Senin, 06 Juli 2020

4 Fakta Kalung Antivirus Corona Buatan Kementan yang Ternyata Jamu

Kementerian Pertanian (Kementan) berencana untuk memproduksi kalung antivirus Corona secara massal. Kalung antivirus ini akan dibuat dari bahan eucalyptus yang diklaim bisa membunuh virus Corona.
Klaim eucalyptus yang disebut bisa menjadi antivirus Corona sudah muncul sejak beberapa bulan lalu. Bahkan Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry, pernah mengatakan tanaman ini eucalyptus ini bisa membunuh Mpro atau enzim dalam virus Corona.

Berikut 4 fakta terkait kalung antivirus Corona dari Kementan yang telah dirangkum detikcom.

1. Terbuat dari tanaman eucalyptus
Kementerian Pertanian (Kementan) berencana untuk memproduksi massal produk kalung antivirus Corona. Kalung ini dibuat dari bahan eucalyptus, jenis tanaman yang menghasilkan minyak atsiri dari masih berkerabat dengan kayu putih.

Tanaman ini disebut bisa membunuh virus Corona yang sudah dibuktikan dari uji laboratorium Kementan. Bahkan selain kalung, Kementan berencana membuat produk inovasi antivirus Corona lainnya, dalam bentuk inhaler, roll on, salep, hingga difuser.

2. Belum ada penelitian spesifik pada virus Corona COVID-19
Menanggapi tentang kalung antivirus Corona yang terbuat dari bahan eucalyptus, Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr dr Inggrid Tania, MSi, mengatakan bahan ini memang memiliki zat yang bersifat antibakteri, antivirus, dan anti jamur. Namun, terkait manfaatnya terhadap COVID-19 belum ada penelitian spesifiknya.

"Penelitian Kementan ini baru diujikan sampai tahap in vitro pada virus influenza, beta corona, gamma corona. Belum diuji spesifik terhadap virusnya COVID-19 yakni virus SARS-CoV-2," jelasnya pada detikcom.

3. Klaim antivirus dianggap berlebihan
Menurut praktisi kesehatan sekaligus dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, riset yang dilakukan terhadap eucalyptus baru sebatas in vitro di tingkat sel.

Karenanya, Prof Ari lebih setuju kalung antivirus Corona itu cukup disebut sebagai kalung eucalyptus.

"Jadi saya tidak setuju jika kalung eucalyptus disebut sebagai kalung antivirus. Cukuplah disebut kalung kayu putih atau kalung eucalyptus," tegasnya pada wartawan, Minggu (5/7/2020).

4. Kalung antivirus Corona ternyata jamu
Terkait kalung antivirus Corona, Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Kementerian Pertanian, Indi Dharmayanti menegaskan riset tentang produk tersebut masih panjang. Ia mengatakan klaim antivirus bukan berasal dari peneliti. Selain itu, riset ini masih dalam tahap in vitro, yang artinya belum diuji pada manusia.

"Bukan, klaim kita yang di BPOM adalah jamu melegakan saluran pernapasan, mengurangi sesak tapi punya konten teknologi di mana kita buktikan in vitro bisa membunuh Corona model dan influenza, cenderung mengurangi paparan," jelas Indi pada detikFinance.

Sejak Meluncur, PUBG Mobile Sudah Raup Rp 43 Triliun

Popularitas PUBG Mobile yang terus mengglobal menjadi pundi-pundi yang sangat menjanjikan bagi Tencent Games. Sejak meluncur pada tahun 2018, game battle royale ini sudah meraup total pendapatan sebesar USD 3 miliar (Rp 43 triliun).
Angka ini merupakan gabungan pendapatan PUBG Mobile dan varian Chinanya yang bernama Game for Peace. Dikutip detikINET dari NDTV, Senin (6/7/2020) hanya di tahun 2020 saja kedua game ini sudah meraup USD 1,3 miliar (Rp 18,8 triliun).

Data ini merupakan perkiraan dari analis Sensor Tower. Data yang sama menemukan bahwa sejak pandemi virus Corona memaksa banyak orang untuk tetap tinggal di rumah, pendapatan PUBG Mobile mencetak rekor baru sebesar USD 270 juta (Rp 3,9 triliun) pada Maret 2020.

Pencapaian ini menjadikan PUBG Mobile sebagai penguasa game multiplayer battle royale. Pendapatan mereka hampir empat kali lebih besar dari Free Fire yang berada di posisi kedua dengan pendapatan mencapai USD 300 juta pada tahun 2020.

Sementara itu Knives Out dari NetEase memperoleh USD 260 juta, dan Call of Duty: Mobile dan Activision meraup pendapatan USD 220 juta.

Populer di banyak negara dengan total download mencapai 734 juta, PUBG Mobile memiliki pemain terbanyak di India, yang berada di posisi puncak dengan 175 juta download. Angka ini mencakup 24% dari angka global.

Sementara itu China berada di posisi kedua dengan 16,7% dan Amerika Serikat di posisi ketiga dengan 6,4% dari total download.

