Senin, 07 Desember 2020

JCPenney Lolos dari Kebangkrutan

 Ritel asal Amerika Serikat (AS) JCPenney berhasil keluar kebangkrutan pekan lalu saat musim belanja meningkat. Lolosnya JCPenney dari bangkrut setelah mendapatkan bantuan dari pemilik mal Simon Property Group (SPG) dan Brookfield Asset Management.

Dari bantuan itu perusahaan mendapatkan potongan utang, mengurangi jumlah toko menjadi di bawah 700 dari 846 toko, dan dapat menyelamatkan 60 ribu pekerja. Selain itu, ritel itu kini memiliki uang untuk mengiklankan lagi bisnisnya.


"Transaksi ini adalah bukti dari ribuan karyawan yang berdedikasi yang telah bekerja sangat keras selama beberapa bulan terakhir dalam keadaan sulit," kata CEO JCPenney Jill Soltau, dikutip dari CNN, Selasa (1/12/2020).


"Pelanggan kami adalah jantung dari JCPenney dan kami berharap dapat melayani mereka di bawah bendera JCPenney selama beberapa dekade mendatang," tambahnya.


Namun jumlah kasus COVID-19 di AS makin meningkat, pembatasan pun mulai terus diperketat yang memaksa sejumlah toko JCPenney banyak yang tutup.


Saingan utamanya, Walmart (WMT) dan Target (TGT) diketahui tetap buka karena mereka menjual bahan makanan dan dianggap penting, sedangkan JCPenney hanya akan menjual secara online jika toko terpaksa tutup. Hal itu akan menurunkan tingkat penjualan JCPenney.


Menurut JCPenney sejak 2011 tingkat penjualan online perusahaan tidak menghasilkan banyak uang tiap kuartalnya. Jadi ini adalah waktu yang sangat buruk dalam setahun bagi perusahaan. Tetapi para ahli industri mengatakan restrukturisasi akan memberi perusahaan waktu luang untuk mengatasi tantangan ini.


Perlu diketahui, Mei lalu JCPenney menyatakan bangkrut akibat dampak dari COVID-19. Tingkat utang yang tidak terjangkau, kesalahan perhitungan selama bertahun-tahun dan kesalahan oleh jajaran manajemen puncak yang terus berubah adalah beberapa alasan yang juga membuat perusahaan bangkrut. Kerugian bersih perusahaan sejak 2010 mencapai sekitar US$ 5 miliar.

https://tendabiru21.net/movies/cannibal/


Amazon Mau Ambil Toko JCPenney Jadi Gudang Sementara


Perusahaan e-commerce terbesar dunia Amazon berencana menggunakan beberapa toko J.C Penny dan Sears yang tutup untuk menjadi tempat penyimpanan sementara produk Amazon. Rencana ini tengah dalam diskusi dengan pihak pemilik mal Simon Property Group.

Dikutip dari CNBC, Senin (10/8/2020), menurut laporan dari The Wall Street Journal rencana itu dilakukan guna mempercepat pengiriman paket atau produk Amazon. Selain itu, dalam laporan itu Simon mengatakan pengalihan mal dari pusat belanja menjadi tempat penyimpanan sementara menjadi upaya untuk mal tetap mendapat penyewa di masa pandemi Corona.


Beberapa toko Sears dan J.C. Penney dapat memberi Amazon lebih banyak ruang pusat penyimpanan sementara yang lebih dekat dengan pelanggan. Tempat itu akan menjadi pusat kurir mengambil paket dan mengirim paket.


Saat dimintai konfirmasi Simon Property Group menolak mengomentari laporan tersebut. Dalam laporan The Wall Street Journal tidak dijelaskan berapa banyak toko di dalam mal Simon yang sedang dipertimbangkan Amazon dan Simon.


Sejak 2018 Amazon telah berfokus pada pengiriman last mile atau tidak menggunakan jasa pengiriman pihak ketiga. Amazon telah memiliki jasa pengiriman sendiri lengkap dengan kurir untuk megirimkan paket ke berbagai wilayah.


Jasa pengiriman Amazon sendiri bernama Amazon Lockers. Tempat itu dijadikan gudang pengiriman dan tempat pengambilan barang. Bahkan belum lama Amazon tengah menguji dan mengeksplorasi pengiriman paket menggunakan drone.


Sebagai informasi, Juni lalu J.C Penny berencana menutup 154 tokonya setelah menyatakan bangkrut pada bulan Mei. Sedangkan Sears sejak November 2019 berencana untuk menutup 96 toko.

https://tendabiru21.net/movies/grand-isle/

AS Ternyata Punya Utang Jumbo ke China, Seberapa Besar?

 Utang Amerika Serikat (AS) ke China tembus US$ 1,06 triliun atau Rp 14.989,46 triliun (kurs Rp 14.141/US$). Sementara total utang AS ke sejumlah negara hingga akhir September mencapai US$ 20,4 triliun.

