Kamis, 09 Juli 2020

Israel Berhasil Luncurkan Satelit Mata-mata dengan Pencitraan Canggih

 Israel berhasil meluncurkan satelit Ofek 16 yang merupakan satelit mata-mata terbaru mereka, pada akhir pekan lalu. Wahana tersebut akan menggantikan satelit pengintai sebelumnya yang sudah usang.
Menurut Israel Aerospace Industries (IAI), satelit Ofek 16 lepas landas dari pangkalan udara Palmachim, Israel tengah, pada Minggu (5/7) malam dan mencapai orbit di keesokan harinnya. Ofek 16 diproyeksikan sebagai alat intelijen keamanan negara.

"Peluncuran satelit Ofek 16 sukses dalam semalam, merupakan pencapaian luar biasa bagi pertahanan, untuk industri pertahanan secara keseluruhan, dan untuk industri dirgantara Israel khususnya," ujar Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz dilansir dari Space, Kamis (9/7/2020).

Ofek 16 ini hasil kolaborasi antara IAI, Kementerian Pertahanan Israel (IMoD), dan Administrasi Luar Angkasa di Direktorat Penelitian Pertahanan dan Pengembangan. IAI dan IMoD akan menguji kemampuan Ofek 16, sebelum mentransfer tanggung jawab kepada Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk melakukan kegiatan operasional satelit.

"Keunggulan teknologi dan kemampuan intelijen sangat penting untuk keamanan negara. Fakta bahwa Israel adalah salah satu dari 13 negara di dunia dengan kemampuan peluncuran satelit kapabilitas yang tidak diberitahukan," sebutnya.

"Kami akan terus memperkuat dan mempertahankan kemampuan Israel di setiap lini, di setiap tempat," ucapnya menambahkan.

Ofek 16 adalah satelit mata-mata elektro-optik dengan kemampuan pencitraan yang diklaim canggih. IAI yang berperan sebagai kontraktor utama dalam wahana antariksa dan meluncurkannya. Akan tetapi, kamera satelit tersebut dikembangkan oleh kontraktor Israel Elbit Systems, dan mesin peluncurnya diproduksi oleh perusahaan lokal milik pemerintah Rafael Advanced Defense Systems dan Tomer.

Studi Kaitan Golongan Darah dan COVID-19, Mana yang Paling Berisiko?

Studi baru-baru ini mengungkap golongan darah mana yang risikonya paling tinggi terkena COVID-19 dan mana yang paling rendah. Dikatakan pemilik golongan darah O adalah mereka yang berisiko rendah terinfeksi parah Sars-CoV-2, sementara golongan darah A merupakan yang paling berisiko.
Meski begitu, temuan ini banyak dikritisi ilmuwan lain sebagaimana dilansir NBC News, Kamis (9/7/2020).

"Saya pikir sesuatu seperti ini memiliki lebih banyak daya tarik ketimbang nilai praktis yang nyata," kata Dr Aaron Glatt, Chair of Medicine and Chief of Infectious Diseases di Mount Sinai South Nassau, New York.

Setiap kemungkinan pengaruh golongan darah pada COVID-19 juga disebut-sebut terlalu kecil dibandingkan dengan dampak substansial dari faktor-faktor risiko yang diketahui, seperti usia tua dan kondisi kesehatan yang mendasar. Demikian dijelaskan oleh Glatt yang adalah juru bicara Infectious Diseases Society of America.

"Pada setiap pasien, jika mereka memiliki faktor risiko atau mereka tidak memiliki faktor risiko, itu jauh lebih penting," tuturnya. Dengan kata lain, orang tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa mereka lebih aman atau tidak karena golongan darahnya.

Nah studi yang disebut-sebut dari tadi ialah studi di Eropa yang diterbitkan bulan lalu di New England Journal of Medicine. Mereka menemukan bahwa orang dengan darah tipe A 45% lebih mungkin untuk mengembangkan COVID-19 parah yang membutuhkan pasokan oksigen atau ventilator daripada orang dengan golongan darah lain.

Disebutkan juga, mereka yang memiliki darah tipe O 35% lebih kecil kemungkinannya. Studi ini melibatkan 1.610 pasien dengan COVID-19 dan 2.205 subyek kontrol. Namun penelitian ini juga mengatakan ada kemungkinan orang-orang dengan goldar O mengalami sakit parah.

"Mereka memiliki risiko yang lebih rendah untuk terinfeksi dan mengembangkan penyakit parah. Tapi ini hanya pengurangan risiko relatif, yaitu tidak ada perlindungan penuh. Di antara pasien kami yang meninggal ada juga banyak dengan golongan darah O," jelas penulis studi Andre Franke, seorang profesor kedokteran molekuler di University of Kiel, Jerman, dalam sebuah email.
https://indomovie28.net/bad-cop-2/

Redmi Note 9 Pro, Baterai Hemat Mabar Makin Lancar

Pandemi virus Corona tidak menghentikan vendor ponsel untuk meluncurkan produk baru. Seperti Xiaomi resmi meluncurkan Redmi Note 9 Pro di Indonesia pada awal bulan lalu.
Dibanderol dengan harga Rp 3 jutaan, Redmi Note 9 Pro menyasar segmen kelas menengah, terutama untuk anak muda yang hobi main game. Chipset yang digunakan memang dikhususkan untuk meningkatkan experience saat main game yaitu Snapdragon 720G.

detikINET berkesempatan menjajal Redmi Note 9 Pro selama kurang lebih sebulan. Seperti apa performanya, terutama untuk main game? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

1. Bodi Plastik yang Elegan
Redmi Note 9 Pro hadir dalam tiga pilihan warna, dan varian yang dijajal detikINET adalah Interstellar Grey. Walau disebut abu-abu, nyatanya ponsel ini terlihat sedikit kebiruan.

