Jumat, 08 Januari 2021

Bisa Mengubah DNA, Benar Nggak Sih? Ini 5 Fakta Vaksin COVID-19

 Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memaparkan beberapa fakta tentang vaksin COVID-19 melalui situs resminya. Hal ini berkaitan dengan berbagai pertanyaan dan hoax tentang vaksin COVID-19 yang banyak beredar di internet.

Salah satunya, tentang vaksin COVID-19 membuat seseorang terinfeksi virus Corona. Dalam situs resminya CDC membantah hal tersebut karena vaksin COVID-19 yang telah direkomendasikan dan dikembangkan tidak ada yang mengandung virus Corona.


Berikut beberapa fakta tentang vaksin COVID-19 yang perlu diketahui, yang dikutip dari CDC.


1. Vaksin COVID-19 tidak membuat seseorang terinfeksi virus Corona

Faktanya, tidak ada vaksin COVID-19 yang resmi direkomendasikan atau vaksin COVID-19 yang saat ini dikembangkan di Amerika Serikat mengandung virus hidup yang menyebabkan COVID-19. Artinya, vaksin COVID-19 tidak dapat membuat seseorang terinfeksi virus Corona.


Ada beberapa jenis vaksin yang sedang dikembangkan. Semuanya mengajarkan sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan virus yang menyebabkan COVID-19.


"Terkadang proses ini bisa menimbulkan gejala, seperti demam. Gejala ini normal dan merupakan tanda bahwa tubuh sedang membangun perlindungan terhadap virus penyebab COVID-19," tulis CDC.


Biasanya dibutuhkan waktu beberapa minggu bagi tubuh untuk membangun kekebalan perlindungan terhadap virus yang menyebabkan COVID-19 setelah vaksinasi. Hal ini membuat adanya kemungkinan seseorang terinfeksi virus yang menyebabkan COVID-19 sebelum atau setelah vaksinasi dan tetap sakit. Ini karena vaksin belum punya cukup waktu untuk memberikan perlindungan.

https://cinemamovie28.com/movies/housewifes-afternoon-delight-2/


2. Hasil tes virus Corona tidak positif setelah vaksin

Beberapa vaksin yang diizinkan dan direkomendasikan maupun vaksin COVID-19 lain yang saat ini dalam uji klinis di Amerika Serikat, tidak dapat menyebabkan hasil tes virus Corona positif.


Jika tubuh mengembangkan respons imun yang menjadi tujuan vaksinasi, ada kemungkinan hasil tes positif pada beberapa tes antibodi. Tes antibodi menunjukkan seseorang pernah mengalami infeksi sebelumnya dan bahwa Anda mungkin memiliki tingkat perlindungan tertentu terhadap virus.


Sementara itu, saat ini para ahli sedang melihat bagaimana vaksinasi COVID-19 dapat memengaruhi hasil pengujian antibodi.


3. Orang yang sudah sembuh COVID-19 tetap harus vaksin

Orang yang pernah tertular atau sudah sembuh dari virus Corona harus tetap menjalani vaksin COVID-19. Hal ini karena risiko kesehatan yang parah terkait dengan COVID-19 dan fakta bahwa infeksi ulang COVID-19 sangat memungkinkan sehingga vaksin harus diberikan kepada orang yang sudah sembuh dari virus Corona.


Saat ini para ahli belum mengetahui sampai kapan seseorang terlindungi dari sakit kembali setelah sembuh dari COVID-19. Kekebalan yang diperoleh seseorang dari infeksi, yang disebut kekebalan alami, bervariasi pada setiap orang.


Beberapa bukti awal menunjukkan kekebalan alami mungkin tidak bertahan lama. "Kami tidak akan tahu berapa lama kekebalan yang dihasilkan oleh vaksinasi bertahan sampai kami memiliki lebih banyak data tentang seberapa baik vaksin tersebut bekerja," tulis CDC.


4. Vaksin COVID-19 membuat tubuh terlindungi dari virus Corona

Vaksinasi COVID-19 bekerja dengan mengajarkan sistem kekebalan bagaimana mengenali dan melawan virus yang menyebabkan COVID-19. Ini membuat vaksin dapat melindungi tubuh dari infeksi virus Corona.


