Rabu, 06 Januari 2021

Bikin Mobil Otonom Lebih Sulit dari Luncurkan Roket ke Luar Angkasa

 Meluncurkan roket ke luar angkasa bagi sebagian orang mungkin terlihat sebagai hal yang sangat sulit. Namun menurut CEO Waymo John Krafcik, membuat mobil otonom baginya jauh lebih sulit.

Sebagai informasi, Waymo adalah perusahaan pembuat mobil otonom yang sebelumnya adalah bagian dari Google. Namun kini mereka sudah melepaskan diri dari induknya itu.


Dalam sebuah wawancara, Krafcik baru-baru ini mengakui kalau proses pengembangan mobil otonom adalah hal yang sangat sulit. Bahkan lebih sulit dari meluncurkan roket ke luar angkasa.


"Tantangannya lebih besar dibanding meluncurkan roket dan memposisikannya di orbit di sekeliling bumi. Masalahnya (mobil otonom), harus dipastikan keamanannya secara terus menerus," ujar Krafcik.


Sementara untuk roket, menurut Krafcik, hanya perlu diamankan sekali saja. Yaitu saat roket itu membawa manusia di dalamnya, demikian dikutip detikINET dari The Next Web, Rabu (6/1/2021).


Mungkin yang dikatakan oleh Krafcik ini ada benarnya jika melihat Elon Musk sebagai contoh. Musk bisa dikatakan lebih sukses lewat SpaceX dibanding menepati janjinya dalam membuat mobil otonom lewat Tesla.


Beberapa tahun lalu, Musk pernah sesumbar kalau Tesla akan punya sejuta mobil otonom di jalanan pada 2020, alias tahun lalu. Namun sampai saat ini pernyataannya itu belum terwujud.


Contoh lainnya adalah Uber, yang sering menggembor-gemborkan potensi mobil otonom sebagai taksi. Namun pada akhirnya Uber menjual divisi taksi otonomnya ke Aurora, perusahaan pesaing mereka.


Padahal Uber sudah menyuntikkan lebih dari USD 20 juta setiap bulannya untuk mengembangkan mobil otonom.

https://maymovie98.com/movies/the-island/


Google Down Lagi, Netizen Teriak Tidak Bisa Kerja


 Google down lagi. Sejumlah layanannya pun, seperti Meet dan Drive sulit diakses.

detikINET pun coba memantau di laman Downdetector. Benar saja, Google dilaporkan tengah tumbang.


Hingga Rabu (6/1/2021) pukul 13.30 WIB sudah ada 330 laporan yang masuk ke Downdetector. Keluhannya paling banyak tidak bisa melakukan pencarian dan log-in.


Pantauan layanan Google lain juga mengalami lonjakan laporan. Mayoritas laporan menyebutkan sulitnya mengakses layanan tersebut.


Tidak hanya di Indonesia, Google down juga dialami negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.


detikINET pun coba memantau Twitter. Banyak netizen di Tanah Air melaporkan tidak bisa mengakses layanan Google.


Wah, bagaimana nih Google? Baru awal tahun sudah down. Berikut beberapa keluhan netizen:


Hilang Misterius, Jack Ma Ditahan Pemerintah China?


Belum munculnya Jack Ma selama dua bulan menjadi obyek spekulasi para pengamat. Selama ini, bisa dibilang dia senang berbicara dan tampil di depan umum. Apakah dia ditahan oleh pemerintah China, sekadar diminta diam atau lainnya?

Sudah cukup banyak pebisnis ditahan di China, termasuk nama-nama terkenal karena dituding berbuat kriminal. Namun sejauh ini, Jack Ma sepertinya masih dalam keadaan bebas.


"Tidak ada bukti bahwa Jack Ma telah ditahan dan mereka sungguh tidak punya alasan untuk menahannya," kata Jeffrey Halley, analis pasar di biro riset Oanda yang dikutip detikINET dari Fortune, Rabu (6/1/2021).


Ia menilai saat ini, Jack Ma diminta bungkam dan tidak bersuara dulu di depan publik. "Jack Ma mungkin sukarela memilih sangat low profile dulu sembari dia membiarkan orang-orang yang bekerja dengannya, bekerja dengan regulator untuk mencapai kesimpulan yang bisa diterima," tambahnya.


Bagaimanapun, Jack Ma adalah sosok yang dinilai paling ikonik dan banyak membantu pemerintah China selama ini. Mungkin saja untuk sementara, dia diminta jangan banyak berbicara terlebih dahulu sampai masalah yang menimpa perusahaannya terselesaikan.


