Selasa, 07 Juli 2020

Perdana, ADVANCE Luncurkan Produk Baru Via Live Streaming

 Untuk kali pertama, ADVANCE akan menggelar peluncuran produk baru secara virtual, Kamis (9/7/2020) pukul 11.00 WIB di kanal YouTube Advance TV. Launching virtual dibuat untuk menyesuaikan kondisi pandemi, yang membuat kegiatan dengan melibatkan banyak orang mesti dibatasi.
Lewat launching virtual, ADVANCE akan menghadirkan seat massager tipe Neo Otomomi3. Alat ini mampu menghadirkan manfaat terapi pijatan di manapun dan kapanpun, termasuk ketika berkendara. Neo Otomomi3 dirancang khusus buat para individu yang punya mobilitas tinggi setiap saat.

Sales & Marketing Director ADVANCE Hendra mengungkapkan, di era new normal masyarakat akan dituntut lebih produktif dalam bekerja. Namun, terkadang mereka lupa mengimbangi diri dengan istirahat yang cukup agar tidak kelelahan.

"Alat ini dirancang untuk membantu atasi kelelahan pada tubuh. Penggunaannya secara teratur mampu meredakan sakit pinggang, melancarkan sirkulasi darah, serta mengurangi ketegangan otot pada area punggung," terang Hendra.

"Uniknya lagi, Neo Otomomi3 didesain portable agar mudah dipindah-pindah dan bisa menyesuaikan dengan sandaran kursi Anda. Dilengkapi juga dengan car charger, Anda bisa dengan mudah menggunakan alat ini saat sedang berkendara, sehingga sangat cocok untuk Anda yang memiliki mobilitas tinggi." imbuhnya.

Penasaran dengan produk ini? Jangan lewatkan live streaming peluncurannya, karena selama acara berlangsung ADVANCE akan memberikan harga perdana terbatas untuk pembelian 50 unit pertama.

Pria Wajib Tahu, 3 Hal Ini Bisa Mempengaruhi Ukuran Mr P

Sebagian besar pria menginginkan ukuran penis besar agar bisa memuaskan pasangannya saat bercinta. Tapi, tahukah kamu kalau ukuran penis itu bisa ditentukan oleh beberapa faktor?
Menurut ahli bedah plastik Dr Elliot Heller dari New York, Amerika Serikat, beberapa faktor yang bisa mempengaruhi ukuran penis, di antaranya tingkat hormon dan cara pola hidup sehat sewaktu remaja.

"Kamu mungkin tidak sadar ada hal-hal yang kamu lakukan pada saat masih remaja dan itu bisa mempengaruhi ukuran penismu," kata Heller, dikutip dari Nypenisenlargement.

"Tingkat hormon, diet, dan apakah kamu seorang perokok atau tidak itu dapat berdampak pada ukuran penismu," lanjutnya.

Berikut 3 faktor yang mempengaruhi ukuran penis:

1. Tingkat hormon
Saat masa pubertas, hormon testosteron berperan penting dalam pertumbuhan penis. Diketahui ukuran penis pria terbentuk pada saat usia 12-18 tahun.

"Jika pria memiliki kadar testosteron yang lebih rendah selama masa pubertas, ini dapat mempengaruhi pertumbuhan ukuran penis," jelas Heller.

Meski begitu, Heller mengimbau para pria untuk tidak mengonsumsi suplemen tertentu agar meningkatkan kadar testosteron pada tubuhnya. Sebab, bisa memberikan efek negatif jika dikonsumsi sembarangan.

"Ini tidak boleh dilakukan sendiri tanpa resep dari dokter karena bisa berdampak negatif pada testis dan prostat," ujarnya.

2. Kebiasaan merokok
Menurut sebuah studi dari Fakultas Kedokteran di Universitas Boston, kebiasaan merokok dapat mengurangi ukuran penis saat ereksi. Sebab, merokok bisa menghambat aliran darah dan itu berdampak negatif pada produksi elastin.

Elastin merupakan salah satu protein penting yang membuat pria bisa mengalami ereksi.

3. Diet
Diet sehat selama masa pubertas memang tidak secara langsung membuat ukuran penis menjadi besar. Tetapi, pola makan yang sehat membantu aliran darah jadi lancar sehingga ereksi penis pun akan lebih maksimal.

Beberapa makanan, seperti brokoli, ubi, tomat, wortel, ikan salmon, telur, dan susu sangat disarankan untuk dikonsumsi karena membuat aliran darah menjadi lancar termasuk ke penis. Selain itu, mengonsumsi makanan yang kaya akan serat dan rendah lemak jenuh juga penting agar tidak terjadi penyumbatan pada pembuluh darah.
https://cinemamovie28.com/cast/rene-ashton/

Heboh Kalung 'Antivirus' Eucalyptus Kementan yang Ternyata Jamu

Kalung eucalyptus buatan Kementerian Pertanian (Kementan) belakangan ini ramai diperbincangkan. Awalnya diklaim 'antivirus Corona', tetapi belakangan diluruskan oleh penelitinya, bahwa produk tersebut tidak lain adalah jamu.
Kementan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menegaskan bahwa kalung tersebut tidak diklaim sebagai antivirus, meski berpotensi dapat membunuh virus Corona.

