Minggu, 10 Mei 2020

Kandungan Plossa Eucalyptus Miliki Potensi Sebagai Antivirus

 Tanaman Eucalyptus diklaim berpotensi sebagai antivirus corona. Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) saat ini disebut tengah melakukan riset bersama meneliti minyak atsiri dan berbagai ekstrak lain yang dihasilkan eucalyptus.

Riset yang dilakukan saat ini belum menggunakan virus Covid-19 dalam pengujian. Namun hasil telusur ilmiah serta riset daya ini diharapkan dapat memberi informasi kepada masyarakat mengenai penangkalan virus memakai eucalyptus.

Kepala Balibangtan Fadjry Djufry mengatakan, hasil riset yang dilaksanakan di laboratorium BSL level 3 milik Balai Besar Penelitian Veteriner itu menunjukkan bahwa eucalyptus bermanfaat sebagai antivirus dengan efektivitas membunuh virus 80 sampai 100 persen, tergantung jenis virus. Pihaknya disebut membuat sejumlah prototype dengan nano teknologi dalam bentuk inhaler, roll on, salep, balsem, dan defuser.

"Termasuk terhadap virus Corona yang digunakan serta virus influenza H5N1," ujarnya, Selasa (5/5).


Enesis Group telah memanfaatkan eucalyptus sebelum Covid-19 mewabah. Plossa Press & Soothe Aromatics adalah produk lokal Indonesia yang memiliki varian Eucalyptus Oil dengan empat fungsi, yakni inhaler, roll on, pijat, dan kerokan.

Sebagai inhaler, aromaterapi Plossa Press & Soothe Aromatics yang menyegarkan berguna untuk melegakan hidung tersumbat, sementara sebagai roll on, pengolesan di leher dan pelipis membantu meredakan sakit kepala. Dipakai untuk kerokan, Plossa bisa mengatasi gejala masuk angin, serta untuk merelaksasi otot yang pegal.

Keempat fungsi tersebut digabungkan Enesis dalam satu produk yang praktis, modern, dan ekonomis. Tidak saja mudah dibawa dalam segala aktivitas, Plossa Press & Soothe Aromatics juga memiliki alat pemijat yang dirancang khusus.

Plossa Press & Soothe Aromatics varian Eucalyptus bisa didapat tanpa harus keluar rumah di tengah penerapan physical distancing akibat pandemi, yakni melalui pembelian di toko resmi marketplace Shopee.

7 Cara Mengecilkan Perut Buncit saat Puasa

 Puasa selain diniatkan untuk beribadah, juga dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk menurunkan berat badan.

Setelah sebelas bulan sebelumnya terbiasa makan apa pun tanpa kendali, momen Ramadan yang berlangsung selama sebulan penuh ini tergolong ampuh sebagai cara mengecilkan perut buncit saat puasa.

Perut buncit adalah tanda penumpukan lemak pada perut. Lemak perut bukan sekadar mengganggu penampilan fisik Anda. Tapi bisa menjadi sinyal datangnya berbagai macam penyakit berbahaya.


Dalam istilah medis, jenis lemak yang tersimpan dalam rongga perut disebut sebagai lemak visceral. Apalagi, letak perut dekat dengan beberapa organ vital, termasuk hati, perut, dan usus.

Karenanya, semakin banyak lemak visceral yang menumpuk, semakin berisiko seseorang terserang penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung dan stroke, Alzheimer, bahkan kanker usus, mengutip Healthline.

A photo of an overweight man sitting on an old couch with a very large unhealthy meal on his lap and a pint of beer in his hand. Obesity is a major cause of diabetes.Semakin banyak lemak yang menumpuk pada perut, semakin tinggi pula berisiko terserang penyakit kronis seperti jantung dan diabetes. (Foto: Istockphoto/Fertnig)

Diet dan Puasa

Ketika puasa, kita tidak akan makan dan minum apa pun selama kurang lebih 13 jam. Selama itulah tubuh akan menggunakan cadangan lemak untuk 'dibakar' dan diubah menjadi energi.

Selain itu, orang akan cenderung mengonsumsi lebih sedikit kalori. Alih-alih makan 3 kali atau lebih sehari, dengan puasa orang cenderung hanya makan 2 kali.

Jika puasa Ramadan kali ini diterapkan dengan kebiasaan diet yang sehat tanpa terputus, maka Anda jelas akan merasakan beragam bermanfaat bagi kesehatan serta menurunkan berat badan.

Meskipun menghilangkan lemak di perut cukup sulit dan memakan waktu, setidaknya terapkan hal-hal berikut dengan konsisten selama puasa. Berikut 7 cara mengecilkan perut buncit saat puasa Ramadan, dilansir dari berbagai sumber.

Penjualan Pil Aborsi Online Melonjak di Tengah Pandemi Corona

Seorang perempuan bernama Sally (bukan nama sebenarnya), yang tinggal di Texas, Amerika Serikat (AS), melakukan aborsi mandiri dengan membeli pil secara online. Hal itu dilakukannya karena Texas melarang aborsi untuk sementara waktu di tengah pandemi virus corona.

"Pil itu dikemas dalam amplop manila kecil dan hanya berisikan lima bungkus pil. Tidak ada instruksi," kata Sally seperti dilansir AFP, Minggu (10/5).

Sally yang saat ini berusia 34 tahun tidak pernah menyangka dan membayangkan sebelumnya bahwa ia akan melakukan aborsi mandiri. Keputusan itu ia ambil setelah berpisah dengan pacarnya.


