Jumat, 08 Mei 2020

Transformasi Adele Jadi Langsing Butuh Olahraga Berat, Ini Pesan Dokter

Transformasi tubuh penyanyi Adele menghebohkan publik. Foto yang diunggah di akun instagramnya pada Selasa (5/5/2020) menunjukan perubahan bentuk tubuhnya yang jauh lebih langsing dari sebelumnya.
Belakang ini diketahui Adele sedang menjalankan program penurunan berat badan dengan diet ketat dan berolahraga. Salah seorang teman dekatnya membocorkan rahasia penampilan Adele kini akibat ia rajin berolahraga. Bahkan ia melakukan olahraga tiga kali seminggu.

"Dia ikut sesi olahraga selama 60 menit yang melibatkan olahraga cardio, circuit training dan Pilates," ujar orang terdekat Adele, dikutip dari US Weekly.

Tertarik untuk mengikuti jejak transformasi Adele? Tunggu dulu, praktisi kesehatan olahraga dari Slim and Health Sports Therapy, dr Michael Triangto, SpKO, memberikan sejumlah catatan Salah satunya, butuh motivasi yang kuat.

"Kalau Adele melakukan itu berhasil, itu tidak berarti bisa dipergunakan oleh orang lain, karena beda motivasinya," ujar dr Michael saat dihubungi detikcom, Kamis (7/5/2020).

Selain motivasi yang kuat, dibutuhkan juga stamina yang kuat. Program olahraga yang dijalankan Adele sehingga menghasilkan transformasi yang menakjubkan tentu tidak ringan.

"Kalau Adele melakukan itu pasti jauh lebih berat dari pada yang seharusnya, karena dia membutuhkan membakar kalori yang banyak. Pada saat yang sama dia makan sesedikit mungkin," lanjutnya.

Meskipun begitu, ia tidak menyarankan olahraga 'ala Adele' ini diikuti orang-orang saat ini. Karena menurutnya olahraga di tengah pandemi virus Corona dan bulan Ramadhan seharusnya hanya dengan intensitas ringan dan sedang. Olahraga dengan intensitas berat semacam ini malah akan menurunkan tingkat imunitas tubuh.

"Tidak, yang pertama olahraganya Adele hanya mungkin cocok untuk Adele, bukan berarti saya bilang ga cocok untuk yang lain. Kemudian kalau dilakukan juga mungkin intensitasnya jadi berat. Kalau berat, tidak cocok untuk dilakukan pada bulan puasa ini apalagi saat COVID," pungkasnya.

Uji Klinis Berhasil di AS, Jepang Ikut Gunakan Remdesivir untuk Obati Corona

 Sebelumnya, uji klinis remdesivir di Amerika Serikat (AS) dinilai berhasil obati Corona dan mendapat persetujuan dari Food and Drug Administraion (FDA). Pemerintah Jepang pun pada Kamis (7/5/2020) menyetujui remdesivir digunakan sebagai obat Corona di negaranya.
Hal ini membuat Jepang menjadi negara kedua yang menggunakan remdesivir sebagai obat Corona. "Remdesivir disetujui berdasarkan tindakan luar biasa," kata seorang pejabat kementerian kesehatan Jepang, dikutip dari Channel News Asia Jumat (8/5/2020).

"Itu adalah persetujuan pertama negara kami untuk perawatan pasien coronavirus," kata pejabat itu kepada AFP.

Perdana Menteri Shinzo Abe mengatakan pekan lalu pemerintah sedang bersiap untuk memberikan 'lampu hijau' sesegera mungkin bagi obat eksperimental yang dikembangkan oleh perusahaan AS Gilead Sciences.

Langkah maju AS datang setelah uji klinis utama menunjukkan remdesivir yang awalnya dikembangkan untuk mengobati Ebola, mempersingkat waktu untuk pemulihan pada beberapa pasien hingga sepertiganya. Remdesivir, yang diberikan melalui suntikan, sudah tersedia untuk beberapa pasien yang terdaftar dalam uji klinis di seluruh dunia.

