Rabu, 15 April 2020

Ilmuwan Prediksi Vaksin Corona Siap di Bulan September, Asalkan...

 Seorang ilmuwan dari Oxford University mengatakan bahwa vaksin untuk novel Coronavirus atau virus corona akan siap pada bulan September mendatang, tapi dengan beberapa syarat. Sarah Gilbert profesor bidang vaksin dari Oxford adalah yang mengerjakan vaksin COVID-19 itu bersama dengan timnya.
"Ini adalah kemungkinan jika semuanya berjalan dengan sempurna. Kami akan berusaha untuk itu. Tidak ada seorang pun yang bisa memberikan jaminan, tidak ada seorang pun yang bisa menjanjikan ini akan bekerja, serta tak ada yang bisa menentukan tanggal tepatnya (vaksinnya rampung -- red), tapi kami mengerjakan semampu kami, secepat yang kami bisa," kata Gilbert kepada The Times.

Gilbert dan tim kini sudah mengembangkan vaksin yang siap untuk menjalankan uji klinis pada dua minggu mendatang. Ia mengatakan bahwa vaksin ini akan memberikan 80% kemungkinan berhasil, berdasarkan bukti yang ia telah lihat.

Lebih lanjut, Gilbert menyatakan peserta yang terlibat dalam percobaan tidak akan dibuat sengaja terinfeksi virus oleh para ilmuwan. Sebaliknya mereka akan diminta untuk melanjutkan kehidupan mereka seperti biasa dan memantau apakah dari mereka kemungkinan akan terinfeksi.

"Jika kita menunggu terlalu lama, sebagian besar orang akan kebal sebelum kita memvaksinasi mereka. Jadi sangat penting kita cepat melakukannya sebelum sebagian besar menjadi terinfeksi. Tetapi itu juga berarti kita perlu melakukan penelitian di berbagai negara karena jumlah penularan virus dipengaruhi oleh lockdown," tutur Gilbert.

Membuat vaksin di tengah keadaan lockdown memanglah sulit, kendati demikian ini sepakat untuk menghindari terjadinya herd immunity. Dan dikarenakan mereka tidak yakin benua atau negara mana yang bisa menjadi tempat terbaik untuk menguji, tim berencana untuk melakukan studi di seluruh dunia.

Agar vaksin dapat diluncurkan pada bulan September ada syarat yang harus dilakukan, di antaranya jutaan dosis harus dibuat bahkan sebelum studi ini selesai. Gilbert ingin pemerintahnya dan pemerintah di seluruh dunia berinvestasi ratusan juta dolar untuk mewujudkan hal ini, dikutip detikINET dari Newsweek.

Prediksi kapan vaksin corona tersedia memang berbeda-beda. Bill Gates yang mendanai beberapa perusahaan untuk mengembangkan vaksin tersebut mematok kurun waktu sekitar 18 bulan sampai vaksin COVID-19 tersedia secara massal, jika semua proses berjalan dengan lancar.

Kapan Amerika Kalahkan Corona? Ini Ramalan Suram Bill Gates

Pandemi virus corona benar-benar membuat Amerika Serikat kerepotan. Lebih dari 400 ribu warga Negeri Paman Sam positif COVID-19. Kapan kira-kira negara adidaya itu benar-benar aman dari ancaman corona?
Bill Gates melontarkan prediksi soal itu yang cukup suram. Menurut sang pendiri Microsoft, musim gugur tahun 2021 adalah saat di mana Negeri Paman Sam sudah dapat mengalahkan corona sepenuhnya.

Musim gugur di sana biasanya jatuh pada bulan September. Artinya jika prediksi Gates benar, masih butuh waktu sekitar 1,5 tahun lagi sebelum warga Amerika merdeka dari COVID-19.

Waktu yang cukup lama itu dikarenakan pengembangan vaksin corona memerlukan waktu lebih dari setahun sebelum dapat diberikan ke publik. Vaksin merupakan kunci utama dalam melibas corona.

"Vaksin itu penting karena sampai Anda memilikinya, keadaaan tidak akan menjadi benar-benar normal," kata orang terkaya dunia nomor dua di belakang Jeff Bezos ini.

Lockdown atau social distancing bisa dilonggarkan, namun masih berisiko tanpa vaksin. "Bisa dibuka dalam derajat tertentu namun risiko balik lagi akan ada sampai kita memiliki vaksin tersedia sangat luas," cetusnya.

Gates juga memprediksi seperti apa situasi dalam 6 sampai 12 bulan mendatang. Kurang lebih kondisinya akan mirip dengan yang terjadi di China.