Tidak seperti pendahulunya, Xiaomi memutuskan untuk menanggalkan desain warna gradasi di Redmi Note 9 Pro. Perpaduan warna abu-abu yang solid dan permukaan yang mengkilat membuat ponsel ini terlihat sangat elegan.

Tapi bodinya yang mengkilat juga menjadi magnet untuk sidik jari. Untuk melindungi bodi ponsel dari benturan dan goresan, Xiaomi melapisi bagian belakang ponsel ini dengan Gorilla Glass 5 dan menyediakan case silikon berwarna hitam yang sayangnya justru menyembunyikan warna kece Redmi Note 9 Pro.

Redmi Note 9 Pro memiliki dimensi 165,8 x 76,7 x 8,8 mm dengan bobot 209 gram. Ketika digenggam bodinya memang terasa agak sedikit lebar tapi masih nyaman ketika menggunakan ponsel dengan satu tangan.

Lis yang membingkai keempat sudut ponsel terbuat dari plastik dengan finish matte. Walau terlihat tidak sesuai dengan bagian belakang yang mengkilap, plastik matte ini membuat ponsel bisa digenggam dengan lebih nyaman.

Redmi Note 9 Pro tidak memiliki sertifikasi IP untuk perlindungan dari air dan debu. Tapi ponsel ini memiliki lapisan P2i yang setidaknya bisa melindungi ponsel dari percikan air hujan.

Empat kamera belakangnya ditempatkan dalam modul kotak yang sedikit menonjol, sehingga membuat ponsel tidak bisa berbaring dengan rata ketika ditaruh di atas permukaan datar seperti meja. Tapi masalah ini bisa diatasi dengan bantuan case.

Tombol power dan volume Redmi Note 9 Pro ditempatkan di sisi kanan. Tombol power ini juga berfungsi sebagai sensor sidik jari yang lebih mudah dicapai dibanding sensor sidik jari di bagian belakang.

Slot kartu SIM dan MicroSD ada di sisi kiri bagian atas. Sedangkan bagian bawahnya dihuni speaker, port USB-C dan headphone jack 3,5 mm yang sudah semakin langka di banyak ponsel saat ini.

Di atas kamera depan terdapat grill earpiece yang sangat tipis dan LED untuk notifikasi. Bezel di sisi atas, kiri dan kanan terbilang sangat tipis, sedangkan bezel di bagian bawah masih cukup besar tapi tidak begitu mengganggu.

2. Layar Lapang
Redmi Note 9 Pro dibekali dengan panel LCD berukuran 6,67 inch dengan rasio 20:9. Resolusinya 2400 x 1080 pixel (Full HD+) dan dilindungi dengan Corning Gorilla Glass 5.

Redmi Note 9 Pro menggunakan desain layar punch hole dengan kamera depan yang ditempatkan di bagian tengah layar. Desain ini membuat layar terlihat sangat lapang terutama untuk nonton video dan bermain game.

Tapi, karena ponsel ini mengkombinasikan desain punch hole dengan panel LCD ada sedikit masalah pada display yaitu backlight yang tidak merata di area kamera. Kalau background di sekitar kamera berwarna gelap mungkin masalah ini tidak terlalu kelihatan, tapi lain ceritanya jika background berwarna cerah apalagi putih.

Tidak hanya lapang, layar Redmi Note 9 Pro juga cukup memuaskan meski menggunakan panel LCD. Ponsel ini juga mendukung HDR10 jadi bisa digunakan untuk menonton konten 1080p HDR dari YouTube. Redmi Note 9 Pro juga mendukung Widevine L1 sehingga bisa digunakan untuk menonton video di Neflix dengan kualitas tertinggi.

Tidak seperti Realme 6 Pro yang menjadi rival utamanya, Redmi Note 9 Pro tidak dibekali dengan layar 90Hz. Tapi absennya fitur ini tidak mengurangi experience saat menggunakan ponsel ini.

Untuk urusan multimedia, Redmi Note 9 Pro dibekali satu speaker di sisi bawah. Sayangnya performa speaker ini sedikit mengecewakan karena kurang lantang dan harus dinaikkan sampai volume maksimum baru memuaskan.

3. MIUI yang Penuh Bloatware
Sama seperti ponsel Xiaomi lainnya, Redmi Note 9 Pro menjalankan MIUI 11 yang berbasis Android 10. Tampilan antarmuka ini terlihat minimalis, ringkas dan mudah digunakan.

Redmi Note 9 Pro dibekali dengan fitur NFC yang bisa diaktifkan lewat ikon yang ada di kolom notifikasi. Fitur ini tentu sangat dinanti untuk mereka yang mencari ponsel terjangkau dengan fitur NFC.

Tapi, MIUI 11 di ponsel ini tidak menyediakan app drawer, jadi semua aplikasi ditampilkan di homescreen ponsel. Selain itu, Xiaomi juga memuat banyak aplikasi bloatware yang untungnya bisa di-uninstall dengan mudah.
https://indomovie28.net/flora/