Jumat, 05 Juni 2020

Ahli Sebut Pria Botak Berisiko Alami Gejala Berat karena Virus Corona

Studi baru menyebut pria botak berisiko alami gejala berat ketika mengidap virus Corona COVID-19. Hubungan antara kebotakan dan gejala parah ini dinilai memiliki kaitan yang kuat sehingga dianggap sebagai faktor risiko.
"Kami benar-benar berpikir bahwa kebotakan adalah prediksi sempurna dari tingkat keparahan," jelas pemimpin studi utama di Brown University, Prof Carlos Wambier, dikutip dari The Sun Jumat (5/6/2020).

Jika penelitian lebih lanjut terkonfirmasi bahwa ada kaitan yang jelas antara pria botak dengan faktor risiko keparahan pasien COVID-19, ilmuwan menyebut hal ini bisa membantu perawatan pasien COVID-19. Sekaligus mengurangi jumlah pria yang meninggal akibat virus Corona COVID-19.

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pria botak secara tidak proporsional rentan terhadap kematian akibat virus Corona karena hormon mereka. Penelitian sebelumnya dan analisis statistik oleh Public Health di Inggris pun menunjukkan bahwa pria dua kali lebih mungkin meninggal karena virus Corona.

Para ilmuwan saat ini meyakini bahwa kerentanan pria disebabkan oleh hormon seks pria yang disebut androgen, termasuk testosteron. Androgen disebut menyebabkan rambut rontok dan juga berperan sebagai 'gerbang' untuk meningkatkan kemampuan virus Corona dalam menyerang sel.

Temuan dari Brown mengkonfirmasi studi sebelumnya yang menemukan penyebab dan efek yang sama dengan pasien di seluruh dunia. Studi yang lebih kecil di Spanyol juga menunjukkan bahwa 79 persen pria botak perlu dirawat di rumah sakit.

Para ilmuwan juga menemukan hasil serupa pada wanita yang kehilangan rambut karena androgen. Studi Italia lainnya menemukan bahwa pria yang sedang dirawat karena kanker prostat dengan terapi kekurangan androgen empat kali lebih kecil untuk terkena virus Corona dibandingkan pasien yang menggunakan perawatan lain.

Sebaran Pasien Virus Corona di Indonesia, 9.443 Sembuh, 1.770 Meninggal

Pemerintah mengumumkan jumlah kasus positif virus Corona COVID-19 di Indonesia pada Jumat (5/6/2020) telah mencapai 29.521 kasus. Sebanyak 9.443 pasien dinyatakan sembuh sementara 1.770 pasien lainnya meninggal dunia.
"Konfirmasi COVID-19 positif yang kita dapatkan sebanyak 703 orang, sehingga totalnya menjadi 29.521 orang," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona COVID-19, Achmad Yurianto, Jumat (5/6/2020).

Berikut sebaran pasien yang sembuh dan meninggal hingga saat ini.

SEMBUH
Aceh 18
Bali 369
Banten 324
Bangka Belitung 34
Bengkulu 25
DI Yogyakarta 174
DKI Jakarta 2.751
Jambi 27
Jawa Barat 764
Jawa Tengah 407
Jawa Timur 1.207
Kalimantan Barat 109
Kalimantan Timur 184
Kalimantan Tengah 191
Kalimantan Selatan 104
Kalimantan Utara 95
Kepulauan Riau 103
Nusa Tenggara Barat 299
Sumatera Selatan 265
Sumatera Barat 333
Sulawesi Utara 62
Sumatera Utara 172
Sulawesi Tenggara 141
Sulawesi Selatan 673
Sulawesi Tengah 78
Lampung 92
Riau 100
Maluku Utara 30
Maluku 64
Papua Barat 74
Papua 78
Sulawesi Barat 50
Nusa Tenggara Timur 14
Gorontalo 32

MENINGGAL
Aceh 1
Bali 5
Banten 70
Bangka Belitung 1
Bengkulu 3
DI Yogyakarta 8
DKI Jakarta 524
Jawa Barat 158
Jawa Tengah 76
Jawa Timur 446
Kalimantan Barat 4
Kalimantan Timur 3
Kalimantan Tengah 26
Kalimantan Selatan 93
Kalimantan Utara 2
Kepulauan Riau 15
Nusa Tenggara Barat 20
Sumatera Selatan 38
Sumatera Barat 27
Sulawesi Utara 40
Sumatera Utara 46
Sulawesi Tenggara 5
Sulawesi Selatan 93
Sulawesi Tengah 4
Lampung 11
Riau 6
Maluku Utara 19
Maluku 8
Papua Barat 2
Papua 7
Sulawesi Barat 2
Nusa Tenggara Timur 1
Gorontalo 6
https://nonton08.com/sword-art-online-alternative-gun-gale-online-episode-11/

Melahirkan di Tengah Pandemi Corona, Mending Caesar atau Normal?

