Minggu, 02 Agustus 2020

Berapa Kali Seminggu Frekuensi Bercinta yang Ideal? Ini Kata Studi

Bicara tentang hubungan intim, orang-orang mungkin memiliki pertanyaan seberapa sering bercinta dengan pasangan yang dianggap ideal. Apakah ada tolak ukurnya?
Riset tahun 2015 di jurnal Social Psychological and Personality Science yang melihat data dari 2.400 pasangan menemukan semakin sering bercinta, maka mereka bisa semakin bahagia. Namun, tingkat kebahagiaan ini ada di titik maksimalnya pada frekuensi bercinta satu kali dalam seminggu.

Hal serupa juga diteliti oleh Universitas Carnegie Mellon yang mengklaim bahwa terlalu sering melakukan sesi bercinta, dapat menimbulkan kebosanan berdampak pada menurunnya rasa bahagia bagi kedua pasangan.

Satu hal yang harus digarisbawahi adalah yang terpenting kedua pasangan sama-sama merasa puas saat sesi bercinta. Mungkin ada saja yang bisa bercinta lebih dari sekali dalam seminggu atau sebaliknya.

Ahli menyarankan agar lebih fokus pada keintiman, komunikasi, dan menentukan posisi bercinta dengan pasangan daripada mengkhawatirkan target seberapa sering bercinta, apalagi membandingkannya dengan pasangan lain.

Pasien Keluhkan Rambut Rontok dan Gangguan Pendengaran, Gejala Baru COVID-19?

Seorang wanita yang berjuang melawan virus Corona lebih dari dua bulan mengeluhkan gejala lain yang jarang dialami, yaitu rambut rontok. Peggy Goroly menceritakan, rambutnya mulai rontok selama tiga bulan lebih sejak gejala Corona muncul.
Goroly, warga Long Island yang berusia 56 tahun, merasakan kondisi ini membuat dirinya merasa belum sepenuhnya pulih. Ia dinyatakan positif Corona sejak 5 Maret dengan beragam gejala.

Mulai dari gejala kelelahan, jantung berdebar, hingga sesak napas. Bahkan, untuk menaiki tangga saja ia merasa terengah-engah.

Dikutip dari Business Insider, Goroly bercerita bahwa ia bukan satu-satunya yang mengalami rambut rontok kala terinfeksi. Dalam sebuah grup Facebook khusus pasien COVID-19, adapula pasien lain, mengeluhkan hal yang sama.

"Cukup traumatis, kehilangan rambut," katanya kepada Business Insider.

"Saya pergi ke sana (grup Facebook) suatu hari, dan seseorang memposting, 'Apakah ada yang kehilangan rambut?' Dan orang-orang benar-benar menunjukkan gumpalan rambut di tangan mereka," kata Goroly.

"Jadi aku tahu aku tidak gila sekarang," lanjutnya.

Rambut rontok
Putrinya yang berusia 23 tahun dan positif Corona pada bulan April, juga mulai mengalami kondisi rambut rontok. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS tidak mencantumkan kerontokan rambut sebagai gejala COVID-19, tetapi beberapa dokter telah memperhatikan kondisi ini di antara pasien mereka.

"Ini cenderung terjadi pada orang-orang yang memiliki kasus yang cukup parah yang telah kita saksikan," sebut Dr Nate Favini, pemimpin medis di Forward, praktik perawatan primer yang mengumpulkan data tentang pasien virus Corona.

Favini mengatakan pasien Corona mungkin mengidap telogen effluvium. Suatu kondisi yang membuat rambut berhenti tumbuh dan akhirnya rontok kira-kira tiga bulan setelah peristiwa traumatis saat terinfeksi COVID-19.

Sedangkan rata-rata orang sehat kehilangan sekitar 100 helai rambut per hari, orang dengan telogen effluvium mungkin kehilangan sekitar tiga kali lipatnya. Kondisi ini biasanya berlangsung selama sekitar enam bulan, dengan pasien kehilangan hingga setengah rambut di kulit kepala mereka.
https://kamumovie28.com/sword-art-online-alicization-war-of-underworld-episode-4/

Sabtu, 01 Agustus 2020

Pemuda Sulsel Curi CD dan Bra Emak-emak, Termasuk Fetish atau Gangguan Jiwa?

Pemuda bernama Andre Pahlevi (20) ditangkap polisi karena memasuki sebuah rumah dan mencuri bra serta celana dalam (CD). Barang-barang tersebut diketahui milik emak-emak di Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel). Polisi mengatakan pelaku nekat mencuri pakaian dalam itu untuk keperluan ilmu hitam yang ia dalami.