Sedangkan untuk Avigan, yang dikembangkan oleh perusahaan Jepang Fujifilm Toyama Chemical, Suga mengatakan pemerintah akan menyetujui obat ini jika uji klinis yang melibatkan 100 pasien terbukti efektif. Obat, yang nama generiknya adalah favipiravir, disetujui untuk digunakan di Jepang pada 2014 tetapi hanya pada wabah flu yang tidak ditangani secara efektif oleh obat yang ada.

Favipiravir tidak tersedia di pasaran dan hanya dapat diproduksi dan didistribusikan atas permintaan pemerintah Jepang.

ISIS Jadikan Jurang Indah di Suriah sebagai Tempat Pembuangan Mayat

Kelompok militan yang menyebut dirinya Negara Islam atau ISIS menjadikan sebuah jurang di wilayah Suriah timur laut tempat untuk membuang mayat orang-orang yang diculik atau ditahan, ungkap organisasi Hak Asasi Manusia, Human Rights Watch, HRW
Para peneliti memulai penyelidikan setelah mendapat kiriman video pada tahun 2014 yang memperlihatkan kelompok militan itu melempar mayat-mayat ke ngarai al-Hota, yang kedalamannya mencapai 50 meter.

HRW juga meyakini bahwa aksi pembuangan mayat di lokasi itu sesuai aturan ISIS.

Organisasi HAM itu meminta agar pemerintah setempat mengamankan situs tersebut, mengevakuasi sisa-sisa jenazah, dan menyimpannya sebagai bukti untuk proses penuntutan.

Lebih dari 20 kuburan massal yang berisi ribuan mayat telah ditemukan di wilayah Suriah yang sebelumnya dikuasai ISIS.

Di antara mereka yang hilang dan diyakini terbunuh adalah aktivis, pekerja kemanusiaan, para jurnalis, serta anggota masyarakat yang melawan perintah kelompok jihadis.

Kelompok ISIS pernah menguasai wilayah sekitar 88.000 km persegi, yang membentang dari wilayah barat Suriah hingga wilayah timur Irak, dan memberlakukan aturan brutal, atas hampir delapan juta orang.

Jurang al-Hota yang berjarak sekitar 85 km di sisi utara bekas "ibu kota" ISIS, Raqqa, merupakan bentangan alam liar yang indah luar biasa.

Namun ketika ISIS menguasainya antara tahun 2013 dan 2015, wilayah itu menjadi "tempat pembalasan dendam yang mengerikan", kata peneliti HRW Suriah, Sara Kayyali.

"Mengungkapkan yang terjadi di sana dan kuburan massal lain di Suriah sangat penting untuk memastikan apa yang terjadi pada ribuan orang yang dieksekusi ISIS dan menuntut pertanggungjawaban mereka," tambahnya.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh HRW hari Senin (04/05), penduduk setempat ingat bahwa militan ISIS mengancam akan melemparkan orang ke jurang al-Hota. Beberapa berkata mereka melihat mayat berserak di jurang itu.

Sebuah rekaman video ISIS yang diunggah di media sosial tahun 2014 juga memperlihatkan sekelompok militan melemparkan mayat dua orang - yang diduga dibunuh ISIS - ke jurang.

Pada kunjungan tahun 2018, peneliti HRW menerbangkan pesawat tak berawak ke lembah dan menemukan enam mayat mengambang di air di dasar lembah.

Namun mereka menyimpulkan, berdasarkan kondisinya, mayat-mayat itu dilemparkan ke sana lama sesudah ISIS meninggalkan kawasan tersebut.

Peta geologis dan model topografis memperlihatkan jurang itu lebih dalam daripada yang bisa diamati oleh pesawat nirawak. Maka ada kemungkinan lebih banyak mayat manusia berada di bawah permukaan air, ungkap laporan tersebut.

HRW menyatakan siapapun yang menguasai daerah itu punya kewajiban memperlakukan al-Hota sebagai tempat kejadian perkara, mengidentifikasi yang hilang dan menyelidiki kematian mereka.

Wilayah di sekitar al-Hote kini dikuasai oleh pasukan pemberontak Suriah yang didukung Turki, yang dikenal dengan nama Syrian National Army (SNA).

Mereka merebut wilayah itu tahun lalu dari pasukan Suriah yang didukung Amerika Serikat Syrian Democratic Forces (SDF), aliansi milisi etnis Kurdi yang berhasil mengusir ISIS dari Suriah timur laut.