Sabtu, 06 Juni 2020

Hati-hati! Stres Memikirkan Virus Corona Bisa Tingkatkan Risiko Stroke

Stroke adalah penyakit pembuluh darah otak yang mengakibatkan gangguan fungsi saraf, terjadi mendadak dan bersifat progresif hingga mengakibatkan kecacatan permanen bahkan kematian, baik dalam sekala global maupun nasional.
Berdasarkan data WSO (World Stroke Organization), 13,7 juta kasus stroke baru setiap tahun dengan angka kematian mencapai 5,5 juta kasus. Di Indonesia, stoke menjadi penyebab utama kematian nomor satu dengan angka kejadian yang terus meningkat setiap tahunnya.

Di tengah hangatnya kasus virus corona baru-baru ini, penyakit tidak menular seperti stroke ini terus mengancam. Bahkan dalam situasi penuh kecemasan dan tekanan seperti ini, bisa meningkatkan stres yang berlebihan sehingga tekanan darah tidak terkontrol dan berujung terjadinya serangan jantung.

Untuk pencegahan untuk usia muda, bisa saja melakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit dalam sehari atau paling tidak 3 kali dalam satu minggu melakukan olahraga, agar aliran darah tetap lancar
Dr dr Al Rasyid, SpS(K) - Pakar stroke RSCM

"Stres dan tekanan yang besar bisa mengakibatkan kematian pada seseorang, dengan menahan emosi yang berlebihan maka terkanan darah tidak stabil, ditambah lagi dengan pola makan yang tidak teratur akibat stres, maka bisa terjadinya serangan jantung," jelas Dr dr Al Rasyid, SpS(K) dari Departemen Neurology Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Cipto Mangunkusumo, Kamis (12/3/2020).

dr Rasyid juga nenambahkan hal ini bisa dicegah dengan menjaga pola makan yang baik seperti makan sayur dan buah-buahan, dan melakukan aktivitas fisik seperti olahraga yang teratur.

"Untuk pencegahan untuk usia muda, bisa saja melakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit dalam sehari atau paling tidak 3 kali dalam satu minggu melakukan olahraga, agar aliran darah tetap lancar," tutupnya.

3 Pasien Virus Corona RI Dinyatakan Sembuh, Begini Kriterianya

Juru bicara pemerintah untuk virus corona COVID-19, dr Achmad Yurianto, mengatakan tiga pasien telah sembuh dari virus corona. Tiga pasien tersebut sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta Timur.
"Kami yakin dalam waktu dekat, tidak terlalu lama pasien lain juga akan sembuh," katanya kepada media di RSUP Persahabatan, Kamis (12/3/2020).

"Ada 2 pasien lagi di RSPI Sulianti Saroso karena menunggu hasil tes kedua karena ketentuannya dua kali tes negatif," pungkasnya.

Menurut Direktur Medik dan Keperawatan RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, dr Dyani Kusumo Wardani, SpA, pasien virus corona bisa dinyatakan sembuh setelah dua pemeriksaan hasilnya negatif.

"Aman dan boleh pulang kalau memang sudah pemeriksaan menyatakan negatif. Jadi dari pemeriksaan positif menjadi negatif, dua kali," jelasnya saat ditemui di RSPI Sulianti Saroso beberapa waktu lalu.

dr Dyani mengatakan, ada beberapa kriteria yang mendukung pasien dinyatakan sembuh dan aman untuk pulang ke rumah, seperti:

1. Dua kali pemeriksaan dengan hasil negatif

2. Tidak ada keluhan lain

3. Tidak ada penyakit lainnya

Selain itu, ada beberapa faktor yang bisa menunjang kondisi pasien corona untuk menjadi lebih baik. Tak hanya imunitas, faktor lainnya seperti kondisi psikis dan mental pasien.

"Ada faktor yang menyebabkan orang sakit bisa sembuh baik dari dalam diri maupun lingkungan. Kalau lingkungannya kan kita sudah jaga betul pasien terisolasi. Asupan gizi baik, tapi ada faktor X yang membuat kuman masih ada dalam tubuh yang kita belum tahu persisnya," ujarnya.
https://cinemamovie28.com/sword-art-online-alternative-gun-gale-online-episode-1/

Hanya Simulasi, DKI Tegaskan Tak Ada Peta Persebaran Virus Corona di KRL

 KRL rute Bogor-Depok-Jakarta jadi sorotan karena disebut-sebut berisiko tinggi terjadi penyebaran virus corona COVID-19. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada hari Kamis (12/3/2020) menegaskan bahwa itu hanya simulasi.
Deputi Gubernur Bidang Pengendalian Kependudukan dan Permukiman, Suharti, menjelaskan bahwa simulasi tersebut menggunakan data-data riwayat kontak pasien dan gejala penyakit.

