Selasa, 11 Februari 2020

Ada Peserta Tertua dari Inggris di Tour de Bintan 2019

 Tingginya pamor Tour de Bintan 2019 tergambar dari banyaknya warga negara asing yang mendaftar sebagai peserta. Tak kurang dari 2.000 peserta dari 48 negara bakal ambil bagian dalam kegiatan yang berlangsung selama tiga hari yaitu 29-31 Maret mendatang.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bintan Wan Rudy mengatakan, Tour de Bintan 2019 diikuti peserta dengan usia rata-rata 40 tahun. Untuk peserta tertua berusia 73 tahun, yaitu Russell Bell dari Inggris yang akan berpartisipasi dalam Tour 3 Hari. Sedangkan peserta termuda berumur 16 tahun, yakni Ryan Wippell yang akan mengikuti Challenge 82 Km.

Adapun lima negara dengan peserta terbanyak adalah Singapura (22 persen), Inggris Raya (18 persen), Indonesia (11 persen), Australia (10 persen), Jepang (5 persen), USA (4 persen), Malaysia (3,2 persen), Prancis (3,2 persen), Jerman (2,7 persen), dan Filipina (2,6 persen).

"Tour de Bintan 2019 jelas akan mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan, khususnya mancanegara. Mereka yang datang ke Bintan tentu bukan hanya peserta, tapi kemungkinan juga membawa keluarga dan official dari masing-masing negara," ujarnya, Senin (25/3).

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizky Handayani menyatakan, Tour de Bintan selalu mempunyai warna tersendiri. Apalagi, ajang ini diikuti oleh pebalap-pebalap top dunia. Ini tentunya menjadi sinyal positif bagi promosi pariwisata Bintan.

"Yang menarik, kegiatan ini juga menjadi kualifikasi kejuaraan dunia UCI Gran Fondo. Di mana, hanya ada dua event di Asia dan 21 event di dunia yang merupakan bagian dari Seri Dunia UCI Gran Fondo tersebut. Tour de Bintan sendiri menjadi salah satu event yang tergabung di dalamnya. Bayangkan efek promosi yang didapatkan," jelasnya.

Asdep Bidang Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati menyatakan, peserta akan mendapat keuntungan dobel dari ajang ini. Selain bisa mengukir prestasi, mereka juga dapat menikmati keindahan alam dengan jalan-jalan yang ditata lebih baik, serta sejumlah resor kelas internasional yang mengagumkan.

"Dengan adanya kejuaraan ini, kawasan Lagoi khususnya Bintan Lagoon Resort akan terangkat. Sejauh ini, sport tourism selalu membawa multi efek yang besar. Dampak langsungnya hotel menjadi penuh, karena pebalap juga membawa keluarga serta official," ungkapnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan, sport tourism menjadi salah satu konsep yang cukup berhasil menarik wisatawan mancanegara. Terbukti, dari tahun ke tahun kunjungan wisman ke Bintan terus meningkat. Ini menjadi kabar baik bagi industri pariwisata setempat.

"Sebagai sport event, yang terbesar dicari adalah indirect impact, atau yang lebih sering disebut sebagai media value. Itulah yang tersebar luas di seluruh dunia, dan membuat pamor Indonesia khususnya Bintan makin tenar," tandasnya.

Mengenal Indonesia Lewat Museum Gunungapi Merapi

Gunung Merapi di Yogyakarta meninggalkan banyak kisah saat meletus beberapa waktu lalu. Salah satunya adalah jejak untuk mengenal Indonesia.

Menurut beberapa sumber penelitian ilmiah , wilayah Indonesia yang terletak di kawasan cincin api (Ring of Fire) memiliki banyak zona sesar atau patahan dan rangkaian gunung api aktif sehingga wilayah Indonesia sering dilanda gempa bumi dan letusan gunung berapi. Beberapa letusan besar gunung api pernah tercatat dalam sejarah masa lalu kita, sebut saja dua di antaranya: letusan Gunung Tambora yang dahsyat di tahun 1815 dan letusan gunung Krakatau tahun 1883 yang juga mengejutkan dunia.

Ada satu lagi bencana geologi yang masih begitu membekas di ingatan kita yaitu gempa bumi dan tsunami besar yang melanda Aceh pada tahun 2004 yang lalu.

Namun di sisi lain, kondisi dan letak geografis negara kita yang berada di kawasan cincin api juga memberikan keuntungan. Bentang alam yang terdiri dari rangkaian pegunungan memberikan panorama yang indah bagi dunia wisata Indonesia, abu vulkanik dari letusan gunung berapi bisa menyuburkan tanah yang sangat berguna bagi pertanian dan wilayah pegunungan merupakan daerah resapan dan tangkapan air yang baik untuk cadangan air bersih.

Wajah Eksotis Yogyakarta yang Selalu Mempesona

Yogyakarta begitu lekat dengan candi dan Malioboro. Jadi wajah dari Yogyakarta, mari lihat lagi keeksotisannya yang tak pernah pudar.

