Rabu, 15 April 2020

Apa Itu 'Herd Immunity' dan Benarkah Bisa Perlambat Pandemi Virus Corona?

 Virus corona COVID-19 setidaknya sudah menginfeksi lebih dari 300 ribu orang di dunia. Statusnya pun sudah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi.
Meski begitu, baru-baru ini ramai soal anggapan 'Herd Immunity' bisa memperlambat pandemi corona. Apa itu herd immunity, dan benarkah bisa perlambat pandemi virus corona?

Dikutip dari Al-Jazeera pada Senin (23/3/2020) berikut penjelasannya:

Apa itu Herd Immunity?
Herd Immunity didefinisikan sebagai situasi di mana banyak orang dalam suatu populasi memiliki kekebalan terhadap penyakit. Hal ini dapat secara efektif menghentikan penyebaran penyakit tersebut.

Kekebalan orang tersebut bisa berasal dari vaksinasi, atau dari orang yang menderita penyakitnya terlebih dahulu. Mengutip Al Jazeera, dalam kasus corona bisa diartikan semakin banyak orang terinfeksi virus corona COVID-19, akan ada lebih banyak orang yang sembuh dan kemudian kebal terhadap penyakit tersebut.

"Ketika sekitar 70 persen populasi telah terinfeksi dan pulih, kemungkinan wabah penyakit menjadi jauh lebih sedikit karena kebanyakan orang resisten terhadap infeksi," kata Martin Hibberd, seorang profesor penyakit menular yang baru muncul di London School of Hygiene & Pengobatan Tropis.

"Ini disebut Herd Immunity," tambahnya.

Apakah ini akan memperlambat pandemi virus corona COVID-19?
Bukti dari wabah virus corona baru saat ini menunjukkan satu orang yang terinfeksi rata-rata menginfeksi antara dua dan tiga orang. Artinya, jika tidak ada tindakan lain yang diambil, herd immunity akan meningkat antara 50 hingga 70 persen populasi kebal.

"Tapi itu tidak harus, dan tidak akan dengan cara ini, (herd immunity)," kata Matthew Baylis, seorang profesor di Institute of Infection, Veterinary and Ecological Sciences di Liverpool University.

"Dari sudut pandang epidemiologi, triknya adalah mengurangi jumlah orang yang kontak dengan kita, sehingga kita dapat menurunkan jumlah orang yang terinfeksi, dan herd immunity dimulai lebih awal," kata Baylis.

Bahaya Besar Herd Immunity Menurut Istri Bill Gates

Salah satu istilah yang belakangan ramai diperbincangkan di tengah pandemi corona adalah herd immunity. Melinda Gates, istri Bill Gates yang giat memperhatikan kesehatan dunia melalui yayasannya, Bill & Melinda Gates Foundation ikut menyinggungnya.
Pada dasarnya, herd immunity adalah kondisi saat sejumlah orang dalam populasi punya daya imun yang sangat baik sehingga tahan penyakit. Adanya herd immunity memungkinkan penyakit tidak menyebar lebih luas dan bisa ditahan.

Tapi apakah hal itu ide yang bagus melawan corona? Melinda menyatakan pada saat ini, masih jauh untuk mencapai level herd immunity corona dan juga sangat berbahaya jika memakai metode tersebut.

"Anda tidak mendapatkan herd immunity sampai persen besar populasi punya penyakitnya. Kita tahu soal itu dari semua penyakit yang diderita manusia pada masa lalu. Jadi tidak, kita masih jauh dari herd immunity," jawabnya, dikutip detikINET dari Business Insider.

"Dan Anda tidak bisa bergantung pada itu karena akan banyak orang meninggal jika Anda membiarkan eksperimen itu berjalan dan Anda membiarkan juga penyakit itu 'mengalir' ke masyarakat. Tentu kita bisa mendapat herd immunity dan kita juga akan memperoleh begitu banyak kematian," cetus Melinda.

Untuk saat ini, setidaknya sampai mendapatkan vaksin corona, Melinda menyarankan agar orang-orang mematuhi pencegahan yang terbukti efektif. Herd immunity tidak sebaiknya diharapkan untuk mengatasi pandemi COVID-19.

"Itulah mengapa penting mengingatkan orang bahwa yang kita punya saat ini adalah physical distancing, mencuci tangan dan memakai masker di publik. Kita harus menjalankan apa yang kita ketahui berhasil," pungkasnya.

3 Skenario yang Bisa Mengakhiri Pandemi Virus Corona

Jumlah kasus positif virus Corona COVID-19 semakin bertambah di dunia. Pada Selasa (14/4/2020) orang terinfeksi virus Corona hampir menembus angka dua juta orang. Awalnya virus ini dilaporkan mulai menginfeksi manusia pada akhir Desember 2019 di Wuhan, China.
Hingga saat ini penyebaran virus Corona COVID-19 belum menunjukan tanda-tanda berhenti. Bahkan laju penularannya semakin meningkat di beberapa negara termasuk Indonesia.

