Jumat, 07 Februari 2020

Meneguk Liang Teh Paling Legendaris di Medan

 Liang Teh Ayong bisa dibilang kedai liang teh paling legendaris di Medan. Kedai ini sudah ada sejak tahun 1943. Cara melayani pelanggannya pun unik!

Tangan tiga peracik liang teh itu tampak begitu cekatan. Menuangkan gelas demi gelas teh bunga oriental dan membagikannya kepada para pelanggan yang sudah mengantri sedari tadi.

Sepuluh menit berada di sana, mungkin mereka bertiga sudah berhasil meracik lima puluh gelas liang teh hangat dan meloloskan beberapa mobil dan motor dari antrian yang mengular. Seperti sedang mengantri BBM, begitulah suasana stan Liang Teh Ayong yang terkenal itu.

Berada di sebuah pojok emperan toko di Jalan Perniagaan, Medan, stan liang teh ini mungkin jauh dari yang kita bayangkan. Bagaimana tidak, jika biasanya tempat-tempat menikmati teh selalu disediakan kursi dan meja sehingga pelanggan betah berlama-lama, di sini, hanya ada beberapa kursi dengan meja seadaanya saja.

Nampaknya kursi dan meja itu hanya jadi tempat istirahat para peracik teh saja. Namun, keadaan itu membuatku malah jadi penasaran. Benar saja, tak sampai beberapa menit di sana, aku paham ritme para pelanggan Liang Teh Ayong ini.

Mobil mereka berhenti tepat di depan stan, membuka kaca, menyebutkan jumlah pesanan, dalam dua menit pesanan datang dan dua menit berikutnya adalah waktu yang mereka pakai untuk menikmati segelas teh bunga ini.

Setelah itu pelanggan akan membayar teh mereka sembari menyerahkan gelas kosong dan pergi. Mirip system Drive Thru di restoran cepat saji. Wow!

Terakhir, pengalamanku menikmati cara minum seperti itu adalah ketika aku membeli segelas jamu gendong di dekat kos, tapi itu pun minus antrian yang mengular.

Sembari mengagumi kegigihan para pecinta liang teh Ayong ini, aku pun menyeruput teh milikku sendiri yang sudah terhidang beberapa menit lalu. Rasanya sedikit menggelitik. Ada aroma rempah bercampur dengan bunga krisan di sana, manis dan unik.

Wajar saja jika liang teh ini juga disebut teh bunga oleh orang sekitar. Keunikan rasa liang teh ini membuatku semakin penasaran dan mendekati dua buah teko tua berwarna emas. Ada aksara cina di sana, aku tak tau artinya, tapi kesan antik begitu terasa.

Kemudian, ketika salah satu peracik teh ini berbalik badan, angka tahun 1943 tampak tertulis dibaju bagian belakangnya. Hmmm, wajarlah jika kesan antik itu ada.

Aku kembali ke satu-satunya meja di mana tehku kuletakkan, kulihat adik-adik dan sepupuku tampak tetap kagum dengan antrian yang semakin mengular. Suasana semakin seru ketika ada pelanggan yang datang dengan sepeda motor mulai membunyikan klaksonnya, tanda tak sabar untuk segera dilayani.

Secepat kilat, salah satu peracik teh datang dengan segelas teh hangat untuknya. Dalam beberapa tegukan saja, teh tersebut habis. Sembari mengambil gelas kosong dan menerima uang pembelian, peracik teh tersebut juga menyerahkan sebuah kantong plastik berisi beberapa bungkus liang teh yang akan dibawa pulang pelanggan. Yup! Selain dinikmati di tempat, Liang Teh Ayong juga kerap dibawa pulang oleh pelanggannya.

Ini kali pertama aku merasa begitu kagum dengan sebuah stan teh. Ia begitu sederhana, tak banyak bicara, namun rasa teh bunga oriental ini begitu mengena di hati pelangannya. Bisa saja ia berubah, mengikuti segala tuntutan era. Namun, ia memilih untuk tetap sederhana, seperti ketika lebih dari tujuh dasawarsa lalu, peracik Liang Teh Ayong ini menemukannya.

Akhirnya, kubiarkan setengah gelas teh lagi menghapus haus. Dalam dua tegukan saja, ia sudah habis tak bersisa. Sebelum pergi, kuulurkan uang senilai Rp 35.000 untuk tujuh gelas liang teh yang membuat kami semua berdecak kagum.

3 Wisata Kuliner Banyuwangi yang Bikin Ngiler!

Selain pemandangan alam menakjubkan, Banyuwangi punya sajian wisata kuliner yang siap bikin traveler ngiler. Ada 3 rekomendasi nih, catat ya!