Terlindung dari penyakit itu sangat penting, karena meskipun banyak orang yang terinfeksi virus Corona hanya memiliki penyakit ringan, masih banyak orang yang mungkin menderita penyakit parah, memiliki efek kesehatan jangka panjang, atau bahkan meninggal.


Tidak ada cara untuk mengetahui bagaimana COVID-19 akan memengaruhi tubuh, bahkan jika Anda tidak memiliki peningkatan risiko komplikasi yang parah.

https://cinemamovie28.com/movies/romance-mothers-friend/

Kasus Harian COVID-19 Mendekati Angka 10 Ribu, RI Tarik Rem Darurat

  Indonesia melaporkan 9.321 kasus baru COVID-19 pada Kamis (7/1/2021). Hal tersebut membuat jumlah kasus aktif COVID-19 di Indonesia saat ini ada 114.766 atau sekitar 14,4 persen dari total 797.723 kasus yang telah terkonfirmasi.

Angka 9.321 menjadi rekor baru kasus harian COVID-19 di Indonesia, hanya berselang satu hari dari rekor sebelumnya yaitu dengan 8.854 kasus. Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menjelaskan tingkat penambahan kasus ini jadi yang tertinggi sejak awal pandemi.


"Penambahan kasus positif harian per hari ini adalah yang tertinggi sejak awal pandemi mencapai 9.000. Bahkan angka ini meningkat hampir 500 hanya dalam waktu 1 hari ini," kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (7/1/2021).

https://cinemamovie28.com/movies/friends-young-mom/


Penarikan rem darurat

Menghadapi kondisi wabah COVID-19 yang semakin memburuk, pemerintah mulai tanggal 11 Januari akan menerapkan 'rem darurat' yang disebut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).


Sebagian daerah Jawa-Bali direncakanan melakukan PPKM. Hal ini ditentukan berdasarkan kriteria, seperti memiliki tingkat kematian, kasus aktif, kasus kesembuhan, dan keterisian tempat tidur yang lebih buruk dari rata-rata nasional.


Kegiatan yang dibatasi pada PPKM di antaranya:

1. Membatasi tempat kerja dengan work from home (WFH) 75 persen, dengan tetap melakukan protokol kesehatan secara ketat.


2. Kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring


3. Sektor esensial yang berkaitan dengan kebutuhan pokok masyarakat etap beroperasi 100 persen. Namun, dengan pengaturan jam operasional, kapasitas, dan menjaga protokol kesehatan secara ketat


4. Melakukan pembatasan terhadap jam buka di pusat perbelanjaan sampai pukul 19.00. Untuk makan dan minum di tempat maksimal diisi 25 persen dari kapasitas restoran. Kendati begitu, pemesanan makanan melalui take away atau delivery tetap diizinkan


5. Mengizinkan kegiatan konstruksi beroperasi 100 persen dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat


6. Mengizinkan tempat ibadah dibuka dengan kapasitas sebesar 50 persen dan wajib menerapkan protokol kesehatan yang lebih ketat


7. Fasilitas umum dan kegiatan sosial budaya dihentikan sementara


8. Kapasitas dan jam operasional moda transportasi juga diatur.


Kondisi fasilitas kesehatan

Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengakui tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) untuk pasien COVID-19 semakin tinggi. Saat ini di DKI Jakarta saja ruang isolasi COVID-19 sudah 87 persen terpakai dari total 7.700 tempat tidur yang disediakan. Sementara keterisian untuk ICU juga sudah di angka 84 persen.


Beberapa rumah sakit (RS) bahkan sudah terisi 100 persen. Tingkat keterisian tempat tidur ini jadi cerminan situasi wabah COVID-19 di Indonesia.


"Beberapa rumah sakit memang sudah 100 persen. Tentunya kalau sudah 100 persen tidak bisa lagi ditampung sehingga ada beberapa warga, masyarakat, teman-teman kita yang meminta bantuan pada saya akhirnya kita alihkan ke tempat lain," kata Doni.

https://cinemamovie28.com/movies/moms-friend-5/