Sabtu, 25 April 2020

Ini Bahaya Terlalu Banyak Konsumsi Makanan Manis Saat Buka Puasa

 Saat berbuka puasa umumnya dianjurkan untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang manis. Karena gula dibutuhkan oleh tubuh untuk memenuhi kebutuhan energi yang telah hilang selama berpuasa.
Apakah mengonsumsi yang manis-manis saat berbuka puasa itu ada batasannya?

Menurut ahli gizi dari Rumah Sakit Pusat Pertamina, dr Titi Sekarindah, MS, SpGK, berbuka puasa memang dianjurkan untuk mengonsumsi makanan atau minuman manis, tetapi jangan berlebihan.

"Kalau kebanyakan gula nanti jadi kenyang kemudian kita jadi nggak nafsu makan, dan apalagi takutnya kalau punya kadar gula tinggi kan bahaya," kata dr Titi kepada detikcom, Jumat (24/4/2020).

dr Titi juga menjelaskan ketika perut sudah terasa kenyang sebelum mengonsumsi makanan berat, nantinya akan berdampak pada kualitas saat sahur.

"Sebenarnya kalau puasa itu yang penting sahurnya. Jadi harus sahur, kadang-kadang karena sudah kenyang karena makan takjilnya kebanyakan, jadi kita makannya terlalu larut malam dan nanti makan sahurnya jadi ikut sedikit," jelas dr Titi.

"Jadi nanti daya tahan (tubuh) bisa menurun karena kurang sahur," tuturnya.

Sudah 60 Ribu Lebih Spesimen Diperiksa, Total 197.951 ODP dan 18.301 PDP

Hingga Jumat (24/4/2020) tercatat 64.054 spesimen virus Corona COVID-19 telah diperiksa di seluruh Indonesia. Didapatkan hasil positif sebanyak 8.211 dan hasil negatif sebanyak 42.532.
"64.054 spesimen kita periksa dengan pemeriksaan real time PCR, dari 50.563 pasien," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona COVID-19, Achmad Yurianto, Jumat (24/4/2020).

Berikut data lengkap pemeriksaan virus Corona COVID-19 pada Jumat (24/4/2020).

UJI PCR

Jumlah lab: 45 lab
Jumlah spesimen diperiksa: 64.054 spesimen
Jumlah kasus yang diperiksa spesimen: 50.563 pasien
Hasil positif: 8.211 orang
Hasil negatif: 42.532 orang

PASIEN

ODP (Orang dalam Pemantauan): 197.951 orang
PDP (Pasien dalam Pengawasan): 18.301 orang
Konfirmasi COVID-19: 8.211 orang
Kasus sembuh: 1.002 orang
Kasus meninggal: 689 orang
Provinsi terdampak: 34 provinsi
Kabupaten/kota terdampak: 273 kab/kota.

5 Gejala Virus Corona yang Tak Biasa Tapi Tetap Perlu Diketahui

Umumnya, infeksi virus corona COVID-19 selama ini banyak dikaitkan dengan gejala khas, seperti demam, batuk, hingga sesak napas. Gejala itu yang selama ini menjadi tanda saat seseorang kemungkinan terinfeksi virus tersebut.
Namun, seiring berjalan waktu banyak penelitian yang menjelaskan adanya gejala-gejala virus corona yang tidak biasa. Berikut gejala-gejala COVID-19 yang tidak biasa yang dirangkum detikcom.

1. Diare
Sebuah penelitian mengungkapkan ternyata diare juga banyak dikeluhkan oleh pasien corona. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan terhadap 204 pasien di Wuhan.

99 pasien atau 48,5 persen yang masuk ke rumah sakit mengeluh dengan masalah pencernaan. Padahal mereka sebelumnya tidak memiliki riwayat sakit perut apapun.

Riset ini mengungkap, pasien COVID-19 dengan masalah pencernaan cenderung lebih lama mencari pertolongan ke rumah sakit. Mengutip CBSnews, rata-rata butuh waktu 9 hari untuk datang ke rumah sakit.

2. Kehilangan kemampuan penciuman dan perasa
Para ilmuwan di King's College London mengatakan gejala yang paling akurat untuk mengidentifikasi pasien COVID-19, yaitu kehilangan indra penciuman dan perasa. Sekitar 59 persen pasien yang dinyatakan positif COVID-19 mengalami itu.

