Jumat, 07 Februari 2020

13 Tips Penting Sebelum Liburan ke Kawah Ijen

Kawah Ijen di Banyuwangi punya pemandangan spektakuler Blue Fire. Tapi sebelum menikmati fenomena alam ini, simak dulu tips-tips berikut ya!

Sekedar tips buat traveler yang pengen ke Kawah Ijen:

1. Beli tiket kereta (PP) jauh-jauh hari, biar murah.

2. Booking homestay yang dekat dari Ijen, cari yang murah-murah saja.

3. Sewa motor di depan Stasiun Karangasem

4. Isi bensin full sebelum menuju kawasan Ijen

5. Kalo mau lihat Blue Fire, (cuma ada 2 di dunia, satunya ada di Islandia) saranku naik jam 1 pagi. Usahakan sampai pukul 3 dinihari.

6. Bawa masker+kacamata, hati-hati gas belerang

7. Beli makanan sebaiknya di luar kawasan Ijen, biar murah

8. Jangan lupa bawa sajadah, buat sholat subuh dekat puncak. Di sana ada tempat buat sholat subuh

9. Bawa kompas atau download aplikasi kompas offline untuk nyari kiblat. Di sana susah sinyal.

10. Kalo mau spot foto lebih bagus, bisa naik lebih ke atas

11. Bawa air minum dan tas kecil saja, biar tidak berat pas naik

12. Bawa jas hujan yang sekali pakai, murah. Barangkali hujan

13. Bawa power bank

Semoga tips ini bermanfaat.

3 Wisata Kuliner Banyuwangi yang Bikin Ngiler!

Selain pemandangan alam menakjubkan, Banyuwangi punya sajian wisata kuliner yang siap bikin traveler ngiler. Ada 3 rekomendasi nih, catat ya!

Banyuwangi? Kuliner apa yang ada di Kabupaten yang lagi hits bingits beberapa tahun belakangan ini? Pertamyaan tersebut muncul di kepala saya begitu saya melewati Alas Baluran dalam perjalanan dari Situbondo ke Banyuwangi.

Tahun 2013 saya memang pernah berkunjung ke Banyuwangi. Tapi, saya tidak mengeksplorasi kuliner. Saya mengunjungi sahabat saya yang sedang dirawat di Banyuwangi enam tahun lalu.

Kunjungan saya kali ini, membuat saya berkesempatan untuk mencicipi kuliner. Tiba di Banyuwangi, saya dan rombongan menuju ke Genteng, sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Banyuwangi.

Dari pusat pemerintahan Banyuwangi, jaraknya kurang lebih setengah jam. Lumayan jauh. Di Kecamatan Genteng, usai melakukan pertemuan, saya dan Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, menuju ke sebuah tempat makan. Namanya Ayam Super Pedas. Penasaran jadinya.

Meskipun sudah agak malam, tempat makan masih buka, dan makanan sudah siap. Jadi tidak perlu menunggu lama untuk menyantap. Setelah tersaji di hadapan saya, Ayam Super Pedas ini ada kuahnya. Kuahnya berwarna kecoklatan agak kemerahan. Seperti bersantan.

Ketika menyeruput kuah tersebut, langsung terasa super pedasnya. Memang sesuai dengan tempat makannya. Ayam Super Pedas! Hot, hot, hot.

Meskipun pedas, bumbu di daging ayam masih terasa. Pedas tidak membuat cita rasa bumbu lainnya hilang. Kuah masih gurih, tapi sayangnya sangat pedas. Saya takut asam lambung saya naik. Daging ayam memang habis, tapi kuahnya tidak sanggup saya habiskan.

Setelah menyantap ayam super pedas di Genteng, Banyuwangi ini, kami ke hotel untuk menginap. Dan keesokan harinya, akan menikmati kuliner lagi. Dan memang benar.

Hari terakhir Safari Kebangsaan VI PDIP, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengajak kami melihat Mal Pelayanan Publik dan usai itu kami kemudian menyantap Soto Ayam P. Niti. Soto Ayam P. Niti ini letaknya tidak berjauhan dengan Mal Pelayanan Publik Banyuwangi.

Kami hanya berjalan kaki saja. Walaupun soto ayam, ternyata juga tersedia soto babat. Saya memilih soto babat. Karena yang makan cukup ramai, saya menunggu agak lama.

Maklum saja lah. Dan memang tidak salah pilihan makanan Bupati Banyuwangi ini. Sotonya nikmat menggoyang lidah. Ada koya yang tersedia dan saya tambahkan ke Soto dan membuat cita rasa soto semakin enak.

