Rabu, 13 Mei 2020

Waspada! Obesitas Bisa Memperparah Infeksi COVID-19

Kegemukan atau obesitas memiliki dampak pada berbagai masalah kesehatan, salah satunya meningkatkan risiko gejala dan komplikasi yang lebih parah jika terjangkit COVID-19.
The European Association for The Study of Obesity menyebut bahwa seseorang yang mengalami obesitas memiliki risiko keparahan komplikasi COVID-19 yang lebih tinggi.

Data penelitian pada jurnal Clinical Infectious Diseases menunjukkan bahwa penderita obesitas berisiko 2 kali lebih tinggi untuk membutuhkan perawatan khusus (acute care), dan berisiko 18 kali lebih tinggi untuk membutuhkan perawatan kritis (critical care).

Risiko tersebut semakin bertambah apabila tingkat obesitasnya semakin parah. Penyebab ini diyakini berkaitan dengan gangguan metabolik, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan yang terjadi pada penderita obesitas. Seperti diketahui dari penelitian sebelumnya, gangguan-gangguan kesehatan ini mempengaruhi tingkat keparahan pasien COVID-19.

Sebelum terlambat, yuk jaga berat badan agar terhindar dari obesitas dengan membatasi asupan kalori, salah satunya dengan memilih camilan sehat yang rendah kalori serta mengandung lebih sedikit gula dan lemak. Apalagi sedang masa physical distancing seperti ini, kita jadi semakin mudah ngemil hingga tanpa sadar berat badan bertambah.

Bagi yang suka ngemil, bisa mencoba Tropicana Slim Hokkaido Cheese Cookies yang bebas gula dan hanya mengandung 100 kalori per sachet. Camilan ini cocok untuk mengganti camilan-camilan tinggi gula yang biasa dikonsumsi.

Selain itu membatasi asupan lemak juga bermanfaat untuk menjaga berat badan. Lemak adalah penyumbag kalori lebih besar dibandingkan nutrisi lain. Bahkan, kandungan kalori per gram lemak 2 kali lebih besar dibanding kandungan kalori pada karbohidrat dan protein.

Untuk membatasi asupan lemak, bisa dilakukan dengan memilih bahan makanan yang lebih rendah lemak seperti susu rendah lemak dibandingkan full cream atau masak dengan santan yang lebih rendah lemak.

Hindari memasak dengan cara deep-fry yang membuat minyak lebih banyak terserap ke bahan makanan. Sebagai gantinya, menumis bisa dijadikan opsi memasak yang lebih sehat.

Agar masakan lebih sehat, gunakan minyak dengan kandungan lemak jenuh rendah seperti Tropicana Slim Corn Oil atau Tropicana Slim Canola Oil. Jadi, di bulan Ramadhan Anda tetap bisa menyajikan hidangan istimewa dan nikmat untuk keluarga dengan kandungan lemak yang terkendali.

Pada masa pandemi COVID-19, Tropicana Slim juga menganjurkan untuk menjaga kebersihan secara maksimal. Misalnya rajin mencuci tangan, pakai masker saat ke luar rumah, rutin membersihkan permukaan benda, dan tetap mengaplikasikan physical distancing. Jaga kebersihannya, jaga juga berat badannya.

Studi Teliti 48 Hewan, Mana Saja yang Paling Rentan Terinfeksi Corona?

 Meski beberapa hewan peliharaan seperti kucing sebelumnya dilaporkan terinfeksi Corona, studi ini sebut tidak semua hewan berpotensi terinfeksi virus Corona COVID-19. Salah satunya tikus disebut lebih rentan terkena dibandingkan dengan hamster peliharaan, begitu juga dengan kalkun yang disebut lebih berisiko terinfeksi Corona daripada bebek.
Hewan apa saja yang paling mungkin terinfeksi Corona?

Ilmuwan di India menganalisis angiotensin converting enzyme 2 (ACE2), reseptor virus Corona COVID-19 dari 48 hewan termasuk mamalia, reptil, dan burung. Analisisnya menggunakan pemodelan komputer untuk memperkirakan infektivitas masing-masing.

Ditemukan semua jenis primata termasuk manusia kecuali 'babon' memiliki 100 persen kemungkinan terinfeksi virus Corona COVID-19. "Sebagaimana yang dibuktikan dari sifat penyakit COVID-19 pada manusia," jelas para peneliti dari National Institute of Animal Biotechnology, ICAR-Lembaga Penelitian Veteriner India dan Dewan Penelitian Pertanian India.

Semua hewan berkuku cloven juga disebut memiliki kemungkinan 99 persen untuk terinfeksi virus Corona kecuali babi yang disebut tidak rentan terkena. Sementara tikus dan hamster memiliki kemungkinan yang lebih sedikit untuk terinfeksi dan kelinci ada di level 'sedang'.

Pada burung, bebek dan elang ekor putih, dilaporkan menunjukkan probabilitas terendah, diikuti oleh ayam. Sedangkan elang emas dan kalkun disebut memiliki probabilitas tinggi.

Para peneliti mengatakan bahwa kemungkinan masuknya virus bukan satu-satunya faktor penentu infeksi virus Corona COVID-19, sama seperti yang terjadi pada infeksi manusia dengan gejala ringan dan kondisinya tidak parah. Namun disebutkan, prediksi penelitian ini dapat membantu ilmuwan lain untuk fokus pada kemampuan spesies tertentu yang memiliki kemungkinan membawa atau menyebarkan virus Corona COVID-19.

