Konsol seperti PlayStation tak diragukan lagi memang menyenangkan untuk mengisi waktu dengan bermain game. Namun masalahnya satu, ribet saat ingin dibawa-bawa.
Masalah itulah yang mungkin dipecahkan oleh seorang pengguna Twitter asal Jepang dengan akun @DXTerraria. Dalam kicauannya, ia memamerkan sebuah PS4 yang sudah dibongkar dan dipasang ulang dalam sebuah koper. Lengkap dengan sebuah monitor kecil.
Koper kecil hasil kreasinya ini terbagi menjadi dua, yaitu bagian atas yang diisi monitor kecil. Lalu bagian bawah yang berisi PS4 lengkap dengan baterai 20 ribu mAh. Ya, 'koper' ini bisa dipakai bermain game tanpa perlu dicolokkan ke listrik. Meski memang, baterainya hanya bisa bertahan satu jam saat dipakai bermain.
Ukuran kopernya sendiri adalah 39cm x 28cm x 11 cm, dengan bobot 6,4 kg. Tak bisa dibilang ringan memang, dan dimensinya nyaris sama dengan sebuah PS5. Namun sepertinya masih cukup nyaman untuk dibawa-bawa.
Dalam kicauannya, DX Terraria memperlihatkan kalau konsol ini bisa juga memainkan game PS5, yang dilakukannya lewat fitur Remote Play. Alias tetap membutuhkan PS5 di jaringan yang sama, lalu dimainkan menggunakan PS4.
Oh ya, untuk pengisian baterainya, si pembuatnya memberikan tiga pilihan. Adaptor AC custom, charger USB-C Power Delivery, dan terakhir adalah adaptor AC untuk laptop.
Terakhir, @DXTerraria mengaku tak berencana menjual 'koper PS4' ini. Tapi jika Anda tertarik untuk membuatnya sendiri, ia menyebut biaya yang dibutuhkan untuk membeli komponennya sekitar USD 458, atau nyaris sama dengan harga PS5 versi Bluray, dan lebih mahal dari PS5 versi digital.
Seperti inilah hasil kreativitas @DXTerraria:
https://maymovie98.com/movies/source-code/
Bikin Mobil Otonom Lebih Sulit dari Luncurkan Roket ke Luar Angkasa
Meluncurkan roket ke luar angkasa bagi sebagian orang mungkin terlihat sebagai hal yang sangat sulit. Namun menurut CEO Waymo John Krafcik, membuat mobil otonom baginya jauh lebih sulit.
Sebagai informasi, Waymo adalah perusahaan pembuat mobil otonom yang sebelumnya adalah bagian dari Google. Namun kini mereka sudah melepaskan diri dari induknya itu.
Dalam sebuah wawancara, Krafcik baru-baru ini mengakui kalau proses pengembangan mobil otonom adalah hal yang sangat sulit. Bahkan lebih sulit dari meluncurkan roket ke luar angkasa.
"Tantangannya lebih besar dibanding meluncurkan roket dan memposisikannya di orbit di sekeliling bumi. Masalahnya (mobil otonom), harus dipastikan keamanannya secara terus menerus," ujar Krafcik.
Sementara untuk roket, menurut Krafcik, hanya perlu diamankan sekali saja. Yaitu saat roket itu membawa manusia di dalamnya, demikian dikutip detikINET dari The Next Web, Rabu (6/1/2021).
Mungkin yang dikatakan oleh Krafcik ini ada benarnya jika melihat Elon Musk sebagai contoh. Musk bisa dikatakan lebih sukses lewat SpaceX dibanding menepati janjinya dalam membuat mobil otonom lewat Tesla.
Beberapa tahun lalu, Musk pernah sesumbar kalau Tesla akan punya sejuta mobil otonom di jalanan pada 2020, alias tahun lalu. Namun sampai saat ini pernyataannya itu belum terwujud.
Contoh lainnya adalah Uber, yang sering menggembor-gemborkan potensi mobil otonom sebagai taksi. Namun pada akhirnya Uber menjual divisi taksi otonomnya ke Aurora, perusahaan pesaing mereka.
Padahal Uber sudah menyuntikkan lebih dari USD 20 juta setiap bulannya untuk mengembangkan mobil otonom.
https://maymovie98.com/movies/chained-the-seduction-of-two-women/