Senin, 08 Juni 2020

Mantan Menkes Sarankan Anak-anak Tak Cium Tangan untuk Cegah Corona

Cara untuk mencegah penularan virus corona selain selalu menjaga kebersihan yakni diusahakan menghindari kontak langsung dengan orang yang sakit. Selain itu beberapa negara lain sudah mulai untuk tidak melakukan jabat tangan karena perilaku tersebut dinilai mudah menularkan virus.
Mantan Menteri Kesehatan periode 2014-2019, Nila F Moeloek, menyebut mengurangi kontak langsung dengan orang lain bisa menjadi salah satu cara efektif mencegah penularan. Namun ia mengatakan sosialisasinya tidak hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja.

"Kesehatan tidak mungkin berdiri sendiri, bekerja sendiri. Lintas sektor, lintas kementerian diperlukan. Tadi misalnya kritik kalau anak-anak itu tadi sudah diajarkan tidak ada salaman, apalagi kita suka cium tangan, di kebiasaan kita diciumnya ke tangan, itu barangkali kita sudah mulai mengatakan jangan bersentuhan misalnya salamannya aja," sebut Nila saat dijumpai di Gedung Rektorat Universitas Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (11/3/2020).

Menurutnya, Kementerian Pendidikan harus mengambil langkah tegas untuk melindungi anak-anak agar tidak terpajan virus corona mengingat ada potensi penularan melalui kontak langsung. Perlu lintas kementerian yang bekerja bersama-sama dalam menangani virus corona yang semakin meluas.

"Itu memerlukan Kementerian Pendidikan dong, urus sekolah, tidak mengharuskan mereka bersalaman dengan guru atau dengan temannya, untuk sementara waktu. Nanti kalau tidak ada apa-apa mau cium tangan cium dahi, nggak apa-apa," sebutnya.

"Dikbud, menteri perempuan juga, kan dia perlindungan anak dia berhak untuk bicara untuk ini (tidak cium tangan), sudah harus. Jadi harus bicara," pungkasnya.

Di Tengah Heboh Corona, Kematian Akibat DBD hingga Maret Sudah 104 Kasus

 Sejak awal 2020, virus corona telah mengambil alih perhatian banyak orang. Kementerian Kesehatan mencatat, kasus kematian akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga Maret ini masih tinggi.
dr Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan zoonotik mengatakan kasus DBD di Indonesia dari Januari hingga Maret mencapai 17.820.

"Total kasus kita sampai saat ini 17.820," kata dr Nadia, di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2020).

Dari total kasus yang ada, angka kematian akibat DBD mencapai 104 orang di 21 Provinsi di Indonesia dengan mayoritas berada di Provinsi NTT mencapai 32 orang.

Kemudian dr Nadia menegaskan harus selalu waspada dengan DBD terlebih sudah mulai memasuki musim penularan dan jangan hanya terlalu fokus dengan virus Corona.

"Jadi jangan fokus Corona, Demam Berdarah Lupa," pungkasnya.

Viral Soal Risiko Kontaminasi Corona di KRL Depok-Bogor-Kota

Penyebaran virus corona sampai saat ini semakin meluas. Hal ini menjadi penyebab semakin bertambahnya pasien suspek maupun yang positif virus tersebut.
Dalam penularannya, virus corona bisa menular dengan droplet atau hanya bisa terjadi saat berada di dekat penderita. Ini sangat mungkin terjadi di sarana transportasi yang tertutup dan padat penumpang. Wilayah KRL 2 yakni rute Bogor-Depok-Jakarta Kota disebut-sebut punya risiko kontaminasi yang tinggi.

Sebuah foto viral menyiratkan hal tersebut. Slide presentasi dalam foto tersebut menyebutkan risiko kontaminasi terbesar terjadi di wilayah KRL-2 atau rute Bogor-Depok-Jakarta Kota. Narasi tersebut tercantum dalam slide berjudul Waspada Risiko COVID-19 via Transportasi Publik.

"Yang pertama di transportasi massal ya, sudah ada," jawab juru bicara pemerintah dalam penanganan virus Corona yang juga Dirjen P2P Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto, di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2020).

Selain di transportasi umum atau massal ini, adapun orang-orang yang sangat rentan terhadap virus corona, salah satunya perokok.

"Merokok itu bisa merusak sel dinding sepanjang saluran napas. Ini akan memudahkan kalau terjadi infeksi," jelasnya.

"Ya kalau mau berhenti merokok ya berhenti saja, nggak usah nunggu COVID," imbuhnya.

Brasil Setop Umumkan Kasus dan Kematian akibat Corona

Pemerintah Brasil tidak lagi melaporkan angka kematian dan penambahan jumlah pasien baru yang terinfeksi virus corona. Keputusan tersebut menuai kritik lantaran pemerintah dianggap berupaya menyembunyikan jumlah sebenarnya penyebaran Covid-19.