Masih Laporkan Nol Kasus Kematian, Bagaimana Strategi Vietnam Hadapi Corona?

Hingga kini, Vietnam tidak memiliki satu pun kasus kematian akibat virus Corona COVID-19. Karenanya, Vietnam menjadi sorotan di dunia sebab dinilai berhasil tangani Corona.
Mengutip data worldometers pada Rabu (13/5/2020), kasus Corona di Vietnam sebanyak 288 kasus dan 252 di antaranya dilaporkan sembuh dengan 0 kasus kematian. Tentu hal ini adalah pencapaian di tengah pandemi Corona di saat negara lain kembali melaporkan lonjakan kasus Corona dan tengah mewaspadai gelombang kedua.

Apa saja yang dilakukan Vietnam?

Melansir abc.net.au, Hung Le Thu, seorang analisis di Australian Strategic Policy Institute mengatakan para pakar termasuk ahli epidemiolog di Australia pun tak meragukan data yang dilaporkan Vietnam terkait tidak adanya kasus kematian Corona.

"Saya tidak melihat tanda bahaya mengenai ketepatan atau kurangnya transparansi dalam jumlah," kata Sharon Kane, direktur negara Vietnam di Plan International, sebuah LSM yang bekerja pada kesehatan masyarakat.

"Ada realisasi dan pelaporan yang jujur oleh pemerintah sejak awal Januari tentang terbatasnya sumber daya klinis yang tersedia jika epidemi ini terjadi, sehingga Vietnam dengan cepat berusaha menjaga wabah tetap terkendali," lanjut Sharon.

Bergerak dengan cepat dan tegas
Kunci keberhasilan Vietnam dinilai berasal dari pengujian strategis, penelusuran kontak yang agresif, dan kampanye komunikasi publik yang efektif. "Sejak awal, dipahami bahwa ini adalah sesuatu yang sangat serius, virus yang dapat menginfeksi semua orang," kata dr Le Thu.

"Bukan hanya orang yang terpengaruh tetapi semua orang di sekitar mereka," lanjut dr Le Thu.

Vietnam diketahui melaporkan kasus pertamanya pada 22 Januari lalu dan saat itu Vietnam dengan cepat bergerak untuk membentuk gugus tugas menteri yang dikenal sebagai Komite Pengarah Nasional soal Pencegahan dan Kontrol COVID-19.

"Latihan penilaian risiko pertama dilakukan pada awal Januari segera setelah kasus-kasus di China mulai dilaporkan," kata perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia untuk Vietnam, Kidong Park, mengatakan kepada AAP.

Vietnam pun dikatakan bertindak lebih cepat daripada negara mana pun di dunia di luar China.

Pembatasan penerbangan
Pada 1 Februari lalu, perusahaan penerbangan Vietnam Airlines mengumumkan penangguhan semua penerbangan ke dan dari China, Hong Kong, dan Taiwan. Perbatasan ditutup segera setelah itu, menangguhkan semua penerbangan internasional pada 21 Maret.

"Ada banyak pelajaran dari epidemi SARS tahun 2003, dan pemerintah secara cerdik menggunakan pengalaman yang kaya ini dan bertindak secara bertanggung jawab," kata Sharon Kane.

Mereka yang kembali ke Vietnam diharuskan untuk karantina selama 14 hari di fasilitas yang didanai dan dioperasikan oleh pemerintah. Vietnam telah mengisolasi semua orang yang bahkan dicurigai terinfeksi. Puluhan ribu orang telah dikarantina.

Pada awal Maret, para ilmuwan Vietnam telah mengembangkan beberapa alat uji berbiaya rendah. "Pada saat itu, AS bahkan tidak memiliki tes yang efektif, Vietnam punya tiga," jelas Mike Toole, seorang spesialis penyakit menular dengan Burnet Institute yang berbasis di Melbourne, mengatakan kepada ABC.

Protokol kesehatan yang ketat
Sementara Vietnam mendorong kebiasaan positif seperti menggunakan hand sanitizer dan pemerintah mewajibkan untuk mengenakan masker saat berada di luar pada 16 Maret. Bagi mereka yang melanggar bisa terkena hukuman keras.

"Sudah menjadi masalah patriotisme untuk mencuci tangan dan tetap di rumah, sebuah pesan yang telah berhasil dikomunikasikan melalui berbagai bentuk seni populer dan propaganda tentang COVID-19," kata dr Le Thu.

Slogan termasuk 'tinggal di rumah adalah mencintai negara Anda', 'menjaga jarak sosial adalah bentuk patriotisme', dan 'virus adalah musuh Anda' pun dinilai sebagai bentuk himbauan yang kreatif dan efektif.

"Pemerintah sangat kreatif. Setiap hari, berbagai bagian pemerintah akan mengirim pesan kepada warga dengan informasi," kata Profesor Toole.

Dengan tidak ada kasus lokal yang dilaporkan dalam hampir sebulan, Vietnam telah membuka kembali bisnis dan tempat wisata. Sekolah telah dibuka kembali namun tetap memerhatikan langkah-langkah social distancing.