Senin, 25 Mei 2020

5 Fakta Virus Corona, Fungsi Masker hingga Jarak Aman Penularan

Memasuki bulan ketiga, kasus virus corona COVID-19 masih terus menyebar. Meskipun menimbulkan kekhawatiran, perjuangan melawan virus masih memberikan kenyakinan bahwa wabah virus corona bisa segera diatasi.
Faktanya, dari 214 ribu kasus COVID-19 di seluruh dunia, 83 ribu di antaranya dinyatakan sembuh. Ada beberapa mitos dan fakta dari penyebaran virus corona, dikutip dari The Guardian, simak 4 mitos fakta berikut.

1. Masker bukan jaminan tak tertular
Mengenakan masker bukan jaminan kamu tidak akan tertular. Virus pun bisa menular melalui mata dan partikel virus kecil, yang dikenal sebagai aerosol, dan masih dapat menembus masker. Namun, masker efektif untuk menangkap tetesan, yang merupakan rute utama penyebaran virus corona.

Bahkan, hasil penelitian memperkirakan perlindungan menjadi lima kali lipat lebih baik jika dibandingkan tanpa penghalang. Jika kamu kemungkinan berhubungan dekat dengan seseorang yang terinfeksi, sebuah masker akan meminimalisasi kemungkinan penularan. Jika kamu hanya berjalan-jalan di kota dan tidak berhubungan dekat dengan orang lain, mengenakan masker sepertinya tidak akan ada bedanya.

2. Tak selalu berdampak fatal
Banyak penderita virus corona tidak mengalami dampak yang lebih buruk dari gejala flu musiman. Namun, dilihat dari profil keseluruhan penyakit, ini termasuk tingkat kematiannya jelas terlihat lebih serius.

Pada awal wabah, tingkat kematian bisa terlalu tinggi, belum lagi banyak kasus yang tidak terjawab. Namun, minggu ini, seorang ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menduga, ini tidak berlaku pada COVID-19. Bruce Aylward, yang memimpin misi internasional ke China untuk mempelajari tentang virus dan respons negara itu, menyebutkan bukti yang menunjukkan kita memang hanya melihat 'puncak gunung es'.

Jika dilakukan pengujian lebih mendalam, perkiraan tingkat kematian sekitar 1 persen saat ini memang akurat. Ini akan membuat COVID-19, kurang lebih 10 kali lebih mematikan daripada flu musiman yang diperkirakan membunuh antara 290.000 dan 650.000 orang per tahun secara global.

3. Lebih berisiko pada lansia
Kebanyakan orang yang bukan berusia lanjut dan tidak memiliki masalah kesehatan tidak terjangkit COVID-19. Namun, penyakit ini berisiko lebih tinggi menyebabkan masalah pernapasan serius daripada flu musiman.

Adapun kelompok berisiko terjangkit penyakit ini adalah petugas kesehatan. Pasalnya, kecenderungan mereka terpapar virus lebih tinggi, sehingga mereka sangat rentan. Kaum muda dan mereka hidup dengan sehat, termasuk melaporkan gejala dan mengikuti instruksi karantina, akan berperan penting dalam masyarakat yang terkena wabah.

4. Jaga jarak agar tak tertular
Untuk flu, beberapa pedoman rumah sakit menjelaskan agar membatasi jarak hingga enam kaki atau 1,5-1,8 meter dari orang yang terinfeksi, yang bersin atau batuk, selama 10 menit atau lebih. Bagaimana pun, jika kurang dari jarak itu kemungkinan tertular lebih besar. Bahkan, virus bisa menular melalui permukaan benda, meskipun dianggap sebagai rute penularan yang kurang umum.

5. Vaksin siap dalam beberapa bulan
Para ilmuwan dengan cepat keluar mengklaim telah memulai pengembangan vaksin untuk virus corona baru, dengan dibantu oleh rilis awal dari urutan genetik peneliti China. Pengembangan vaksin yang berkelanjutan terus berlanjut, dengan beberapa tim yang melakukan percobaan pada hewan. Namun, uji coba tambahan sebelum vaksin komersial dapat diluncurkan merupakan upaya yang panjang dan yang penting untuk memastikan, efek samping yang minim. Vaksin yang tersedia secara komersial paling cepat selesai dalam setahun.
http://indomovie28.com/i-was-raped-many-times/

7 Kesalahan Cuci Tangan yang Perlu Dikoreksi Agar Tak Kena Virus Corona

Salah satu cara pencegahan virus corona COVID-19 yang paling mudah dan murah adalah mencuci tangan dengan baik. Saat melakukannya, dianjurkan menggunakan air yang mengalir dan sabun untuk membersihkan kuman atau virus yang ada di tangan.
Meskipun sudah cuci tangan, bisa saja kuman, bakteri, bahkan virus akan menempel lagi pada permukaan tangan. Bisa jadi, ada kesalahan yang dilakukan saat mencuci tangan, yang membuatnya tidak bersih.