"Paramma' itu, ada ilmu paramma' kalau di daerah Bugis itu, ilmu itu, pencuri itu orang diam biar dia lihat (pencuri beraksi-korban), tidak bisa goyang, tidak bisa bicara," ujar Kapolsek Wara Utara Polres Palopo, Iptu Patobun saat dihubungi wartawan, Senin (17/2/2020).

Di luar dari keperluan ilmu hitam, rasa ketertarikan seksual juga bisa tertuju pada benda yang tidak wajar seperti CD dan bra. Perilaku fetish semacam itu apa termasuk ke dalam gangguan jiwa?

Psikolog dari Universitas Indonesia, Bona Sardo, mengatakan fetish atau fetishism termasuk dalam gangguan seksual yang disebut parafilia. Parafilia itu berasal dari kata 'para' yang berarti penyimpangan, dan 'philia' yang artinya seksual.

"Parafilia berarti seseorang yang terangsang secara seksual melalui objek atau hal yang tidak lazim. Jenisnya ada macam-macam, salah satunya fetishistic yang artinya orang tersebut terangsang secara seksual dari benda tak hidup atau organ tubuh manusia yang ingenital (bukan termasuk organ genital)," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Lain halnya menurut psikiater dari Omni Hospital Alam Sutera, dr Andri, SpKJ, FAPM. Menurut dr Andri, orang yang mencuri pakaian dalam seperti CD dan bra ini belum tentu mengidap kelainan atau gangguan. Kecuali yang dilakukannya sudah mengganggu kehidupannya.

"Orang yang mengalami fetish ini tidak pernah masuk ke kriteria itu, karena kebanyakan tidak ada gangguan di dalam fungsinya, tidak sampai fantasinya atau kelakuannya mengganggu kehidupan orang tersebut," jelas dr Andri.

"Misal dia membayangkan seksualnya tersebut dengan membayangkan celana dalam perempuan itu sampai dia tidak bisa kerja tidak bisa beraktivitas," imbuhnya

Netizen Sebut Health Alert Card Ribet dan Tak Efektif, Ini Kata Kemenkes

Di lini masa media sosial, banyak netizen mengeluhkan soal pengisian Health Alert Card atau kartu kewaspadaan kesehatan yang dianggap ribet dan tidak efektif dalam mengontrol dan mengawasi persebaran virus corona COVID-19 di Indonesia. Tidak sedikit juga penumpang yang mengeluh pengisian HAC terkesan sia-sia karena setelah pengisian mereka tidak dicek kesehatannya.
"Hal yang perlu dipahami adalah Health Alert Card itu early warning system. Terus kemudian mereka tidak diperiksa itu bukan berati pas mereka datang kita ukur tensinya, tekanan darahnya, nggak," kata Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr Achmad Yurianto, saat temu media di Kantor Kemenkes RI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (17/2/2020).

Perihal tidak dilakukannya pengecekan kesehatan, dr Yuri menyebut setiap yang datang dicek suhunya dengan alat thermal scanner dan thermal gun yang sudah tersedia di seluruh pintu masuk negara. Ketika ada satu orang, misalnya, yang menunjukkan gejala demam atau terlihat batuk, maka ia akan diarahkan ke pos kesehatan yang ada di bandara. Jika tidak ada gejala, pendatang melakukan pengisian HAC sebelum ke pos imigrasi.

"Ini yang seringkali mereka menerima kartu tidak dibaca atau saat dijelaskan, mereka tidak memperhatikan. HAC ini adalah early warning system terkait kemungkinan munculnya gejala keluhan yang mengarah ke COVID-19 sejak 14 hari selama kedatangannya di Indonesia," jelasnya.

Kartu kewaspadaan kesehatan diberikan kepada semua yang masuk ke Indonesia dengan harapan jika dalam 14 hari menunjukkan gejala COVID-19 seperti demam, sesak napas atau batuk untuk segera mengunjungi fasilitas kesehatan. Tujuan lain dari HAC adalah begitu fasilitas kesehatan menerima keluhan dari pemegang kartu, mereka akan menghubungi sistem peringatan dini melalui dinas kesehatan untuk mengaktifkan 100 rumah sakit rujukan.

"Kalau nggak ke faskes selama 14 hari sakit berarti tidak mematuhi apa yang kita sampaikan. HAC sekali lagi, membutuhkan kerjasama. Saya yakin kalau mereka sakit berat nggak ke faskes, berarti cari masalah," pungkas dr Yuri.
https://indomovie28.net/why-cant-i-fuck-with-my-sister-2/