Sabtu, 07 Maret 2020

Kenpark, Destinasi Lebih dari Mal di Surabaya

Ada beberapa spot tempat wisata yang lebih menarik daripada mal untuk dikunjungi ketika di Surabaya. Bahkan ada yang memberikan nuansa seperti berada di tiga negara berbeda sekaligus.
Bagi saya, Surabaya adalah lebih dari sekedar kota. Surabaya adalah tempat di mana saya tumbuh dari masih bayi hingga dewasa dan tempat yang menjadi saksi segala kisah perjalanan di hidup saya dari suka maupun duka. Bila Surabaya adalah seseorang, kami pasti bersaudara.

Seperti bagaimana Surabaya melihat saya tumbuh, saya pun juga sebaliknya. Saya melihat bagaimana Surabaya berkembang sebagai kota metropolitan dengan begitu banyak gedung-gedung tinggi menjulang bermunculan, transportasi yang semakin bervariasi, mal-mal yang setiap waktu semakin bertambah banyak. tatanan kota yang meski terlihat semakin padat, namun juga semakin bagus. Hingga baru-baru ini pun kota Surabaya masuk dalam jajaran 15 besar kota terindah yang ada di dunia.

Mall-mall di Surabaya jauh lebih masyur untuk menjadi tempat nongkrong dan berlibur bagi siapapun yang tengah berada di kota. Padahal bila melihat dengan jangkauan yang lebih luas ada beberapa spot tempat wisata yang lebih menarik daripada sekedar mall yang patut untuk dikunjungi. Salah satunya, bahkan memberikan nuansa seperti tengah berada di tiga negara berbeda sekaligus.

Adalah Kenjeran Park yang oleh anak-anak Suroboyoan lebih familiar dengan singkatan KenPark adalah tempat wisata tersebut. Dulunya, tempat ini sangat tidak populer sebagai lokasi pariwisata. ada banyak yang mengaitkannya dengan hal-hal mesum dan juga identik dengan kata kumuh, meski lokasinya sendiri berada di satu area dengan tempat ibadah umat Budha. Saat tengah menyusuri foto-foto kece di Instagram, saya pun terperangah melihat perubahan begitu signifikan dari tempat ini.

Begitu menarik, sampai sekilas saya kira foto-foto tersebut bukan berlokasi di Surabaya. Menghapus penat selepas aktivitas, saya yang sewaktu itu tengah berada di lokasi yang berdekatan dengan KenPark pun akhirnya mengunjungi tempat ini setelah sekian lama.

Mengendarai mobil masuk ke area wisata KenPark, tiket yang harus dikeluarkan adalah Rp 20.000 untuk mobil + 2 orang penumpang. Bila penumpang lebih dari 2 maka akan ditambahi 5000 per-orang. Di lokasi yang sama, terdapat pula wahana permainan air yakni Atlantis land. Wahana air ini masih terhitung baru dirampungkan yakni pada akhir tahun 2017 lalu. Bila ingin menikmati wahana tersebut, pengunjung akan dikenakan biaya tambahan Rp 100.000 per orang saja di hari biasa.

Meski terlihat sangat menarik, sayangnya pada saat itu saya sama sekali tak memiliki keinginan untuk bermain air, terlebih cuaca surabaya cukup mendung dan beberapa kali gerimis turun membasahi setiap langkah. Dibandingkan dengan wahana air, tujuan utama saya adalah berkunjung dan melihat-lihat ikon wisata spiritual yang ada di sana.

Dengan hanya perlu merogoh kocek tambahan sebesar Rp 5.000 saja untuk parkir, saya masuk ke arena pertama ikon wisata KenPark, yakni Pagoda Tian Ti. Meski terlihat seperti tempat ibadah agama Buddha, namun pagoda satu ini sebenarnya memang sengaja dibuat untuk menjadi lokasi pariwisata. Bangunannya yang megah, kokoh dan berwarna-warni merupakan arsitektur yang sengaja dibuat semirip mungkin dengan Temple of Heaven yang ada di Beijing, China.

Tak pelak, berkunjung ke sini pun seolah memberikan nuansa seperti tengah berada di Negeri Tirai Bambu tersebut. Sayangnya, saya hanya bisa melihat keindahan bangunan dari luar mengingat bagian dalam pagoda yang tengah ditutup. Meski demikian, sembari berkeliling mengitari pagoda dan sesekali mengintip isi di dalamnya melalui jendela-jendela yang terbuka, tetap tak mengurangi rasa terpesona saya saat berada di sana.

