Mungkin tak banyak yang membayangkan TikTok akan jatuh ke tangan Microsoft, perusahaan 'gaek' yang dikenal dengan produk Windows atau Xbox. Akan tetapi begitulah situasinya dan semuanya barangkali akan ditentukan oleh seorang pria India.
Siapa lagi kalau bukan CEO Microsoft, Satya Nadella. Walau sudah berkewarganegaraan Amerika Serikat, Nadella lahir dan besar di India, selain itu masih jadi kebanggaan Negeri Gangga sampai sekarang.
Pemerintahan Donald Trump telah mengizinkan Microsoft membicarakan aksi akusisi bisnis TikTok di AS, karena TikTok dianggap sebagai ancaman keamanan data warga di sana sehingga harus dikendalikan perusahaan AS.
Dengan potensi akuisisi senilai USD 40 miliar, pembelian TikTok adalah risiko sekaligus potensi besar bagi Nadella dan Microsoft. Akuisisi ini kemungkinan tak hanya untuk bisnis TikTok di AS, tapi sekaligus juga di Australia, Kanada dan Selandia Baru.
Dengan menawar TikTok yang dimiliki perusahaan asal China, ByteDance, Nadella berarti mengalihkan perhatian ke bisnis software hiburan yang berpotensi tinggi mendatangkan iklan. Akan tetapi di sisi lain, Microsoft juga kurang pengalaman.
"Ada bagian besar pendapatan iklan yang digaet oleh Google, Amazon dan Facebook. Ini (pembelian TikTok-red), akan menjadi sebuah cara bagi Microsoft untuk mengaksesnya," cetus Jai Das, Managing Director Sapphire Ventures yang dikutip detikINET dari Forbes.
Kabar akuisisi TikTok disambut baik investor dengan naiknya harga saham Microsoft. Namun tentu tidak semudah telapak tangan bagi Microsoft mengendalikan TikTok dan tetap membuatnya sukses.
Akuisisi besar Microsoft di masa silam beberapa terbukti gagal. Sebut saja Skype yang kini pamornya makin turun ataupun divisi ponsel Nokia yang akhirnya tutup. Maka Nadella dipandang wajib mempunyai strategi jitu agar jika nantinya dibeli Microsoft, TikTok tetap dapat berkibar.
Koma Setelah Terinfeksi, Pria Ini Juga Kehilangan Keluarga karena Corona
Seorang pria dilaporkan hampir meninggal karena virus Corona. Ia pun sempat mengalami koma kala dirawat di Edinburgh Royal Infirmary.
Dikutip dari Daily Star, setelah ia sadar dari koma, ia menyadari bahwa hanya dirinya yang selamat dari penyakit COVID-19. Scott Miller, 43 tahun, dari Edinburgh, menghabiskan tiga minggu dalam perawatan intensif saat koma, sebelum akhirnya sadar dan diberi tahu ibunya Norma (76), dan pasangannya (69), keduanya meninggal karena virus Corona.
Ibunya, Norma, saat itu juga berada di rumah sakit yang sama setelah dinyatakan positif COVID-19, sementara pasangannya atau Ayah Scott yang berusia 69 tahun juga dilaporkan sakit parah.
"Ketika saya datang, saya hanya punya firasat bahwa sesuatu telah terjadi pada ibu dan ketika perawat memberi tahu saya itu hanya ketidakpercayaan dan syok. Itu sangat sulit," katanya, dikutip dari Daily Star.
Scott, dari Edinburgh, kemudian mengetahui bahwa sang ayah juga telah meninggal dunia.
"Lagi-lagi itu hanya ketidakpercayaan bahwa perlu dua orang yang menjadi bagian dari kehidupan saya sehari-hari," tambahnya.
Kakak ipar Scott, Sharlene Miller, mengatakan kepada BBC bahwa dalam seminggu antara pemakaman Norma dan pasangannya, rumah sakit menelepon keluarga tersebut untuk mengatakan bahwa mereka tidak yakin apakah Scott yang sempat koma akan selamat.
Dia mengalami koma dan menghabiskan tiga minggu dalam perawatan intensif sebelum akhirnya sembuh. "Orang-orang perlu memahami bahwa ini adalah pembunuh yang nyata, saya rasa orang-orang tidak menganggapnya serius," kata Scott.
https://indomovie28.net/all-girls-weekend-2/