Rabu, 27 Mei 2020

Seberapa Besar Risiko Janin dalam Kandungan Ikut Terinfeksi Corona?

Merebaknya wabah COVID-19 memicu kepanikan di kalangan masyarakat. Tak terkecuali para ibu hamil yang hendak melahirkan dalam waktu dekat.
Namun, dikutip Health Harvard tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa hamil meningkatkan risiko wanita untuk mendapatkan COVID-19, atau risiko terkena gejala parah jika dia menderita penyakit tersebut. Oleh karena itu, ibu hamil disarankan untuk tidak khawatir berlebihan.

Head of Medical Kalbe Nutritionals dr Muliaman Mansyur menjelaskan pada ibu hamil memang terjadi perubahan sistem imun, karena aliran darahnya sekarang menjadi terbagi ke uterus juga di mana ada janin di dalamnya. Namun, ini tidak berarti wanita hamil lebih rentan terkena COVID-19 daripada wanita yang tidak hamil.

"Ibu hamil yang COVID-19 gejalanya akan sama dengan yang tidak hamil, seperti demam, batuk dan sesak napas. Malah pada ibu hamil ini sesak napasnya akan menjadi parah karena diafragmanya akan menekan paru karena uterus yang membesar akan menambah sesak napasnya," jelas dr Muliaman kepada detikHealth, baru-baru ini.

"Tentunya sesak napas dan gejala lain dari COVID-19 ini bisa mengancam nyawa ibu nya, dan tentu juga janinnya. Kalau keguguran karena COVID-19 belum ada laporan tapi keguguran karena ibu sakit infeksi virus tentu sering kita dengar," lanjutnya.

Adapun risiko penularan COVID-19 ke janin, lanjut dr Muliaman, sampai saat ini belum terbukti bisa ditularkan melalui vertical transmission, artinya dari ibu ke anak melalui placenta atau air ketuban. Jadi ibu yg positif COVID-19 akan menularkan ke bayi kemungkinan saat setelah bayinya lahir atau saat menyusui.

"Makanya penularan ke janin harusnya sangat rendah kalau seandainya setelah lahir bayi dari ibu positif, segera mengikuti protokol COVID-19 di rumah sakit," jelas dr Muliaman.

Pada saat hamil di tengah pandemi, tentu yang harus diperhatikan sebenarnya sama seperti pada umumnya seperti menerapkan physical distancing, hanya keluar rumah kalau diperlukan, memakai masker setiap keluar rumah kalau terpaksa, hindari kalau ada yang sakit dan juga sering cuci tangan.

"Ibu hamil memiliki risiko tinggi tertular virus COVID-19 ini jika si ibu hamil tidak mengikuti aturan memakai masker, masih keluar rumah dan tidak physical distancing, atau ditularkan oleh suami," ujar dr Muliaman.

Selain itu, agar terhindar dari COVID-19 dianjurkan untuk istirahat yang cukup dan tidur minimal 8 jam/hari. Konsumsi air yang cukup minimal 8 gelas sehari, dan konsumsi nutrisi seimbang yang mengandung protein dan vitamin dan mineral.

Bagi ibu hamil, penuhi asupan nutrisi harian, salah satunya dengan mengonsumsi susu khusus kehamilan karena mengandung nutrisi lengkap mulai dari nutrisi makro dan nutrisi mikro untuk ibu hamil dan calon buah hati seperti PRENAGEN. Kandungan PRENAGEN dibuat sesuai kebutuhan ibu dan si kecil mulai dari masa perencanaan hamil hingga menyusui.

Ilmuwan Temukan Pasien Corona Alami Gejala Mata Berair

 Wabah virus Corona COVID-19 saat ini sudah menginfeksi jutaan orang di dunia. Berbagai gejala pun dirasakan, mulai dari demam hingga kehilangan kemampuan pada indra penciuman dan perasa.
Namun, sebuah penelitian mengklaim bahwa seseorang yang mengeluarkan air mata lebih banyak dari biasanya berisiko terinfeksi virus tersebut. Para ilmuwan ini mengklaim sejumlah pasien COVID-19 mungkin juga mengalami epifora atau mata berair yang berlebihan.

Dikutip dari Express, ilmuwan di China tersebut menemukan gejala ini pada pasien Corona di bulan Februari 2020 lalu. Mereka menganalisis 12 pasien COVID-19, tujuh di antaranya mengembangan lebih banyak air mata dari biasanya.

Epifora bisa menyebabkan aliran air mata yang berlebihan dan keluar terus-menerus. Jumlah air mata yang dihasilkan karena kondisi ini pun bisa jauh lebih banyak dari keadaan normalnya.

Meski begitu, kondisi epifora ini juga bisa disebabkan karena hal lain atau kondisi mata orang tersebut memang sedikit berair. Selain itu, epifora juga menyebabkan mata merah, pegal, penglihatan kabur, dan rasa sakit yang tajam di mata.

