Selasa, 26 Mei 2020

Baru 2 Pekan Pulang dari RS, Pria Ini Dinyatakan Positif Corona Lagi

 Seorang pria asal Jepang terinfeksi virus corona COVID-19 untuk yang kedua kalinya setelah dua minggu dinyatakan sembuh.
Dikutip dari Daily Mail, pria yang berusia 70-an itu awalnya terinfeksi pada saat berada di kapal pesiar Diamond Princess. Ia pertama kali dinyatakan positif pada 14 Februari.

Namun setelah dinyatakan negatif virus corona dan diizinkan pulang dari rumah sakit, dua minggu kemudian ia merasakan demam yang cukup tinggi hingga 39 derajat celcius.

Pria itu pun akhirnya di bawa kembali ke rumah sakit, dan setelah melalui serangkaian pengecekan ia dinyatakan positif virus corona.

Para ahli pun merasa khawatir dan curiga bahwa virus corona bisa menjadi infeksi 'persisten'. Artinya virus itu bisa tidak aktif selama bertahun-tahun, namun sewaktu-waktu bisa kambuh kembali.Kejadian ini bukanlah yang pertama kali terjadi, lantaran beberapa waktu lalu juga sempat ada pasien yang terinfeksi virus corona kembali setelah dinyatakan sembuh.

"Tak mungkin mereka bisa terinfeksi kembali setelah sembuh. Karena kemungkinan besar sistem imunnya akan lebih kuat dan kebal terhadap virus, sehingga mencegah terjadinya infeksi ulang," kata ahli virologi di University of Leeds, Professor Mark Harris.

"Kemungkinan lain adalah virus itu tidak hilang sepenuhnya di dalam tubuh, tetapi tetap melakukan infeksi secara terus-menerus," tuturnya.

'Community Transmission' hingga 'Screening Masif', Artinya Apa?

Kasus infeksi virus corona baru atau COVID-19 semakin bertambah setiap harinya. Bahkan penularan virus corona di Indonesia dinilai sudah masuk ke tahap 'community transmission'.
Hal ini membuat para dokter Indonesia mendesak pemerintah untuk segera melakukan screening masif. Namun apa artinya community transmission dan screening masif?

Simak penjelasannya seperti berikut dirangkum detikcom dari berbagai sumber pada Selasa (17/3/2020):

1. Screening Masif
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) screening didefinisikan sebagai langkah identifikasi atau pemeriksaan pada orang-orang yang nampaknya sehat, atau tidak memiliki gejala. Sedangkan screening masif diartikan memeriksa orang-orang yang tak bergejala dalam jumlah yang lebih besar.

2. Community Transmission
Mengutip Theprint, community transmission artinya kondisi di mana penyakit menyebar sedemikian rupa sehingga sumber penularannya tidak diketahui. Seseorang bisa saja terinfeksi dari orang lain tanpa sadar saat sedang bekerja atau berbelanja.

3. Social Distancing
Melansir dari The Atlantic, social distancing adalah tindakan yang bertujuan mencegah orang sakit melakukan kontak dalam jarak dekat dengan orang lain untuk mengurangi peluang penularan virus.

Sedangkan menurut Center for Disease Control (CDC), social distancing adalah menjauhi perkumpulan, menghindari pertemuan massal, dan menjaga jarak antar manusia.

4. Lockdown
Dalam kasus virus corona, lockdown dilakukan untuk mengunci akses masuk dan keluar sebuah daerah atau negara untuk mencegah penyebaran penularan virus corona. Lockdown mengharuskan sekolah, tempat umum, transportasi umum, bahkan industri untuk tidak menjalani aktivitas sementara waktu.
http://kamumovie28.com/a-girl-at-my-door/

Jepang Berhasil Tekan Corona Tanpa Kebijakan Ketat

- Jepang resmi mencabut status darurat nasional pandemi Covid-19 setelah berhasil meratakan kurva penyebaran virus corona, Senin (25/5).

Jepang berhasil meraih capaian tersebut meski tidak menerapkan kebijakan ketat yang umumnya dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus corona. Hanya pembatasan tanpa hukuman atau sanksi tegas bagi setiap pelanggar.

Pada April lalu, Perdana Menteri Shinzo Abe memutuskan memperluas status darurat nasional setelah melihat kasus Covid-19 kembali melonjak signifikan. Dengan status darurat itu, warga hanya diimbau melakukan karantina mandiri dan berdiam di rumah.

Status darurat di Jepang juga tidak mengikat warga sehingga masih memungkinkan melakukan perjalanan, termasuk bekerja di kantor meski jam kerjanya dikurangi.