Mau Kulineran Daging Rusa? Ke Sini Saja

Daging rusa menjadi makanan khas di Muara Teweh. Ada berbagai olahan yang dapat traveler jumpai di sana.
Mungkin banyak di antara teman-teman yang belum pernah mendengar mengenai Muara Teweh. Muara Teweh adalah ibu kota Kabupaten Barito Utara yang terletak di Kalimantan Tengah.

Perjalanan dimulai dari Jakarta dengan menggunakan pesawat terbang menuju Palangkaraya sekitar 2 jam perjalanan, setelah sampai Palangkaraya dilanjutkan dengan perjalanan darat kurang lebih 8 jam perjalanan darat. Cukup menguras energi juga ya.

Perjalanan dari Palangkaraya dimulai dari pukul 18.00 dan kami beristirahat di Ampah dari pukul 22.00 sampai dengan jam 02.00. Maksudnya istirahat cukup lama adalah agar ketika sampai di Muara Teweh sudah pagi. Dan perkiraan kami pas, sampai di Muara Teweh sekitar jam 05.30.

Karena ada pekerjaan jadi saya langsung mencari sarapan dan sarapan di sini adalah nasi kuning, tapi berbeda karena ada semacam bumbu yang kental yang agak manis dan saya tidak tahu itu bumbu apa. Tapi enak dan tentu saja ada olahan daging rusa.

Malam harinya saya makan Sate Rusa. Ternyata tidak begitu jauh dan berada di tengah kota, saya pun memesan sate rusa dan tongseng rusa. Cukup lama menunggu sekitar 20 menit akhirnya makanannya pun datang.

Secara tampilan memang tongseng dan satenya tidak berbeda dengan sate dan tongseng yang biasa, tapi rasanya sama sekali berbeda. Untuk tongseng, rasanya lebih asin dan tidak ada rasa manis atau gurih. Jadi secara cita rasa memang berbeda, tapi yang enak adalah daging rusanya yang mantap. Tidak keras dan empuk banget, serta benar-benar seger. Lanjut ke sate, rasa untuk bumbunya biasa saja, hanya menggunakan bumbu kecap tapi yang istimewa lagi-lagi adalah daging rusanya. Enak banget.

Menurut saya, dari cita rasa bumbu bisa lebih dikembangkan lagi karena dengan olahan yang ada sekarang akan membuat orang cepat bosan. Bagi yang akan berkunjung ke Muara Teweh, wajib mencoba hidangan yang tidak biasa ini.

Kenpark, Destinasi Lebih dari Mal di Surabaya

Ada beberapa spot tempat wisata yang lebih menarik daripada mal untuk dikunjungi ketika di Surabaya. Bahkan ada yang memberikan nuansa seperti berada di tiga negara berbeda sekaligus.
Bagi saya, Surabaya adalah lebih dari sekedar kota. Surabaya adalah tempat di mana saya tumbuh dari masih bayi hingga dewasa dan tempat yang menjadi saksi segala kisah perjalanan di hidup saya dari suka maupun duka. Bila Surabaya adalah seseorang, kami pasti bersaudara.

Seperti bagaimana Surabaya melihat saya tumbuh, saya pun juga sebaliknya. Saya melihat bagaimana Surabaya berkembang sebagai kota metropolitan dengan begitu banyak gedung-gedung tinggi menjulang bermunculan, transportasi yang semakin bervariasi, mal-mal yang setiap waktu semakin bertambah banyak. tatanan kota yang meski terlihat semakin padat, namun juga semakin bagus. Hingga baru-baru ini pun kota Surabaya masuk dalam jajaran 15 besar kota terindah yang ada di dunia.

Mall-mall di Surabaya jauh lebih masyur untuk menjadi tempat nongkrong dan berlibur bagi siapapun yang tengah berada di kota. Padahal bila melihat dengan jangkauan yang lebih luas ada beberapa spot tempat wisata yang lebih menarik daripada sekedar mall yang patut untuk dikunjungi. Salah satunya, bahkan memberikan nuansa seperti tengah berada di tiga negara berbeda sekaligus.