Minggu, 29 November 2020

Maradona Meninggal Dunia, Ini Kondisi yang Tingkatkan Risiko Henti Jantung

 Pesepakbola legendaris Diego Maradona meninggal dunia karena henti jantung. Pria berusia 60 tahun ini sebelumnya sempat dibawa ke RS karena mengalami gumpalan darah di otak.

Kabar meninggalnya Maradona cukup mengejutkan karena operasi terkait penyakit yang diidapnya kala itu berjalan lancar dan bisa kembali ke rumah. Namun, tak ada kabar terbaru yang terdengar dari Maradona hingga akhirnya ia dilaporkan meninggal dunia.


Maradona menghembuskan napas terakhirnya akibat henti jantung pada Rabu (25/11/2020). Kasus henti jantung seringnya berakhir fatal karena terjadi secara mendadak dan tak segera mendapat pertolongan.


Tanda henti jantung seperti yang dialami Maradona biasanya terjadi usai sebelumnya mengalami sesak napas, rasa lemas, dan rasa tak nyaman di dada. Namun, ada beberapa orang yang memiliki risiko tinggi mengalami kondisi henti jantung.


Dikutip dari Mayo Clinic, salah satu yang paling berisiko adalah pengidap penyakit jantung koroner, tetapi beberapa kondisi lain juga bisa meningkatkan risiko mengalami henti jantung seperti berikut.


Faktor risiko henti jantung

- Riwayat keluarga

- Merokok

- Tekanan darah tinggi

- Kolesterol

- Kelebihan berat badan

- Diabetes

- Gaya hidup pasif (tak banyak bergerak).


Kapan harus menemui dokter saat muncul gejala yang berisiko mengalami henti jantung?

- Nyeri dada

- Detak jantung cepat dan cenderung tak teratur

- Sesak napas

- Pingsan atau hampir pingsan

- Kepala terasa pusing.

https://nonton08.com/movies/another-way/


Suka Makan Nasi Padang? Ini Tips Jaga Kolesterolnya untuk Tubuh


 Siapa sih orang Indonesia yang nggak suka makan nasi Padang? Masakan Minang ini memang terkenal banget akan kelezatannya. Bahkan rendang yang jadi bagian penting dari nasi Padang disebut-sebut jadi makanan paling enak di dunia.

Namun di balik kelezatan nasi Padang, terlalu banyak mengonsumsi makanan ini juga tidak baik. Sebab, kandungan lemak yang tinggi dapat membuat kadar kolesterol menjadi tinggi.


Nah, agar makan nasi Padang tetap terasa nikmat tanpa was-was, berikut detikhealth rangkum hal-hal yang perlu diperhatikan saat makan nasi Padang.


Jangan Terlalu Sering


Seorang ahli gizi mengatakan, mengonsumsi masakan Minang boleh-boleh saja, asal frekuensinya diperhatikan dan tidak terlalu sering. Jika biasanya nasi Padang dikonsumsi dalam porsi besar, maka kini kurangi porsinya agar kadar kolesterol tetap terjaga.


Perbanyak Sayur


Lauk-pauk yang ada di nasi Padang sangat beraneka macam dan menggiurkan, tapi pilihlah satu hingga dua lauk saja, dan tambahkan sayur seperti sayur singkong agar ada asupan serat ke dalam tubuh.


Imbangi dengan Aktivitas Fisik


Setelah kenyang makan nasi Padang, jangan langsung tidur atau berdiam diri saja. Lakukanlah kegiatan atau beraktivitas agar kalori dan lemak yang berasal dari nasi Padang terbuat ikut terbakar. Lakukan aktivitas fisik atau berolahraga rutin minimal 30 menit setiap hari.


Minum Nestlé ACTICOR


Bagi anak muda, makan makanan berkolesterol seperti nasi Padang ini masih terasa biasa saja. Namun, menjaga kolesterol sejak muda juga penting. Jadi turunkan kadar kolesterol setelah makan nasi Padang dengan minum Nestlé ACTICOR dua kali sehari setelah makan.


Bagi yang suka minuman dingin, Nestlé ACTICOR juga bisa dikonsumsi dengan dikombinasikan bersama es batu atau diminum dalam kondisi dingin.


Nestlé ACTICOR merupakan minuman susu rendah lemak yang mengandung Beta Glucan yang berasal dari oats dan Inulin yang berasal dari akar Chicory. Kandungan Beta Glucan dan Inulin teruji klinis mampu menurunkan kolesterol jahat (LDL) yang merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner.


Nestlé ACTICOR juga terbuat dari bahan alami dan rasanya pun sangat enak. Ada 4 varian rasa, antara lain avocado, chocolate, green-tea latte, dan banana. Nestlé ACTICOR baik dikonsumsi oleh orang dewasa yang peduli akan kesehatan tubuh.


Nestlé ACTICOR, Cara Alami Turunkan Kolesterol.

https://nonton08.com/movies/her-vengeance/

Dialami Pasien Corona, Gigi Copot Jadi Gejala COVID-19 Terbaru?