Banyak pihak menyangsikan kemampuan Jepang melawan virus karena jumlah populasi manula yang tinggi serta kepadatan penduduk di Tokyo. Selain itu ada pula gambaran pekerja-pekerja yang berjejal di kereta komuter.

Jepang tidak melakukan pengujian virus secara massal layaknya negara lain yang sukses menekan penularan seperti China dan Korea Selatan. Rumah sakit di Jepang hanya akan memeriksa orang yang bergejala.

Jepang disorot karena terhitung negara dengan angka pengecekan Covid-19 yang rendah, sekitar 270 ribu. Angka itu menjadi tingkat per kapita terendah dalam kelompok tujuh negara maju menurut Worldometer.

Pemerintah Jepang bersikeras bahwa pengujian massal tidak pernah menjadi bagian dalam rencana penanganan pandemi mereka.

Namun pengujian ditingkatkan dalam beberapa pekan terakhir karena kekhawatiran akan peluang terjadinya gelombang baru yang bisa membuyarkan rencana sebelumnya.

Dengan kondisi itu, Jepang rupanya mampu menekan penyebaran dengan 16.581 kasus corona dan 830 kematian.

PM Abe memuji keberhasilan Jepang dalam melandaikan kurva kasus virus corona Covid-19. Menurut dia negara tersebut mampu menunjukkan kekuatan dari yang disebut gaya Jepang.

Namun dia memperingatkan masyarakat harus mengadaptasi diri ke kehidupan "new normal" dan tetap menghindari "3 C" yaitu closed space atau ruang tertutup, crowded place atau ruang ramai, dan close contact atau kontak jarak dekat.

"Bila kita melonggarkan perlindungan kita, infeksi akan menyebar amat cepat. Kita perlu waspada," kata Abe dikutip dari AFP.

"Kita perlu menciptakan gaya hidup baru, dari saat ini kita perlu mengganti cara pikir kita."

Belum ada da alasan pasti mengapa virus corona tidak menghantam parah Jepang, tidak seperti negara selevel dengannya di dunia.

Sejumlah dugaan seperti kebiasaan masyarakat Jepang disebut menguntungkan dalam mencegah penyebaran pandemi, seperti kebiasaan higienis seperti melepas sepatu kala masuk ruangan, dan menundukkan badan sebagai bentuk salam daripada berjabat tangan atau berciuman. Selain itu, Jepang dinilai memiliki sistem kesehatan yang amat baik.

Namun para analis sepakat kebiasaan tersebut tidak bisa dijadikan patokan parameter keberhasilan Jepang.

Jepang juga dinilai mampu menekan laju penyebaran berkat perilaku warga yang memang jauh dari kebiasaan berjabatan tangan, berpelukan dan berciuman. Selain itu, berjabat tangan bukan bagian dari salam tradisional Jepang.

Profesor Kebijakan Publik di Universitas Hokkaido Kazuto Suzuki mengungkapkan Jepang melakukan pendekatan berbasis klaster yang ternyata dinilai berhasil.

Menurut dia, pendekatan berbasis klaster ini dikondisikan pada lingkungan di mana hanya ada beberapa orang yang terinfeksi dan klaster terdeteksi pada tahap awal.

"Pada bulan Februari, ketika penyebaran infeksi diamati di Hokkaido, pendekatan berbasis klaster diadopsi. Akibatnya, Hokkaido berhasil menahan wabah," kata dia melalui kolom yang ditulis di Japan Times, (28/4) lalu.

Suzuki menyatakan model Jepang didasarkan pada kondisi geografis dan sosial di negara tersebut dan tidak selalu berhasil diterapkan di negara lain.

"Pendekatan serupa diambil oleh Korea Selatan dan Singapura dengan sistem pelacakan pribadi yang lebih canggih, yang meningkatkan masalah privasi. Tapi Jepang memperkenalkan sistemnya sendiri," ujarnya.

Tokyo tercatat mengalami penurunan kasus infeksi dalam beberapa pekan terakhir. Tokyo melaporkan 14 kasus baru pada hari Minggu (24/5), tertinggi sejak 16 Mei, setelah hanya dua kasus yang dikonfirmasi pada Sabtu sebelumnya. Total untuk tujuh hari terakhir adalah 50 kasus baru.

Landainya penambahan kasus membuat Menteri Ekonomi Yasutoshi Nishimura membuka mobilitas warga di Jepang.

Namun, Nishimura menegaskan pemerintah masih terus memperketat pengawasan dan penanganan penularan covid-19 sembari menyeimbangkan upaya pencegahan dan dampak covid-19 terhadap kegiatan ekonomi. 
https://kamumovie28.com/chihayafuru-part-i/