Sabtu, 01 Agustus 2020

Cara Cuci Tangan yang Benar Menurut Kemenkes dan WHO

Cuci tangan sangat diperlukan untuk menghindari penularan penyakit melalui tangan. Seperti apa sih cara cuci tangan yang benar menurut Kemenkes dan WHO?
Mencuci tangan dengan menggunakan sabun menjadi salah satu tindakan sanitasi untuk pencegahan penyakit. Bahkan tanggal 15 Oktober ditetapkan sebagai Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS) yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian pada anak.

Di mana lebih dari 5.000 anak balita yang menderita diare meninggal setiap harinya di seluruh dunia karena kurangnya akses air bersih dan fasilitas sanitasi dan pendidikan kesehatan.

Melakukan cara cuci tangan yang baik juga bisa mencegah kamu dari berbagai macam penyakit. Pasalnya, penyakit seperti flu, diare dan mata merah bisa dengan mudah ditularkan melalui tangan yang kotor.

Berikut ini cara cuci tangan yang benar menggunakan sabun dan air mengalir yang dilansir dalam p2ptm.kemenkes.go.id:
1. Basahi seluruh tangan dengan air bersih dan mengalir.
2. Gosok sabun ke telapak punggung tangan dan sela jari.
3. Bersihkan bagian bawah kuku-kuku.
4. Bilas tangan dengan air mengalir dan bersih.
5. Keringkan tangan dengan handuk atau tisu atau keringkan dengan cara diangin-anginkan.

Selain cara dari Kemenkes, ada juga 6 langkah cara cuci tangan menurut WHO yang bisa kamu coba:
1. Telapak Tangan
Pertama, kamu bisa menggunakan sabun dan ditaruh di telapak tangan. Basahi tangan dan gosokkan telapak tangan yang sudah dikasih sabun tersebut.

2. Telapak Punggung Tangan
Gosok juga punggung tangan bagian kanan dan kiri. Pastikan seluruh permukaan terkena sabun.

3. Sela-sela Jari
Selanjutnya, gosokkan sabun ke sela-sela jari. Karena sela-sela jari menjadi salah satu tempat bersembunyinya kuman.

4. Punggung Tangan
Bersihkan juga punggung tangan dengan gerakan saling mengunci.

5. Jempol
Bersihkan jempol bagian kanan dan kiri secara bergantian dengan gerakan memutar. Jempol menjadi salah satu bagian jari tangan yang paling aktif beraktivitas.

6. Ujung Jari
Bersihkan bagian ujung jari dengan gerakan menguncup. Tujuannya untuk membebaskan kuku dari kuman-kuman.

Cara cuci tangan yang terakhir, bersihkan sabun dengan air mengalir dan keringkan.

Pemuda Sulsel Curi CD dan Bra Emak-emak, Termasuk Fetish atau Gangguan Jiwa?

Pemuda bernama Andre Pahlevi (20) ditangkap polisi karena memasuki sebuah rumah dan mencuri bra serta celana dalam (CD). Barang-barang tersebut diketahui milik emak-emak di Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel). Polisi mengatakan pelaku nekat mencuri pakaian dalam itu untuk keperluan ilmu hitam yang ia dalami.

"Paramma' itu, ada ilmu paramma' kalau di daerah Bugis itu, ilmu itu, pencuri itu orang diam biar dia lihat (pencuri beraksi-korban), tidak bisa goyang, tidak bisa bicara," ujar Kapolsek Wara Utara Polres Palopo, Iptu Patobun saat dihubungi wartawan, Senin (17/2/2020).

Di luar dari keperluan ilmu hitam, rasa ketertarikan seksual juga bisa tertuju pada benda yang tidak wajar seperti CD dan bra. Perilaku fetish semacam itu apa termasuk ke dalam gangguan jiwa?

Psikolog dari Universitas Indonesia, Bona Sardo, mengatakan fetish atau fetishism termasuk dalam gangguan seksual yang disebut parafilia. Parafilia itu berasal dari kata 'para' yang berarti penyimpangan, dan 'philia' yang artinya seksual.

"Parafilia berarti seseorang yang terangsang secara seksual melalui objek atau hal yang tidak lazim. Jenisnya ada macam-macam, salah satunya fetishistic yang artinya orang tersebut terangsang secara seksual dari benda tak hidup atau organ tubuh manusia yang ingenital (bukan termasuk organ genital)," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Lain halnya menurut psikiater dari Omni Hospital Alam Sutera, dr Andri, SpKJ, FAPM. Menurut dr Andri, orang yang mencuri pakaian dalam seperti CD dan bra ini belum tentu mengidap kelainan atau gangguan. Kecuali yang dilakukannya sudah mengganggu kehidupannya.

"Orang yang mengalami fetish ini tidak pernah masuk ke kriteria itu, karena kebanyakan tidak ada gangguan di dalam fungsinya, tidak sampai fantasinya atau kelakuannya mengganggu kehidupan orang tersebut," jelas dr Andri.