Setelah mencicipi soto, kami pun menuju ke Pasar Tradisional Banyuwangi. Di Pasar tradisional Banyuwangi ini, Pak Bupati Banyuwangi akan membuat kami mencicipi Nasi Bungkus khas Banyuwangi. Dan memang benar. Setelah kami tiba dan duduk-duduk di Pasar Tradisional Banyuwangi, Nasi Bungkus Neng Lilik mulai disajikan.

Di Jerman, Tabung Gas Raksasa Diubah Jadi Galeri Seni

Jerman terkenal akan industrinya yang maju pesat. Saat teknologi makin berkembang, teknologi lama seperti tabung gas raksasa ini pun diubah jadi galeri seni.

Tak ada yang meragukan kemajuan teknologi di Jerman. Kemajuan teknologi di Negeri Bavaria melahirkan kota-kota industri baru seperti Oberhausen di daerah Lembah Ruhr. Tapi itu dulu.

Seiring kemajuan teknologi pula, industri dengan alat berat kini mulai ditinggalkan. Akibatnya, banyak pabrik-pabrik tua yang terbengkalai. Daripada mangkrak dan dihancurkan, ada beberapa bangunan yang dialihfungsikan untuk pariwisata. Salah satunya adalah Gasometer Oberhausen.

detikcom bersama rombongan Famtrip Singapore Airlines berkunjung ke Gasometer Oberhausen pada akhir Maret lalu. Singapore Airlines memang punya rute penerbangan ke Jerman, tepatnya ke Kota Dusseldorf, yang hanya berjarak kurang dari 1 jam dari Oberhausen.

Sesampainya di Gasometer Oberhausen, kami sudah disambut oleh Thomas Macoczeck, pemandu yang akan menemani kami berkeliling. Kepada detikcom, Thomas bercerita banyak tentang sejarah bangunan setinggi 170 meter dan berdiameter 67,6 meter ini.

"Gasometer ini adalah tempat penyimpanan gas. Dulunya digunakan untuk industri pembuatan baja. Bangunan ini dibangun pada 1927 dan mulai digunakan tahun 1929," terang Thomas kepada detikcom, Sabtu (23/3) lalu.

Saat Perang Dunia Kedua, bangunan yang mampu menampung 347 ribu meter kubik gas ini, mengalami kerusakan gara-gara bom. Hingga pada 1949, bangunan itu selesai direkonstruksi. Namun pada akhirnya, industri baja di Oberhausen pun tutup karena minimnya permintaan.

Di tahun 1994, Gasometer ini mulai dialihfungsikan untuk pariwisata. Tempat penyimpanan gas raksasa ini digunakan sebagai galeri untuk memajang berbagai macam lukisan dan karya seni lainnya. Para wisatawan pun mulai datang memadati destinasi ini.

"Tahun 1994 mulai jadi tempat pameran seni. Sekarang, Gasometer ini dikunjungi 1,3 juta pengunjung dalam 2 tahun terakhir," imbuh Thomas.

Saat rombongan kami datang, sedang digelar pameran bertajuk 'The Mountain Calls' yang berlokasi di dalam bangunan Gasometer. Isinya berupa pameran foto-foto soal gunung-gunung keren dunia. Pameran ini digelar sampai 27 Oktober 2019.

Dari gunung-gunung di Nepal, hingga Pegunungan Pelangi di China dipamerkan fotonya di sini. Pengunjung tampak antusias melihat foto-foto keren ini satu per satu. Total ada 3 lantai di bangunan ini yang digunakan sebagai ruang pameran.

Di lantai tiga, digunakan untuk memamerkan seni instalasi 3 dimensi Gunung Materhorn yang sangat keren. Penampakan Materhorn diterpa cahaya berbagai warna yang silih berganti membuatnya semakin magis.

Para pengunjung bisa menonton pameran ini sambil tiduran di beanbag yang sudah disediakan di area seperti sebuah amphiteater. Sambil menengadah ke atas, traveler bisa menonton karya seni keren ini. Ah, andai di Indonesia ada pameran keren seperti ini!

Traveler juga bisa naik ke atas puncak bangunan Gasometer terbesar di benua Eropa ini. Lewat lift kaca, traveler bisa naik sampai lantai tertinggi dan melihat pemandangan indah kota industri Oberhausen dari ketinggian.

Soal keamanan, jangan takut karena pagar baja mengelilingi puncak bangunan ini. Traveler bisa juga mengintip lewat teropong yang sudah disediakan agar bisa melihat penampakan kota Oberhausen dengan lebih jelas.

Untuk masuk ke dalam bangunan Gasometer Oberhausen, dikenakan tiket masuk sebesar 10 Euro (sekitar Rp 160 ribuan) untuk dewasa. Sedangkan anak-anak, hanya membayar sekitar 4 Euro saja (sekitar Rp 65 ribuan).