Lantas bagaimana awalnya produk tersebut dibuat? Kenapa sempat ada klaim sebagai antivirus? Dirangkum detikcom, berikut kronologi kalung eucalyptus buatan Kementan:

Riset eucalyptus
Pada beberapa bulan lalu, April 2020, Kepala Balitbangtan Kementerian Pertanian Fadjry Djufry pernah mengungkapkan akan melakukan kajian mendalam terhadap tanaman-tanaman yang berpotensi menghambat atau mencegah COVID-19. Salah satunya adalah tanaman atsiri (eucalyptus).

"Balitbangtan akan melakukan kajian lebih lanjut untuk pemanfaatan minyak atsiri yang mengandung 1,8-cineol maupun bahan-bahan herbal lain yang berpotensi untuk mengurangi terjadinya infeksi virus, jamur atau bakteri lainnya sebagai sediaan bahan dalam industri farmasi," kata Fadjry, Rabu (8/4/2020).

Hingga akhirnya setelah melakukan uji laboratorium, Balitbangtan mengumumkan bahwa senyawa aktif pada tanaman eucalyptus, yakni eucalyptol atau 1,8-cineol memiliki dampak positif dalam menghambat pertumbuhan berbagai jenis virus influenza termasuk Corona.

"Dari sekian banyak tanaman herbal yang kita uji, minyak atsiri (eucalyptus) kita yang punya potensi sangat besar, kemungkinan besar sangat bisa menekan pertumbuhan virus Corona," ujar Fadjry dalam telekonferensi bertajuk Launching Anti Virus Corona berbasis Eucalyptus, Jumat (8/5/2020).

Karena itu, Balitbangtan memproduksi berbagai macam produk eucalyptus dalam bentuk, dari inhaler, roll on, oil diffuser, hingga kalung.

Diklaim sebagai antivirus oleh Menteri Pertanian
Setelah dipatenkan oleh Balitbangtan, produk eucalyptus heboh di masyarakat. Terlebih Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo sempat mengklaim produk itu sebagai 'antivirus' Corona.

"Ini antivirus hasil Balitbangtan, eucalyptus, pohon kayu putih. Dari 700 jenis, 1 yang bisa mematikan Corona hasil lab kita. Dan hasil lab ini untuk antivirus. Dan kita yakin. Bulan depan ini sudah dicetak, diperbanyak," kata Mentan Syahrul beberapa waktu lalu.

Namun, klaim tersebut menuai kritik dari para pakar dan salah satunya adalah Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr dr Inggrid Tania, MSi. Ia mengatakan, eucalyptus memang memiliki zat yang bersifat antibakteri, antivirus, dan anti jamur. Tetapi, terkait manfaat terhadap COVID-19 belum ada penelitian spesifiknya.

"Penelitian Kementan ini baru diujikan sampai tahap in vitro pada virus influenza, beta corona, gamma corona. Belum diuji spesifik terhadap virusnya COVID-19 yakni virus SARS-CoV-2," jelasnya pada detikcom.

Balitbangtan bantah kalung eucalyptus sebagai antivirus
Hingga akhirnya, Senin (6/7/2020), Fadjry menegaskan kalung eucalyptus tidak diklaim sebagai 'antivirus' Corona. Berdasarkan hasil penelitian yang ada saat ini, Kementan melihat efektivitas dari kalung tersebut hanya untuk meredakan pernapasan gejala Corona saja.

Bahkan, menurut Fadjry, dari beberapa produk yang telah didaftarkan ke BPOM tak ada satu pun yang diklaim antivirus. Produk-produk tersebut didaftarkan sebagai jamu.

"Ada 3 kriteria di BPOM. Ada sebagai jamu paling bawah di situ tidak ada klaim antivirus Corona," tegas Fadjry saat melakukan konferensi pers melalui kanal YouTube Senin (6/7/2020).

"Jamu biasanya cuman membutuhkan hasil lab dan uji klinis, kita sudah teregistrasi di BPOM itu jamu, tentunya kan sudah melalui proses, tidak melanggar aturan di Indonesia," lanjutnya.

"Jadi melegakan pernapasan, tidak ada klaim antivirus di situ," kata Fadjry.

Soal label 'anti virus Corona' pada kalung eucalyptus
Meski tidak diklaim sebagai antivirus, kalung eucalyptus bikin bingung karena ada keterangan 'anti virus Corona' dalam kemasannya. Label dan keterangan yang disampaikan jadi tidak sinkron.

Menurut Fadjry, kalung eucalyptus masih dalam bentuk prototype dan perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui apakah produk ini dapat berfungsi pada virus penyebab COVID-19, yakni SARS-CoV-2 atau tidak. Karenanya, label anti virus ini tidak akan ada jika kelak produknya sudah dilempar ke pasar.

"Iya ini kan prototype, prototype itu tidak untuk diedarkan, hanya untuk sendiri saja ya sah-sah saja tetapi nanti untuk masyarakat luas ya sesuai dengan klaim jamu itu," jelas Fadjry.

"Jadi nanti judulnya itu kalung aromatherapy eucalyptus. Jadi sebenarnya ini hanya untuk menyemangati teman-teman kita akan menuju ke situ," lanjut Fadjry.
https://cinemamovie28.com/cast/gaby-hoffmann/