pulau berpasir putih ini cocok untuk wisata snorkeling bagi traveler.

Kalau ditanya kota mana di Jawa Timur yang cocok buat snorkeling, jawaban nya pasti daerah Malang atau Banyuwangi. Tapi ternyata bukan cuma 2 kota itu yang punya pantai bening dan masih terjaga kealamiannya.

awabannya adalah Probolinggo. Iya, kota ini memang masih jarang menjadi rujukan wisata pantai. Ketika kamu menyeberang 30 menit menggunakan perahu nelayan, maka kamu akan menemukan Gili Ketapang.

Buat kamu yang berangkat dari Surabaya, butuh waktu 2 jam untuk menuju Probolinggo dan 30 menit untuk menyeberang. Tapi sayangnya kamu harus booking online melalui beberapa open trip terlebih dahulu agar bisa sampai ke Gili Ketapang.

Harga yang ditawarkan cukup murah, hanya Rp 90 ribu per orang dengan beberapa fasilitas seperti makan siang, foto underwater, video underwater, serta perahu PP pelabuhan Probolinggo-Gili Ketapang.

Dengan menggunakan jasa open trip ini, kamu nggak perlu kawatir meskipun tidak bisa berenang. Karena ada 4 guide yang akan menjaga kamu dan tim saat snorkeling dan berfoto di bawah air bersama terumbu karang, ikan hingga ubur-ubur.

Meskipun ubur-ubur terlihat menggemaskan, usahakan hindari bersentuhan dengan mereka karena dapat membuat kulit memerah dan gatal. Mayoritas guide itu sudah berpengalaman sejak 20 tahun lalu menyelam dan berenang di laut lepas. Selain itu alat snorkeling dan pelampung juga tersedia untuk setiap orang.

Termasuk berpasir putih, namun pulau ini tak cukup dipelihara dengan baik. Karena masih ada masyarakat di pulau itu yang masih membakar sampah.

Wisatawan pun punya andil dalam pembuangan sampah yang sembarangan. Sayang sekali jika wisata cantik ini harus tercemar dengan sampah ya..

Tarian Doro Mantika Bukti Kekayaan Tambora

Gunung Tambora memang sudah tak asing lagi di telinga traveler atau bagi pendaki gunung. Selain alam yang indah, Tambora punya kekayaan budaya yang menarik.

Kekayaan Gunung Tambora ditampilkan dalam bentuk tarian yang diberi nama Tarian Doro Mantika dalam pagelaran acara puncak Festival Pesona Tambora yang digelar di Doro Ncanga Dompu, Kamis (11/04/2019) kemarin.

Di Gunung Tambora terdapat tumbuhan endemiknya yaitu Pohon duabanga atau Kalangggo, burung-burung berkicau dengan tarian alamnya dan menghidupkan Ayam Hutan Hijau (Peo) dan burung Kakatua Putih, serta rusa timor (maju) sebagai hewan endemik. Padang Savana Doroncanga yang membentang dari timur hingga barat laksana permadani, tempat di mana ribuan hewan ternak merumput dan berkubang, serta lautan biru menghampar luas seluas mata memandang. Semua itu ada di Gunung Tambora.

Tarian Doro Mantika yang melibatkan 270 penari itu mengandung makna. Dalam bahasa Indonesia, Doro berarti Gunung, MAntika berarti Yang Indah. Sehingga arti tarian Doro Mantika adalah Tarian Gunung Yang Indah.

Dalam tarian itu menggambarkan tentang peradaban dou Dompu (orang Dompu) di sekitar lerang Gunung Tambora. Sumber daya alam yang melimpah, hasil pertanian yang banyak. Sistem kehidupan masyarakat yang dinamis direpresentasikan di setiap gerakannya, yang memadukan unsur kearifan lokal Dompu dalam gerak, suara dan berpakaian.

Bekerja di ladang, membersihkan lahan pertanian, menenun, beraktifitas di dalam uma panggu (rumah panggung) oleh kaum ibu. Berburu dengan tombak dan berinteraksi dengan alam adalah sistem sosial yang menjadikan masyarakat Dompu sangat bersahaja. Tergambar dalam kelembutan dan ketegasan setiap gerakan tarian itu.

