Rabu, 09 Desember 2020

Ekonomi RI Diprediksi Minus 2,4% Tahun Ini

 Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan ekonomi nasional tahun 2020 berada di kisaran -1,7% sampai 0,6%. Dia mengakui pemulihan ekonomi di sisa akhir tahun 2020 ini berat karena adanya lonjakan kasus COVID-19 di November-Desember.

Berdasarkan paparannya, beberapa lembaga Internasional memperkirakan ekonomi Indonesia masih berada di jalur teritori negatif. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) sendiri memprediksi ekonomi Indonesia sepanjang 2020 -2,4%.


"Untuk tahun 2020 di Indonesia kami proyeksikan ekonomi akan berada di antara minus 1,7% hingga 0,6%. Prediksi OECD -2,4%. Ini adalah tugas yang berat bagi kami semua untuk melakukan pemulihan di triwulan IV-2020 karena kita melihat peningkatan penularan COVID di awal Desember," kata Sri Mulyani dalam acara US-Indonesia Investment Summit ke-8 yang digelar virtual, Selasa (8/12/2020).


"Ini adalah musim libur sama dengan negara-negara lainnya, sehingga kita perlu menggunakan rem dulu untuk pemulihan perekonomian," tambahnya.


Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebut ada perbaikan dari sisi demand karena mobilitas masyarakat telah meningkat. Namun di sisi lain, dia juga khawatir hal itu malah menimbulkan adanya peningkatan kasus COVID-19.


"Kita melihat secara perlahan orang-orang mulai meningkatkan mobilitas mereka. Semoga ini dapat mengindikasikan pemulihan ekonomi, bukan penularan COVID. Dengan meningkatnya mobilitas, maka akan ada jalan menuju pemulihan," imbuhnya.

https://indomovie28.net/movies/the-final-destination/


Sri Mulyani menjelaskan dunia usaha sudah mengalami tekanan yang dia ibaratkan seperti pingsan. Itu terlihat dari perbankan yang tidak berani menyalurkan kredit dan korporasi yang juga enggan mengajukan kredit di masa sulit ini.

"Kalau yang satu nggak berani mengambil kredit, yang satunya tidak berani memberi kredit maka ekonominya akan pingsan," ucapnya dalam acara Business, Finance & Accounting Conference yang digelar IAI, Selasa (8/12/2020).


Situasi sulit di masa pandemi bisa dilihat dari sektor keuangan terutama perbankan yang mengalami tekanan luar biasa. Hal itu tercermin dari hampir tidak adanya pertumbuhan penyaluran kredit.


"Selain mereka harus melakukan tadi PSAK 71, mereka lihat risiko kredit memang melonjak tinggi sekali. Maka kredit growth menurun, kredit growth sekarang ini hampir di level 0% atau bahkan negatif. Growth kredit yang sangat lemah tidak akan mungkin mendorong ekonomi kita dan ekonomi tidak mungkin hanya didorong dengan APBN sendiri," terangnya.


Tidak adanya pertumbuhan kredit merupakan alarm tanda bahaya. Sebab, itu artinya para korporasi tidak melalui bisnisnya. Sri Mulyani menyebutnya kondisi dunia usaha sedang pingsan.


"Maka situasi sekarang ini kita harus kembali atau berupaya bagaimana sektor-sektor keuangan dan korporasi kembali bisa melakukan bisnisnya. Secara hati-hati, namun harus mulai pulih, karena kalau terlalu lama dia pingsan ekonominya juga pingsan," terangnya.


Bagaimanapun caranya, dunia usaha baik korporasi maupun perbankan harus segera siuman. Jika tidak, akan menjalar ke ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Artinya perbankan harus mulai menyalurkan kredit. Di sisi lain para korporasi juga harus mulai berani mengambil kredit.


Hal itu lah yang mendasari pemerintah bersama OJK untuk memberikan relaksasi kredit. Pelaku usaha termasuk UMKM bisa tidak membayar utang pokoknya selama 6 bulan atau 9 bulan.

https://indomovie28.net/movies/final-destination-3/

Bila Gojek dan Grab Jadi Merger, Siapa Untung Siapa Buntung?

 Isu merger Gojek dan Grab terus mencuat ke publik. Berbagai spekulasi bermunculan dan jadi perbincangan, salah satunya adalah siapa yang akan untung dan rugi dengan adanya rencana ini.

