Minggu, 02 Agustus 2020

Terpopuler Sepekan: Efek Samping dan Fakta Seputar Vaksin Corona Sinovac

Awal Agustus, uji klinis fase ketiga vaksin Corona Sinovac, China, di Bandung akan segera dilaksanakan. Terbagi di enam lokasi yaitu: Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Unpad, Balai Kesehatan Unpad Dipatiukur, Puskesmas Ciumbuleuit, Puskesmas Garuda, Puskesmas Dago, dan Puskesmas Sukaparkir.
Tim Peneliti Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjadjaran (Unpad) Kusnandi Rusmil menjelaskan, kemungkinan ada dua efek samping yang muncul saat pemberian vaksin.

"Efek sampingnya dua, reaksi lokal dan sistemik. Reaksi lokal di tempat suntikan ada merah, bengkak, nyeri dalam 48 jam sudah hilang lagi," kata Kusnandi di Balai Kota Bandung, Senin (27/7/2020).

Efek samping lokal umumnya terjadi sebanyak 30 persen dari jumlah subjek penelitian (relawan). Sementara, efek samping lainnya yaitu sistemik di mana kondisi relawan mengalami demam di 30 menit pertama saat pemberian vaksin.

Jika relawan atau subjek mengalami efek samping di 30 menit pertama, akan dilakukan tindakan atau penanganan tertentu oleh pengawas atau dokter. Kusnandi mengatakan, reaksi ini akan timbul jika relawan memiliki alergi tertentu.

"Penting 30 menit pertama kita lihat ada tidak yang lemas, itu yang harus dijaga pertama, orang itu tidak boleh pulang dan dijaga betul oleh dokter. Nah kita belum tau ada yang reaksi alergi atau tidak. Tapi apapun reaksi suntikan vaksin akan begitu alergi ada, juga yang tidak," jelasnya.

Sementara itu, apabila uji klinis vaksin COVID-19 tahap ketiga lancar, maka Bio Farma akan memproduksinya pada kuartal 1 2021 mendatang. "Kami sudah mempersiapkan fasilitas produksinya di Bio Farma, dengan kapasitas produksi maksimal di 250 juta dosis," ujar Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir.

Ada beberapa persyaratan terkait relawan atau peserta uji klinis vaksin Corona Sinovac. Berikut tiga syaratnya:

- Berusia 19-59 tahun
- Tinggal di Kota Bandung
- Tidak memiliki riwayat penyakit COVID-19

Relawan juga wajib tinggal di Bandung. Peneliti Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjadjaran Prof Kusnandi Rusmil menjelaskan hal ini guna mempermudah proses pemantauan uji klinis vaksin selama enam bulan lebih.

Adapun fasilitas yang didapat, relawan akan terjamin asuransi terkait keluhan kesehatan baik ringan maupun berat. Manajer Lapangan Uji Klinis Vaksin COVID-19 Eddy Fadlyana mengatakan, dalam pengujian ini pihaknya bekerjasama dengan PT Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 (Bumida) sebagai pemberi asuransi.

"Jadi semua jenis penyakit ringan sampai berat selama periode penelitian," ujar Eddy saat dihubungi wartawan, Selasa (28/7/2020).

Angka Kehamilan di Desa Selama Pandemi Meningkat

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat selama pandemi virus Corona (COVID-19) ada penurunan penggunaan alat kontrasepsi. Peningkatan itu diketahui dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.
Hal itu memicu penambahan angka kehamilan masyarakat Indonesia. Pasalnya, selama pandemi, masyarakat lebih sering berada di rumah untuk bekerja dari rumah.

"Ya bisa (karena WFH membuat angka kehamilan meningkat), karena stay at home itu komudian kontak suami istri menjadi lebih sering," kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo usai menerima gelar kehormatan di Audotorium UNY, Sabtu (1/8/2020).

Dia mencatat dalam tiga bulan terakhir ada penurunan penggunaan alat kontrasepsi sebesar 10 persen. Hal ini disebut berpotensi menyebabkan sekitar 400 ribu hingga 500 ribu kehamilan.

"Tiga bulan terakhir 10 persen dari 36 juta atau sekitar 3,6 juta putus menggunakan alat kontrasepsi. Kalau yang hamil itu 15 persen dari 3,6 juta itu kemudian ada 400-500 ribu tambahan kehamilan," urainya.

Menurut Hasto, kasus kehamilan di Indonesia itu unik. Peningkatan angka kehamilan itu hanya ditemukan di lapisan masyarakat tertentu

"Kehamilan selama pandemi cenderung yang (masyarakat) miskin, pendidikan rendah dan tinggal di desa. Nah itu menunjukkan bahwa kehamilan banyak dialami oleh orang yang tidak paham secara keilmuan," ungkapnya.

Oleh karena itu, untuk menekan angka kehamilan, pihaknya tengah menggencarkan program pengguna kontrasepsi. Tentunya dengan mekanisme yang menyesuaikan protokol kesehatan.

