Kamis, 07 Mei 2020

Seperti Paulo Dybala, Mengapa Ada Orang yang Lama Sembuh dari Corona?

Pemain klub bola Juventus, Paulo Dybala, akhirnya dinyatakan sembuh setelah satu bulan lebih dirawat karena infeksi virus Corona COVID-19. Dybala membutuhkan waktu relatif lebih lama untuk sembuh bila dibandingkan rekannya yang lain.
"Wajahku mengatakan segalanya, aku akhirnya sembuh dari COVID-19!" tulis pemilik julukan La Joya itu di akun Instagramnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dybala menjadi salah satu pemain Juventus yang terinfeksi virus corona selain Daniele Rugani dan Blaise Matuidi sejak Maret silam. Rugani dan Matuidi sendiri telah dinyatakan sembuh sejak 15 April 2020.

Satu teori menyebut perbedaan waktu kesembuhan ini kemungkinan berkaitan dengan sistem imun. Biasanya pasien yang menunjukkan gejala parah butuh waktu lebih lama untuk sembuh.

"Beberapa pasien ada yang masih batuk-batuk dan kami juga melihat pasien yang merasa lemas dan lelah berkepanjangan selama tiga, empat, lima, atau enam minggu," kata Dr Philip Gothard, dokter dari London's Hospital for Tropical Diseases.

Ahli epidemiologi Profesor Tim Spector dari King's College London mengatakan rata-rata pasien yang terinfeksi bisa mulai sembuh setelah 12 hari. Namun, memang ada juga yang melaporkan butuh waktu sampai 30 hari lebih.

"Saat data mulai banyak tersedia dan kami terus menggunakan kecerdasaan buatan untuk menganalisanya, akan segera terlihat apa saja dari faktor gejala dan risiko yang dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami gejala jangka panjang ini," kata Tim seperti dikutip dari BBC, Kamis (7/5/2020).

Ilmuwan Teliti Alasan Virus Corona Bisa Sebabkan Diare pada Pasien

Pandemi COVID-19 dapat menyebabkan kondisi medis lain yang mempengaruhi pasien yang terinfeksi penyakit tersebut, salah satunya masalah gastrointestinal. Para peneliti di Institut Hubrecht di Utrecht, Pusat Medis Universitas Erasmus MC Rotterdam dan Universitas Maastricht menemukan bagaimana virus Corona dapat menginfeksi sel-sel usus dan akhirnya berkembang biak.
Peneliti membuat model untuk menjelaskan mengapa beberapa orang mengidap masalah pencernaan dengan menggunakan model kultur usus manusia. Mereka memonitor bagaimana sel-sel dalam tubuh merespon strain virus tersebut.

Sekitar sepertiga dari pasien yang terinfeksi ditemukan memiliki masalah dengan diare dalam penelitian yang diterbitkan pada jurnal ilmiah Science 1 Mei lalu. Mengutip Medical Daily, seperti diketahui virus Corona dapat menyebar melalui droplet batuk dan bersin. Saat ini nampaknya strain tersebut juga ditularkan melalui tinja manusia, yang oleh peneliti disebut sebagai fecal-oral transmission.

Dari sudut pandang tertentu, tampak bahwa penyebab terinfeksi COVID-19 dapat meluas. Dalam model penelitian tersebut, ditemukan bahwa ACE2, atau 'pintu masuk' SARS-CoV-2 ke dalam tubuh, penuh dalam usus beberapa pasien COVID-19.

Melalui mikroskop elektron, para ilmuwan dapat menemukan keberadaan virus pada sel-sel usus dan dapat bereplikasi dari waktu ke waktu. Peneliti kemudian menyelidiki respon sel-sel usus menggunakan sekuensing RNA yang merupakan metode untuk mempelajari gen mana yang aktif dalam sel usus.

"Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini memberikan bukti yang pasti bahwa SARS-CoV-2 dapat berkembang biak dalam sel-sel saluran pencernaan. Namun, kami belum tahu apakah adanya SARS-CoV-2 di usus pasien COVID-19, memainkan peran penting dalam penularan. Temuan kami menunjukkan bahwa kami harus melihat kemungkinan ini lebih dekat," jelas Bart Haagmans, peneliti utama di departemen Viroscience di Erasmus MC University Medical Center Rotterdam.

Sebelumnya, peneliti dari Tongji Medical College, China, melihat data dari pasien COVID-19 untuk menganalisis berbagai gejala yang dialami oleh mereka. Hasilnya menunjukkan gejala pencernaan lazim ditemukan. Faktanya, 60 persen pasien melaporkan mengalami diare dan 20 persen dari mereka menderita diare sebagai gejala awal COVID-19.