Dengan jumlah utang tersebut, China menjadi negara yang paling banyak memberikan utang ke AS. Selain China, surat utang AS paling banyak dipegang oleh Jepang.


Dikutip dari South China Morning Post, Sabtu (5/12/2020), total kepemilikan asing terhadap surat utang AS mencapai US$ 7,07 triliun atau 35% dari yang diterbitkan. China memegang 5,2% dari seluruh surat utang AS tersebut.


China punya alasan tersendiri dari aksi borong surat utang AS tersebut. Salah satunya untuk menjaga nilai tukar Yuan agar tetap stabil. Mata uang Yuan penting dijaga tetap stabil agar ekonomi dalam negeri tak terpuruk sekaligus harga ekspornya terjaga murah.


Cara China menjaga Yuan agar tetap stabil adalah dengan mencetak Yuan banyak-banyak, lalu membeli dolar. Dolar yang dibeli itu tentu tidak bisa disimpan begitu saja, tetapi dipinjamkan ke Amerika dengan membeli surat utang bernama Treasury Securities yang dikeluarkan Pemerintah AS.


Lagi pula, Dolar AS juga diterima secara luas dan banyak digunakan dalam transaksi internasional. Komoditas penting seperti migas salah satunya, dihargai dan diperdagangkan dalam dolar AS.


Jika China mulai melepaskan utang AS, dapat memicu aksi jual di pasar obligasi, membuat suku bunga AS naik dan berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi. Aksi jual tiba-tiba juga bisa menyebabkan nilai tukar dolar AS jatuh terhadap yuan, membuat ekspor China lebih mahal dan dolar lebih lemah.


Lalu, bagaimana prospek kepemilikan utang AS di China? Klik halaman selanjutnya>>>


China pernah meningkatkan pembelian obligasinya ke AS pada tahun 2000, lalu meningkat tajam pada 2014. Akan tetapi, secara bertahap mulai menurun setelah tahun itu.

China pun perlahan mengurangi ketergantungannya pada dolar AS, dengan cara mempromosikan penggunaan yuan dalam setiap kesepakatan luar negerinya. Namun, karena yuan tidak dapat ditukar secara bebas, masih menjadi kendala tersendiri dalam transaksi internasionalnya.


China juga telah menambahkan lebih banyak obligasi pemerintah Jepang ke dalam cadangan devisanya, tetapi imbal hasilnya lebih rendah karena suku bunga Jepang yang juga sangat rendah.


Antara April dan Juli 2020, China membeli obligasi pemerintah Jepang jangka menengah hingga jangka panjang senilai 1,46 triliun yen (US $ 14 miliar) secara bersih. Jumlah tersebut meningkat 3,6 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2019.


Meskipun jelas China ingin mengurangi ketergantungannya pada utang pemerintah AS, para ahli meyakini bahwa Beijing kemungkinan akan terus membeli obligasi pemerintah AS, karena hanya ada sedikit negara pengganti yang menawarkan obligasi bebas risiko dan berbiaya rendah seperti AS.

https://tendabiru21.net/movies/i-lost-my-body/


JCPenney Lolos dari Kebangkrutan


Ritel asal Amerika Serikat (AS) JCPenney berhasil keluar kebangkrutan pekan lalu saat musim belanja meningkat. Lolosnya JCPenney dari bangkrut setelah mendapatkan bantuan dari pemilik mal Simon Property Group (SPG) dan Brookfield Asset Management.

Dari bantuan itu perusahaan mendapatkan potongan utang, mengurangi jumlah toko menjadi di bawah 700 dari 846 toko, dan dapat menyelamatkan 60 ribu pekerja. Selain itu, ritel itu kini memiliki uang untuk mengiklankan lagi bisnisnya.


"Transaksi ini adalah bukti dari ribuan karyawan yang berdedikasi yang telah bekerja sangat keras selama beberapa bulan terakhir dalam keadaan sulit," kata CEO JCPenney Jill Soltau, dikutip dari CNN, Selasa (1/12/2020).


"Pelanggan kami adalah jantung dari JCPenney dan kami berharap dapat melayani mereka di bawah bendera JCPenney selama beberapa dekade mendatang," tambahnya.


Namun jumlah kasus COVID-19 di AS makin meningkat, pembatasan pun mulai terus diperketat yang memaksa sejumlah toko JCPenney banyak yang tutup.


Saingan utamanya, Walmart (WMT) dan Target (TGT) diketahui tetap buka karena mereka menjual bahan makanan dan dianggap penting, sedangkan JCPenney hanya akan menjual secara online jika toko terpaksa tutup. Hal itu akan menurunkan tingkat penjualan JCPenney.

https://tendabiru21.net/movies/accelerator/