Selasa, 28 April 2020

Kondisi Menhub Membaik, Butuh Berapa Lama untuk Sembuh dari Corona?

Kondisi Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, yang dirawat karena terinfeksi virus corona COVID-19, kian membaik. Tampak dalam sebuah video, Budi Karya berbicara soal semangat melawan Corona.
Kabar terbaru soal kondisi Menhub Budi Karya ini disampaikan oleh Wakil Menteri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Wamen PDTT), Budi Arie Setiadi. Dia menyebut kondisi Budi Karya sudah semakin baik.

"Alhamdulillah Pak Budi Karya Sumadi semakin membaik. Optimis lawan Corona," ujar Budi Arie kepada wartawan, Selasa (31/3/2020).

"Kondisi Pak Menhub semakin membaik didampingi dr Kapt Maulidi Abdillah, sebagai dokter rehab medik," sambung Budi Arie.

Lalu berapa lama pasien corona bisa dinyatakan sembuh?

Seperti yang diungkapkan oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, statistik di China menunjukkan waktu pemulihan bagi orang dengan penyakit ringan adalah sekitar dua minggu. Orang dengan penyakit parah atau kritis mungkin membutuhkan waktu antara tiga dan enam minggu untuk pulih.

Kondisi pasien dapat dikategorikan sebagai berikut, seperti dikutip dari laman BBC.

1. Kasus ringan
Kondisi ringan dari infeksi virus corona COVID-19 paling dialami banyak orang, gejalanya seperti nyeri tubuh, sakit tenggorokan, dan sakit kepala semuanya mungkin terjadi, tetapi tidak sering. Demam, merasa tak enak badan, adalah kondisi yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh merespons infeksi.

Gejala-gejala ini diobati dengan beristirahat, mengonsumsi banyak cairan dan parasetamol. Dan kamu tidak akan memerlukan perawatan di rumah sakit. Tahap ini berlangsung sekitar satu minggu kebanyakan orang pulih pada titik ini karena sistem kekebalan tubuh telah memerangi virus.

2. Kasus parah
Jika penyakit ini berkembang, itu terjadi karena sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap virus.

Sinyal-sinyal kimiawi itu tersebar ke seluruh tubuh sehingga menyebabkan peradangan. Tetapi keadaan ini perlu diseimbangkan. Terlalu banyak peradangan dapat menyebabkan kerusakan di seluruh tubuh.

"Virus ini memicu ketidakseimbangan dalam respon kekebalan tubuh, ada terlalu banyak peradangan. Bagaimana virus itu melakukan ini, kami tidak tahu," kata Dr Nathalie MacDermott, dari King's College London.

3 Kasus kritis
Ditandai dengan gagal napas dan membutuhkan ventilasi mekanis untuk bernapas. Mengalami syok dan mengalami komplikasi dengan gagal organ lain yang membutuhkan pengawasan dan perawatan di ICU.

Tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit yang disebabkan oleh coronavirus baru ini. Namun, banyak gejala dapat diobati. Oleh karena itu perawatan didasarkan pada kondisi klinis dari pasien.

Waspada! Area Rumah Ini Bisa Jadi Sumber Penyakit Batuk

 Salah satu kriteria rumah nyaman dan sehat adalah yang bersih dari kotoran, debu, dan kuman. Sebab, rumah yang saat ini digunakan sebagai tempat bekerja (work from home) ini terdapat titik area yang dapat menjadi sumber munculnya berbagai penyakit, termasuk batuk.
Medical Manager Consumer Health Division Kalbe Farma dr Helmin Agustina Silalahi mengatakan debu dan kotoran yang masuk ke saluran pernapasan merupakan benda asing. Tubuh akan merespons dengan refleks batuk apabila benda-benda asing masuk ke saluran pernapasan.

"Jika jumlahnya banyak dan berlangsung lama dapat menyebabkan batuk berkepanjangan, namun pada orang yang alergi, terpapar sedikit pun sudah memicu batuk yang berlebihan," ujar dr Helmin kepada detikHealth, baru-baru ini.

dr Helmin menambahkan, apabila benda-benda asing yang masuk ke saluran pernapasan ditumpangi infeksi kuman, maka batuk dapat menjadi berkepanjangan dan penanganannya akan semakin sulit.

"Lingkungan harus bersih dari debu dan kotoran, jika terpapar hal tersebut gunakan masker," lanjut dr. Helmin.

Dilansir dari HGTV, ada beberapa tempat di rumah yang jarang dibersihkan sehingga membuat debu dan kotoran menumpuk pada area tersebut, lalu kemudian menyebabkan debu dan kotoran masuk ke hidung dan menyebabkan batuk. Adapun tempat-tempatnya adalah sebagai berikut:

Jarak yang Aman dengan Orang Lain dan 15 Tips saat Social Distancing

Sudah hampir dua pekan ini masyarakat diimbau untuk melakukan social distancing untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona atau COVID-19. Bahkan kantor-kantor pemerintahan dan sejumlah perusahaan swasta memberlakukan work from home atau bekerja dari rumah.
Sebenarnya berapa jarak aman antara satu orang dengan yang lainnya saat social distancing?