Langkah ini datang setelah banyak ahli mengkritik data statistik kasus corona di Brasil yang dinilai terlalu rendah dan dalam beberapa kasus dicurigai telah dimanipulasi. Terlebih saat ini Brasil tengah mencatat lonjakan infeksi virus corona.

Dilaporkan Associated Press, situs Kementerian Kesehatan Brasil terakhir mencatat lebih dari 34 ribu kematian akibat corona dengan 615 ribu kasus.

Data statistik Worldometers hingga Senin (8/6) mencatat Brasil berada di urutan kedua setelah Amerika Serikat dengan kasus corona sebanyak 691.962. Sementara angka kematian mencapai 37.312 jiwa dan 302.084 pasien dinyatakan sembuh.

Mulai Jumat (5/6) hingga kini situs Kemenkes Brasil tak lagi menyediakan data terbaru kasus infeksi corona harian, mingguan, dan bulanan.

Pada Sabtu (6/6) Kementerian Kesehatan Brasil mengatakan akan menampilkan data laporan kasus infeksi baru dan kematian akibat corona dalam waktu 24 jam terakhir. Tak hanya itu, situs tersebut juga tidak ada lagi pembaruan data dari seluruh wilayah di Brasil.
Insert Artikel - Waspada Virus CoronaFoto: CNN Indonesia/Fajrian
Insert Artikel - Waspada Virus Corona

Terkait penghapusan data kasus corona, Presiden Jair Bolsonaro mengatakan hal tersebut tidak mewakili kondisi di lapangan. Bolsonaro juga tidak mengungkap lebih jauh alasan penghapusan informasi tersebut.

"Data kumulatif tidak mencerminkan gambaran negara saat ini," tulis Bolsonaro melalui akun Twitternya.

Ia juga mengklaim pihaknya tengah mengambil langkah-langkah tambahan untuk 'meningkatkan pelaporan kasus corona'.

Keputusan ini menuai kritik dari banyak pihak, termasuk anggota kongres dan jurnalis. Penghapusan data corona dilakukan setelah Brasil melaporkan lebih dari 1.000 kematian harian dalam waktu empat hari bertutur-turut.

Bulan lalu, seorang akademisi menemukan adanya peningkatan drastis angka kematian bulanan yang berbeda dengan pencatatatan versi pemerintah yang justru mengalami penurunan tajam.

Pada 14 mei lalu, penyelidik independen meragukan ketidakkonsistenan angka kematian yang dilaporkan Kantor Pencatatan Sipil. Diketahui ada lebih dari 500 ribu sertifikat kematian ditarik dari situsnya.

Bolsonaro menuai kecaman di tengah upayanya menekan penyebaran virus corona di Brasil. Dalam sejumlah kesempatan, Bolsonaro kerap menyerukan untuk mencabut penguncian wilayah (lockdown) yang diberlakukan oleh pemerintah lokal.

Menurutnya, pemberlakuan lockdown menghancurkan perekonomian negara. Tak hanya itu, ia juga menuduh gubernur negara bagian dan wali kota menggunakan lockdown untuk keuntungan politik mereka

Mantan Menkes Sarankan Anak-anak Tak Cium Tangan untuk Cegah Corona

Cara untuk mencegah penularan virus corona selain selalu menjaga kebersihan yakni diusahakan menghindari kontak langsung dengan orang yang sakit. Selain itu beberapa negara lain sudah mulai untuk tidak melakukan jabat tangan karena perilaku tersebut dinilai mudah menularkan virus.
Mantan Menteri Kesehatan periode 2014-2019, Nila F Moeloek, menyebut mengurangi kontak langsung dengan orang lain bisa menjadi salah satu cara efektif mencegah penularan. Namun ia mengatakan sosialisasinya tidak hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja.

"Kesehatan tidak mungkin berdiri sendiri, bekerja sendiri. Lintas sektor, lintas kementerian diperlukan. Tadi misalnya kritik kalau anak-anak itu tadi sudah diajarkan tidak ada salaman, apalagi kita suka cium tangan, di kebiasaan kita diciumnya ke tangan, itu barangkali kita sudah mulai mengatakan jangan bersentuhan misalnya salamannya aja," sebut Nila saat dijumpai di Gedung Rektorat Universitas Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (11/3/2020).

Menurutnya, Kementerian Pendidikan harus mengambil langkah tegas untuk melindungi anak-anak agar tidak terpajan virus corona mengingat ada potensi penularan melalui kontak langsung. Perlu lintas kementerian yang bekerja bersama-sama dalam menangani virus corona yang semakin meluas.

"Itu memerlukan Kementerian Pendidikan dong, urus sekolah, tidak mengharuskan mereka bersalaman dengan guru atau dengan temannya, untuk sementara waktu. Nanti kalau tidak ada apa-apa mau cium tangan cium dahi, nggak apa-apa," sebutnya.

"Dikbud, menteri perempuan juga, kan dia perlindungan anak dia berhak untuk bicara untuk ini (tidak cium tangan), sudah harus. Jadi harus bicara," pungkasnya.
http://kamumovie28.com/single/