"Kedepan, BKKBN harus melakukan pelayanan secara serentak ke seluruh pelosok desa Indonesia tapi dalam jumlah kecil. Kemarin 29 Juni pelayanan sejuta aseptor bisa mencapai target bahkan lebih, 1,4 juta aseptor," pungkasnya.
https://kamumovie28.com/black-clover-episode-50-subtitle-indonesia/

Pasien Keluhkan Rambut Rontok dan Gangguan Pendengaran, Gejala Baru COVID-19?

Seorang wanita yang berjuang melawan virus Corona lebih dari dua bulan mengeluhkan gejala lain yang jarang dialami, yaitu rambut rontok. Peggy Goroly menceritakan, rambutnya mulai rontok selama tiga bulan lebih sejak gejala Corona muncul.
Goroly, warga Long Island yang berusia 56 tahun, merasakan kondisi ini membuat dirinya merasa belum sepenuhnya pulih. Ia dinyatakan positif Corona sejak 5 Maret dengan beragam gejala.

Mulai dari gejala kelelahan, jantung berdebar, hingga sesak napas. Bahkan, untuk menaiki tangga saja ia merasa terengah-engah.

Dikutip dari Business Insider, Goroly bercerita bahwa ia bukan satu-satunya yang mengalami rambut rontok kala terinfeksi. Dalam sebuah grup Facebook khusus pasien COVID-19, adapula pasien lain, mengeluhkan hal yang sama.

"Cukup traumatis, kehilangan rambut," katanya kepada Business Insider.

"Saya pergi ke sana (grup Facebook) suatu hari, dan seseorang memposting, 'Apakah ada yang kehilangan rambut?' Dan orang-orang benar-benar menunjukkan gumpalan rambut di tangan mereka," kata Goroly.

"Jadi aku tahu aku tidak gila sekarang," lanjutnya.

Rambut rontok
Putrinya yang berusia 23 tahun dan positif Corona pada bulan April, juga mulai mengalami kondisi rambut rontok. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS tidak mencantumkan kerontokan rambut sebagai gejala COVID-19, tetapi beberapa dokter telah memperhatikan kondisi ini di antara pasien mereka.

"Ini cenderung terjadi pada orang-orang yang memiliki kasus yang cukup parah yang telah kita saksikan," sebut Dr Nate Favini, pemimpin medis di Forward, praktik perawatan primer yang mengumpulkan data tentang pasien virus Corona.

Favini mengatakan pasien Corona mungkin mengidap telogen effluvium. Suatu kondisi yang membuat rambut berhenti tumbuh dan akhirnya rontok kira-kira tiga bulan setelah peristiwa traumatis saat terinfeksi COVID-19.

Sedangkan rata-rata orang sehat kehilangan sekitar 100 helai rambut per hari, orang dengan telogen effluvium mungkin kehilangan sekitar tiga kali lipatnya. Kondisi ini biasanya berlangsung selama sekitar enam bulan, dengan pasien kehilangan hingga setengah rambut di kulit kepala mereka.

"Untuk penyebab lain dari telogen effluvium, kami biasanya memberi tahu orang-orang 'tiga hingga enam bulan, Anda akan melihat peningkatan (kerontokan rambut yang lebih banyak)," kata Favini.

"Namun apakah selalu berkaitan dengan virus Corona, selalu ada peringatan bahwa kita belum memahami ini dengan baik," katanya.

Penelitian menunjukkan bahwa perempuan berusia 40-an dan 50-an lebih berisiko mengalami efluvium telogen kronis, tetapi sekali lagi, para ahli tidak yakin apakah kecenderungan itu selalu berkaitan dengan virus Corona.

"Ada orang yang tampaknya benar-benar mengalami kondisi yang parah kala terinfeksi Corona untuk jangka waktu yang lama. Jika itu masalahnya, maka menjadi lebih sulit untuk diprediksi ketika Anda akan memiliki masalah dengan kerontokan rambut," kata Favini.

Goroly mengatakan kondisi rambut rontoknya kini telah berkurang ini. Dia menyesuaikan diri pada kondisi rambut rontoknya, dengan potongan rambut baru.

Gangguan pendengaran
Sementara para ahli di The University of Manchester meneliti 121 orang dewasa yang dirawat di Rumah Sakit Wythenshawe. Mereka ditanya soal gejala yang masih dialami usai dua bulan pulang dari rumah sakit. Delapan di antaranya mengeluhkan kehilangan pendengaran dan delapan lainnya merasakan 'denging' di telinga mereka.

"Kita sudah tahu bahwa virus seperti campak, gondong dan meningitis dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan virus korona dapat merusak saraf yang membawa informasi ke dan dari otak," kata Kevin Munro, seorang profesor audiologi di Universitas Manchester.

"Mungkin saja, secara teori, COVID-19 dapat menyebabkan masalah dengan bagian sistem pendengaran termasuk telinga tengah atau koklea. Misalnya, neuropati pendengaran, gangguan pendengaran di mana koklea berfungsi tetapi transmisi di sepanjang saraf pendengaran ke otak bisa menjadi fitur," kata Munro, dikutip dari New York Post.
https://kamumovie28.com/sword-art-online-alicization-war-of-underworld-episode-3/