Minggu, 09 Agustus 2020

Terpopuler Sepekan: 3 Fakta Virus 'Tick-Borne' yang Hebohkan China

Di tengah pandemi virus Corona COVID-19 yang masih melanda dunia, China malah dihebohkan dengan penemuan adanya penyakit menular lain yang diakibatkan karena gigitan kutu. Penyakit menular ini dikenal dengan 'tick-borne'.
Mengutip Times of India, media di China melaporkan virus penyakit menular 'tick-borne' ini sudah menginfeksi sekitar 67 orang, dan menyebabkan 7 orang meninggal dunia. Melihat ini, pihak berwenang di negara tersebut memperingatkan warganya bahwa virus ini bisa menular antarmanusia.

Berikut detikcom rangkum beberapa fakta terkait virus penyakit menular 'tick-borne' ini.

1. Apa itu virus 'tick-borne'?
Virus 'tick-borne' merupakan virus akibat gigitan kutu, yang sudah diidentifikasi sebagai severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS).

SFTS ini bukanlah penyakit yang tergolong baru. Virus ini sebelumnya sudah ditemukan sejak 2009 lalu di beberapa negara, seperti China, Korea Selatan, dan Jepang.

Patogen virus ini termasuk ke dalam kategori bunyavirus, yang merupakan keluarga arthropod-borne atau virus yang dibawa hewan pengerat.

2. Bagaimana virus ini bisa menular?
Umumnya, virus ini ditularkan melalui gigitan kutu. Berdasarkan studi tahun 2015 lalu, ada beberapa spesies kutu yang diduga menjadi pembawa virus SFTS ini, seperti H longicornis, R microplus, H campanulata, dan D sinicus pada anjing, domba, kucing, dan sapi.

Meski kebanyakan ada pada hewan, tidak menutup kemungkinan virus SFTS ini bisa menular antarmanusia. Para peneliti curiga penyakit ini bisa ditularkan melalui darah dan lendir orang yang terinfeksi.

3. Apa saja gejalanya?
Ada beberapa gejala yang dialami pasien terinfeksi SFTS yang dikutip dari Firstpost, seperti:

- Demam tinggi
- Menggigil
- Kehilangan nafsu makan
- Muntah
- Pendarahan gusi
- Diare
- Sel darah putih menurun
- Nyeri otot
- Trombosit menurun

Berdasarkan laporan di media China, seorang wanita di Nanjing mengalami gejala terkait virus ini, seperti demam dan juga batuk. Setelah melakukan pemeriksaan medis, dokter mengatakan wanita tersebut mengalami penurunan leukosit dalam darah dan trombositnya juga rendah.

Wabah Corona Muncul Kembali di Vietnam, Apa Penyebabnya?

Tidak seperti negara-negara lain, Vietnam sudah mulai mengambil langkah-langkah pencegahan COVID-19 sebelum adanya kasus di awal maret dengan menutup perbatasan. Hal ini disebut jadi salah satu kunci yang membuat Vietnam dianggap berhasil mengendalikan wabah.
Selama tiga bulan terakhir Vietnam dinyatakan bebas dari virus COVID-19. Tetapi, baru-baru ini kasus virus COVID-19 dilaporkan kembali muncul di Vietnam.

Ilmuwan dan peneliti di seluruh negeri mencari tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Direktur Unit Penelitian Klinis Universitas Oxford, Prof Rogier Van Doorn, mengatakan bahwa penularan virus COVID-19 di Vietnam masih menjadi sebuah 'misteri besar'.

Dari mana kasus baru ini masih menjadi teka-teki, media lokal membuat laporan bahwa penularan virus COVID-19 kali ini disebabkan oleh jenis virus yang lebih ganas. Tetapi, ada yang mengatakan bahwa terdapat kasus penyelundupan orang yang menerobos perbatasan Vietnam-China.

Apa penyebab sebenarnya?
Ahli epidemiologi dan peneliti di Burnet Institute, Prof Michael Toole, mengatakan virus COVID-19 hanya butuh sedikit celah masuk untuk kemudian menyebar begitu cepat.

Sebuah penelitian menduga bahwa sebenarnya virus sudah bersirkulasi di Vietnam selama berbulan-bulan. Kemungkinan, virus menyebar dari orang tidak bergejala sehingga kasusnya tidak terdeteksi atau bisa juga dari pasien yang terlalu dini dikeluarkan dari isolasi karena dianggap sudah sembuh.

"Ada bukti [virus] telah beredar di Da Nang selama beberapa minggu sebelum kasus pertama didiagnosis," kata Dr Justin Beardsley, dosen senior penyakit menular di Universitas Sydney.

Namun sejauh ini belum ada yang tahu pasti penyebab kasus pertama kembalinya wabah pada seorang pria berusia 57 tahun di Da Nang. Pria tersebut diketahui memang pernah melakukan kontak langsung dengan pasien positif COVID-19.