Lalu bagaimana pandemi Corona COVID-19 ini bisa berakhir?

Dikutip dari Daily Sabah, terdapat tiga skenario yang memungkinkan bisa membuat virus Corona ini akan berakhir.

1. Herd Immunity
Skenario pertama mengacu pada herd immunity. Herd immunity diartikan sebagai situasi ketika banyak orang dalam satu populasi memiliki kekebalan terhadap penyakit. Kekebalan dapat dicapai ketika cukup banyak orang dalam populasi terinfeksi lalu pulih atau dengan vaksinasi untuk dapat secara efektif menghentikan penyebaran penyakit itu.

Namun herd immunity mempunyai risiko tinggi karena penyebaran yang cepat akan menyebabkan tingginya tingkat rawat inap dan penggunaan fasilitas kesehatan. Terlebih belum terdapat vaksin efektif untuk virus Corona.

2. Vaksin yang efektif
Skenario kedua dipandang menjadi opsi yang paling memungkinkan untuk memberantas penyakit ini untuk selamanya. Para ilmuwan hingga saat ini masih terus bekerja keras untuk mengembangkan vaksin untuk virus Corona.

Namun, untuk dapat menemukan vaksin virus Corona memerlukan waktu lama dan biaya yang mahal. Butuh waktu bertahun-tahun sebelum vaksin lulus tes keamanan dan keefektifan dalam uji klinis. Biaya yang diperlukan untuk mengembangkan vaksin ini pun cukup mahal, diperkirakan sebanyak 800 juta dolar AS atau 12 triliun rupiah.

3. Mutasi virus
Skenario terakhir yang bisa menghentikan persebaran virus Corona adalah dengan mutasi. Semua virus akan bermutasi dari waktu ke waktu atau mengalami perubahan dalam genomnya. Virus Corona COVID-19 pada umumnya memiliki 85 persen kemiripan genetik dengan virus SARS (Severe Accute Respiratory Syndrome) dalam wabah 2002 lalu.

Ketika virus bermutasi menjadi sesuatu yang lebih parah, maka tingkat infeksinya akan yang jauh lebih rendah untuk manusia sehingga membuat kematian sendiri pada virus tersebut.

Apa Itu 'Herd Immunity' dan Benarkah Bisa Perlambat Pandemi Virus Corona?

 Virus corona COVID-19 setidaknya sudah menginfeksi lebih dari 300 ribu orang di dunia. Statusnya pun sudah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi.
Meski begitu, baru-baru ini ramai soal anggapan 'Herd Immunity' bisa memperlambat pandemi corona. Apa itu herd immunity, dan benarkah bisa perlambat pandemi virus corona?

Dikutip dari Al-Jazeera pada Senin (23/3/2020) berikut penjelasannya:

Apa itu Herd Immunity?
Herd Immunity didefinisikan sebagai situasi di mana banyak orang dalam suatu populasi memiliki kekebalan terhadap penyakit. Hal ini dapat secara efektif menghentikan penyebaran penyakit tersebut.

Kekebalan orang tersebut bisa berasal dari vaksinasi, atau dari orang yang menderita penyakitnya terlebih dahulu. Mengutip Al Jazeera, dalam kasus corona bisa diartikan semakin banyak orang terinfeksi virus corona COVID-19, akan ada lebih banyak orang yang sembuh dan kemudian kebal terhadap penyakit tersebut.

"Ketika sekitar 70 persen populasi telah terinfeksi dan pulih, kemungkinan wabah penyakit menjadi jauh lebih sedikit karena kebanyakan orang resisten terhadap infeksi," kata Martin Hibberd, seorang profesor penyakit menular yang baru muncul di London School of Hygiene & Pengobatan Tropis.

"Ini disebut Herd Immunity," tambahnya.

Apakah ini akan memperlambat pandemi virus corona COVID-19?
Bukti dari wabah virus corona baru saat ini menunjukkan satu orang yang terinfeksi rata-rata menginfeksi antara dua dan tiga orang. Artinya, jika tidak ada tindakan lain yang diambil, herd immunity akan meningkat antara 50 hingga 70 persen populasi kebal.

"Tapi itu tidak harus, dan tidak akan dengan cara ini, (herd immunity)," kata Matthew Baylis, seorang profesor di Institute of Infection, Veterinary and Ecological Sciences di Liverpool University.

"Dari sudut pandang epidemiologi, triknya adalah mengurangi jumlah orang yang kontak dengan kita, sehingga kita dapat menurunkan jumlah orang yang terinfeksi, dan herd immunity dimulai lebih awal," kata Baylis.