 Ibu hamil disebut jadi salah satu kelompok yang rentan terinfeksi virus Corona. Meski para ahli masih mempelajari bagaimana virus Corona COVID-19 rentan pada ibu hamil, mereka percaya perubahan sistem imun yang terjadi pada kehamilan dapat membuat ibu hamil mudah terserang virus Corona dan mengembangkan kondisi yang serius.
Untuk menghindari penularan Corona terhadap sang bayi, mana yang lebih aman untuk persalinan?

Dokter kandungan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Brawijaya, dr Dinda Derdameisya, SpOG, mengatakan selama pandemi Corona indikasi persalinan sesuai dengan aturan medis, jika ibu dan bayi normal, maka persalinan akan dilakukan normal pula. Tidak ada indikasi untuk harus melahirkan secara caesar.

"Pandemi ini sebenernya nggak ada indikasi untuk melahirkan secara caesar, jadi indikasi persalinan sesuai dengan medis saja, dari ibu dan bayi kalau semuanya normal bisa dilakukan persalinan secara normal," ujar dr Diana kepada detikcom, Jumat (5/6/2020).

"Kalau misal tidak mungkin dilakukan persalinan normal, ya dilakukan persalinan caesar, pandemi bukan merupakan indikasi seorang pasien harus melakukan operasi caesar," tambahnya.

dr Diana menambahkan, bila ibu hamil yang akan melakukan persalinan normal ada baiknya melakukan screening Corona terlebih dahulu.

"Dilakukan screening terlebih dahulu, jadi ketika memasuki kehamilan ke-37 atau 38 minggu, akan dilakukan pemeriksaan COVID-nya, tergantung dari fasilitas kesehatan masing-masing," lanjut dr Diana.

Menurut dr Diana pemeriksaan itu wajib dilakukan terutama untuk ibu hamil yang mau melakukan persalinan baik itu normal atau caesar.

Ahli Sebut Pria Botak Berisiko Alami Gejala Berat karena Virus Corona

Studi baru menyebut pria botak berisiko alami gejala berat ketika mengidap virus Corona COVID-19. Hubungan antara kebotakan dan gejala parah ini dinilai memiliki kaitan yang kuat sehingga dianggap sebagai faktor risiko.
"Kami benar-benar berpikir bahwa kebotakan adalah prediksi sempurna dari tingkat keparahan," jelas pemimpin studi utama di Brown University, Prof Carlos Wambier, dikutip dari The Sun Jumat (5/6/2020).

Jika penelitian lebih lanjut terkonfirmasi bahwa ada kaitan yang jelas antara pria botak dengan faktor risiko keparahan pasien COVID-19, ilmuwan menyebut hal ini bisa membantu perawatan pasien COVID-19. Sekaligus mengurangi jumlah pria yang meninggal akibat virus Corona COVID-19.

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pria botak secara tidak proporsional rentan terhadap kematian akibat virus Corona karena hormon mereka. Penelitian sebelumnya dan analisis statistik oleh Public Health di Inggris pun menunjukkan bahwa pria dua kali lebih mungkin meninggal karena virus Corona.

Para ilmuwan saat ini meyakini bahwa kerentanan pria disebabkan oleh hormon seks pria yang disebut androgen, termasuk testosteron. Androgen disebut menyebabkan rambut rontok dan juga berperan sebagai 'gerbang' untuk meningkatkan kemampuan virus Corona dalam menyerang sel.

Temuan dari Brown mengkonfirmasi studi sebelumnya yang menemukan penyebab dan efek yang sama dengan pasien di seluruh dunia. Studi yang lebih kecil di Spanyol juga menunjukkan bahwa 79 persen pria botak perlu dirawat di rumah sakit.

Para ilmuwan juga menemukan hasil serupa pada wanita yang kehilangan rambut karena androgen. Studi Italia lainnya menemukan bahwa pria yang sedang dirawat karena kanker prostat dengan terapi kekurangan androgen empat kali lebih kecil untuk terkena virus Corona dibandingkan pasien yang menggunakan perawatan lain.
http://nonton08.com/big-breasted-mom/