"Orang-orang kembali bekerja tetapi mereka memakai masker. Mereka cek suhu. Mereka tidak mengadakan event olahraga besar. Sehingga mereka dapat menghindari rebound yang besar," lanjut Gates.

Salah satu kemungkinan adalah acara yang melibatkan kerumunan orang bisa saja kembali diizinkan, namun ada pembatasan jumlah yang sangat terbatas. Kerumunan besar seharusnya tetap ditiadakan sampai vaksin tersedia secara luas.

8 Obat MERS Dijajal untuk Atasi COVID-19

MERS dan COVID-19 adalah sama-sama virus Corona. Adalah masuk akal jika obat MERS dicobakan juga untuk melawan pandemi saat ini.

Hal ini dihimpun Clinical Trials Arena, website pemberitaan khusus untuk proses riset dan pengembangan obat yang berbasis di London, Inggris. Mereka menghimpun data aneka belasan calon obat dan vaksin untuk COVID-19 yang sedang dikembangkan.

Diharapkan, pada akhir April uji klinis untuk calon vaksin Corona ini sudah bisa dilakukan. Seperti dilihat detikInet, Rabu (15/4/2020) inilah daftar obat MERS yang sedang diujikan untuk mengobati COVID-19:

1. Vaksin MERS CoV
Novavax pernah membuat kandidat vaksin untuk penyakit virus corona MERS pada 2013. Mereka sekarang dikucuri duit USD 4 juta oleh Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) untuk melanjutkan vaksin ini supaya bisa menjadi menjadi obat virus Corona. Uji coba hewan dan manusia ditargetkan pada 2020.
Baca juga: Kabar Baik! 25 Calon Obat Virus Corona Lagi Disiapkan

2. INO-4700
Inovio juga membuat obat lain untuk corona berupa vaksin INO-4700. Mereka menggandeng GeneOne Life Science. Sebelumnya obat ini dipakai untuk MERS-CoV dan membangkitkan imunitas pada 94% pasien pada uji klinik Juli 2019. MERS dan COVID-19 memang sama-sama keluarga virus Corona. Inovio dapat kucuran duit USD 5 juta dari Bill and Mellinda Gates foundation.

3. Remdesivir
Gilead Sciences mengusulkan obat Remdesivir yang sebelumnya untuk Ebola. Sekarang obat ini sedang uji fase III di negara-negara Asia yang kena virus Corona. 761 Pasien di Wuhan dicobakan obat ini dan hasilnya keluar beberapa pekan lagi.

Laporan dari The New England Journal of Medicine (NEJM), Remdesivir juga dicobakan untuk pasien di Amerika dan University of Nebraska Medical Center memakainya untuk pasien dari kapal pesiar Diamond Princess cruise.

4. Actemra
Perusahaan obat Roche dapat izin China untuk memakai obat Actemra kepada pasien virus Corona. Obat ini mencegas cytokin berlebihan. Actemra lagi dalam tahap evaluasi untuk uji klinik kepada 188 pasien corona pada 10 Mei 2020 mendatang.

5. Galidesivir
Biocryst Pharma membuat anti virus Galidesivir, untuk melawan COVID-19. Sebelumya ia dipakai untuk melawan Ebola, Zika, Marburg dan Yellow Fever. Sekarang Galidesivir dikembangkan untuk menghadapi coronavirus, flavivirus filovirus, paramyxovirus, togavirus, bunyavirus dan arenavirus.

6. REGN3048-3051 dan Kevzara
Regeneron mengkaji antibodi REGN3048 dan REGN3051 untuk uji manusia dalam mengobati COVID-19, didukung oleh National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID). Ada 48 pasien yang akan diujicobakan. Sebelumnya ini dipakai untuk mengobati MERS.

Regeneron juga berpartner dengan Sanofi mengevaluasi Kevzara, antibodi yang sedang tahap dua/tiga uji klinik pada pasien berat COVID-19. Kevzara bisa memblok jalan interleukin-6 yang menyebabkan pembengkakan paru-paru pada pasien COVID-19.

7. SNG001
Synairgen Research punya obat hirup SNG001 yang akan diuji University of Southampton untuk mengobati sejumlah penyakit pernafasan akibat virus Corona. Obat ini langsung masuk ke paru-paru untuk mengurangi infeksi akibat virus Corona.

8. AmnioBoost
Lattice Biologics meneliti konsentrat AmnioBoost untuk membantu mengobati COVID-19. Obat ini tadinya untuk pasien osteoarthritis yang sudah dewasa. Obatnya mengurangi cytokine dan meningkatkan cytokine anti-inflammatory