"Misal dia membayangkan seksualnya tersebut dengan membayangkan celana dalam perempuan itu sampai dia tidak bisa kerja tidak bisa beraktivitas," imbuhnya
https://indomovie28.net/a-job-at-love-hotel-2/

Health Alert Card COVID-19, Penangkal Wabah yang Bikin Ribet di Bandara

Keluhan terkait pengisian Health Alert Card (HAC) di bandara bermunculan di media sosial. Bertujuan untuk menangkal wabah Card Virus Corona COVID-19, prosedur ini oleh sebagian kalangan dipertanyakan efektivitasnya dan dinilai hanya bikin tambah ribet.
Keluhan ini cukup masuk akal mengingat HAC diisi sendiri oleh penumpang dan hanya diperiksa sepintas oleh petugas. Kartu berwarna kuning itu lalu disimpan oleh penumpang dan wajib dibawa saat periksa jika dalam periode 14 hari berikutnya ada keluhan terkait virus corona.

Beberapa hal yang dipertanyakan oleh netizen:

1. Bagaimana kalau mengisinya asal-asalan?
Penumpang mengisi sendiri formulir dalam HAC masing-masing, yang antara lain mencakup isian tentang keluhan-keluhan yang dirasakan. Faktanya, petugas hanya memeriksa sepintas seolah-olah hanya formalitas. Toh apabila demam, bukankah ada thermal scanner yang akan mendeteksi peningkatan suhu tubuh?

Terkait hal ini, Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr Achmad Yurianto menjelaskan bahwa pengisian HAC memang ditujukan untuk penumpang yang pada saat tiba di bandara tidak mengalami gejala sakit seperti demam dan batuk. Bila ada gejala, maka akan langsung diarahkan ke pos kesehatan.

2. Kalau dalam 14 hari ada keluhan tetapi penumpang tidak melapor, apakah tetap akan terlacak?
Ada 2 kemungkinan ketika penumpang yang tidak mengalami gejala saat tiba di bandara. Pertama, memang tidak ada infeksi sama sekali. Kedua, ada infeksi tetapi masih dalam masa inkubasi sehingga tidak bergejala. Kemungkinan kedua inilah yang diantisipasi dengan HAC. Untuk berbagai infeksi penyakit, diasumsikan masa inkubasinya adalah 14 hari.

"Kalau nggak ke faskes selama 14 hari sakit berarti tidak mematuhi apa yang kita sampaikan. HAC sekali lagi, membutuhkan kerjasama. Saya yakin kalau mereka sakit berat nggak ke faskes, berarti cari masalah," kata dr Yuri.

Pengisian HAC sebenarnya juga memiliki fungsi lain, yakni sebagai sarana edukasi. Ketika mengisi HAC, diharapkan para penumpang terpapar informasi tentang wabah penyakit yang saat itu sedang diantisipasi, misalnya virus corona COVID-19. Namun dalam kenyataan, banyak penumpang ketika turun dari pesawat sudah terlalu letih untuk menyimak informasi tersebut.

Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI), Prof dr Ascobat Gani, MPH, DrPH menilai pengisian HAC saja tidak akan efektif jika edukasi tidak dijalankan. Ia menyarankan, ada baiknya penumpang dikumpulkan terlebih dahulu sebelum mengisi HAC.

"Orang dari bandara kan langsung kabur gitu biasanya. Ini barangkali khusus yang dari Singapura ini, semua penumpang di pesawat sebelum masuk ke imigrasi itu dikumpulkan dulu lalu dijelaskan tentang COVID-19 dan berikan secarik kertas atau alert card," katanya dalam wawancara dengan detikcom.

Punya pendapat tentang pengisian HAC di bandara? Tinggalkan jejak di kolom komentar.

Cara Cuci Tangan yang Benar Menurut Kemenkes dan WHO

Cuci tangan sangat diperlukan untuk menghindari penularan penyakit melalui tangan. Seperti apa sih cara cuci tangan yang benar menurut Kemenkes dan WHO?
Mencuci tangan dengan menggunakan sabun menjadi salah satu tindakan sanitasi untuk pencegahan penyakit. Bahkan tanggal 15 Oktober ditetapkan sebagai Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS) yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian pada anak.

Di mana lebih dari 5.000 anak balita yang menderita diare meninggal setiap harinya di seluruh dunia karena kurangnya akses air bersih dan fasilitas sanitasi dan pendidikan kesehatan.

Melakukan cara cuci tangan yang baik juga bisa mencegah kamu dari berbagai macam penyakit. Pasalnya, penyakit seperti flu, diare dan mata merah bisa dengan mudah ditularkan melalui tangan yang kotor.

Berikut ini cara cuci tangan yang benar menggunakan sabun dan air mengalir yang dilansir dalam p2ptm.kemenkes.go.id:
1. Basahi seluruh tangan dengan air bersih dan mengalir.
2. Gosok sabun ke telapak punggung tangan dan sela jari.
3. Bersihkan bagian bawah kuku-kuku.
4. Bilas tangan dengan air mengalir dan bersih.
5. Keringkan tangan dengan handuk atau tisu atau keringkan dengan cara diangin-anginkan.
https://indomovie28.net/student-nurses-2/