Selasa, 12 Mei 2020

AS-China Makin Gencar Unjuk Gigi di Laut China Selatan

 Amerika Serikat dan China semakin gencar saling unjuk kekuatan militer di Laut China Selatan yang menjadi sengketa pada tahun ini, meski tengah berada dalam situasi pandemi virus corona.

Seperti dilansir Sputnik News, Senin (11/5), hingga Mei 2020, angkatan bersenjata AS dilaporkan sudah mengutus 39 kali penerbangan yang melintas sangat dekat dengan perbatasan China. Pesawat-pesawat AS itu terbang menuju kawasan Laut China Timur dan Selatan, mendekati Hong Kong, dan Selat Taiwan.

Selat Taiwan memisahkan daratan China dengan pulau yang mempunyai pemerintahan mandiri tersebut. Namun, China mengklaim bahwa Taiwan adalah bagian dari negaranya.


Kapal perang AS juga sudah berlayar melintasi wilayah yang menjadi sengketa di Laut China Selatan sejak awal 2020. Mereka beralasan kegiatan itu dilakukan dalam rangka operasi kebebasan navigasi.

Sedangkan China saat ini sudah mengerahkan dua kapal induk dan sejumlah kapal perang untuk berpatroli di Laut China Selatan.

"Pasukan kami berlayar dan terbang di perairan internasional di Laut China Selatan dengan diskresi dan sesuai ketentuan maritim dan hukum internasional, serta memperlihatkan seluruh kemampuan angkatan laut di kawasan Indo-Pasifik," kata Komandan Armada Ekspedisi Tempur Ke-7 Angkatan Laut AS, Fred Karcher.

Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, mengatakan operasi militer mereka di Laut China Selatan bertujuan untuk mempertahankan tingkat perkiraan strategis, sekaligus mengumpulkan prediksi tentang China.

China tentu tidak tinggal diam melihat gelagat AS. Angkatan Udara China beberapa kali mengutus pesawat untuk terbang melintasi kawasan yang menjadi sengketa dengan Taiwan.

Salah satu kapal induk Angkatan Laut China, Liaoning, bahkan sempat berlayar melewati selat Taiwan. Hal itu membuat Taiwan segera mengutus jet tempur untuk mengawasi gerak-gerik kapal induk China tersebut.

China mengklaim sebagai pemilik Laut China Selatan, dengan menetapkan sembilan garis imajiner di peta. Akibatnya adalah hal itu ditentang oleh Filipina, Indonesia, Malaysia dan Vietnam.

Guna mempertahankan klaim tersebut, China bahkan melakukan reklamasi untuk membangun pangkalan militer di Laut China Selatan.

AS berulang kali mengecam upaya China tersebut dengan mengutus kapal perang. China menganggap tindakan itu sebagai provokasi.

Meski tidak mempunyai kepentingan langsung di Laut China Selatan, sikap AS tersebut memperlihatkan mereka berusaha memperkuat pengaruh politik di kawasan Asia dan Asia Tenggara dari ekspansi China. 

Jumlah Warga AS Meninggal Akibat Corona Capai 80 Ribu Orang

Jumlah kematian pasien virus corona (Covid-19) di Amerika Serikat mencapai 80.787 orang berdasarkan data statistik Worldometer per Senin (11/5).

Angka kematian itu meningkat ketika sebagian negara bagian AS terus melonggarkan serangkaian kebijakan pembatasan pergerakan dan membuka kembali kegiatan perekonomian.

Puluhan negara bagian di AS mulai melonggarkan kebijakan pembatasan sejak akhir April lalu setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana pemulihan ekonomi dan pelonggaran kebijakan pembatasan secara bertahap.


Padahal, lonjakan kasus virus corona baru dan angka kematian masih ditemukan di Negeri Paman Sam.

Tanpa menyesuaikan dengan pedoman yang dianjurkan pemerintah federal, dikutip CNN, puluhan negara bagian itu mengklaim bahwa kebijakan pembukaan kembali wilayah mereka didasarkan oleh masukan dan data dari para ahli kesehatan dan medis.

Di sisi lainnya, sejumlah ahli dan pejabat kesehatan pemerintah federal memperingatkan tentang risiko lonjakan angka kematian jika pelonggaran kebijakan pembatasan dilakukan secara prematur.

Model penelitian Institute for Health Metrics and Evaluation the University of Washington (IHME) memprediksi lebih dari 137 ribu warga Amerika akan meninggal pada awal Agustus mendatang karena virus corona.

