Minggu, 24 Mei 2020

Palestina Tolak Bantuan Medis dari Arab yang Tiba di Israel

Otoritas Palestina menolak bantuan kemanusiaan untuk mengatasi pandemi virus corona dari Uni Emirat Arab (UEA) yang diterbangkan dari Israel, atas dasar kekhawatiran Palestina akan kedaulatan negara.

Pada hari Selasa (19/5), maskapai Etihad Airlines terbang perdana membawa bantuan kemanusiaan untuk Palestina dari UEA ke Israel.

Dalam beberapa tahun terakhir Israel dan UEA dipersatukan karena keprihatinan mereka tentang Iran.

Namun pada hari Kamis (21/5), Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh mengatakan bahwa pemerintah hanya mengetahui tentang pengiriman bantuan itu dari laporan media.

"Kami tidak diberitahu tentang ini dan tidak ada koordinasi dengan kami, baik dengan duta besar kami di Emirates atau di sini," katanya seperti yang dikutip dari AP.

Pesawat Etihad Airlines lepas landas dari Abu Dhabi dan mendarat di Bandara Internasional Ben Gurion, Tel Aviv, dengan membawa pakaian pelindung, ventilator, dan peralatan medis lainnya.

Menteri Kesehatan Palestina mengatakan, otoritas setempat tidak dapat menerima bantuan itu dengan alasan pentingnya memiliki kedaulatan.

Dilansir dari Al-Monitor, saat ini belum jelas ke mana bantuan itu pergi.

Palestina mengontrol wilayah Tepi Barat, yang diakui banyak negara sebagai tanah Palestina yang ditempati Israel.

Saat ini ada 423 kasus virus corona yang terkonfirmasi di wilayah Palestina, meliputi Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Beberapa masyarakat Palestina memuji cara Perdana Menteri penanganan pandemi virus corona.

Sementara itu sebagian penduduk Palestina di Yerusalem mengeluhkan langkah Israel dalam menghadapi Covid-19.

Tak Punya Alat, RSUD Brebes Belum Bisa Kirim Sampel Suspect Corona

Sejak menangani pasien suspect virus corona Covid-19, RSUD Brebes belum sekalipun mengirim sampel dahak hasil swab untuk diuji di laboratorium Balitbang Kemenkes. Pihak RSUD beralasan, tidak memiliki media untuk membawa sampel dahak hasil swab atau VTM (Viral Transport Media).
Semua pasien yang masuk hanya sebatas dikarantina di ruang isolasi. Pemeriksaan lanjutan untuk menentukan positif tidaknya pasien corona belum bisa dilakukan karena tidak adanya VTM.

"Untuk pemeriksaan swab kita belum bisa melakukannya. Karena terkendala tidak adanya VTM (viral transport media atau media untuk membawa sampel dahak hasil swab). Kami belum dapat kiriman VTM dari kemenkes. Ini kasie kami sedang coba, cari barangkali bisa untuk beli sendiri," ujar dr Rasipin, Wadir Pelayanan RSUD Brebes.

Kepala Dinas Kesehatan Brebes, dr Sartono saat ditemui di kantornya membenarkan tidak adanya media untuk mengirim sampel swab pasien. Selama ini, semua pasien suspect covid-19 hanya sebatas dikarantina dan diobati biasa.

"Media transport sampelnya sulit didapat. Sampai hari ini kita belum dapat juga. Mohon doanya semua," kata Sartono.

Selama menunggu pengambilan dan pemeriksaan swab dari petugas litbang Kemenkes, kata Sartono, pasien isolasi tetap dirawat sebaik mungkin. Jika kondisi membaik akan dipulangkan tanpa menunggu hasil uji laboratorium.

"Mudah mudahan membaik dan bisa pulang, meski setelah pulang hasil lab-nya belum keluar," terang Sartono.

Sementara hingga Kamis sore, pasien suspect corona yang dirawat bertambah menjadi 4 orang. Pasien terakhir masuk berasal dari Kecamatan Bumiayu.
https://indomovie28.com/cast/adrian-alvarado/

AS Sepakat Jual Torpedo ke Taiwan, China Bereaksi Keras

 Pemerintah Amerika Serikat setuju menjual 18 torpedo kelas berat kepada Taiwan melalui Kantor Perwakilan Ekonomi dan Kebudayaan Taipei (TECRO) seharga US$180 juta pada Rabu (20/5) lalu.

Kesepakatan itu diambil di tengah ketegangan antara Taiwan dan China.