Bioskop Inggris Bersiap Buka Pertengahan Juli

Jaringan bioskop terbesar di Inggris, Vue Cinemas, memperkirakan mereka bisa kembali beroperasi pada pertengahan Juli setelah tutup akibat pandemi Covid-19.

CEO Vue Cinema, Tim Richards, membuka kemungkinan tersebut meski saat ini masih dalam tahap pembahasan dengan pemerintah, terutama mengenai kebijakan jaga jarak.

Namun menurutnya, pengoperasian kembali pada pertengahan Juli sangat mungkin dilakukan sebab bioskop memiliki sistem yang berbeda dari konser musik atau hiburan lainnya.

"Kami bisa mengatur total orang yang masuk satu studio bersamaan. Kami juga bisa mengatur jadwal penayangan hingga jalur masuk serta keluar para penonton," kata Tim Richards.

Richards mengatakan bahwa jaringan bioskopnya bersama yang lain sudah bersiap untuk semua kemungkinan. Ia sendiri melihat keinginan yang kuat dari masyarakat dan studio film terkait penayangan ini.

"Kami melihat dukungan yang besar dari semua sektor. Distributor ingin film mereka tayang di layar lebar dan penonton juga ingin melihat hal tersebut," tutur Richards seperti dilansir NME.

Apabila bioskop berhasil dibuka pertengahan Juli, kata Richards, Tenet akan menjadi film pertama yang ditayangkan menyeluruh di Inggris.

Film terbaru karya Christopher Nolan ini tetap dijadwalkan tayang 17 Juli, di saat puluhan film lainnya tunda tayang hingga 2021.

Ia juga meyakini layar lebar masih memiliki tempat tersendiri di hati penikmat film meski sejumlah karya terpaksa rilis lebih dulu di layanan streaming di tengah pandemi Covid-19.

"Layar lebar masih disukai. Apakah bisa membayangkan menonton film terbaru James Bond hanya di layar 27 inch?" katanya.

No Time To Die juga menjadi salah satu film yang dijadwalkan tayang tahun ini. Awalnya, film terakhir Daniel Craig sebagai James Bond itu diagendakan tayang April 2020, tapi ditunda hingga November.

Berdasarkan data Johns Hopkins pada Rabu (6/5) pagi, Inggris menempati posisi ke-4 negara dengan kasus Covid-19 terbanyak di dunia. Inggris melaporkan 196.243 kasus dengan 29 ribu orang di antaranya meninggal dunia.

Seperti Paulo Dybala, Mengapa Ada Orang yang Lama Sembuh dari Corona?

Pemain klub bola Juventus, Paulo Dybala, akhirnya dinyatakan sembuh setelah satu bulan lebih dirawat karena infeksi virus Corona COVID-19. Dybala membutuhkan waktu relatif lebih lama untuk sembuh bila dibandingkan rekannya yang lain.
"Wajahku mengatakan segalanya, aku akhirnya sembuh dari COVID-19!" tulis pemilik julukan La Joya itu di akun Instagramnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dybala menjadi salah satu pemain Juventus yang terinfeksi virus corona selain Daniele Rugani dan Blaise Matuidi sejak Maret silam. Rugani dan Matuidi sendiri telah dinyatakan sembuh sejak 15 April 2020.

Satu teori menyebut perbedaan waktu kesembuhan ini kemungkinan berkaitan dengan sistem imun. Biasanya pasien yang menunjukkan gejala parah butuh waktu lebih lama untuk sembuh.

"Beberapa pasien ada yang masih batuk-batuk dan kami juga melihat pasien yang merasa lemas dan lelah berkepanjangan selama tiga, empat, lima, atau enam minggu," kata Dr Philip Gothard, dokter dari London's Hospital for Tropical Diseases.

Ahli epidemiologi Profesor Tim Spector dari King's College London mengatakan rata-rata pasien yang terinfeksi bisa mulai sembuh setelah 12 hari. Namun, memang ada juga yang melaporkan butuh waktu sampai 30 hari lebih.

"Saat data mulai banyak tersedia dan kami terus menggunakan kecerdasaan buatan untuk menganalisanya, akan segera terlihat apa saja dari faktor gejala dan risiko yang dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami gejala jangka panjang ini," kata Tim seperti dikutip dari BBC, Kamis (7/5/2020).