Dikutip dari Reader's Digest, yuk perhatikan beberapa kesalahan yang mungkin sering dilakukan setelah mencuci tangan.

1. Mencucinya tidak cukup lama
Saat mencuci tangan, butuh waktu minimal selama 20-30 detik. Waktu tersebut dihitung selama menggosok tangan dengan sabun dan kemudian dibilas menggunakan air.

Sebuah studi menunjukkan, rata-rata orang hanya mencuci tangan selama 6 detik. Selain itu, 15 persen pria dan 7 persen wanita tidak mencuci tangan mereka setelah menggunakan toilet.

2. Tidak menggosok sampai ke sudut dan celah
Tak hanya telapak tangan dan jari, mencuci tangan juga harus sampai ke sudut dan celah yang ada. Hal ini karena kuman sering bersembunyi di bawah kuku dan sela-sela jari.

3. Tidak dikeringkan secara maksimal
"Kuman senang berkembang biak di tempat yang lembab," ujar dokter dari NYU medical center, Roshini Raj, MD.

Untuk mencegahnya, setelah mencuci harus dikeringkan secara maksimal hingga benar-benar kering. Untuk mengeringkannya, disarankan menggunakan tisu.

Tisu dikenal paling baik untuk mengeringkan tangan dan mengurangi berkembangnya kuman. Jika ingin menggunakan blower, kamu harus memastikan tangan kering dengan bantuan udara yang dihasilkan.

4. Mencuci tangan hanya setelah dari toilet
Mencuci tangan setelah dari toilet memang sangat dianjurkan. Tapi, apakah kuman hanya ada di toilet saja?

Kuman ada di berbagai tempat, misalnya tombol lift, pegangan tangga, mesin ATM, dan barang hingga permukaan lainnya. Sangat disarankan, setelah melakukan apapun harus mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

Selain itu, bisa juga menggunakan hand sanitizer. CDC mengungkapkan, bahwa cairan yang mengandung 60 persen alkohol ini ampuh mematikan beberapa jenis kuman.

5. Mencuci tangan dengan air panas
Sebuah studi di Vanderbilt University Tennessee menemukan bahwa air dingin juga bisa membantu mengurangi jumlah kuman, seperti halnya menggunakan air panas. Ini berlaku asal mencucinya dengan benar, pakai sabun, dibilas dengan air mengalir, dan dikeringkan secara maksimal.

Untuk membunuh kuman, ada suhu terbaiknya yaitu 100 derajat celcius. Tapi, kalau diguyur dengan air sepanas itu gimana nasib tangannya? Jadi jangan coba, belum tentu itu efektif.

6. Menyentuh permukaan setelah cuci tangan
Setelah mencuci tangan, disarankan hindari menyentuh permukaan lainnya. Jika itu dilakukan, otomatis kuman yang tadi sudah hilang malah akan menempel lagi. Ya sama saja dong, kotor lagi kotor lagi.

Menurut studi NSF International tahun 2011, organisasi kesehatan dan keselamatan publik ini menyampaikan sembilan persen dari keran kamar mandi yang diambil sampelnya di rumah teruji positif memiliki bakteri coliform. Selain itu, 27% keran kamar mandi memiliki 5% staphilococcus.

7. Hanya gunakan sabun anti bakteri
Hingga saat ini, hanya ada sedikit bukti yang mengatakan bahwa sabun anti bakteri benar-benar efektif dalam mencegah infeksi daripada sabun biasa. Hal ini disampaikan oleh US Food and Drug Administration (FDA).

Jadi, untuk saat ini kalian bisa pakai sabun apa saja yang tentunya memiliki manfaat untuk membersihkan kuman dan bakteri. Ini juga bertujuan untuk mencegah kuman dan bakteri masuk lagi ke tubuh.
http://indomovie28.com/a-soggy-massage/