Rabu, 15 April 2020

3 Skenario yang Bisa Mengakhiri Pandemi Virus Corona

Jumlah kasus positif virus Corona COVID-19 semakin bertambah di dunia. Pada Selasa (14/4/2020) orang terinfeksi virus Corona hampir menembus angka dua juta orang. Awalnya virus ini dilaporkan mulai menginfeksi manusia pada akhir Desember 2019 di Wuhan, China.
Hingga saat ini penyebaran virus Corona COVID-19 belum menunjukan tanda-tanda berhenti. Bahkan laju penularannya semakin meningkat di beberapa negara termasuk Indonesia.

Lalu bagaimana pandemi Corona COVID-19 ini bisa berakhir?

Dikutip dari Daily Sabah, terdapat tiga skenario yang memungkinkan bisa membuat virus Corona ini akan berakhir.

1. Herd Immunity
Skenario pertama mengacu pada herd immunity. Herd immunity diartikan sebagai situasi ketika banyak orang dalam satu populasi memiliki kekebalan terhadap penyakit. Kekebalan dapat dicapai ketika cukup banyak orang dalam populasi terinfeksi lalu pulih atau dengan vaksinasi untuk dapat secara efektif menghentikan penyebaran penyakit itu.

Namun herd immunity mempunyai risiko tinggi karena penyebaran yang cepat akan menyebabkan tingginya tingkat rawat inap dan penggunaan fasilitas kesehatan. Terlebih belum terdapat vaksin efektif untuk virus Corona.

2. Vaksin yang efektif
Skenario kedua dipandang menjadi opsi yang paling memungkinkan untuk memberantas penyakit ini untuk selamanya. Para ilmuwan hingga saat ini masih terus bekerja keras untuk mengembangkan vaksin untuk virus Corona.

Namun, untuk dapat menemukan vaksin virus Corona memerlukan waktu lama dan biaya yang mahal. Butuh waktu bertahun-tahun sebelum vaksin lulus tes keamanan dan keefektifan dalam uji klinis. Biaya yang diperlukan untuk mengembangkan vaksin ini pun cukup mahal, diperkirakan sebanyak 800 juta dolar AS atau 12 triliun rupiah.

3. Mutasi virus
Skenario terakhir yang bisa menghentikan persebaran virus Corona adalah dengan mutasi. Semua virus akan bermutasi dari waktu ke waktu atau mengalami perubahan dalam genomnya. Virus Corona COVID-19 pada umumnya memiliki 85 persen kemiripan genetik dengan virus SARS (Severe Accute Respiratory Syndrome) dalam wabah 2002 lalu.

Ketika virus bermutasi menjadi sesuatu yang lebih parah, maka tingkat infeksinya akan yang jauh lebih rendah untuk manusia sehingga membuat kematian sendiri pada virus tersebut.

Apa Itu 'Herd Immunity' dan Benarkah Bisa Perlambat Pandemi Virus Corona?

 Virus corona COVID-19 setidaknya sudah menginfeksi lebih dari 300 ribu orang di dunia. Statusnya pun sudah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi.
Meski begitu, baru-baru ini ramai soal anggapan 'Herd Immunity' bisa memperlambat pandemi corona. Apa itu herd immunity, dan benarkah bisa perlambat pandemi virus corona?

Dikutip dari Al-Jazeera pada Senin (23/3/2020) berikut penjelasannya:

Apa itu Herd Immunity?
Herd Immunity didefinisikan sebagai situasi di mana banyak orang dalam suatu populasi memiliki kekebalan terhadap penyakit. Hal ini dapat secara efektif menghentikan penyebaran penyakit tersebut.

Kekebalan orang tersebut bisa berasal dari vaksinasi, atau dari orang yang menderita penyakitnya terlebih dahulu. Mengutip Al Jazeera, dalam kasus corona bisa diartikan semakin banyak orang terinfeksi virus corona COVID-19, akan ada lebih banyak orang yang sembuh dan kemudian kebal terhadap penyakit tersebut.

"Ketika sekitar 70 persen populasi telah terinfeksi dan pulih, kemungkinan wabah penyakit menjadi jauh lebih sedikit karena kebanyakan orang resisten terhadap infeksi," kata Martin Hibberd, seorang profesor penyakit menular yang baru muncul di London School of Hygiene & Pengobatan Tropis.

"Ini disebut Herd Immunity," tambahnya.

Apakah ini akan memperlambat pandemi virus corona COVID-19?
Bukti dari wabah virus corona baru saat ini menunjukkan satu orang yang terinfeksi rata-rata menginfeksi antara dua dan tiga orang. Artinya, jika tidak ada tindakan lain yang diambil, herd immunity akan meningkat antara 50 hingga 70 persen populasi kebal.