Mengenal Nyegara Gunung, Simbol Kesakralan Laut dan Gunung

Tradisi dan budaya Bali memang selalu menarik untuk diulik. Kalau kamu biasanya tahu soal Ngaben, inilah tahapan lanjutannya Nyegara Gunung.

Suatu ketika, ada segerombol orang menggunakan baju putih-putih tradisional Bali berjalan memasuki Pura Goa Lawah, Klungkung, Bali. Usut punya usut, rombongan ini datang dari sebuah dusun di Singaraja. Jarak yang cukup jauh untuk ditempuh. Ternyata, mereka sedang melakukan upacara Nyegara Gunung. Apa sih Nyegara Gunung itu?

Kalau Anda tahu upacara Ngaben, Nyegara Gunung adalah beberapa tahapan setelahnya. Setelah mayat melalui proses Sekah atau digali dari kuburannya, di-Geseng atau dibakar, di-Nganyud atau dibuang abunya ke laut, lalu diupacarai lagi, runutan paling akhir adalah Nyegara Gunung.

Tujuannya untuk memanggil kembali roh leluhur keluarga yang ditinggalkan agar lebih suci lagi dan ditempatkan di Sanggah Kemulan. Sanggah Kemulan adalah pura yang ada di masing-masing keluarga tempat leluhur dipuja. Umat Hindu di Bali percaya kalau belum melakukan upacara ini, roh itu belum benar-benar bersih dan belum bisa reinkarnasi.

Lalu, kenapa lokasinya di Pura Goa Lawah? Biasanya salah satu petinggi agama Hindu di suatu wilayah mendapatkan wangsit untuk menentukan lokasi upacara Nyegara Gunung, sehingga upacara kali ini diadakan di sana.

Sebagai pengunjung, Anda bisa masuk ke Pura Goa Lawah dan menyaksikan langsung upacara ini. Tiket masuk ke Pura Goa Lawah Rp 25 ribu per orang, plus dapat bonus kalung etnis unik. Pengunjung juga wajib menggunakan sarung.

Tenang saja, begitu masuk Anda akan langsung dipinjamkan sarung oleh penjaga loket. Mengingat Pura adalah tempat suci, bagi wanita yang sedang menstruasi tidak diijinkan masuk ke dalam Pura.

Konon jika ditelusuri, Goa yang ada di Pura Goa Lawah bisa tembus ke Goa Raja yang ada di Pura Besakih. Jaraknya berkilo-kilo meter jauhnya. Tidak sembarang orang bisa masuk ke Goa ini.

Masyarakat percaya, hanya orang yang cukup sakti dan punya ilmu tinggi yang bisa melewatinya. Dinamakan Goa Lawah karena goa ini tempat hinggapnya para kelelawar (lawah). Pas sekali untuk melaksanakan upacara Nyegara Gunung.

Selain letaknya di atas bukit yang menjorok ke laut (segara), saat magrib kelelawar-kelelawar ini ramai keluar goa untuk mencari makan. Fenomena ini menjadi penanda bahwa upacara telah selesai dilaksanakan. Di sinilah daya tarik wisata Pura Goa Lawah, prosesi keluarnya kelelawar dari goa, lengkap diiringi pekikannya yang ramai.

Nyegara berarti laut (segara) dan gunung bisa diartikan bukit atau tempat tinggi. Sebuah filosofi Bali mengartikan upacara Nyegara Gunung adalah hubungan antara laut dan gunung sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Maka, setiap tindakan di gunung akan berdampak pada laut dan sebaliknya. Gunung, daratan yang menjulang ke angkasa adalah sumber penghidupan semua makhluk. Sedangkan lautan mengelilingi daratan dan hampir memenuhi seluruh permukaan bumi.

Mirip seperti lambang lingga yoni. Vibrasi dari dua tempat ini juga memancarkan aura keagungan dari Sang Pencipta, sehingga sangat tepat dinamakan Upacara Nyegara Gunung.