Beredar Daftar Calon Dubes, Mantan Pemred hingga Eks Menteri

Puluhan nama pejabat dilaporkan masuk dalam daftar kandidat duta besar Republik Indonesia untuk 30 perwakilan pemerintah di luar negeri yang telah dipilih Presiden Joko Widodo, Senin (11/5).

Sebagian besar nama calon duta besar RI dalam daftar yang beredar di kalangan media itu terdiri dari diplomat, mantan menteri, hingga pemimpin redaksi media massa.

Melalui dokumen yang diterima CNNIndonesia.com, mantan Pemimpin Redaksi Metro TV sekaligus mantan Ketua Forum Pemimpin Redaksi, Suryopratomo, diusulkan dalam daftar tersebut menjadi Duta Besar RI untuk Singapura.


Sementara itu, mantan Menteri Perdagangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta relawan Jokowi saat Pilpres 2019, M Luthfi, juga masuk dalam bursa tersebut. M Lutfi diajukan menjadi Dubes RI untuk Amerika Serikat.

Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat TNI, Mayor Jenderal (Purn.), Imam Edy Mulyono, diajukan menjadi Dubes RI untuk Venezuela.

Pelaksana tugas juru bicara Kemlu RI, Teuku Faizasyah, menuturkan pengajuan nama dubes RI adalah hak prerogatif presiden. Menteri luar negeri, paparnya, hanya memberikan masukan dan pertimbangan terhadap nama-nama calon dubes tersebut.

"Proses pengangkatan seorang Dubes sebenarnya cukup panjang. Setelah fit and proper test oleh DPR masih ada proses penting lainnya yaitu permintaan agreement (persetujuan) ke negara yang dituju," kata Faizasyah saat dimintai konfirmasi melalui pesan singkat.

Faizasyah mengatakan nama-nama calon dubes RI memang tidak pernah diumumkan ke publik sampai para calon dubes tersebut disetujui oleh negara masing-masing melalui proses mandat (credential).

Usulan nama-nama dubes itu dilaporkan telah diterima oleh DPR dan selanjutnya dirundingkan dalam rapat paripurna DPR besok. 

AS-China Makin Gencar Unjuk Gigi di Laut China Selatan

 Amerika Serikat dan China semakin gencar saling unjuk kekuatan militer di Laut China Selatan yang menjadi sengketa pada tahun ini, meski tengah berada dalam situasi pandemi virus corona.

Seperti dilansir Sputnik News, Senin (11/5), hingga Mei 2020, angkatan bersenjata AS dilaporkan sudah mengutus 39 kali penerbangan yang melintas sangat dekat dengan perbatasan China. Pesawat-pesawat AS itu terbang menuju kawasan Laut China Timur dan Selatan, mendekati Hong Kong, dan Selat Taiwan.

Selat Taiwan memisahkan daratan China dengan pulau yang mempunyai pemerintahan mandiri tersebut. Namun, China mengklaim bahwa Taiwan adalah bagian dari negaranya.


Kapal perang AS juga sudah berlayar melintasi wilayah yang menjadi sengketa di Laut China Selatan sejak awal 2020. Mereka beralasan kegiatan itu dilakukan dalam rangka operasi kebebasan navigasi.

Sedangkan China saat ini sudah mengerahkan dua kapal induk dan sejumlah kapal perang untuk berpatroli di Laut China Selatan.

"Pasukan kami berlayar dan terbang di perairan internasional di Laut China Selatan dengan diskresi dan sesuai ketentuan maritim dan hukum internasional, serta memperlihatkan seluruh kemampuan angkatan laut di kawasan Indo-Pasifik," kata Komandan Armada Ekspedisi Tempur Ke-7 Angkatan Laut AS, Fred Karcher.

Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, mengatakan operasi militer mereka di Laut China Selatan bertujuan untuk mempertahankan tingkat perkiraan strategis, sekaligus mengumpulkan prediksi tentang China.

China tentu tidak tinggal diam melihat gelagat AS. Angkatan Udara China beberapa kali mengutus pesawat untuk terbang melintasi kawasan yang menjadi sengketa dengan Taiwan.

Salah satu kapal induk Angkatan Laut China, Liaoning, bahkan sempat berlayar melewati selat Taiwan. Hal itu membuat Taiwan segera mengutus jet tempur untuk mengawasi gerak-gerik kapal induk China tersebut.

China mengklaim sebagai pemilik Laut China Selatan, dengan menetapkan sembilan garis imajiner di peta. Akibatnya adalah hal itu ditentang oleh Filipina, Indonesia, Malaysia dan Vietnam.