Selasa, 10 Maret 2020

Kawasan Glodok & Petak 9 Jadi Merah Jelang Imlek

 Imlek di awal Februari mendatang, namun kemeriahannya mulai terasa di kawasan Glodok dan Petak 9. Hiasan hingga pernak-pernik berwarna merah sudah bermunculan.

Tahun ini perayaan Hari Raya Imlek jatuh pada tanggal 5 Februari 2019 mendatang. Namun, kawasan Glodok yang didominasi oleh etnis Tionghoa sudah mulai bersiap untuk merayakan moment sekali dalam setahun tersebut. Hari Kamis ini, (17/1/2019) detikTravel pun datang ke sana untuk melihat kemeriahannya.

Dimulai dari kawasan Petak 9, Vihara Dharma Bakti di Jalan Kemanggisan III sudah mulai menghias diri dengan lampion berwarna merah. Di siang hari ini, aktivitas sejumlah umat yang bersembahyang juga tampak. Sambil memegang hio, masing-masing memanjatkan doa dan menancapkannya di altar silih berganti.

Di pekarangan vihara, sejumlah rakyat kecil juga tampak duduk di lantai sambil mengajak serta anaknya. Tak sedikit dari mereka yang menjemput rezeki dari para umat yang bersembahyang di vihara. Di mana puncaknya akan bertempat jelang dan saat momen imlek.

Berjalan sedikit melewati pasar menuju Kali Mati, tak sedikit pedagang yang menjajakan aneka printilan terkait imlek seperti lampion, kertas angpao hingga kaos dan pakaian bertema babi. Seperti diketahui, tahun ini merupakan giliran shio babi. Oleh sebab itu, hampir semua hiasan yang didominasi warna merah itu juga menyertakan ikon babi di dalamnya.

"Kaosnya, kaosnya. Rp 50 ribuan," ujar salah satu penjaja pakaian.

Melihat kemeriahan yang mengular di Petak 9, detikTravel pun membeli beberapa buah tangan. Jadilah sebuah kaos berwarna merah dengan gambar babi berpindah tangan. Angpao bergambar babi pun ikut dibawa pulang.

"Angpaonya kak, sepuluh ribuan isi 10. Ada juga yang sepaket," ujar salah satu penjual lain.

Sibuk mengamati pilihan dan hiasan Imlek, tiba-tiba ada seorang pria dengan kostum barongsai menghampiri dan menawarkan amplop untuk diisi uang. Tak usah kaget, kawasan Glodok memang dikenal akan barongsainya yang kerap menjemput rezeki dari satu toko ke toko lainnya.

"Mas, amplopnya, biar rezeki," ujar sang pria dengan kostum barongsai hitam di punggungnya

Apabila ingin mencari kue khas Imlek atau Nastar, traveler juga bisa mampir ke kawasan Petak 9. Di sana dapat dijumpai aneka permen, manisan buah hingga kue kerankang. Untuk kue keranjang harganya adalah Rp 40 ribu/Kg. Kue Mangkok isi lima sekitar Rp 22.500 dan Rp 50 ribu untuk manisan segi delapan.

Jika ingin merasakan euphoria jelang Imlek, traveler pun bisa mampir ke kawasan Petak 9 dan Glodok. Lihat dan rayakanlah keragaman Indonesia dalam budaya Tionghoa di Pecinan Jakarta.

Tradisi Kuda Menari dan Penunggang Cantik dari Polewali Mandar

Polewali Mandar di Sulawesi Barat punya sebuah tradisi menarik bernama Kuda Menari. Dalam tradisi ini, kuda akan ditunggangi oleh wanita cantik.

Tidak hanya terkenal dengan kekayaan wisata alamnya, Polewali Mandar juga dikenal dengan keragaman wisata tradisi. Salah satunya Kuda Menari.

Seperti yang digelar di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, pada Rabu sore (16/01/19).

Ribuan warga berjejer di pinggir jalan untuk menyaksikan kemeriahan festival kuda menari khas Suku Mandar. Festival ini digelar secara rutin setiap tahun oleh warga di daerah ini.

Banyaknya warga yang antusias menyaksikan wisata tradisi ini, tak jarang menyebabkan kemacetan panjang arus lalu lintas.

Disebut kuda menari, karena setiap kuda terlatih yang ditunggangi dua wanita cantik berbusana adat daerah setempat, akan berjingkrak-jingkrak setiap kali mendapat instruksi dari sang pawang kuda layaknya sedang menari.

Tabuhan musik rebana menambah kemeriahan festival yang oleh warga setempat juga dikenal dengan istilah Sayyang Pattudu (Kuda Menari).

