Senin, 11 Mei 2020

Pentingnya Produk Halal dalam Islam

 Hukum mengonsumsi makanan yang halal dan haram sudah jelas terkandung dalam Alquran. Lalu, bagaimana dengan hukum halal produk-produk yang digunakan sehari-hari misalnya, sampo, sabun, deterjen, dan kosmetik?

Beberapa waktu terakhir banyak produk yang memberikan label halal dengan sertifikasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Produk halal ini diartikan sebagai produk-produk yang dibuat dari bahan dan proses yang halal sesuai ketentuan Islam.

"Dari riset kami, halal itu sangat tidak bisa dikesampingkan lagi, tidak hanya makanan dan minuman, tapi produk yang tidak dikonsumsi langsung," kata Senior Brand Manager Sahaja Yuliana Safriani dalam konferensi pers Sahaja beberapa waktu lalu.

Menurut Ustazah Aini Aryani dari Rumah Fiqih Indonesia, umat Islam sebaiknya mengonsumsi dan menggunakan produk yang halal. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang meminta umat Islam untuk menjauhi segala sesuatu yang bersifat syubhat dan haram.

Syubhat adalah segala sesuatu yang tidak jelas atau berada di antara halal dan haram.

"Nabi Muhammad mengatakan sesungguhnya halal itu jelas, haram itu jelas. Lalu, ada yang di antara keduanya atau tidak yakin halal atau haram, itu disebut syubhat. Kita diminta untuk menghindari syubhat, apalagi yang haram," terang Ustazah Aini.

Aini menjelaskan sesuatu yang halal itu penting untuk ditegakkan oleh seorang Muslim. Menggunakan sesuatu yang halal dapat memberikan sejumlah manfaat.

Menggunakan produk yang halal dapat menghilangkan kekhawatiran dan rasa bersalah.

"Menggunakan yang halal berarti menjaga agama dan untuk menghilangkan rasa was-was dari keraguan," tutur Aini.

Sesuai surat Al-Maidah ayat 3, hal-hal yang diharamkan meliputi bangkai, darah, daging babi, daging yang disembelih tidak dengan nama Allah. Allah juga mengharamkan segala sesuatu yang mengandung khamar dan memiliki banyak mudarat. 

Ramadhan 'Online' Pasca Lockdown di China

Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China, pepatah itu sepertinya mirip dengan motivasi saya untuk datang dan mempelajari kemajuan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi di Negara Panda saat ini. 

Selain sains, ekonomi, dan politiknya, saya juga sangat tertarik untuk mempelajari bahasa Mandarin, bahasa yang sekarang tidak kalah pentingnya dengan bahasa Inggris untuk urusan berbisnis.

Saat ini saya sedang menyelesaikan pendidikan doktoral bidang sumber daya pangan dan nutrisi di Yunnan Agricultural University yang berada di kota Kunming, Provinsi Yunnan.

Keberadaan saya di China selama pandemi virus corona membuat keluarga dan kerabat di Indonesia tentu saja khawatir. Sebisa mungkin saya terus mengabari mereka, bahkan setelah lockdown telah dicabut sekarang.

Saya rasa penduduk China sangat disiplin dengan aturan lockdown. Pertokoan, perkantoran, sekolah, ditutup dan tidak ada yang masih keluyuran di jalan kecuali untuk ke supermarket atau ke rumah sakit.

Area publik dijaga aparat kepolisian yang dibekali smart glasses atau petugas pembawa infrared thermometer gun untuk mendeteksi orang yang bersuhu tubuh lebih dari 37 derajat Celcius.

Di semua tempat dipasang stiker QR Code yang harus dipindai dengan smartphone. Teknologi ini digunakan untuk melacak pergerakan dan interaksi antar orang jika ditemukan adanya pasien positif Covid-19.

Informasi ini direkam oleh big data dan satelit negara. Kerahasiaan datanya juga dilindungi oleh cyber security.

Data kesehatan semua orang dievaluasi melalui aplikasi Jiankangbao. Hasilnya adalah status kesehatan yang berupa kode warna hijau, kuning, atau merah.

Orang dengan status kode warna hijau boleh keluar ke area publik dan kode warna selain itu harus mengisolasi diri di dalam rumah.

Resepsi Nikah Online Jadi Tren Baru di China di Tengah Corona

 Pandemi virus corona mendorong berbagai perubahan, mulai dari bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, hingga menikah online. Di daratan China, baru-baru ini pasangan Ma Jialun dan Zhang Yitong menggelar resepsi secara online yang disiarkan secara langsung (live streaming) ke lebih dari 100 ribu orang asing.

