Rabu, 12 Februari 2020

Menara Kudus Disulap Jadi Gaya Tempo Dulu, Ada Apa Nih?

Menara Kudus adalah landmark paling terkenal di Kudus. Menara bersejarah itu hari ini diubah gayanya menjadi tempo dulu. Rupanya ada cerita di baliknya.

Pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) rupanya sedang memperingati hari jadi Menara Kudus atau mereka sebut Ta'sis Masjid Al Aqsha Menara Kudus setiap 19 Rajab. Dalam peringatannya, mereka membuat suasana Menara Kudus menjadi Kudus kuno atau Kudus tempo dulu.

"Kami berharap warga Kudus dan sekitarnya datanglah ke Menara Kudus. Di sana (kawasan Menara) bisa menikmati kesenian kuno, makanan kuno dan suasana kuno," kata Ketua Pengurus YM3SK Em Nadjib Hassan pada awak media usai pembukaan Ta'sis Masjid Al Aqsha Menara Kudus, Minggu (24/3/2019).

Pantauan detikcom di lokasi, tempat wisata di Kudus paling terkenal ini ditutupi dengan tumpukan batu bata yang disusun hingga menjadi panggung. Di panggung inlah, rentetan acara digelar. Seperti terbangan kolosal, dan lainnya.

Menurut Nadjib, sebenarnya Ta'sis Masjid Al Aqsha Menara Kudus telah diadakan beberapa kali. Pihaknya menghelat kembali agar masyakarakat ikut merasakan kembali jasa-jasa Sunan Kudus sebagai anggota Wali Songo utamanya terhadap bangunan historis, Menara Kudus sekaligus sebuah destinasi wisata religi.

"Karena harapan kita, ingat bahwa Masjid Menara Kudus dijadikan Sunan Kudus bukan yang terpisahkan. Jadi ya kembali ke khittahnya lah. Bahwa Sunan Kudus ini adalah seorang wali yang penuh kesejukan. Itulah yang diharapkan. Kudus jadi daerah sejuk, penuh dengan tepa selira," imbuhnya.

Dia merepresentasikan pula, jika 19 Rajab sekaligus mewakili terbentuknya negeri Kudus. Sebab sesuai dengan prasasti yang ada di atas mihrab atau tempat imam masjid Al Aqsha, Sunan Kudus telah membangun masjid Al Aqsha dan negeri Kudus pada tanggal 19 Rajab 956 Hijriah.

"Jadi Menara Kudus dan Negeri Kudus tidak bisa dipisahkan. Bukti prasasti ada di atas mihrab atau tempat imam di masjid. Kita sudah minta bantuan untuk membaca prasasti, termasuk para arkeolog," ujar Nadjib kembali.

Disebut negeri Kudus, kata dia membeberkan penjabarannya. Sebagian besar warga di luar Menara, jika menyebut hendak ke Kudus, berarti mereka akan pergi ke kawasan Menara atau pusat kota.

"Negeri Kudus ini ya kawasan ini (Menara Kudus). Belum ada kabupaten kan saat itu. Insya Allah nanti begini. Di samping kami memperingati ini. Karena ini peringatan yang ke-484, mulai tahun depan, nama acara ini menuju 5 abad. Kita sudah merencanakan tahun depan," terang Nadjib.

Lantas apakah dengan momen ini YM3SK berencana mengubah Hari Jadi Kudus, yang semula di Perda Nomor 11 Tahun 1990 adalah 23 September 1549, dan akan diganti jadi 19 Rajab 956 H.

"Jadi begini, sudah ada pembicaraan (dengan Pemkab Kudus). Sehingga mungkin ini ada satu jalan tengah yang terbaik. Bagaimana kalau kita peringati setiap tanggal 19 Rajab sebagai hari jadi Kudus. Bukan bulan masehi tapi hijriah," ujarnya.

Pihaknya berharap ada sinergitas soal hari jadi, sehingga tidak menimbulkan perbedaan. "Syukur kalau bisa sinergi. Kami berharap kalau ini nggawe dewelah, enggaklah. Kita bersinergi karena atas nama Kudus. Jadi tidak atas nama wong menara, tidak atas nama wong lain. Tapi atas nama wong Kudus," tandas Nadjib.