Dilansir dari CNN.com, social distancing adalah menghindari pertemucan secara massal dan jika memungkinkan kalau pun ada pertemuan harus menjaga jarak sekitar 6 kaki atau 2 meter dari yang lainnya.

Menurut WHO, ketika seseorang batuk atau bersin, dan anda berdiri terlalu dekat, tetes kecil cairan semprotan dari hidung atau mulut mereka dapat terhirup oleh kita. Cairan tersebut mungkin bisa saja mengandung virus korona jika orang yang batuk terinfeksi.

Dr. William Schaffner pakar penyakit menular dari Vanderbilt University School of Medicine, Nashville, Tennessee mengatakan jarak 6 kaki atau 2 meter saat social distancing ditentukan dari hasil studi fisiologi pernafasan. "Tanpa batuk atau bersin, jika kita menghembuskan napas, jarak 3 sampai 6 kaki dari satu sama lain ini disebut sebagai zona pernapasan. Jadi, jika Anda berdiri dalam jarak 3 sampai 6 kaki dari saya, Anda mungkin menghirup sebagian dari apa yang saya hembuskan. Dan tentu saja jika saya memiliki virus, apa yang saya hembuskan secara mikroskopis mengandung virus." Kata Dr. William Schaffner.

Jagdish Khubchandani, seorang profesor ilmu kesehatan, memiliki 15 rekomendasi untuk "mengimbangi" efek fisik dan psikologis dari social distancing.

Berikut ini tipsnya seperti dilansir dari safetyandhealthmagazine.com:
1. Pertahankan rutinitas. Sebisa mungkin social distancing tidak menganggu siklus tidur, jam kerja, dan aktivitas sehari-hari.

2. Jadikan social distancing menjadi positif dengan memberi waktu untuk fokus pada kesehatan pribadi seperti diet, olahraga, dan menilai kembali pekerjaan.

3. Jangan biarkan kecemasan mengkontrol diri kita. Usahakan tidur tujuh jam sehari

4. Social distancing dapat menyebabkan kecemasan dan depresi karena gangguan pada rutinitas, isolasi dan ketakutan akan pandemi. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami salah satu, cari bantuan untuk menghilangkan hal tersebut.

5. Istirahat kecil selama social distancing juga merupakan saat yang tepat untuk menilai kembali keterampilan dan pelatihan Anda - pertimbangkan untuk mengambil kursus online, mengejar sertifikasi, menjalani pelatihan atau pengembangan kepribadian, atau belajar bahasa baru.

6. Jangkau orang lain dan tawarkan bantuan. Social distancing dapat membantu menginvestasikan kembali dan menciptakan kembali ikatan sosial. Pertimbangkan untuk menyediakan dan membantu mereka yang berisiko atau terpinggirkan

7. Periksa daftar kontak Anda di email dan telepon Anda. Mungkin ini saat yang tepat untuk memeriksa kesejahteraan teman dan anggota keluarga Anda. Ini juga akan membantu Anda merasa lebih terhubung, sosial, dan lebih sehat.

8. Terlibat dalam kegiatan alternatif untuk menjaga pikiran dan tubuh Anda aktif. Seperti mendengarkan musik, meditasi, membaca buku, atau mencoba resep baru.

9. Jangan isolasi diri Anda. Social distancing tidak membuat Anda mengisolasi secara sosial.

10. Social distancing tidak harus diterjemahkan ke kehidupan yang tidak sehat di media sosial.

12. Lakukan pembersihan, bersihkan hal-hal kotor dan donasi barang-barang rumah tangga. Hal kotor di rumah dapat menyebabkan polusi, menyebabkan infeksi dan menghasilkan ruang yang tidak higienis.

13. Masak untuk diri sendiri dan orang lain yang membutuhkan. Tambahkan lebih banyak buah, sayuran, vitamin, dan protein ke dalam makanan Anda.

14. Manfaatkan teknologi sebaik-baiknya untuk menyelesaikan pekerjaan Anda, menghadiri rapat, dan terlibat dengan rekan kerja dengan frekuensi yang sama seperti yang diperlukan selama jam kerja aktif.

15. Jangan menghabiskan banyak waktu dengan melihat layar, berilah waktu 1 hingga 2 jam.

Saat Social distancing tidak berarti kita tidak bisa melakukan kontak sosial dengan rekan kerja atau masyarakat. Adanya teknologi saat ini masih bisa membuat kita untuk melakukan kontak sosial satu sama lain.