Dilansir dari AFP, Minggu 910/5), kebijakan social distancing akibat penyebaran penyakit covid-19 membuat banyak pasangan di seluruh dunia gigit jari untuk mengadakan resepsi pernikahan. Sebagai alternatif, banyak orang menikah melalui ruang virtual.

Bahkan di China, live streaming resepsi pernikahan sangat populer. Beberapa pasangan muda mengizinkan siapa pun menonton hari besar mereka. Bahkan, penonton diizinkan mengirimkan hadiah melalui koin virtual.


Tren baru ini menjadi potensi untuk menghasilkan uang. Beberapa pengusaha menawarkan efek khusus (special effect) kepada para pengantin di acara resepsi.

Ketika Ma dan Zhang menikah di Hangzhou pada 1 Mei lalu, lebih dari 100 ribu tamu dadakan menyaksikannya di platform live streaming.

Pasangan ini awalnya berencana untuk mengadakan resepsi pada Januari lalu. Namun, dua sejoli itu malah terperangkap di kota berbeda saat pandemi covid-19 menyerang.

China memutuskan untuk menghentikan karantina tepat sehari sebelum hari pernikahan Ma dengan Zhang pada Januari. Pasangan tersebut telah berpisah selama tiga bulan.

Saat ini, persiapan pernikahan dimulai kembali karena semua provinsi di China telah membuka keadaan darurat. Namun, perjamuan dan pertemuan besar masih tidak diizinkan, sehingga resepsi online menjadi opsi pilihan.

Awal Muasal Nikah Online

Seorang guru bimbel online, Liu Wenchao adalah salah satu orang yang membuat pernikahan streaming bisa populer di China.

Sesuai dengan tradisi, delapan bulan sebelumnya, orang tua Liu memilih 20 Maret untuk sebagai tanggal pernikahan. Tanggal 20 Maret dianggap sebagai tanggal keberuntungan berdasarkan ulang tahun Liu dan pasangannya.

Nahas, rencana tersebut terganggu oleh pandemi covid-19. Akibat pembatasan perjalanan dan pertemuan, orang tua Liu di China utara pun tidak dapat menghadiri hari besar putra mereka, termasuk teman dan kerabat pasangan itu.

Berkat pengalaman mengajar online-nya, Liu punya ide untuk menyiarkan langsung resepsi pernikahan mereka.

"Saya telah menggunakan live streaming untuk kursus online selama hampir setahun. Saya pikir jika live streaming pernikahan kami, keluarga saya dan siswa bisa bergabung dengan pernikahan juga," katanya.

Liu dan pasangannya mengadakan upacara sederhana. Mereka bertukar cincin, bersulang dan makan permen pernikahan di kamar pengantin mereka. Semuanya dilakukan oleh mereka sendiri.

Video resepsi yang diunggah itu menjadi populer dengan lebih dari lima juta kali ditonton dan lebih dari 860 ribu likes.

"Saya tidak berharap begitu banyak orang akan menyukai video pernikahan kami. Tetapi, mungkin orang perlu menonton berita baik selama epidemi yang panjang ini," kata Liu.

Banyak pasangan yang merasa cukup dengan resepsi pernikahan sederhana di online. Namun, platform live streaming Huajiao menawarkan penggunaan efek khusus untuk memberikan salah satu karyawannya mimpi pernikahan mereka.

"Ketika kami merancang pernikahan, pengantin wanita memberi tahu kami bahwa pernikahan impiannya akan diadakan di balon udara panas di depan sebuah kastil, jadi kami menggunakan efek khusus untuk mewujudkan mimpinya," kata penyelenggara acara pernikahan online Huajiao, Liu Qi.

Ia berpikir efek khusus ini dan kesempatan untuk berbagi momen pernikahan di media sosial akan menarik bagi pasangan muda di China.

Liu mengatakan lebih dari 50 pasangan telah mendaftar untuk paket pernikahan online. Ia percaya pernikahan online bisa menjadi tren baru di masa depan saat pandemi telah berakhir.

"Mungkin sulit untuk diwujudkan di dunia nyata, tetapi ada banyak kemungkinan di online. Pasangan muda memiliki tuntutan yang semakin beragam. Pernikahan online dapat menjadi pilihan baru bagi pasangan di masa depan bahkan ketika epidemi berakhir," kata Liu.