"Tapi itu tidak harus, dan tidak akan dengan cara ini, (herd immunity)," kata Matthew Baylis, seorang profesor di Institute of Infection, Veterinary and Ecological Sciences di Liverpool University.

"Dari sudut pandang epidemiologi, triknya adalah mengurangi jumlah orang yang kontak dengan kita, sehingga kita dapat menurunkan jumlah orang yang terinfeksi, dan herd immunity dimulai lebih awal," kata Baylis.

Senin, 13 April 2020

Efek Jangka Panjang yang Bisa Dialami Pasien Akibat Virus Corona

Sejak akhir Desember 2019, pandemi virus Corona COVID-19 terus menyebar di seluruh belahan dunia. Bahkan, saat ini sudah menyebar di beberapa daerah di Indonesia.
Selama itu, sudah banyak disebutkan gejala-gejala yang muncul saat terinfeksi, seperti demam, batuk, hingga sesak napas. Tapi, ternyata infeksi penyakit ini bisa memberikan efek dalam jangka panjang.

Hal ini dirilis oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat. Kira-kira apa saja sih efek jangka panjang dari virus Corona ini?

1. Efek pada pernapasan
Menurut profesor patologi di Fakultas Kedokteran Universitas Chicago, Shu-Yuan Xiao, pasien dengan kondisi parah yang membutuhkan ventilator cenderung lebih rentan mengalami efek jangka panjang seperti kerusakan pada paru-paru dan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS).

"Berdasarkan pengalaman dari SARS dan MERS, beberapa pasien mungkin mengalami efek jangka panjang seperti fibrosis paru-paru. Di China, beberapa pasien membutuhkan alat bantu agar fungsi paru-paru kembali normal, tapi lainnya tidak," kata Xiao yang dikutip dari ABC News.

Ahli penyakit menular dan perawatan kritis di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg, Dr Amesh Adalja, mengatakan efek jangka panjang pada pasien yang mengalami penyakit pernapasan adalah hal yang umum terjadi.

"Ini adalah hal umum terjadi. Ada banyak kesamaan dalam penanganan kegagalan pernapasan karena COVID-19 maupun non-COVID. Ini tergantung berapa banyak jaringan paru-paru yang rusak akibat virus tersebut, itu yang akan menambah sesak napas," ujarnya.

2. Efek pada jantung
Selain pada sistem pernapasan, penelitian di China menunjukkan bahwa penyakit ini bisa berisiko untuk masalah jantung. Studi oleh peneliti Wuhan mengatakan bahwa 20 persen pasien yang terinfeksi COVID-19 juga mengalami kerusakan jantung.

Hal ini diduga menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian di sana. Tapi, sampai saat ini masih belum jelas apakah masalah jantung itu terjadi karena COVID-19 atau penyakit lain yang juga bisa memicunya.

"Seseorang yang sekarat karena pneumonia yang buruk bisa meninggal karena jantungnya berhenti. Itu bisa terjadi karena tidak bisa mendapatkan cukup oksigen hingga menyebabkan sistem tubuh rusak dan tidak terkontrol fungsinya," jelas Dr Robert Bonow, profesor kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Northwestern.

10 Negara dengan Jumlah Kematian Corona Tertinggi di Bulan April

Pandemivirus Corona COVID-19 terus berkembang. China yang awalnya disebut jadi pusat pandemi kini mulai melaporkan kasus dan angka kematian yang melandai.
Data terakhir di awal bulan April 2020 menunjukkan Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara Eropa kini jadi yang paling parah terdampak.

Bila dilihat dari jumlah pasien meninggal, berikut daftar negara dengan korban Corona tertinggi di dunia seperti yang dihimpun oleh Worldometer:

1. AS: 560.433 kasus, 22.115 meninggal, tingkat kematian 3,94 persen.
2. Italia: 156.363 kasus, 19.899 meninggal, tingkat kematian 12,72 persen.
3. Spanyol: 166.831 kasus, 17.209 meninggal, tingkat kematian 10,31 persen.
4. Prancis: 132.591 kasus, 14.393 meninggal, tingkat kematian 10,85 persen.
5. Inggris Raya: 84.279 kasus, 10.612 meninggal, tingkat kematian 12,59 persen.
6. Iran: 71.686 kasus, 4.474 meninggal, tingkat kematian 6,24 persen.
7. Belgia: 29.647 kasus, 3.600 meninggal, tingkat kematian 12,14 persen.
8. China: 82.160 kasus, 3.341 meninggal, tingkat kematian 4,06 persen.
9. Jerman: 127.854 kasus, 3.022 meninggal, tingkat kematian 2,36 persen.
10. Belanda: 25.587 kasus, 2.737 meninggal, tingkat kematian 10,69 persen.

Perlu diingat bahwa data tersebut belum tentu menunjukkan kondisi sebenarnya di lapangan dan bisa terus berubah setiap waktu.