Raja-raja Nusantara Berkumpul di Ciamis Sambut HUT Kerajaan Galuh

Kerajaan Galuh pernah berdiri di Ciamis, Jawa Barat. Momen mengenangnya diisi dengan pawai menarik dan kehadiran raja-raja Nusantara.

Kabupaten Ciamis untuk kali kedua memperingati berdirinya Kerajaan Galuh dalam even Mieling Ngadegna Galuh 1407 (23 Maret 612 M - 23 Maret 2019 M) di Situs Jambansari, Jalan jendral Sudirman, Sabtu (23/3/2019). Dalam even ini hadir pula perwakilan raja-raja seluruh Nusantara yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN).

Even tahunan tersebut diikuti oleh ratusan warga Ciamis dari berbagai daerah dan kabuyutan. Perayaan diawali dengan kirab budaya dari Pendopo Bupati Ciamis menuju Situs Jambansari. Kirab ini menampilkan berbagai kesenian dan helaran, mulai dari Bebegig Sukamantri, Wayang Landung dan pesilat dari berbagai padepokan.

Kemudian dilanjutkan dengan pementasan berbagai kesenian di Situs Jambansari dan Pendopo Selagangga sampai sore. Pada malam harinya digelar sawala budaya dengan narasumber Dedi Mulyadi, Man Jasad, Rektor Unigal Budi Dalton. Kemudian ditutup dengan hiburan ronggeng.

Ketua Panitia Mieling Ngadegna Galuh - 1407 Riki Andriawan Mardjadinata menuturkan even ini sebagai sebuah spirit persaudaraan, untuk napak tilas perjalanan kerajaan galuh, yang tersebar di berbagai wilayah penjuru Nusantara.

"Ini momen napak tilas perjalanan dan bentuk penghormatan kami sebagai para Putra Galuh dimana setiap tanggal 23 Maret diadakan even ini, coba buat setiap 1 tahun sekali," terangnya.

Mieling Ngadegna Galuh ka-1407 ini juga tujuannya supaya generasi saat ini tidak lupa tentang Galuh. Terlebih acara ini digelar adalah untuk mempererat tali silaturahim sesama saudara yang memiliki semangat Galuh.

Dikatakan Riki, peserta yang hadir dari seniman dan budayawan dari mulai Banten kidul, Cianjur dari Bandung Barat, Pangandaran yang paling banyak dan Kota Bandung.

"Harapannya ini bisa berjalan setiap tahunnya dan bisa memberikan contoh yang baik di tengah carut marut perpolitikan yang memecah belah persatuan kita dengan berbagai golongan," jelasnya.

Riki menegaskan, ternyata di Tatar Galuh ini tidak terjadi perpecahan. Dengan balutan budaya, Ciamis masih bisa bersatu dan ini menjadi contoh, juga pembawa pesan untum bangsa Indonesia.

"Bahwa dengan budaya kita masih bersatu dan harapan besar bagi bangsa ini untuk tetap maju dan tetap semakin erat dalam persaudaraan," ucapnya.

Menurut Riki, sebagai bentuk persaudaraan, dalam even ini juga dihadiri perwakilan para raja seluruh Nusantara dari FKSN. Begitu juga saat ada kegiatan di daerah lain, juga perwakilan Raja Galuh ikut hadir dan memeriahkan.

Perwakilan yang juga Keturunan Raja Galuh R Hanif Radinal mengatakan kegiatan ini untuk saling mengisi, berbagai untuk kebersamaan dan persaudaraan. Semangat Galuh mempersatukan kembali kegaluhan yang terjaga sampai saat ini.

"Budaya pemersatu bangsa, kita semua bersama-sama dalam Bhinneka Tunggal Ika. Terkadang kita terbawa arus politik lainnya, tapi di sini budaya dan mengesampingkan politik. Mari menjaga dan melestarikan budaya," pungkasnya.