Saat melihat kuda yang ditunggangi dua wanita cantik berjingkrak tinggi, dijamin akan membuat penonton berdecak kagum. Bahkan setidaknya berteriak histeris lantaran takut wanita cantik yang menunggangi kuda akan terjatuh.

Dari Keprihatinan, Lahir Gerakan Cinta Toleransi Beragama dalam Bentuk Wisata

Ketegangan politik yang membawa isu agama menimbulkan keprihatinan banyak orang. Wisata bhinneka pun lahir untuk membuka lagi pintu cinta sesama rakyat Indonesia.

Wisata Kreatif Jakarta ingin menghilangkan kesan sekat antar umat beragama dengan gerakan tur Wisata Bhinneka, Kamis (17/1/2019). Pesertanya kali ini adalah para siswa dan mahasiswa dari Jakarta dan sekitarnya.

"Tur kali ini ditujukan ke anak-anak. Karena bahkan di sekolah masih kurang diajarkan toleransi dan penekanan antar agama," kata penggagas Wisata Kreatif Jakarta, Ira Lathief seusai acara.

Dari pukul 10.00-15.00 WIB, peserta berkumpul di titik kumpul yakni Gereja Immanuel Gambir untuk sesi tanya jawab ringan tentang tempat ibadah tersebut dan agama masing. Hal sama dilakukan, yakni pengenalan tempat ibadah lain seperti mengunjungi Gereja Katedral, Masjid Istiqlal dan Kelenteng Sin Tek Bio.

Biasanya, Wisata Kreatif Jakarta mengunjungi 5-7 spot destinasi tergantung tipe turnya. Semua turnya didominasi berjalan kaki.

"Kami ini penyedia tur tapi kebanyakan jalan kaki. Awalnya wisata kuliner per kawasan dari 2017 dan baru kali dibuat untuk siswa. Tarifnya Rp 70 ribu per orang," imbuh dia.

Diawaki 15 orang, Wisata Kreatif Jakarta sudah melakukan tur rutin, yakni di Sabtu-Minggu pagi dan sore hari. Lokasinya ada di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bandung.

"Kami ada pula tur spesial, seperti pas Maulid Nabi hingga Natal. Kadang, karena melihat keadaan seperti ini tetap kami selipkan destinasi religi atau tempat ibadah di dalamnya," jelas Ira.

Saat ini, Wisata Kreatif Jakarta sudah memiliki rute sebanyak 35 jalur. Terakhir ada di kawasan Tanjung Priok.

"Di sana itu ada yang unik-unik. Kita bisa ke Pasar Ular yang menjual barang impor dengan harga miring," kata dia.

Tak hanya memupuk rasa toleransi, tur ini juga mengedukasi satu sama lain. Peserta bebas bertanya ke tur guide yang ada.

"Juga kita sebar kuesioner setelah acara karena ingin tahu output mereka setelah tur, seperti kesan setelah mengikuti tur. Juga kali ini ada pertanyaan tempat ibadah mana lagi yang mau dikunjungi?" pungkas dia.

Kawasan Glodok & Petak 9 Jadi Merah Jelang Imlek

 Imlek di awal Februari mendatang, namun kemeriahannya mulai terasa di kawasan Glodok dan Petak 9. Hiasan hingga pernak-pernik berwarna merah sudah bermunculan.

Tahun ini perayaan Hari Raya Imlek jatuh pada tanggal 5 Februari 2019 mendatang. Namun, kawasan Glodok yang didominasi oleh etnis Tionghoa sudah mulai bersiap untuk merayakan moment sekali dalam setahun tersebut. Hari Kamis ini, (17/1/2019) detikTravel pun datang ke sana untuk melihat kemeriahannya.

Dimulai dari kawasan Petak 9, Vihara Dharma Bakti di Jalan Kemanggisan III sudah mulai menghias diri dengan lampion berwarna merah. Di siang hari ini, aktivitas sejumlah umat yang bersembahyang juga tampak. Sambil memegang hio, masing-masing memanjatkan doa dan menancapkannya di altar silih berganti.

Di pekarangan vihara, sejumlah rakyat kecil juga tampak duduk di lantai sambil mengajak serta anaknya. Tak sedikit dari mereka yang menjemput rezeki dari para umat yang bersembahyang di vihara. Di mana puncaknya akan bertempat jelang dan saat momen imlek.

Berjalan sedikit melewati pasar menuju Kali Mati, tak sedikit pedagang yang menjajakan aneka printilan terkait imlek seperti lampion, kertas angpao hingga kaos dan pakaian bertema babi. Seperti diketahui, tahun ini merupakan giliran shio babi. Oleh sebab itu, hampir semua hiasan yang didominasi warna merah itu juga menyertakan ikon babi di dalamnya.

"Kaosnya, kaosnya. Rp 50 ribuan," ujar salah satu penjaja pakaian.