 Gejala COVID-19 tak biasa yang dialami pasien terus bermunculan. Beberapa waktu lalu, pasien Corona mengalami cegukan tanpa henti, kini seorang pasien COVID-19 mengeluh salah satu giginya lepas usai terinfeksi.

Adalah wanita berusia 43 tahun yang mengeluh salah satu gigi bawahnya lepas begitu saja tanpa pendarahan. Sebelumnya, ia terinfeksi COVID-19 beberapa bulan lalu dan mengidap Long COVID.


Ia masih mengeluhkan gejala COVID-19 seperti nyeri saraf, nyeri otot, dan kabut otak. Ahli menilai peristiwa yang dialami wanita bernama Fareh Khemili asal New York ini sangat langka.


"Gigi jatuh dari mulut dan ke tangannya 24 jam kemudian, sebuah hal yang sangat langka," jelas ahli periodontis Universitas Utah Dr David Okano mengatakan kepada The New York Times.


Meski hingga saat ini tak ada bukti COVID-19 menyebabkan kerusakan gigi hingga copot atau masalah lainnya, beberapa pasien COVID-19 rupanya mengeluh giginya sensitif hingga berubah warna menjadi abu-abu atau terkelupas.


Dr Okano menyebut ia tak yakin COVID-19 yang menyebabkan wanita ini kehilangan gigi. Menekankan kemungkinan wanita ini mengalami masalah gigi sejak lama dan memburuk karena COVID-19 yang diidapnya.


"Orang dengan masalah gigi yang ada dapat menjadi lebih buruk, terutama setelah pasien pulih dari COVID-19," kata Dr Okano.


Apa kata ahli?

Presiden dan direktur medis dari Angiogenesis Foundation nirlaba, Dr William W Li, mengatakan bahwa dokter dan dokter gigi harus terbuka terhadap kemungkinan semacam itu.


Menurut laporan tahun 2012 dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), 47 persen orang dewasa di atas usia 30 tahun memiliki beberapa bentuk penyakit periodontal. Baik itu infeksi atau radang gusi dan tulang yang mengelilingi gigi.


"Kami sekarang mulai memeriksa beberapa gejala membingungkan dan terkadang melumpuhkan yang diderita pasien berbulan-bulan setelah mereka pulih dari COVID," kata Dr Li, termasuk masalah gigi dan kehilangan gigi.


Pasien-pasien COVID-19 lain yang tergabung dalam laman Facebook Survivor COVID-19 juga mengeluhkan hal yang sama. Salah satu gigi mereka lepas tanpa pendarahan usai memakan sesuatu.


"Gigi tanggal tanpa darah adalah hal yang tidak biasa," kata Dr Li.


Bagaimana pasien COVID-19 bisa mengalami kondisi ini? Simak halaman berikutnya.


"Jika reaksi jangka panjang COVID ada di mulut, itu adalah mekanisme pertahanan melawan virus," kata prosthodontist California, Dr Michael Scherer, kepada The Times.


"Penyakit gusi sangat sensitif terhadap reaksihiper-inflamasi, dan penular jarak jauh COVID pasti termasuk dalam kategori itu," jelasnya.

https://nonton08.com/movies/the-mini-skirt-mob/


Maradona Meninggal Dunia, Ini Kondisi yang Tingkatkan Risiko Henti Jantung


Pesepakbola legendaris Diego Maradona meninggal dunia karena henti jantung. Pria berusia 60 tahun ini sebelumnya sempat dibawa ke RS karena mengalami gumpalan darah di otak.

Kabar meninggalnya Maradona cukup mengejutkan karena operasi terkait penyakit yang diidapnya kala itu berjalan lancar dan bisa kembali ke rumah. Namun, tak ada kabar terbaru yang terdengar dari Maradona hingga akhirnya ia dilaporkan meninggal dunia.


Maradona menghembuskan napas terakhirnya akibat henti jantung pada Rabu (25/11/2020). Kasus henti jantung seringnya berakhir fatal karena terjadi secara mendadak dan tak segera mendapat pertolongan.


Tanda henti jantung seperti yang dialami Maradona biasanya terjadi usai sebelumnya mengalami sesak napas, rasa lemas, dan rasa tak nyaman di dada. Namun, ada beberapa orang yang memiliki risiko tinggi mengalami kondisi henti jantung.


Dikutip dari Mayo Clinic, salah satu yang paling berisiko adalah pengidap penyakit jantung koroner, tetapi beberapa kondisi lain juga bisa meningkatkan risiko mengalami henti jantung seperti berikut.


Faktor risiko henti jantung

- Riwayat keluarga

- Merokok

- Tekanan darah tinggi

- Kolesterol

- Kelebihan berat badan

- Diabetes

- Gaya hidup pasif (tak banyak bergerak).


Kapan harus menemui dokter saat muncul gejala yang berisiko mengalami henti jantung?

- Nyeri dada

- Detak jantung cepat dan cenderung tak teratur

- Sesak napas

- Pingsan atau hampir pingsan

- Kepala terasa pusing.

https://nonton08.com/movies/an-elephant-can-be-extremely-deceptive/