"Saya pikir Jack Ma diberitahu untuk diam dulu. Ini adalah situasi yang cukup unik, berhubungan dengan skala besar perusahaan Ant dan regulasi finansial yang sensitif," kata Duncan Clark, teman dan konsultan Alibaba saat awal berdirinya.

https://maymovie98.com/movies/the-isle/

Unik, Koper Ini Isinya PS4 dan Monitor Kecil

 Konsol seperti PlayStation tak diragukan lagi memang menyenangkan untuk mengisi waktu dengan bermain game. Namun masalahnya satu, ribet saat ingin dibawa-bawa.

Masalah itulah yang mungkin dipecahkan oleh seorang pengguna Twitter asal Jepang dengan akun @DXTerraria. Dalam kicauannya, ia memamerkan sebuah PS4 yang sudah dibongkar dan dipasang ulang dalam sebuah koper. Lengkap dengan sebuah monitor kecil.


Koper kecil hasil kreasinya ini terbagi menjadi dua, yaitu bagian atas yang diisi monitor kecil. Lalu bagian bawah yang berisi PS4 lengkap dengan baterai 20 ribu mAh. Ya, 'koper' ini bisa dipakai bermain game tanpa perlu dicolokkan ke listrik. Meski memang, baterainya hanya bisa bertahan satu jam saat dipakai bermain.


Ukuran kopernya sendiri adalah 39cm x 28cm x 11 cm, dengan bobot 6,4 kg. Tak bisa dibilang ringan memang, dan dimensinya nyaris sama dengan sebuah PS5. Namun sepertinya masih cukup nyaman untuk dibawa-bawa.


Dalam kicauannya, DX Terraria memperlihatkan kalau konsol ini bisa juga memainkan game PS5, yang dilakukannya lewat fitur Remote Play. Alias tetap membutuhkan PS5 di jaringan yang sama, lalu dimainkan menggunakan PS4.


Oh ya, untuk pengisian baterainya, si pembuatnya memberikan tiga pilihan. Adaptor AC custom, charger USB-C Power Delivery, dan terakhir adalah adaptor AC untuk laptop.


Terakhir, @DXTerraria mengaku tak berencana menjual 'koper PS4' ini. Tapi jika Anda tertarik untuk membuatnya sendiri, ia menyebut biaya yang dibutuhkan untuk membeli komponennya sekitar USD 458, atau nyaris sama dengan harga PS5 versi Bluray, dan lebih mahal dari PS5 versi digital.


Seperti inilah hasil kreativitas @DXTerraria:

https://maymovie98.com/movies/source-code/


Bikin Mobil Otonom Lebih Sulit dari Luncurkan Roket ke Luar Angkasa


 Meluncurkan roket ke luar angkasa bagi sebagian orang mungkin terlihat sebagai hal yang sangat sulit. Namun menurut CEO Waymo John Krafcik, membuat mobil otonom baginya jauh lebih sulit.

Sebagai informasi, Waymo adalah perusahaan pembuat mobil otonom yang sebelumnya adalah bagian dari Google. Namun kini mereka sudah melepaskan diri dari induknya itu.


Dalam sebuah wawancara, Krafcik baru-baru ini mengakui kalau proses pengembangan mobil otonom adalah hal yang sangat sulit. Bahkan lebih sulit dari meluncurkan roket ke luar angkasa.


"Tantangannya lebih besar dibanding meluncurkan roket dan memposisikannya di orbit di sekeliling bumi. Masalahnya (mobil otonom), harus dipastikan keamanannya secara terus menerus," ujar Krafcik.


Sementara untuk roket, menurut Krafcik, hanya perlu diamankan sekali saja. Yaitu saat roket itu membawa manusia di dalamnya, demikian dikutip detikINET dari The Next Web, Rabu (6/1/2021).


Mungkin yang dikatakan oleh Krafcik ini ada benarnya jika melihat Elon Musk sebagai contoh. Musk bisa dikatakan lebih sukses lewat SpaceX dibanding menepati janjinya dalam membuat mobil otonom lewat Tesla.


Beberapa tahun lalu, Musk pernah sesumbar kalau Tesla akan punya sejuta mobil otonom di jalanan pada 2020, alias tahun lalu. Namun sampai saat ini pernyataannya itu belum terwujud.


Contoh lainnya adalah Uber, yang sering menggembor-gemborkan potensi mobil otonom sebagai taksi. Namun pada akhirnya Uber menjual divisi taksi otonomnya ke Aurora, perusahaan pesaing mereka.


Padahal Uber sudah menyuntikkan lebih dari USD 20 juta setiap bulannya untuk mengembangkan mobil otonom.

https://maymovie98.com/movies/chained-the-seduction-of-two-women/