Walau berada di posisi kedua, pemain Game for Peace di China merupakan penyumbang terbesar setelah mengumpulkan USD 1,6 miliar sejak peluncuran di App Store China, atau sekitar 52% dari pendapatan global. AS berada di posisi kedua dengan 14% dan Jepang berada di posisi ketiga dengan 5,6%.
https://kamumovie28.com/cast/sandrine-pinna/

Cegah Baby Boom Saat Pandemi, Alat Kontrasepsi di Klaten Dikirim Via Ojol

 Fenomena kelahiran bayi massal atau baby boom di masa pandemi COVID 19 mulai diwaspadai Pemkab Klaten. Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB tetap memasok alat dan obat kontrasepsi ke layanan KB melalui jasa ojek online.
"Dengan menggunakan ojek online, kita berharap dengan cara seperti itu fasilitas kesehatan tetap menerima pasokan alkon yang sesuai. Sehingga pelayanan KB dapat maksimal dan baby boom dapat dicegah," ungkap Kepala Dinsos P3A dan KB Pemkab Klaten, Much Nasir pada detikcom, Minggu (5/7/2020).

Nasir menjelaskan di situasi pandemi saat ini, fenomena baby boom yang tak terkendali bisa terjadi karena stay at home dan interaksi di rumah intensif. Dinas memastikan distribusi alat dan obat terjamin dengan protokol COVID.

"Distribusi alat dan obat kontrasepsi di masa pandemi dengan ojek online (Diskon Mami Ojol) ini untuk meminimalisir kontak langsung sekaligus physical distancing. Kardus berisi alokon yang didistribusikan juga disemprot cairan desinfektan," sambung Nasir.

Dikatakan Nasir, ada sedikitnya 110 fasilitas kesehatan atau faskes yang melayani KB dan tersebar di daerah-daerah. Faskes tersebut meliputi puskesmas, klinik pratama negeri maupun swasta, serta melibatkan dokter keluarga maupun bidan praktek mandiri.

"Faskes baik puskesmas, klinik dan bidan itu tersebar di 26 Kecamatan. Sejauh ini jumlah kehamilan berdasarkan data bulan Mei tercatat 7.076," imbuh Nasir.

Dari angka itu, sambung Nasir, rata-rata kehamilan antara 1.000- 1.200 per bulan. Apabila dalam setahun tidak melebihi 16.000 kehamilan masih dinilai wajar.

"Jadi jika setahun tidak lebih dari 16.000 kehamilan, itu masih dalam angka wajar. Namun kemungkinan tetap kita antisipasi," tambah Nasir.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan KB, Dinas Sosial P3A dan KB Kabupaten Klaten, Retno Setyaningsih menyebutkan bahwa di masa pandemi ini dimungkinkan akan terjadi lonjakan kelahiran bayi atau baby boom. Dengan adanya kebijakan stay at home serta work from home membuat interaksi antar keluarga lebih meningkat.

"Tren baby boom ini akan terlihat jelas beberapa waktu ke depan, terlebih jika pelayanan KB tidak digiatkan. Termasuk dengan memastikan ketersediaan alat kontrasepsi di faskes-faskes," terang Retno.

4 Fakta Kalung Antivirus Corona Buatan Kementan yang Ternyata Jamu

Kementerian Pertanian (Kementan) berencana untuk memproduksi kalung antivirus Corona secara massal. Kalung antivirus ini akan dibuat dari bahan eucalyptus yang diklaim bisa membunuh virus Corona.
Klaim eucalyptus yang disebut bisa menjadi antivirus Corona sudah muncul sejak beberapa bulan lalu. Bahkan Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry, pernah mengatakan tanaman ini eucalyptus ini bisa membunuh Mpro atau enzim dalam virus Corona.

Berikut 4 fakta terkait kalung antivirus Corona dari Kementan yang telah dirangkum detikcom.

1. Terbuat dari tanaman eucalyptus
Kementerian Pertanian (Kementan) berencana untuk memproduksi massal produk kalung antivirus Corona. Kalung ini dibuat dari bahan eucalyptus, jenis tanaman yang menghasilkan minyak atsiri dari masih berkerabat dengan kayu putih.

Tanaman ini disebut bisa membunuh virus Corona yang sudah dibuktikan dari uji laboratorium Kementan. Bahkan selain kalung, Kementan berencana membuat produk inovasi antivirus Corona lainnya, dalam bentuk inhaler, roll on, salep, hingga difuser.

2. Belum ada penelitian spesifik pada virus Corona COVID-19
Menanggapi tentang kalung antivirus Corona yang terbuat dari bahan eucalyptus, Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr dr Inggrid Tania, MSi, mengatakan bahan ini memang memiliki zat yang bersifat antibakteri, antivirus, dan anti jamur. Namun, terkait manfaatnya terhadap COVID-19 belum ada penelitian spesifiknya.

"Penelitian Kementan ini baru diujikan sampai tahap in vitro pada virus influenza, beta corona, gamma corona. Belum diuji spesifik terhadap virusnya COVID-19 yakni virus SARS-CoV-2," jelasnya pada detikcom.
https://kamumovie28.com/cast/hugo-silva/