Banyuwangi? Kuliner apa yang ada di Kabupaten yang lagi hits bingits beberapa tahun belakangan ini? Pertamyaan tersebut muncul di kepala saya begitu saya melewati Alas Baluran dalam perjalanan dari Situbondo ke Banyuwangi.

Tahun 2013 saya memang pernah berkunjung ke Banyuwangi. Tapi, saya tidak mengeksplorasi kuliner. Saya mengunjungi sahabat saya yang sedang dirawat di Banyuwangi enam tahun lalu.

Kunjungan saya kali ini, membuat saya berkesempatan untuk mencicipi kuliner. Tiba di Banyuwangi, saya dan rombongan menuju ke Genteng, sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Banyuwangi.

Dari pusat pemerintahan Banyuwangi, jaraknya kurang lebih setengah jam. Lumayan jauh. Di Kecamatan Genteng, usai melakukan pertemuan, saya dan Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, menuju ke sebuah tempat makan. Namanya Ayam Super Pedas. Penasaran jadinya.

Meskipun sudah agak malam, tempat makan masih buka, dan makanan sudah siap. Jadi tidak perlu menunggu lama untuk menyantap. Setelah tersaji di hadapan saya, Ayam Super Pedas ini ada kuahnya. Kuahnya berwarna kecoklatan agak kemerahan. Seperti bersantan.

Ketika menyeruput kuah tersebut, langsung terasa super pedasnya. Memang sesuai dengan tempat makannya. Ayam Super Pedas! Hot, hot, hot.

Meskipun pedas, bumbu di daging ayam masih terasa. Pedas tidak membuat cita rasa bumbu lainnya hilang. Kuah masih gurih, tapi sayangnya sangat pedas. Saya takut asam lambung saya naik. Daging ayam memang habis, tapi kuahnya tidak sanggup saya habiskan.

Setelah menyantap ayam super pedas di Genteng, Banyuwangi ini, kami ke hotel untuk menginap. Dan keesokan harinya, akan menikmati kuliner lagi. Dan memang benar.

Hari terakhir Safari Kebangsaan VI PDIP, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengajak kami melihat Mal Pelayanan Publik dan usai itu kami kemudian menyantap Soto Ayam P. Niti. Soto Ayam P. Niti ini letaknya tidak berjauhan dengan Mal Pelayanan Publik Banyuwangi.

Kami hanya berjalan kaki saja. Walaupun soto ayam, ternyata juga tersedia soto babat. Saya memilih soto babat. Karena yang makan cukup ramai, saya menunggu agak lama.

Maklum saja lah. Dan memang tidak salah pilihan makanan Bupati Banyuwangi ini. Sotonya nikmat menggoyang lidah. Ada koya yang tersedia dan saya tambahkan ke Soto dan membuat cita rasa soto semakin enak.

Setelah mencicipi soto, kami pun menuju ke Pasar Tradisional Banyuwangi. Di Pasar tradisional Banyuwangi ini, Pak Bupati Banyuwangi akan membuat kami mencicipi Nasi Bungkus khas Banyuwangi. Dan memang benar. Setelah kami tiba dan duduk-duduk di Pasar Tradisional Banyuwangi, Nasi Bungkus Neng Lilik mulai disajikan.

Apa yang membedakan Nasi Bungkus ini dengan nasi bungkus lainnya? Nasi Bungkus Neng Lilik ini dibungkus dengan daun pisang. Bukan dibungkus pakai koran atau kertas coklat bungkus makanan. Memang berbeda.

Saya disajikan dua jenis nasi bungkus. Nasi Bungus Dadar dan Nasi Bungkus Telur Cit. Apalagi telur cit ini? Saatnya membuka nasi bungus. Ketika membuka, antara lauk dengan nasi, dipisahkan oleh daun pisang. Seperti nasi angkringan. Dan di dalam bungkusan, ada telur, mie goreng dan sambal.

Ada juga seperti srundeng. Telur cit ini adalah seperti telur yang disemur atau telur kecap. Nasi Bungkus ini memang nikmat. Saya yang sudah menyantap soto satu porsi, masih dengan nikmatnya menyantap nasi bungkus khas Banyuwangi ini.

Dari ketiga kuliner di Banyuwangi ini, sampai saat ini masih terkesan bagi saya. Terutama ayam super pedas, atau super ayam pedas dan nasi bungkus. Belum saya temui di tempat lain selain di Banyuwangi soalnya.

Kalau ke Banyuwangi, pembaca wajib mencicipi tiga jenis kuliner ini. Jangan sampai terlewatkan.