Sejak akhir Desember 2019, pandemi virus Corona COVID-19 terus menyebar di seluruh belahan dunia. Bahkan, saat ini sudah menyebar di beberapa daerah di Indonesia.
Selama itu, sudah banyak disebutkan gejala-gejala yang muncul saat terinfeksi, seperti demam, batuk, hingga sesak napas. Tapi, ternyata infeksi penyakit ini bisa memberikan efek dalam jangka panjang.
Hal ini dirilis oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat. Kira-kira apa saja sih efek jangka panjang dari virus Corona ini?
1. Efek pada pernapasan
Menurut profesor patologi di Fakultas Kedokteran Universitas Chicago, Shu-Yuan Xiao, pasien dengan kondisi parah yang membutuhkan ventilator cenderung lebih rentan mengalami efek jangka panjang seperti kerusakan pada paru-paru dan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS).
"Berdasarkan pengalaman dari SARS dan MERS, beberapa pasien mungkin mengalami efek jangka panjang seperti fibrosis paru-paru. Di China, beberapa pasien membutuhkan alat bantu agar fungsi paru-paru kembali normal, tapi lainnya tidak," kata Xiao yang dikutip dari ABC News.
Ahli penyakit menular dan perawatan kritis di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg, Dr Amesh Adalja, mengatakan efek jangka panjang pada pasien yang mengalami penyakit pernapasan adalah hal yang umum terjadi.
"Ini adalah hal umum terjadi. Ada banyak kesamaan dalam penanganan kegagalan pernapasan karena COVID-19 maupun non-COVID. Ini tergantung berapa banyak jaringan paru-paru yang rusak akibat virus tersebut, itu yang akan menambah sesak napas," ujarnya.
2. Efek pada jantung
Selain pada sistem pernapasan, penelitian di China menunjukkan bahwa penyakit ini bisa berisiko untuk masalah jantung. Studi oleh peneliti Wuhan mengatakan bahwa 20 persen pasien yang terinfeksi COVID-19 juga mengalami kerusakan jantung.
Hal ini diduga menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian di sana. Tapi, sampai saat ini masih belum jelas apakah masalah jantung itu terjadi karena COVID-19 atau penyakit lain yang juga bisa memicunya.
"Seseorang yang sekarat karena pneumonia yang buruk bisa meninggal karena jantungnya berhenti. Itu bisa terjadi karena tidak bisa mendapatkan cukup oksigen hingga menyebabkan sistem tubuh rusak dan tidak terkontrol fungsinya," jelas Dr Robert Bonow, profesor kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Northwestern.
10 Negara dengan Jumlah Kematian Corona Tertinggi di Bulan April
Pandemivirus Corona COVID-19 terus berkembang. China yang awalnya disebut jadi pusat pandemi kini mulai melaporkan kasus dan angka kematian yang melandai.
Data terakhir di awal bulan April 2020 menunjukkan Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara Eropa kini jadi yang paling parah terdampak.
Bila dilihat dari jumlah pasien meninggal, berikut daftar negara dengan korban Corona tertinggi di dunia seperti yang dihimpun oleh Worldometer:
1. AS: 560.433 kasus, 22.115 meninggal, tingkat kematian 3,94 persen.
2. Italia: 156.363 kasus, 19.899 meninggal, tingkat kematian 12,72 persen.
3. Spanyol: 166.831 kasus, 17.209 meninggal, tingkat kematian 10,31 persen.
4. Prancis: 132.591 kasus, 14.393 meninggal, tingkat kematian 10,85 persen.
5. Inggris Raya: 84.279 kasus, 10.612 meninggal, tingkat kematian 12,59 persen.
6. Iran: 71.686 kasus, 4.474 meninggal, tingkat kematian 6,24 persen.
7. Belgia: 29.647 kasus, 3.600 meninggal, tingkat kematian 12,14 persen.
8. China: 82.160 kasus, 3.341 meninggal, tingkat kematian 4,06 persen.
9. Jerman: 127.854 kasus, 3.022 meninggal, tingkat kematian 2,36 persen.
10. Belanda: 25.587 kasus, 2.737 meninggal, tingkat kematian 10,69 persen.
Perlu diingat bahwa data tersebut belum tentu menunjukkan kondisi sebenarnya di lapangan dan bisa terus berubah setiap waktu.