Minggu, 12 April 2020

WHO Peringatkan Tren Penjualan Obat Palsu Terkait Virus Corona

Di tengah wabah virus Corona COVID-19, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melihat tren kemunculan obat-obat palsu. Hal ini disebut berbahaya karena ada potensi efek sampingnya bila dikonsumsi sembarangan.
Salah satu tenaga ahli WHO, Pernette Bourdillion Esteve, menjelaskan nilai peredaran obat palsu di negara dengan pendapatan masyarakat menengah bisa sampai sekitar Rp 470 triliun. Peredarannya makin marak karena banyak masyarakat mencari obat untuk virus Corona.

"Skenario terbaik mengonsumsi obat palsu ini adalah tidak ada efek apa-apa. Tidak bisa menyembuhkan penyakit seperti yang diinginkan," kata Pernette seperti dikutip dari BBC, Jumat (10/4/2020).Definisi obat palsu bagi WHO adalah obat yang tercemar, beda bahan zat aktif, hingga sudah kedaluwarsa.

"Skenario terburuk obat palsu ini menyebabkan penyakit, kemungkinan karena tercampur zat berbahaya," lanjutnya.

Satu jenis obat yang disebut kerap dipalsukan adalah klorokuin dan hydroxychloroquine. Obat malaria ini banyak dicari karena dianggap dapat membantu menyembuhkan pasien meski belum ada hasil uji yang jelas.

306 Meninggal dari 3.512 Kasus, Tingkat Kematian Corona RI 8,71 Persen

Pemerintah pada hari Jumat (10/4/2020) mengumumkan total kasus positif virus Corona COVID-19 di Indonesia menjadi 3.512 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 306 di antaranya meninggal dunia sementara 282 orang lain dinyatakan sembuh.
"Sebanyak 219 kasus baru sehingga totalnya menjadi 3.512 kasus," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona Achmad Yurianto dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB, Jumat (10/4/2020).

Dengan data tersebut artinya tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) virus Corona di Indonesia saat ini ada di angka 8,71 persen. Terjadi sedikit peningkatan dari hari Kamis kemarin yang angkanya 8,5 persen.

Data yang dihimpun oleh Research Center Johns Hopkins University menunjukkan rata-rata CFR wabah Corona di dunia saat ini ada di angka 5,97 persen.

Amerika Serikat (AS) masih ada di urutan pertama sebagai negara dengan jumlah kasus Corona terbanyak yaitu 466.299 kasus. Berikutnya diikuti Spanyol sebanyak 153.222 kasus dan Italia 143.622 kasus.

Sebagai perbandingan AS memiliki CFR Corona 3,57 persen, Spanyol 10,08 persen, dan Italia 12,72 persen.

Ini Suplemen Herbal Berkhasiat Warisan Nenek Moyang Nusantara

Pandemi virus Corona masih menjadi masalah yang tak berkesudahan baik di Indonesia maupun di dunia. Kondisi ini diperparah dengan perubahan cuaca yang tiba-tiba, hal ini tentu mempengaruhi kesehatan tubuh. Salah satu cara menjaga kesehatan tubuh dari serangan virus adalah dengan menjaga kebugaran tubuh dan meningkatkan daya tahan tubuh dari dalam.
Di Indonesia, nenek moyang mempunyai banyak racikan obat alami yang sudah dikenal untuk mengobati berbagai penyakit sejak berabad-abad lalu. Temulawak, jahe merah, pasak bumi merupakan sedikit dari banyaknya bahan obat alami di Nusantara.

Jahe merah mengandung curcumin dan gingerol yang mempunyai khasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, antioksidan, dan menghangatkan tubuh, juga mengeluarkan angin saat kita masuk angin.

Pasak bumi bisa digunakan untuk meningkat energi. Kemudian ada temulawak yang bermanfaat meningkatkan nafsu makan. Selain itu, ada daun meniran yang mempunyai khasiat untuk mengaktifkan sel imun sehingga dapat memelihara daya tahan tubuh.

Semua obat alami tersebut diyakini sangat baik untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Bahan-bahan alami itu dipercaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit serta dapat menghambat pertumbuhan virus dan bakteri.