Hingga akhir Juli, Vietnam melaporkan 400 kasus baru COVID-19 sehingga totalnya sudah di atas 780 kasus. Wakil Menteri Kesehatan Vietnam, Nguyen Truong Son, memprediksi jumlah pasien yang terinfeksi virus COVID-19 akan terus meningkat.
https://nonton08.com/you-are-my-vampire/

Hati-hati, Ini 4 Tanda Kamu Sudah Terlalu Sering Masturbasi

 Masturbasi dari sisi kesehatan dianggap hal yang normal dilakukan karena memiliki manfaat. Salah satunya, dapat menghilangkan stres.
Dilansir dari Men'shealth, survei tahun 2009 yang melakukan pengamatan kepada 2.500 pria di Amerika menunjukkan 27 persen pria berusia 30-39 tahun melakukan masturbasi seminggu sekali. Angka tersebut dapat berubah seiring bertambahnya usia.

"Seberapa sering Anda melakukan masturbasi, itu tidak menjadi masalah sampai hal itu mulai mempengaruhi hidup Anda dengan cara yang negatif," kata terapis seks, Dan Drake.

Dikutip dari Men'shealth, berikut 4 tanda-tanda kamu sudah terlalu sering masturbasi:

1. Menyakiti diri sendiri
Tobias Kohler, MD, ahli urologi di Southern Illinois University mengatakan bahwa beberapa pria yang sering melakukan masturbasi dapat melukai diri mereka sendiri. Contoh kasus yang sering terjadi seperti kulit lecet pada bagian penis, munculnya penyakit peyronie yang mengakibatkan penis menekuk ke samping, hingga penumpukan jaringan parut pada batang penis.

2. Jarang bersosialisasi
Sebelum kecanduan masturbasi, setiap weekend kamu mungkin rutin bertemu dengan teman-teman sekedar mengobrol bersama. Tetapi, seiring waktu berjalan, kamu merasa kegiatan tersebut membuang-buang waktu dan akhirnya lebih mengurung diri di kamar untuk melakukan masturbasi.

Pada akhirnya saat kecanduan masturbasi seseorang akan malas bersosialisasi, menyelesaikan pekerjaan, dan bahkan tidak tertarik untuk bercinta dengan pasangan.

3. Mengganggu kehidupan bercinta
Kohler menjelaskan beberapa pria yang sering melakukan masturbasi dengan satu jenis rangsangan seperti melihat film porno, maka ketika mereka benar-benar melakukan sesi bercinta dengan pasangannya akan kesulitan merasa puas. Sesi bercinta jadi terasa biasa saja dan menganggap film porno lebih seru.

4. Selalu memikirkannya
Tanda bahwa kecanduan masturbasi, secara tidak sengaja saat sedang beraktivitas pikiran selalu teringat pada adegan porno. Hal ini membuat timbulnya dorongan masturbasi yang sulit dikendalikan.

Jika kamu merasa terlalu sering masturbasi sehingga mengganggu aktivitas, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi ke dokter.

Terpopuler Sepekan: 3 Fakta Virus 'Tick-Borne' yang Hebohkan China

Di tengah pandemi virus Corona COVID-19 yang masih melanda dunia, China malah dihebohkan dengan penemuan adanya penyakit menular lain yang diakibatkan karena gigitan kutu. Penyakit menular ini dikenal dengan 'tick-borne'.
Mengutip Times of India, media di China melaporkan virus penyakit menular 'tick-borne' ini sudah menginfeksi sekitar 67 orang, dan menyebabkan 7 orang meninggal dunia. Melihat ini, pihak berwenang di negara tersebut memperingatkan warganya bahwa virus ini bisa menular antarmanusia.

Berikut detikcom rangkum beberapa fakta terkait virus penyakit menular 'tick-borne' ini.

1. Apa itu virus 'tick-borne'?
Virus 'tick-borne' merupakan virus akibat gigitan kutu, yang sudah diidentifikasi sebagai severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS).

SFTS ini bukanlah penyakit yang tergolong baru. Virus ini sebelumnya sudah ditemukan sejak 2009 lalu di beberapa negara, seperti China, Korea Selatan, dan Jepang.

Patogen virus ini termasuk ke dalam kategori bunyavirus, yang merupakan keluarga arthropod-borne atau virus yang dibawa hewan pengerat.

2. Bagaimana virus ini bisa menular?
Umumnya, virus ini ditularkan melalui gigitan kutu. Berdasarkan studi tahun 2015 lalu, ada beberapa spesies kutu yang diduga menjadi pembawa virus SFTS ini, seperti H longicornis, R microplus, H campanulata, dan D sinicus pada anjing, domba, kucing, dan sapi.

Meski kebanyakan ada pada hewan, tidak menutup kemungkinan virus SFTS ini bisa menular antarmanusia. Para peneliti curiga penyakit ini bisa ditularkan melalui darah dan lendir orang yang terinfeksi.

3. Apa saja gejalanya?
Ada beberapa gejala yang dialami pasien terinfeksi SFTS yang dikutip dari Firstpost, seperti:

- Demam tinggi
- Menggigil
- Kehilangan nafsu makan
- Muntah
- Pendarahan gusi
- Diare
- Sel darah putih menurun
- Nyeri otot
- Trombosit menurun

Berdasarkan laporan di media China, seorang wanita di Nanjing mengalami gejala terkait virus ini, seperti demam dan juga batuk. Setelah melakukan pemeriksaan medis, dokter mengatakan wanita tersebut mengalami penurunan leukosit dalam darah dan trombositnya juga rendah.
https://nonton08.com/white-lily-2/