Gejala ini disebut lebih akurat untuk mendiagnosis COVID-19 dibandingkan dengan gejala demam seperti yang selama ini dilaporkan. Biasanya ini terjadi di saat tahap awal penyakit.

"Orang-orang dengan gejala kehilangan fungsi indra penciuman dan perasa ini tiga kali lebih mungkin membuktikan bahwa ia terinfeksi COVID-19. Jika itu terjadi, kami menyarankan mereka untuk mengisolasi diri guna mengurangi penyebaran penyakit," kata peneliti utama Profesor Tim Spector dari King's College.

Usul dari Bill Gates Lawan Corona, Salah Satunya Obat Malaria

Pendiri Microsoft, Bill Gates mengunggah tulisan di blog pribadinya terkait apa saja yang diperlukan untuk melawan pandemi virus corona SARS-Cov-2.

Pria kelahiran 28 Oktober 1955 ini memang tengah menjadi sorotan karena dinilai aktif dalam membahas pandemi yang berlangsung sejak Desember 2019.

Lewat laman blog pribadi gatesnotes.com, ia mengibaratkan pandemi virus corona baru seperti saat Perang Dunia ke-2 yang memberikan dampak cukup signifikan. Lalu ada langkah-langkah yang dilakukan untuk mengakhiri perang ini.


"Selama Perang Dunia II, ada beberapa inovasi yang dilakukan untuk mengakhiri perang ini seperti pemecahan kode, pemanfaatan radar, dan lainnya," tulis Gates.

Kaitannya dengan virus corona baru, Gates memberikan saran kepada pemerintah negara-negara yang terinfeksi serta Otoritas Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

Salah satunya pemanfaatan obat Hydroxychloroquine. Berikut daftar saran yang diajukan Gates:

1. Pemanfaatan obat antivirus seperti Hydroxychloroquine

Menurut Gates, perawatan pasien positif Covid-19 mesti didukung oleh obat-obatan yang dapat berfungsi sebagai antivirus dan menambah imunitas tubuh. Salah satu obat yang disarankan Gates ialah Hydroxychloroquine.

Hdroxychloroquine adalah obat yang digunakan untuk mencegah dan menangani penyakit malaria. Malaria merupakan penyakit yang menyebar melalui gigitan nyamuk yang membawa parasit, seperti Plasmodium malariae, Plasmodium ovale, Plasmodium vivax, atau Plasmodium falciparum.

Meski begitu, obat ini tidak bisa digunakan untuk jenis malaria tertentu, yang sudah kebal terhadap chloroquine.

2. Vaksin

Selain obat, vaksin juga dibutuhkan namun biasanya proses pembuatan memerlukan waktu lima tahun.

Namun Gates optimis bahwa vaksin virus corona SARS-Cov-2 bakal tersedia dalam waktu 18 bulan bahkan lebih singkat lagi yakni 9 bulan, tulis Gates dilansir CNBC.

3. Pemeriksaan Covid-19 Terlihat Dalam Satu Hari

Khusus kasus Covid-19 di Amerika Serikat, Gates menyarankan pemerintah untuk memungkinkan percepatan hasil tes Covid-19 hanya dalam waktu satu hari.

Ia menyarankan kepada otoritas kesehatan Amerika untuk mengadakan pemeriksaan tes Covid-19 dari satu rumah ke rumah lain. Lalu pada hari itu juga, sampel langsung diuji di laboratorium.

4. Melacak Orang yang Kontak dengan Pasien Positif Covid-19

Gates mengatakan bahwa orang yang sempat melakukan kontak dekat dengan pasien Covid-19, mesti diprioritaskan untuk pengujian dan melakukan isolasi mandiri.

Pria berusia 64 tahun ini mencontohkan upaya pemerintah Jerman untuk melacak cluster pasien Covid-19, yang mana mereka mewawancarai setiap pasien dan menggunakan sebuah database untuk ditindaklanjuti.

5. Setiap Negara Mesti Saling Terbuka

Gates meyakini bahwa pandemi virus corona SARS-Cov-2 akan memasuki gelombang kedua dalam beberapa bulan ke depan.

Oleh karena itu, ia meminta kepada pemerintah negara-negara terinfeksi untuk belajar dari negara lain, bagaimana cara mereka mengatasi Covid-19.