Kala itu hari Minggu, posisi matahari sudah tinggi. Kami sedang mencari parkiran kosong untuk kendaran kami. Akhirnya kami pun menemukan spot parkir yang tidak begitu teduh. Pengunjung cukup ramai dan para pedagang souvenir juga tidak mau kalah ramai.

Para pedangang membawa penuh dagangannya di kedua tangannya. Mulai dari ibu-ibu sampai bapak bapak berusaha menawarkan dagangannya kepada para pengunjung. Souvenir yang dijual adalah baju kaos dengan tulisan Borobudur, kerajinan tangan bangunan candi, gantungan kunci, kaca mata, topi dan lain lain.

Cara penjualannya juga cukup agresive tapi tidak sampai tahap mengganggu, masih wajarlah. Hanya saja kalau tidak bisa menawar harganya bisa bikin gondok. Saranku untuk para traveler bila baru mau masuk ke candi Borobudur sebaiknya tidak perlu membeli souvenir dahulu walaupun ada yang bilang di dalam tidak ada yang jualan makanan dan minuman dan souvenir.

Sebaiknya anda hanya perlu membawa minuman saja. Karena untuk sampai di candi perjalanan kaki cukup lumayan jauh. Bila traveler tidak mau jalan kaki juga ada disiapkan kendaraan untuk keliling kawasan candi di waktu tertentu.

Butuh sekitar 30 menit berjalan kaki dengan santai sampai di pelantaraan utama candi Borobudur. Setiba di pelantaran utama ada sebuah gerbang utama memasuki candi tersebut dari kejauhan nampak sebuah situasi yang sering aku lihat di media sebelum sebelumnya. Seperti dejavu walaupun aku belum pernah ke tempat ini.

Akhirnya aku sampai juga di tempat dimana aku dulunya hanya bisa lihat di photo photo orang lain. Sudah puas dan memang cukup melelahkan juga keliling menikmati candi Borobudur karena bangunan candi cukup luas dan harus naik turun tangga batu.

Kembali menuju pintu sebelum pintu keluar sudah bisa ditemui para penjual makanan ringan dan minuman dan puluhan atau bisa dibilang ada seratus kios lebih para penjual souvenir. Jadi saya menyarankan para travelers tidak perlu terburu buru membeli dari awal masuk. Kecuali anda memang suka itu hak anda.

Selepas dari candi Borobudur, sekitar 4 km dan dengan lama penjelajahan sekitar 1/4 jam perjalanan. Akhirnya kami sampai di candi Mendut. Sementara rekan kerja masih kelelahan dan makan siang.

Aku pergi sendiri memasuki kawasan candi Mendut. Iringan lagu instrument dari alat musik angklung yang melantunkan lagu Keroncong Kemayoran dari salah satu pedagang souvenir mengiringi langkahku memasuki kawasan candi Mendut yang seperti lapangan sepak bola.

Pohon besar beringin tua berdiri seakan menjadi saksi hidup dan menjadi teman sejati candi Mendut. Di dalam candi Mendut terdapat patung dewa yang sedang bersemedi. Tertarik dan aku mendekati pohon beringin yang sangat besar di salah satu sudut candi Mendut.

Ibu-ibu sedang duduk dibawah kerindangannya. Awalnya aku tidak menggubris dan hanya memotret dari segala sudut yang aku suka dari pohon tersebut. Akhirnya dari situlah aku pamitan dari para ibu untuk melanjutkan ke candi Prambanan.

Tiba di lokasi ini memang sudah sore, karena jadwal perjalanan kami memang padat sehingga tidak mau menyia nyiakan kesempatan yang ada. Kawasan ini hampir sama luas dengan kawasan candi Borobudur.

Mungkin lebih luas. Kami harus melihat petunjuk arah agar bisa tiba di candi Prambanan. Menyusuri jalan seperti taman, tampak beberapa bangunan candi Prambanan sudah mulai terlihat menjulang tinggi.

Kekaguman dan kesedihan terasa, mulai mendekati pelataran utama candi Prambanan banyak reruntuhan. Entah apa penyebabnya. Di sini aku menghabiskan waktu terakhir untuk pengambilan beberapa photo untuk kenang-kenangan.

Sampai akhirnya benar-benar gelap aku baru beranjak dari tempat foto. Sempat kesasar saat kembali ke lokasi parkiran.

Meninggalkan candi Prambanan kami bergegas menuju Yogyakarta sebelum akhirnya kami harus berhenti di kota Solo. Di kota Yogyakarta, destinasi kami adalah Malioboro untuk menyantap makan malam.

Suasana sangat padat. Malam itu terang benderang dari lampu penerangan jalanan, kios pedagang dan lampu kendaraan yang hilir mudik. Pemilik delman bersama kuda kudanya berjejer baris menanti mengantarkan para wisatawan.

Pengunjung bercengkrama santai duduk di kursi kursi yang ada di trotoar. Kamipun duduk lesehan di suatu lapak penjaja makanan sop iga. Terngiang lagunya Katon Bagaskara, Pulang ke kotamu. Ada setangkup haru dalam rindu.