Dalam sebuah pernyataan, Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan (DSCA) AS menyatakan TECRO membeli 18 torpedo kelas berat jenis MK-48 Mod6 Advanced Technology (AT).


Paket pembelian tersebut termasuk suku cadang, peralatan pendukung dan pengujian, kontainer pengiriman, operator manual, dokumentasi teknis, pelatihan, rekayasa kontraktor, layanan dukungan teknis, dan unsur-unsur lain terkait dukungan logistik.

Pemerintah China bereaksi keras terkait dengan kesepakatan tersebut.

Dalam laporan surat kabar pemerintah China, Global Times, mereka menyebut kesepakatan pembelian torpedo itu terlalu mahal, serta tidak bisa memunculkan perbedaan dalam potensi konflik militer antara Taiwan dan China.

Dilansir Defense World, torpedo tersebut diperkirakan mampu merusak kapal perang besar China, seperti kapal perusak tipe 055 dan kapal induk.

Tidak ada kontraktor utama yang terkait dengan penjualan ini, karena semua material diperoleh dari stok Angkatan Laut AS.

Tidak ada perjanjian penggantian kerugian yang diketahui sehubungan dengan potensi penjualan ini.

"China dengan tegas menentang penjualan senjata AS ke Taiwan, kami mendesak AS bersungguh-sungguh mematuhi prinsip China dan ketentuan dari tiga komunike bersama China-AS, menghentikan penjualan senjata ke Taiwan untuk menghindari perpecahan lanjutan bagi China-AS dan perdamaian stabilitas di selat Taiwan," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, dalam jumpa pers pada Kamis (21/5) kemarin.

Kepada Global Times, seorang pakar militer yang berbasis di Beijing, Wei Dongxu, mengatakan torpedo buatan AS bisa menjadi ancaman bagi kapal perang Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA). Namun, dia juga membeberkan kelemahan militer Taiwan.

"Kapal selam militer Taiwan sudah usang dan dapat terlihat dengan mudah, dan dihancurkan oleh PLA tanpa memberi mereka kesempatan untuk menggunakan torpedo," kata Dongxu.

Pemerintah China menyatakan mereka akan berupaya menyatukan Taiwan, yang saat ini mempunyai pemerintahan terpisah, sebagai bagian kebijakan 'Satu China'. Namun, Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, yang menerapkan sistem pemerintahan demokrasi menolak usul tersebut.

Tsai dikenal memilih merapat ke blok Barat seperti AS. Namun, sebagian faksi politik di Taiwan, khususnya Partai Kuomintang, memutuskan ingin merapat ke China.

Potensi konflik juga semakin tinggi karena sengketa Laut China Selatan. Selain itu, militer China melalui angkatan laut dan angkatan udara kerap menerobos wilayah perairan dan udara Taiwan.

Sedangkan AS juga kerap mengutus kapal perang dan jet tempur melintasi wilayah Taiwan mendekati China.

Palestina Tolak Bantuan Medis dari Arab yang Tiba di Israel

Otoritas Palestina menolak bantuan kemanusiaan untuk mengatasi pandemi virus corona dari Uni Emirat Arab (UEA) yang diterbangkan dari Israel, atas dasar kekhawatiran Palestina akan kedaulatan negara.

Pada hari Selasa (19/5), maskapai Etihad Airlines terbang perdana membawa bantuan kemanusiaan untuk Palestina dari UEA ke Israel.

Dalam beberapa tahun terakhir Israel dan UEA dipersatukan karena keprihatinan mereka tentang Iran.

Namun pada hari Kamis (21/5), Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh mengatakan bahwa pemerintah hanya mengetahui tentang pengiriman bantuan itu dari laporan media.

"Kami tidak diberitahu tentang ini dan tidak ada koordinasi dengan kami, baik dengan duta besar kami di Emirates atau di sini," katanya seperti yang dikutip dari AP.

Pesawat Etihad Airlines lepas landas dari Abu Dhabi dan mendarat di Bandara Internasional Ben Gurion, Tel Aviv, dengan membawa pakaian pelindung, ventilator, dan peralatan medis lainnya.

Menteri Kesehatan Palestina mengatakan, otoritas setempat tidak dapat menerima bantuan itu dengan alasan pentingnya memiliki kedaulatan.

Dilansir dari Al-Monitor, saat ini belum jelas ke mana bantuan itu pergi.

Palestina mengontrol wilayah Tepi Barat, yang diakui banyak negara sebagai tanah Palestina yang ditempati Israel.