Tanda ini juga bukan berarti sudah pasti terinfeksi virus Corona, bisa saja disebabkan infeksi biasa atau hal lainnya. Tapi, jika epifora ini terjadi bersamaan dengan munculnya gejala virus Corona yang lebih umum, mungkin kondisi ini menandakan ada virus tersebut di tubuh.

Jika mengalami mata berair berlebihan disertai gejala COVID-19 lainnya, segera hubungi dokter atau kunjungi layanan medis terdekat untuk didiagnosis lebih lanjut.
https://nonton08.com/cast/wang-xiaokun/

Pemudik 'Dipersulit' Balik ke Jakarta, Dokter: Nggak Dikarantina Sekalian?

 Pemerintah telah melarang masyarakat untuk mudik Lebaran tahun ini di tengah pandemi Corona. Mereka yang nekat mudik bakal kesulitan masuk kembali ke Jakarta.
Akses masuk tol bagi kendaraan penumpang dari Purwakarta yang hendak ke Jakarta ditutup. Namun, pemudik diperbolehkan masuk apabila memiliki surat izin keluar/masuk (SIKM).

"Kendaraan pribadi dan umum kita larang. Tapi, untuk angkutan barang diperbolehkan," kata Kasat Lantas Polres Purwakarta AKP Zanuar Cahyo Wibowo.

Menanggapi hal ini, Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, MSc, mengatakan penutupan pintu akses jalan tol sudah bagus. Tetapi, akan lebih baik bila para pemudik dikarantina.

"Sebenarnya kalau pemerintah mau serius ya sediakan karantina saja, gedung karantina," kata dr Miko, sapaan akrabnya kepada detikcom, Rabu (27/5/2020).

"Jadi bagi pemudik dikarantina gitu kalau mau bagus. Tapi kan pemerintahnya nggak mau repot, jadi yaudah diblok saja pintu masuknya," lanjutnya.

Menurut dr Miko, jika para pemudik dikarantina ketika hendak masuk ke Jakarta, mereka akan lebih kapok dan menyesali telah mudik.

"Jadi disetop lalu ditempatkan dikarantina. Jadi biar mereka kapok nggak mudik," tuturnya.

Seberapa Besar Risiko Janin dalam Kandungan Ikut Terinfeksi Corona?

Merebaknya wabah COVID-19 memicu kepanikan di kalangan masyarakat. Tak terkecuali para ibu hamil yang hendak melahirkan dalam waktu dekat.
Namun, dikutip Health Harvard tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa hamil meningkatkan risiko wanita untuk mendapatkan COVID-19, atau risiko terkena gejala parah jika dia menderita penyakit tersebut. Oleh karena itu, ibu hamil disarankan untuk tidak khawatir berlebihan.

Head of Medical Kalbe Nutritionals dr Muliaman Mansyur menjelaskan pada ibu hamil memang terjadi perubahan sistem imun, karena aliran darahnya sekarang menjadi terbagi ke uterus juga di mana ada janin di dalamnya. Namun, ini tidak berarti wanita hamil lebih rentan terkena COVID-19 daripada wanita yang tidak hamil.

"Ibu hamil yang COVID-19 gejalanya akan sama dengan yang tidak hamil, seperti demam, batuk dan sesak napas. Malah pada ibu hamil ini sesak napasnya akan menjadi parah karena diafragmanya akan menekan paru karena uterus yang membesar akan menambah sesak napasnya," jelas dr Muliaman kepada detikHealth, baru-baru ini.

"Tentunya sesak napas dan gejala lain dari COVID-19 ini bisa mengancam nyawa ibu nya, dan tentu juga janinnya. Kalau keguguran karena COVID-19 belum ada laporan tapi keguguran karena ibu sakit infeksi virus tentu sering kita dengar," lanjutnya.

Adapun risiko penularan COVID-19 ke janin, lanjut dr Muliaman, sampai saat ini belum terbukti bisa ditularkan melalui vertical transmission, artinya dari ibu ke anak melalui placenta atau air ketuban. Jadi ibu yg positif COVID-19 akan menularkan ke bayi kemungkinan saat setelah bayinya lahir atau saat menyusui.

"Makanya penularan ke janin harusnya sangat rendah kalau seandainya setelah lahir bayi dari ibu positif, segera mengikuti protokol COVID-19 di rumah sakit," jelas dr Muliaman.

Pada saat hamil di tengah pandemi, tentu yang harus diperhatikan sebenarnya sama seperti pada umumnya seperti menerapkan physical distancing, hanya keluar rumah kalau diperlukan, memakai masker setiap keluar rumah kalau terpaksa, hindari kalau ada yang sakit dan juga sering cuci tangan.
https://nonton08.com/star/oh-hyeon-kyeong/