Pengamat dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai rencana merger Gojek dan Grab dapat membuat para driver angkutan online mengalami kerugian. Dia menjelaskan selama ini banyak driver yang memiliki dua akun dalam beroperasi, baik akun Gojek dan Grab.


Hal itu dilakukan untuk bisa mendapatkan benefit lebih banyak dan memudahkan mencari penumpang. Kalau merger dilakukan, kemungkinan hal itu tidak bisa didapatkan lagi.


"Memang driver yang paling dirugikan. Ini kan banyak driver pakai dua akun ya, salah satunya biar lebih mudah dapat order. Nah kalau disatuin ya mereka rugi, pendapatannya bisa menurun karena makin susah cari order," kata Djoko kepada detikcom, Minggu (6/12/2020).


Djoko menilai meskipun dua perusahaan bergabung, nasib driver angkutan online akan tetap sama saja. Pasalnya selama ini driver angkutan online statusnya masih mitra, dan kebanyakan membuat kedudukan driver lemah.


Maka dari itu apabila tidak ada perubahan pada sistem kerja itu driver justru akan semakin dirugikan apabila merger Gojek dan Grab dilakukan.


"Saya nggak jamin kalau bergabung bisa kasih kesejahteraan buat driver. Itu kan tetap aja bosnya, apalagi selama ini masih kemitraan juga ya sama aja, nggak akan berubah sistemnya. Itu kan kayak perbudakan modern," ujar Djoko.

https://indomovie28.net/movies/destination-wedding/


Yang diuntungkan jelas hanya perusahaan karena bisa menyatukan kekuatan. Untuk konsumen, menurutnya selama diberikan tarif murah, tidak akan menjadi masalah.

"Memang ini untungkan bisnis mereka aja kalau merger. Kalau dari pengguna ya asal dikasih murah ya senang-senang aja, nggak akan jadi masalah," kata Djoko.


Dia juga mengatakan rencana merger ini dilakukan karena kedua belah pihak saat ini sedang terdesak. Menurutnya, baik Gojek dan Grab saat ini mengalami penurunan pengguna karena pandemi Corona.


Hal itu pun membuat perusahaan mengalami penurunan masukan, untuk tetap menjaga eksistensi maka kedua pihak bisa saja melakukan merger untuk saling menguatkan.


"Yang jelas itu, merger ini terjadi karena penggunanya menurun. COVID juga sih. Jadi mereka kemungkinan memilih opsi buat bergabung demi bertahan," kata Djoko.


Djoko juga bicara soal kekhawatiran praktik monopoli pada sektor transportasi online apabila merger tetap dilakukan. Bagaimana analisanya?


Djoko menilai monopoli justru tidak akan terjadi. Memang dia mengakui apabila merger Gojek dan Grab dilakukan maka pasar keduanya akan makin besar, namun menurutnya sudah ada penantang lain dari dominasi pasar Gojek dan Grab.


Salah satu yang disebutkannya adalah aplikasi penyedia jasa transportasi online dari Rusia, Maxim.


"Memang mereka akan jadi besar sekali, cuma monopoli itu urusan KPPU lah. Tapi kalau mereka mau (merger) kan masih ada Maxim dan lainnya juga. Nggak monopoli sih menurut saya," ujar Djoko.


Djoko meyakini meski belum besar, Maxim bisa jadi penantang yang mesti diperhitungkan apabila rencana merger Gojek dan Grab dilakukan. Dia mengatakan di Lampung dan Semarang saja sudah mulai banyak pengemudi online Maxim.


"Bisa kayaknya (menandingi Gojek dan Grab), saya lihat itu Maxim perlahan mulai banyak, kayak di Lampung dan Semarang itu udah banyak, yang kuning-kuning itu kan mereka. Berapa kali di Jakarta juga sudah ada," ungkap Djoko.


Dia mengatakan bisa juga driver-driver yang ada di Gojek dan Grab mulai beralih ke Maxim, mengingat potongan aplikatornya pada setiap trip atau perjalanan rendah.


"Dia ini pintar porsi pendapatannya ambil 10% saja, yang lain itu kan 20%, jadi banyak yang beralih ke Maxim (drivernya)," kata Djoko.

https://indomovie28.net/movies/final-destination-2/