"Jadi terkait dengan peta yang kemarin beredar, itu bukan persebaran virus di kereta api. Itu adalah hasil dari pemetaan jalur transportasi umum, khususnya untuk KRL dan MRT, yang kami kemudian correlate dengan data-data potensi persebaran," kata Suharti di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2020).

"Itu kami lakukan untuk melakukan mitigasi lebih lanjut. Supaya tahu apa yang kita kerjakan dengan lebih baik lagi," lanjutnya.

PT KCI sebelumnya mengeluarkan pernyataan resmi telah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi virus corona. Tindakan yang telah dilakukan, di antaranya:

1. Sejak 3 Februari 2020, PT KCI telah melakukan berbagai upaya edukasi untuk mencegah penyebaran virus corona. Hingga saat ini KCI telah memberikan edukasi cuci tangan yang benar, dan membagikan masker kepada pengguna di 36 stasiun.

2. Menyediakan lebih dari 700 botol hand sanitizer untuk 88 rangkaian kereta dan 80 stasiun.

3. Rutin membersihkan seluruh rangkaian kereta seusai beroperasi dengan menggunakan cairan pembersih yang mengandung disinfektan.

4. Menugaskan On Trip Cleaning yang membersihkan rangkaian kereta saat sedang beroperasi melayani pengguna.

5. Materi edukasi dan himbauan di 88 rangkaian kereta dan 80 stasiun.

6. Menyiapkan pos kesehatan di 30 stasiun KRL yang dapat memberikan pertolongan pertama jika pengguna mengalami masalah kesehatan. Di pos ini, pengguna juga dapat mengukur suhu tubuh, mendapatkan masker, hingga obat-obatan. Bila tidak dapat ditangani, petugas kesehatan akan merujuk pengguna ke rumah sakit terdekat.

7. Mewajibkan pegawai frontliner yang berinteraksi langsung dengan pelanggan untuk cek kesehatan termasuk suhu tubuh sebelum berdinas.

Hati-hati! Stres Memikirkan Virus Corona Bisa Tingkatkan Risiko Stroke

Stroke adalah penyakit pembuluh darah otak yang mengakibatkan gangguan fungsi saraf, terjadi mendadak dan bersifat progresif hingga mengakibatkan kecacatan permanen bahkan kematian, baik dalam sekala global maupun nasional.
Berdasarkan data WSO (World Stroke Organization), 13,7 juta kasus stroke baru setiap tahun dengan angka kematian mencapai 5,5 juta kasus. Di Indonesia, stoke menjadi penyebab utama kematian nomor satu dengan angka kejadian yang terus meningkat setiap tahunnya.

Di tengah hangatnya kasus virus corona baru-baru ini, penyakit tidak menular seperti stroke ini terus mengancam. Bahkan dalam situasi penuh kecemasan dan tekanan seperti ini, bisa meningkatkan stres yang berlebihan sehingga tekanan darah tidak terkontrol dan berujung terjadinya serangan jantung.

Untuk pencegahan untuk usia muda, bisa saja melakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit dalam sehari atau paling tidak 3 kali dalam satu minggu melakukan olahraga, agar aliran darah tetap lancar
Dr dr Al Rasyid, SpS(K) - Pakar stroke RSCM

"Stres dan tekanan yang besar bisa mengakibatkan kematian pada seseorang, dengan menahan emosi yang berlebihan maka terkanan darah tidak stabil, ditambah lagi dengan pola makan yang tidak teratur akibat stres, maka bisa terjadinya serangan jantung," jelas Dr dr Al Rasyid, SpS(K) dari Departemen Neurology Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Cipto Mangunkusumo, Kamis (12/3/2020).

dr Rasyid juga nenambahkan hal ini bisa dicegah dengan menjaga pola makan yang baik seperti makan sayur dan buah-buahan, dan melakukan aktivitas fisik seperti olahraga yang teratur.

"Untuk pencegahan untuk usia muda, bisa saja melakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit dalam sehari atau paling tidak 3 kali dalam satu minggu melakukan olahraga, agar aliran darah tetap lancar," tutupnya.
http://cinemamovie28.com/uq-holder-ova-episode-2/