Aborsi mandiri merupakan perbuatan ilegal. Namun, semakin lama semakin banyak perempuan yang harus menghadapi kenyataan sulit di tengah penyebaran penyakit covid-19.

Sally menjelaskan bahwa tidak mudah untuk mendapatkan pil aborsi. Ia baru berhasil mendapat pil aborsi pada situs ketiga yang dibuka dengan harga US$250.

Saat membeli pil, Sally sudah telat datang bulan 10 pekan sejak datang bulan terakhirnya. Kurun waktu tersebut merupakan batas untuk melakukan aborsi di AS.

"Saya sangat ketakutan," kata Sally.

Ia kembali mencari informasi di internet untuk melakukan aborsi mandiri. Kemudian, ia menenggak pil pertama bernama mifepristone, yang dikenal dengan RU-486 di AS, untuk menghentikan perkembangan kehamilan.

Setelah itu, ia minum empat pil bernama misoprostil yang memicu aborsi sebenarnya. Kemudian, Sally minum obat penghilang rasa sakit. Ia sempat melewati malam hari dengan kondisi yang sangat buruk hingga pendarahan. Hal itu sudah ia prediksi sebelumnya dan pada keesokan hari ia merasa lega pil tersebut bekerja dengan baik.

"Sudah pasti saya lebih suka bila ada pengawasan medis," tutur Sally.

Sally bukan satu-satunya perempuan yang melakukan aborsi mandiri. Meski termasuk perbuatan ilegal, sejumlah perempuan menceritakan pengalaman di forum Reddit.

Penjualan Meningkat

Sebenarnya, hak seorang perempuan untuk melakukan aborsi dilindungi oleh keputusan Mahkamah Agung AS di Roe v Wade. Namun, pada masa normal sebelum pandemi hak perempuan terancam pada beberapa negara bagian AS yang cenderung konservatif.

Beberapa negara bagian AS justru memanfaatkan krisis akibat virus corona untuk kampanye pelarangan aborsi. Kendati begitu ada situs onilne benama Plan C yang merekomendasikan delapan vendor online yang menjual pil aborsi yang sudah teruji pada 2018 lalu.

Seorang penjual online yang tidak ingin disebut namanya mengatakan bahwa penjualan pil aborsi di AS meningkat 150 persen pada April bila dibandingkan Maret. Kemudian, kunjungan ke situs Plan C meningkat dua kali lipat.

Salah satu pendiri Plan C, Elisa Wells, mengatakan ada 900 ribu perempuan yang melakukan aborsi setiap tahun di AS. Sebanyak 40 persen melakukan aborsi secara medis dan 10 ribu perempuan melakukan aborsi tanpa tindakan medis konvensional.

Para ahli berpendapat bahwa aborsi menggunakan pil mifepristone dan misoprostol aman. Komplikasi akibat pil tersebut hingga membutuhkan tindakan medis jarang terjadi.

"Pada 2020, di AS, kekhawatiran terhadap aborsi mandiri bukan soal fisik tapi soal hukum," kata executive director If/When/How, Jill Adams.

Pernyataan Adams membuat perempuan yang ingin melakukan aborsi berhubungan dengan pengacara. Dari pertengahan sampai akhir Maret, telepon yang masuk ke If/When/How meningkat dua kali lipat dari biasanya.

Sampai saat ini, ada lima negara bagian AS yang memiliki aturan khusus yang melarang aborsi mandiri. Lima negara bagian tersebut adalah Arizona, Delaware, Idaho, Oklahoma dan South Carolina.

Tapi, perlindungan terhadap perempuan di negara bagian lain tidak lebih baik ketimbang lima negara bagian setempat. Beberapa jaksa setempat menggunakan aturan hukum lain untuk menjerat mereka, seperti larangan praktik kedokteran tanpa lisensi.

Bahkan beberapa menuduh perempuan telah melakukan pelecehan terhadap anak, atau melanggar aturan yang berkaitan dengan narkoba.

Pada akhir Maret, 21 negara bagian meminta pencabutan pembatasan hukum untuk mengirim mifepristone melalui pos. Menurut mereka pembatasan itu membatasi wanita yang menggunakan telemedicine dan memaksa perempuan tidak bisa berpergian meski ada imbauan tidak keluar rumah.

Untuk mengakali birokrasi AS, situs yang menjual pil aborsi dioperasikan dari luar negeri.

Organisasi Aid Access menawarkan pil aborsi dengan harga paling mahal seharga US$90 per dosis. Aid Access merupakan satu-satunya organisasi yang memiliki supervisi medis dari dokter asal Belanda dan aktivis Rebecca Gomperts.

Dalam satu tahun terakhir, Gomperts tengah berperang dengan Food and Drug Administration AS. Lembaga AS tersebut meminta Gomperts berhenti memberikan bantuan abosri melalui telemedicine.

Saat ini, pandemi corona menghalangi kegiatan Gomperts. Ia tidak bisa mendapatkan pil dari India karena semua bandara ditutup.

Sementara, penjual pil aborsi lain masih mendapatkan pasokan dari Rusia. Namun, ia memperkirakan kehabisan stok dalam beberapa pekan ke depan.

Satu-satunya layanan yang memiliki wewenang di 13 negara bagian AS adalah TelAbortion yang sudah beroperasi sejak 2016 dan bekerja sama dengan sekitar 700 perempuan. Pada Maret dan April perempuan yang menghubungi mereka naik dua kali lipat dari bulan sebelumnya.