Untuk dapat mengonsumsi bahan herbal berkualitas seperti di atas, kamu bisa mengonsumsi Pancasona Eboost. Suplemen herbal yang memiliki berbagai macam kandungan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Tips Atasi Overthinking saat Corona, dari Barefoot hingga Pijat Bareng

Setiap hari kita melihat angka orang yang positif corona selalu bertambah. Di Indonesia saja, data pada Jumat (10/4/2020), kasus positif corona mencapai 3.512 dan 280 orang di antaranya meninggal dunia.
Belum lagi kita mendengar berita dokter-dokter meninggal dunia. Apakah kita bisa tenang? Masa bisa tenang pada situasi sekarang ini.

Kita pun menjadi overthinking atau berpikir berlebihan. Overthinking tidak baik untuk kesehatan mental. Kita bisa sulit melakukan aktivitas sehari-hari. Psikolog Keluarga dan Anak Samanta, MPsi, kepada detikcom memberikan tips untuk mengurangi overthinking.

Berikut tips mengurangi overthinking:
1. Fokus Pada Indera
Latih pernapasan hingga stabil dan rasakan kelima indera kita. Buatlah diri kita mensyukuri semua indera yang kita miliki. Rasakan fungsi dari masing-masing indera kita.

2. Phone Detox
Semua orang butuh perhatian. Semua ingin diperhatikan. Maka tidak ada salahnya kamu membatasi dirimu dengan mematikan HP kamu sejenak. Menutup pintu komunikasi yang tidak kunjung berhenti di berbagai grup membahas tentang isu COVID-19 ini.

3. Barefoot
Tips mengurangi overthingking saat corona lainnya yakni barefoot. Saat yang tepat untuk ikut healing bersama bumi terkasih kita. Jalan kaki tanpa alas kaki di dekat-dekat rumah dapat menenangkan pikiran kita.

4. Baca Buku
Pilih buku bacaan ringan yang bisa bikin kamu senyum-senyum dan fokus pada jalan cerita di buku. Mana tahu dari hasil membaca buku kamu jadi punya beberapa ide brilian.

5. Latih Otak
Tanyakan pada dirimu, "Apa yang bisa kamu lakukan atau kerjakan hari ini agar kamu aktif secara positif?" Daripada fokus pada hal yang jauh di depan dan belum terjadi, lebih baik fokus pada hari ini dan menghabiskan waktu secara sehat bersama keluarga.

6. Pijat Bareng
Ayo saling pijat anggota keluarga. Untuk pasutri bisa pijat pasangan. Duduk berhadapan dan pijat area leher hingga pundak pasangan. Rasakan khasiatnya, bukan hanya mengendurkan otot-otot leher yang kaku tapi juga meningkatkan romantisme pasangan.

Untuk anak-anak bisa saling pijat telapak kaki yang berujung gelitik bersama kakak dan adik. Kamu mau mencoba tips mengurangi overthinking?

WHO Peringatkan Tren Penjualan Obat Palsu Terkait Virus Corona

Di tengah wabah virus Corona COVID-19, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melihat tren kemunculan obat-obat palsu. Hal ini disebut berbahaya karena ada potensi efek sampingnya bila dikonsumsi sembarangan.
Salah satu tenaga ahli WHO, Pernette Bourdillion Esteve, menjelaskan nilai peredaran obat palsu di negara dengan pendapatan masyarakat menengah bisa sampai sekitar Rp 470 triliun. Peredarannya makin marak karena banyak masyarakat mencari obat untuk virus Corona.

"Skenario terbaik mengonsumsi obat palsu ini adalah tidak ada efek apa-apa. Tidak bisa menyembuhkan penyakit seperti yang diinginkan," kata Pernette seperti dikutip dari BBC, Jumat (10/4/2020).Definisi obat palsu bagi WHO adalah obat yang tercemar, beda bahan zat aktif, hingga sudah kedaluwarsa.

"Skenario terburuk obat palsu ini menyebabkan penyakit, kemungkinan karena tercampur zat berbahaya," lanjutnya.

Satu jenis obat yang disebut kerap dipalsukan adalah klorokuin dan hydroxychloroquine. Obat malaria ini banyak dicari karena dianggap dapat membantu menyembuhkan pasien meski belum ada hasil uji yang jelas.